KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Masalah Baru Lagi


__ADS_3

Mendengar jawaban dan penjelasan dari Robby membuat Darren membelalakkan matanya. Darren seketika langsung berdiri dari duduknya.


"Apa? Apa kau yakin dengan berita itu? Bagaimana bisa mereka langsung menuduh Adrian dan Mathew sebagai pelakunya?"


Deg!


Semua terkejut ketika mendengar perkataan dari Darren yang menyebut nama Adrian dan Mathew.


"Aku yakin, Bos! Bahkan kedua keluarga itu sudah menunjukkan banyak bukti yang memperkuat tuduhan mereka terhadap tuan Adrian dan tuan Mathew. Bahkan mereka juga menunjukkan sebuah mobil yang mana mobil itu memang milik tuan Adrian."


"Brengsek! Bagaimana bisa mereka melakukan hal ini kepada kedua adik laki-lakiku. Kelima adik laki-lakiku tidak pernah pergi sekolah dengan membawa mobil sendiri, melainkan mereka pergi dengan diantar jemput."


"Apa yang harus kita lakukan, Bos?"


"Kau kerahkan beberapa anggotamu. Selidik masalah ini. Bagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama menyelidiki kematian dari kedua anak dari kedua keluarga brengsek itu. Kelompok kedua selidiki kedua keluarga tersebut."


"Baik, Bos! Lalu bagaimana dengan tuan Adrian dan tuan Mathew?"


"Aku yang akan mengurus mereka."


"Baiklah, Bos!"


Setelah itu, baik Darren maupun Robby sama-sama mematikan panggilannya.


Darren kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Dan setelah itu, tatapan matanya menatap kearah Adrian dan Mathew.


"Adrian, Mathew!"


"Iya, kakak Darren."


"Sejak kejadian kalian berdua menghajar kelima teman-teman sekolah kalian sampai masuk rumah sakit. Sejak itulah kakak melarang kalian membawa mobil sendiri keluar rumah, salah satunya ke sekolah. Apa kalian ada diam-diam pergi keluar dengan membawa mobil sendiri tanpa sepengetahuan kakak dan keluarga?" tanya Darren.


"Tidak kakak Darren!" Adrian dan Mathew langsung menjawab pertanyaan dari sang kakak laki-lakinya.


"Yakin?"


"Sumpah, kakak Darren. Aku dan Mathew tidak pernah pergi keluar rumah setelah pulang dari sekolah," jawab Adrian jujur.


"Iya, kakak Darren. Kita nggak pergi kemana-mana setelah pulang sekolah. Kalau kita pergi, itupun dengan anggota keluarga lainnya." Mathew berucap sembari menatap wajah kakak laki-laki kesayangannya.

__ADS_1


"Baiklah. Kakak percaya dengan kalian berdua. Sekarang dengarkan kakak. Kalian kembali ke kamar kalian masing-masing. Ganti seragam kalian dengan pakaian rumah. Kalian tidak perlu sekolah hari ini. Kalian masuk sekolah lagi setelah kakak mengizinkan kalian."


"Tapi kakak Darren, ujian kita....."


"Jangan membantah perkataanku. Aku melakukan hal ini demi kalian juga," ucap Darren.


Seketika wajah Darren berubah tak mengenakkan. Ditambah ketika mendengar nada bicaranya yang penuh penekanan.


"Adrian, Mathew. Pergilah ke kamar kalian. Turuti apa yang disuruh oleh kakak laki-laki kalian," ucap Erland.


"Baik, Papa!"


Setelah itu, Adrian dan Mathew pergi meninggalkan ruang makan untuk menuju kamarnya masing-masing.


"Kalian berperang denganku. Baiklah! Aku akan layani kalian. Aku pastikan kalian akan membusuk di dalam penjara," batin Darren dengan tatapan matanya yang penuh dengan amarah.


Darren menatap kearah Nathan, Ivan, dan Melvin. "Kalian juga tidak usah sekolah. Untuk saat ini kalian Homeschooling saja dulu di rumah," ucap Darren.


"Baik, kakak Darren!" Nathan, Ivan, dan Melvin menjawab bersamaan.


"Kakak Dzaky, kakak Adnan. Aku minta kepada kalian untuk mendatangi sekolah Adrian, Mathew, Nathan, Ivan, dan Melvin. Minta kepada guru-guru mereka untuk datang ke rumah memberikan pelajaran kepada Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin. Berikan alasan kepada guru-guru itu bahwa mereka sedang sakit dan tidak boleh keluar rumah selama sakit. Tubuh mereka rentan dengan cuaca diluar rumah. Aku akan minta dibuatkan surat keterangan sakit dengan Bibi Celsea. Jadi sebelum ke sekolah Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin. Kakak Dzaky dan kakak Adnan langsung ke rumah sakit dulu untuk mengambil surat itu."


"Baiklah, Ren!" Dzaky dan Adnan langsung mengiyakan perkataan dari Darren.


"Iya, Ren!" Darka dan Gilang menjawab bersamaan.


"Boleh aku minta tolong?"


"Tentu."


"Mau minta tolong apa?"


"Tolong kalian ke garasi mobil. Lihat, apakah mobil Adrian dalam keadaan baik-baik saja atau sebaliknya, rusak! Jangan lupa kalian videokan secara menyeluruh dan secara mendetail."


"Baiklah."


Setelah itu, Gilang dan Darka pun pergi meninggalkan ruang makan untuk menuju garasi mobil.


"Darren, sayang!"

__ADS_1


Darren langsung melihat kearah ayahnya. Dan dapat dilihat olehnya tatapan ayahnya yang menatap khawatir dirinya.


"Ada apa, sayang? Katakan pada Papa."


"Aku....."


"Darren," panggil Gilang dan Darka yang sudah tiba di ruang makan.


"Bagaimana?"


"Tiga mobil milik Adrian dalam keadaan baik-baik saja. Mulus dan nggak ada yang lecet," ucap Darka.


"Ini, lihatlah videonya." Gilang memperlihatkan video itu.


Darren melihat video yang ada di dalam ponsel milik Gilang. Dalam video itu terlihat tiga mobil milik Adrian dalam keadaan mulus dan tidak ada kerusakan atau pun lecet sama sekali.


Darren mengembalikan ponsel tersebut kepada Gilang setelah selesai melihat video itu.


"Ren! Jawab pertanyaan Papa yang tadi, Nak!"


"Dua teman sekolahnya Adrian dan Mathew meninggal dunia dalam kecelakaan dua hari yang lalu. Dua teman sekolahnya Adrian dan Mathew itu adalah yang beberapa bulan yang lalu dihajar oleh Adrian dan Mathew."


Mendengar jawaban dari Darren membuat Erland, Agneta dan anggota keluarga Smith lainnya terkejut.


"Terus apa hubungannya dengan kamu melarang Adrian dan Mathew untuk tidak masuk sekolah?" tanya Tristan penasaran.


"Dua keluarga dari anaknya yang meninggal dunia karena kecelakaan menuduh Adrian dan Mathew sebagai pelakunya. Mereka sudah mendapatkan banyak bukti, salah satunya mobil milik Adrian."


"Apa?!"


Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Evan, Carissa, Daffa, Tristan, dan Davian terkejut mendengar perkataan dari Darren.


"Bagaimana bisa mereka menuduh Adrian dan Mathew," sahut Davian.


"Dan mereka juga seenaknya mengklaim jika mobil itu mobil milik Adrian. Jelas-jelas ketiga mobil Adrian terparkir rapi di garasi dengan kondisi mulus." Daffa berucap dengan emosi.


Melihat anggota keluarga Smith yang tengah emosi sehingga membuat anggota keluarga Mendez berusaha untuk memberikan ketenangan.


"Kita harus sabar menghadapi masalah ini. Jangan terbawa emosi. Orang-orang jujur pasti akan selalu dipermudahkan semua usahanya. Percayalah!" ucap Reymond.

__ADS_1


"Apa yang dilakukan oleh kedua keluarga itu akan menjadi bumerang untuk mereka sendiri. Dan untuk kita, kita hanya perlu bermain cantik saja." Baren berucap.


Mendengar ucapan dari Reymond dan Baren membuat anggota keluarga Smith sedikit lega.


__ADS_2