KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Perusak Suasana


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana yang Darren tunggu-tunggu. Sesuai dengan apa yang telah dipersiapkan oleh ketujuh sahabatnya yaitu acara ulang tahun perusahaan Accenture yang ke 8 tahun.


Di acara ulang tahun itu bukan hanya Darren saja yang akan memperkenalkan wajah asli dari si pemilik perusahaan Accenture, melainkan ketujuh sahabatnya yaitu Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel juga akan memperkenalkan diri mereka dan nama perusahaan mereka masing-masing. Bahkan mereka juga akan memperkenalkan peringkat dan juga posisi perusahaan mereka di dunia dan di Jerman.


Axel dan Jerry diam-diam tanpa sepengetahuan dari keenam sahabatnya, terutama Darren telah memerintahkan beberapa anggotanya untuk memasang sebuah televisi besar di lapangan Kampus. Bahkan Jerry dan Axel juga memerintahkan beberapa anggotanya untuk mengumpulkan semua mahasiswa dan mahasiswi di lapangan Kampus. Termasuk wakil Rektor, Dekan dan para Dosen.


Jerry dan Axel meminta dua anggotanya yang berstatus sebagai tangan kanan untuk langsung menahan beberapa mahasiswa yang tak menyukai mereka dan keenam sahabatnya untuk tetap berada di lapangan. Dan yang paling utama adalah untuk ketujuh mahasiswa yang selalu menebarkan benih kebencian di depan semua teman-teman kampusnya.


Jerry dan Axel sudah memberikan nama dan data-data dari beberapa mahasiswa yang tidak menyukainya dan sahabat-sahabatnya.


Dari data-data itu, ada sekitar 40 mahasiswa dan 25 mahasiswi yang tidak menyukai Darren serta ketujuh sahabatnya. Satu meninggal akibat mulutnya yang terlaku tajam.


Axel dan Jerry juga memerintahkan kepada dua tangannya itu untuk memberikan sedikit pelajaran kepada teman-teman kampusnya itu jika ada yang melawan ketika disuruh tetap di lapangan.


Setelah semua dipastikan siap, barulah Jerry dan Axel melakukan pekerjaan lainnya yaitu mencari data-data tentang nama keluarga dan nama anggota keluarga dari teman-teman kampusnya yang tidak menyukainya dan keenam sahabatnya. Bahkan Jerry dan Axel meminta tangan kanannya mencari tahu nama usaha-usaha dari keluarga teman-teman kampusnya itu.


Tujuan Jerry dan Axel melakukan hal itu untuk memberikan pelajaran kepada 64 teman-teman kampusnya atas apa yang telah mereka perbuat selama ini, terutama untuk keenam teman kampusnya.


"Bagaimana sayang?" tanya Erland kepada putra bungsunya dari Belva.


"Bagaimana apanya Papa?" Darren balik bertanya.


Mendengar pertanyaan dari Darren membuat Erland tersenyum begitu juga dengan yang lainnya.


"Aish, kamu ini! Kamu pasti ngertilah yang Papa tanyakan," balas Erland.


Mendengar ucapan dari ayahnya seketika Darren langsung melihat kearah ayahnya. Dia melihat ayahnya tersenyum tulus padanya.


Darren membalas senyuman itu. "Papa menanyakan kesiapan aku atau persiapan acara ulang tahun perusahaan Accenture? Papa tanyanya nggak jelas," jawab Darren dengan mempoutkan bibirnya.


Mereka semua tersenyum mendengar perkataan dari Darren. Dan mereka membenarkan apa yang dikatakan Darren bahwa sang ayah tidak bertanya dengan lengkap dan jelas.


"Nah, sayang! Benar kata Darren. Kamu nanya nya tidak jelas," ledek Agneta.


Sementara Erland sudah cengar-cengir tak karuan.

__ADS_1


"Hehehe. Maafkan Papa. Oke, Papa tarik lagi pertanyaan sebelumnya. Sekarang Papa akan bertanya lagi. Bagaimana kesiapan kamu ketika nanti berada di depan semua para tamu undangan?" Erland bertanya sembari menatap penuh bangga putranya itu.


Bukan hanya Erland saja. Agneta, Davin, Andra, Dzky, Adnan, Gilang, Darka dan kelima adik laki-lakinya juga menatap Darren dengan rasa bangga mereka masing-masing.


Mereka semua tidak menyangka jika Darren bisa sesukses sekarang. Bahkan Darren sudah memiliki segalanya diusianya yang masih terbilang muda.


"Semuanya sudah aku persiapkan, Papa!" Darren menjawab pertanyaan dari ayahnya.


Erland mengusap lembut pipi kiri putranya, lalu tangannya beralih pada pucuk kepalanya sehingga memperlihatkan kening putihnya.


Dan detik kemudian, Erland mencium kening putih putranya itu. Seketika liquid bening meluncur begitu saja dari mata Erland.


"Papa benar-benar bangga sama kamu, Nak! Papa tidak menyangka kamu akan sesukses sekarang. Kamu masih muda, tapi kamu sudah memiliki segalanya. Kamu sudah punya tiga perusahaan, satu Gallery, dua Showroom mobil dan motor sport. Dan semua sukses."


Mendengar ucapan dari ayahnya, Darren menatap lekat wajah ayahnya. Darren dapat melihat dari manik hitam ayahnya itu tersirat kesedihan, kebahagiaan, ketulusan dan ada sedikit penyesalan disana.


Ayahnya sampai detik masih menyimpan rasa bersalahnya terhadap dirinya, menyesal karena tidak ada saat putranya memulai meniti usaha, menyesal tidak ada waktu untuknya, menyesal karena tidak memberikan semangat untuknya dan menyesal karena gagal menjadi ayah yang baik untuknya.


Darren kemudian memeluk tubuh ayahnya dengan erat. "Papa adalah Papa yang terbaik untukku. Aku tahu saat ini Papa pasti kembali memikirkan kejadian itu. Kejadian dimana Papa bersikap buruk padaku. Bahkan tidak ada waktu untukku."


Mendengar ucapan dari putranya membuat Erland terkejut. Begitu juga dengan Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.


Darren melepaskan pelukannya, lalu matanya menatap teduh wajah ayahnya itu.


"Aku sayang Papa. Papa adalah Papa kandungku. Papa sudah melakukan tugas Papa dengan baik sampai detik ini."


Erland tersenyum menatap wajah tampan putranya. "Itu menurut kamu, Nak! Tapi bagi Papa. Papa masih ada kekurangannya. Papa belum sempurna menjadi ayah untukmu. Papa masih gagal. Sampai detik ini Papa masih mengingat bagaimana kamu berjuang sendiri untuk meraih kesuksesan kamu."


"Aku tidak sendiri Papa! Ada ketujuh sahabat-sahabat aku, ada keluarga dari ketujuh sahabat aku, ada kelima kakak-kakak mafia aku. Mereka selama ini menjagaku, melindungiku, memberikan apa yang aku butuhkan, menjadikan bahu mereka untuk bersandar, selalu menghapus air mata aku ketika aku menangis. Aku mendapatkan semuanya dari mereka."


"Jika saat itu Papa tidak ada dan tidak ikut dalam melakukan hal itu untukku, setidaknya mereka semua sudah menggantikan tugas-tugas Papa. Jika Papa merasa bersalah akan hal itu, cukup Papa jadikan itu pembelajaran. Keluarga dari ketujuh sahabat aku sudah menganggap aku bagian dari mereka. Begitu juga dengan Papa. Papa harus menganggap ketujuh sahabat aku bagian dari keluarga Smith."


Erland tersenyum sembari tangannya mengusap-ngusap pipi kiri putranya. "Tanpa kamu minta hal itu, Papa sudah anggap ketujuh sahabat kamu itu adalah putra-putra Papa. Sejak kamu memaafkan kesalahan Papa, sejak itulah Papa menganggap ketujuh sahabat kamu putra-putra Papa."


Darren seketika tersenyun lebar mendengarnya. "Benarkah?"

__ADS_1


"Hm." Erland bergumam sembari mengangguk.


"Terima kasih, Papa."


"Papa yang seharusnya berterima kasih padamu. Kamu begitu dewasa dan bijak setiap menghadapi serta menyelesaikan masalah. Kamu dengan hati yang tulus, hati yang bersih dan pemikiran yang dewasa mau memberikan maaf kepada orang-orang yang sudah menyakiti kamu. Bahkan kamu bisa membedakan mana orang yang benar-benar tulus meminta maaf dan mana yang hanya berpura-pura meminta maaf." Erland berbicara dengan senyuman di bibirnya sembari memberikan pujian terhadap putranya itu.


"Papa terlalu memujiku. Jika Papa sering-sering memujiku, bisa-bisa....," perkataan Darren langsung dipotong oleh Adnan.


"Bisa-bisa aku besar kepala," ledek Adnan.


Mendengar ucapan dari kakak keempatnya itu seketika membuat Darren mendelik kesal.


Darren mengalihkan perhatiannya kearah kakak laki-lakinya itu dengan mata yang membesar.


"Bukan hanya dijuluki perusak barang, tapi juga dijuluki perusak suasana!" ucap Darren.


Darren menatap Adnan kesal. Dan jangan lupakan bibirnya yang berkomat-kamit menyumpahi sang kakak.


"Aku akan mogok bicara dengan kakak Adnan selama satu minggu," ucap Darren.


Setelah mengatakan itu, Darren langsung pergi meninggalkan anggota keluarganya.


Adnan yang mendengar perkataan dan ancaman dari adik bontotnya seketika terkejut. Sedangkan yang lainnya tertawa nista melihat wajah syok Adnan.


"Terima nasibmu, sayang!" seru Erland dan Agneta bersamaan.


Setelah itu, Erland dan Agneta pergi menyusul Darren.


"Benar kata Papa dan Mama. Terima saja nasib kamu yang akan didiami dan dicueki selama satu minggu sama Darren," ucap Davin.


"Darren itu tidak mudah dibujuk kalau tidak diiming-imingi sesuatu. Kamu harus berjuang keras untuk menaklukkan hati si anak kelinci itu!" seru Andra.


"Setuju," ucap Dzaky.


"Semangat untuk kakak Adnan!" seru Gilang, Darka, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin bersamaan.

__ADS_1


Setelah semuanya memberikan wejangan dan doa-doa kepada Adnan. Mereka pun memutuskan untuk pergi ke acara ulang tahun perusahaan Accenture. Begitu juga dengan Adnan.


Adnan berjalan sambil memikirkan apa yang harus dilakukan olehnya untuk merayu adik laki-lakinya.


__ADS_2