KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Tatapan Kekhawatiran Darren


__ADS_3

Matahari akhirnya memunculkan diri dari ufuk timur, menebarkan cahaya yang masih terasa hangat.


Darren menggeliat pelan saat merasakan sesuatu yang hangat mengenai wajahnya. Matanya terbuka perlahan hingga menampilkan manik cokelat yang indah.


Darren bangkit dari posisinya dan melakukan ritual paginya seperti biasa yaitu mandi.


Selesai dengan ritual mandinya, kemudian Darren memakai seragam kampusnya.


Beberapa menit kemudian, Darren sudah dalam keadaan rapi dengan seragam kampusnya.


Begitu sudah siap, Darren memutuskan untuk langsung turun ke bawah menemui anggota keluarganya dan sarapan pagi bersama.


^^^


Darren sudah berada di meja makan. Ketika sampai disana, anggota keluarganya menyambutnya dengan sapaan dan senyuman kebahagiaan.


Darren duduk di antara Darka dan Adnan. Dan setelah itu, Darren mulai memakan roti yang sudah diolesi selai cokelat.


"Oh iya! Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepada kalian! Terutama untuk anak-anaknya Papa!" seru Erland.


Semua yang di meja makan itu langsung melihat kearah Erland. Mereka semua penasaran, apa yang ingin disampaikan oleh Erland.


"Papa mau menyampaikan apa?" tanya Andra.


"Iya, Papa! Ada apa?" tanya Davin.


"Papa akan berangkat ke Singapura besok," ucap Erland.


"Apa ada masalah dengan perusahaan kita disana?" tanya Andra.


"Tidak, sayang! Perusahaan kita disana baik-baik saja dan makin berkembang. Justru Papa kesana karena ada perusahaan besar yang ingin berkolaborasi dengan perusahaan kita. Perusahaan itu berada di urutan kedua di Singapura," ujar Erland dengan senyuman bahagianya.


Mendengar kabar bahagia dari ayahnya membuat Davin dan semua adik laki-lakinya tampak bahagia, kecuali Darren. Begitu juga dengan Agneta, Evan, Carissa dan ketiga putranya yaitu Daffa, Tristan dan Davian.


"Ini sebuah penghargaan besar untuk kita, kakak Erland!" ucap Evan yang bahagia mendengar kabar dari saudara iparnya.


"Aku juga turut bahagia akan kesuksesan perusahaan keluarga kita, kak Erland. Beberapa bulan yang lalu, Evan yang berhasil berkolaborasi dengan perusahaan nomor tiga di negara Italia. Sekarang kak Erland yang merasakan hal itu. Aku sebagai adik perempuan kak Erland dan istrinya Evan merasakan kebahagiaan luar biasa. Aku bahagia dan juga bangga akan kerja keras kalian berdua. Kalian berdua adalah laki-laki yang sangat aku sayangi dan aku cintai."


Mendengar ucapan tulus dari Carissa membuat Erland dan Evan tersenyum bahagia.


"Kakak juga menyayangimu. Kau adik perempuan kakak satu-satunya, walau kita masih memiliki satu adik laki-laki yang kini tinggal di Kanada," ucap Erland.


"Aku mencintaimu," ucap Evan.

__ADS_1


Sementara Darren hanya diam ketika mendengar anggota keluarganya berbicara mengenai bisnis dan kesuksesan perusahaan keluarga. Hanya bola matanya saja yang bergerak-gerak memperhatikan satu persatu wajah anggota keluarganya.


Dzaky yang menyadari keterdiaman adik ketujuhnya itu langsung menyapanya.


"Ren," panggil Dzaky.


Mendengar Dzaky yang memanggil Darren. Erland, Agneta serta yang lainnya langsung melihat kearah Darren.


Sedangkan Darren seketika langsung melihat kearah kakak laki-lakinya itu tanpa senyuman.


"Sayang. Kamu kenapa, Nak?" tanya Erland.


"Apa Papa yakin akan pergi ke Singapura, besok?"


Bukannya menjawab pertanyaan dari ayahnya. Justru Darren memberikan pertanyaan kepada ayahnya.


"Iya, sayang." Erland menjawab pertanyaan dari putranya itu.


"Tidak bisa diwakilkan? Tangan kanannya Papa? Asisten atau...."


"Tidak bisa sayang! Harus Papa sendiri yang datang kesana dalam kerjasama ini. Papa disana bukan untuk kerjasama saja, melainkan Papa juga ingin menyelesaikan sedikit masalah di perusahaan yang ada disana."


"Masalah apa, Papa?" tanya Davin.


Erland menatap wajah putra ketujuhnya. Dapat Erland lihat dari tatapan mata putranya itu terlihat tatapan khawatir, tatapan cemas dan tatapan tak ikhlas.


"Sayang," panggil Erland lembut dengan tatapan matanya menyenduh menatap wajah tampan putra ketujuhnya itu.


Mereka semua menatap wajah Darren. Sama seperti Erland. Mereka juga bisa melihat ada ketakutan, kecemasan dan kekhawatiran di manik coklat Darren. Terlebih lagi terlihat ketidak ikhlasan disana.


Mereka semua meyakini bahwa Darren tidak mengizinkan ayahnya untuk pergi ke Singapura.


"Apa Papa tetap akan pergi?" tanya Darren.


"Iya, sayang."


"Tidak bisa dibatalkan atau diwakilkan oleh asisten atau tangan kanannya Papa?" tanya Darren lagi.


"Tidak bisa, sayang. Masalah ini harus benar-benar Papa yang turun tangan langsung."


Melihat wajah keseriusan ayahnya membuat Darren mengalah dan menerima keputusan ayahnya itu, walau hatinya berat menerimanya.


"Baiklah. Aku izinkan Papa kesana. Tapi Papa harus janji padaku. Pergi dengan selamat dan baik-baik saja. Pulang pun harus dalam keadaan selamat dan baik-baik juga. Aku tidak ingin mendengar kabar buruk tentang Papa selama Papa dalam perjalanan atau sudah berada di Singapura."

__ADS_1


"Ingat! Papa sudah janji padaku bahwa Papa akan selalu baik-baik saja, Papa akan selalu ada di sampingku. Dan Papa juga berjanji padaku tidak akan pergi meninggalkanku."


Darren berbicara dengan menatap manik hitam ayahnya. Baik Erland maupun Darren saling memberikan tatapan mereka.


Sementara Agneta, putra-putranya yang lainnya, Carissa, Evan dan ketiga putranya menatap Erland dan Darren bergantian.


Tes!


Tanpa sadar dan tanpa diminta, air mata Darren jatuh membasahi wajahnya. Dan hak itu sukses membuat Erland dan anggota keluarga lainnya terkejut.


Beberapa detik kemudian...


Darren berdiri dari duduknya dengan tatapan matanya masih menatap wajah ayahnya.


"Papa harus menepati janji Papa padaku. Aku paling tidak suka jika ada seseorang mengingkari janjinya."


Setelah mengatakan itu, Darren pun langsung pergi meninggalkan anggota keluarganya untuk ke kampus.


Sementara Erland dan anggota keluarga lainnya menatap punggung Darren yang kian menjauh dengan perasaan bercampur aduk.


***


Di kediaman Madhavi terlihat seorang pria paruh baya dan seorang gadis cantik tengah duduk di sofa ruang tengah. Mereka adalah Deon dan Kayana.


Setelah terungkapnya status Kayana di keluarga Madhavi. Setelah terungkapnya semua kebenaran tentang kedua orang tua kandungnya dan keluarga besar dari ibu kandungnya membuat Kayana tak hentinya menangis. Bahkan Kayana tidak melepaskan pelukan sang ayah.


Bukan hanya Kayana yang begitu bahagia ketika mengetahui siapa dia yang sebenarnya dan juga kedua orang tua yang sudah menjaga dan merawatnya sejak usianya tiga tahun. Deon selaku ayah kandung dari Kayana juga merasakan hal yang sama. Dulu dia dipanggil Paman oleh putrinya sendiri. Sekarang nama itu sudah berubah. Kini putrinya memanggilnya dengan sebutan Papi.


"Aku benar-benar bahagia karena masih memiliki Papi," ucap Kayana.


"Papi juga bahagia, sayang! Nama yang selalu kamu panggil itu sekarang sudah berubah. Dulu kamu memanggil dengan sebutan Paman. Sekarang kamu memanggil dengan sebutan Papi. Papi benar-benar bahagia."


Deon memeluk erat tubuh putri satu-satunya dari perempuan yang dicintainya sembari memberikan kecupan-kecupan sayang di pucuk kepalanya.


"Maafkan Papi yang tidak langsung memberitahu kamu. Papi sengaja merahasiakan semua ini karena Papi ingin melihat sejauh mana perempuan itu dan putrinya semena-mena sama kamu di rumah ini. Bahkan Papi membiarkan apa yang dilakukan oleh perempuan itu."


"Tidak apa-apa, Papi! Kayana tidak marah sama Papi. Papi sudah melakukan tugas Papi dengan baik selama ini. Papi sudah melakukan tugas Papi sebagai Ayah sekaligus ibu untukku, walau saat itu Papi berstatus sebagai Pamannya Kayana."


"Terima kasih, sayang!"


"Sama-sama, Papi! I Love You, Papi!"


"I Love You To, sayang!"

__ADS_1


__ADS_2