KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Gangguan Dari Kelompok Jessica


__ADS_3

Brenda dan ketujuh sahabatnya berada di kelas. Mereka saat ini tengah mengobrol dan bersendah gurau sembari menunggu bunyi bell untuk materi kuliah kedua dimulai.


Di kelas tersebut bukan hanya ada Brenda dan ketujuh sahabatnya. Melainkan ada beberapa mahasiswa dan mahasiswi lainnya. Mereka saling bercerita satu sama lain.


Ketika suasana kelas yang tadinya tampak bahagia seketika berubah mencekam karena delapan mahasiswi yang paling ditakuti oleh sebagian mahasiswi memasuki kelas dengan gaya angkuh dan juga sombong.


Kedelapan mahasiswi itu melangkah kearah meja dimana Brenda dan ketujuh sahabatnya tengah mengobrol dan bersendah gurau.


Felisa dan Milly yang melihat kedelapan teman kelasnya menghampiri mejanya dan sahabat-sahabatnya hanya melirik sekilas, lalu kembali masuk ke dalam obrolan sahabat-sahabatnya.


"Hei, kalian!" bentak Jessica.


Jessica dan teman-temannya menatap tajam Brenda dan ketujuh sahabatnya.


Mendengar bentakkan dari Jessica. Brenda dan ketujuh sahabatnya langsung melihat kearah Jessica dan teman-temannya.


"Kalian manggil kami?" tanya Milly.


"Iya, iyalah! Emangnya siapa lagi," jawab Pamela dengan tatapan matanya yang menatap jijik kearah Milly.


"Oh," ucap Milly singkat.


Sementara Brenda, Felisa, Tania, Lenny, Alice, Vania dan Elsa tersenyum mendengar ucapan singkat dari Milly.


Sedangkan Jessica, Arianna, Kelly, Kathy, Pamela, Janet, Lori dan Wanda menatap tajam Milly.


"Kalian itu hanya anak baru di kampus ini. Jadi jangan belagu. Apalagi tebar pesona kepada mahasiswa tampan di kampus ini," sahut Janet.


"Lah emangnya kenapa kalau kita mahasiswi baru disini? Ada yang salah ya?" tanya Alice menatap Janet dan teman-temannya dengan tersenyum menyeringai.


"Kami kuliah disini bayar kok. Nggak gratis. Nggak juga pake jalur prestasi," sahut Elsa.


"Kami kuliah disini bukan untuk mencari masalah. Tapi kami mencari ilmu," ujar Lenny.


"Dan satu lagi. Kami kuliah disini bukan bertujuan untuk tebar pesona. Catat itu," ucap Vania.


Setelah itu, Brenda dan ketujuh sahabatnya kembali ke dunia mereka yaitu mengobrol.


Sedangkan Jessica dan teman-temannya menatap marah kearah Brenda dan ketujuh sahabatnya.


"Kami peringati kalian semua. Jauhi Darren dan ketujuh sahabatnya!" bentak Arianna.


Mendengar perkataan dan bentakkan dari Arianna. Brenda dan ketujuh sahabatnya saling melempar pandangan.


Dan detik kemudian...


"Hahahahahaha."


Brenda, Milly, Felisa, Tania, Lenny, Alice, Vania dan Elsa tertawa keras ketika mendengar perkataan dari Arianna yang meminta mereka menjauhi Darren dan ketujuh sahabatnya


Mendengar tawa keras dari Brenda dan ketujuh sahabatnya membuat Jessica dan ketujuh temannya menatap marah.


"Kenapa kalian tertawa?" tanya Wanda.


"Memangnya ada yang lucu, hah?!" bentak Kathy.

__ADS_1


"Ya. Kalian lucu sekali. Masa sih kalian nyuruh kita-kita buat menjauh dari Darren dan ketujuh sahabatnya. Yang benar saja. Memangnya kalian itu siapanya mereka?" ucap dan tanya Tania dengan senyuman mengejeknya.


Brenda, Felisa, Milly, Lenny, Alice, Vania dan Elsa tersenyum mendengar ucapan dari Tania. Sementara Kathy dan yang lainnya mengepal kuat kedua tangan mereka.


"Kami nggak peduli. Pokoknya kalian semua menjauh dari Darren dan ketujuh sahabatnya. Kalau tidak...." perkataan Jessica terpotong karena Brenda langsung memotongnya.


"Kalau tidak apa, hah?!" tanya Brenda dengan memposisikan dirinya berdiri dari duduknya dan menatap nyalang kearah Jessica.


Baik Brenda maupun Jessica sama-sama memberikan tatapan mematikan. Tidak ada yang mau mengalah diantara keduanya.


"Lo mau apain kita-kita kalau kita masih dekat-dekat dengan Darren dan ketujuh sahabatnya, hah?! Lo pikir lo tuh siapa. Gue nggak pernah takut dengan siapa pun di dunia ini termasuk lo dan antek-antek busuk lo ini. Begitu juga dengan ketujuh sahabat gue. Kita nggak pernah takut sama lo dan antek-antek lo!" bentak Brenda dengan mendorong kuat tubuh Jessica.


"Apaan lo main dorong-dorong teman gue," sahut Kathy dengan balik mendorong Brenda.


Milly, Felisa, Tania, Lenny, Alice, Vania dan Elsa berdiri dari duduknya dan menatap tajam.


"Nggak usah dorong-dorong juga," ucap Elsa lalu mendorong bahu Kathy.


"Teman lo yang duluan," ucap Kelly menatap tajam Elsa.


Diam-diam tanpa sepengetahuan Brenda, dikarenakan Brenda melihat kearah Elsa. Jessica tersenyum di sudut bibirnya.


Dan detik kemudian...


PLAK!


"Aakkhhh!"


"Brenda!" teriak Milly, Felisa, Tania, Lenny, Alice, Vania dan Elsa.


Mendapatkan tamparan keras dari Jessica membuat Brenda marah. Dirinya tak terima wajahnya ditampar orang lain. Dan ini adalah tamparan pertama baginya.


Brenda menatap nyalang kearah Jessica. Dan...


PLAK!


Brenda memberikan lebih kuat tamparan ke wajah Jessica sehingga membuat wajah Jessica memerah dan sudut bibirnya berdarah.


"Lo pikir gue bakal diam aja ketika wajah gue ditampar. Jawabannya tentu saja tidak. Gue bakal balas balik orang yang udah nampar gue dua kali lipat sakitnya," ucap Brenda.


Setelah itu, Brenda pergi meninggalkan kelasnya. Dan diikuti oleh Milly, Felisa, Tania, Lenny, Alice, Vania dan Elsa di belakang. Mereka memilih untuk membolos. Percuma mereka di kelas. Materi apapun nggak akan masuk ke otak mereka jika otak mereka masih kusut.


...^^^...


Darren dan sahabat-sahabatnya minus Rehan dan Dylan sedang mengerjakan beberapa soal yang diberikan oleh dosen pembimbing. Setelah memberikan tugas kepada mahasiswa dan mahasiswinya, dosen itu pun pergi menuju ruang dosen. Dosen itu meminta jika sudah selesai, semua tugas-tugas tersebut dibawa ke kantor dan di kumpulkan disana.


CKLEK!


Pintu ruang kelas dibuka oleh seseorang. Setelah pintu terbuka, masuklah dua mahasiswa tampan yaitu Rehan dan Dylan.


Rehan dan Dylan melangkah menuju mejanya. Dan setelah berada di mejanya. Rehan dan Dylan langsung menduduki pantatnya di kursi.


"Kita berdua melihat Brenda, Milly, Felisa, Tania, Lenny, Alice, Vania dan Elsa berjalan menuju roptoof!" seru Dylan.


"Kayaknya mereka membolos deh," sahut Rehan.

__ADS_1


"Ya, sudah! Kita selesaikan semua tugas-tugas ini. Setelah selesai. Kita susul mereka ke roptoof. Aku yakin mereka pasti ada alasannya memilih membolos. Membolos itu bukan sifat mereka," sahut Darren.


"Hm." Qenan, Willy, Darel, Rehan, Axel, Jerry dan Dylan menganggukkan kepalanya.


Setelah mengatakan itu, Darren dan ketujuh sahabatnya pun langsung menyelesaikan tugas-tugas mereka agar mereka bisa segera menemui Brenda dan ketujuh sahabatnya.


^^^


Darren, Qenan, Willy, Darel, Rehan, Axel, Jerry dan Dylan kini sudah di roftoof bersama dengan Brenda, Milly, Felisa, Tania, Lenny, Alice, Vania dan Elsa. Brenda saat ini dalam keadaan tertidur di atas meja dengan tangan sebagai tumpuan kepalanya.


Baik Qenan, Willy, Darel maupun Rehan, Axel, Jerry dan Dylan melihat kearah Brenda yang sangat nyaman dalam tidurnya. Tidak terusik sama sekali.


"Ada apa?" tanya Jerry dengan menatap wajah kekasihnya, lalu menatap wajah sahabat dari kekasihnya satu persatu kecuali Brenda.


"Kalian pasti ada masalah sehingga larinya kesini," sahut Dylan.


"Kita habis ribut sama Jessica dan gengnya," ujar Milly.


"Loh kok bisa?" tanya Darel.


"Mereka datang ke kelas kami lalu langsung menyerang kami dengan kata-kata kasar mereka," ucap Tania.


"Memangnya mereka ngomong apa aja ke kalian?" tanya Qenan.


"Mereka bilang kalau kita kuliah disini hanya tebar pesona kepada mahasiswa tampan yang ada di kampus ini," kata Lenny.


"Bahkan Jessica meminta kami untuk menjauhi kalian. Jika tidak..." Alice menghentikan ucapannya.


"Jika tidak apa? Apa yang akan mereka lakukan ke kalian jika kalian tidak mematuhi mereka?" tanya Willy yang sudah keluar aura tak mengenakan.


"Ketika Jessica ngomong seperti itu. Brenda sudah terlebih dahulu memotongnya. Bahkan Brenda menatap marah wajah Jessica. Dan balik mengancam Jessica," jawab Felisa.


"Ketika Brenda lengah karena Brenda melihat kearah Elsa dan Kelly yang sedang bertengkar. Jessica ngambil kesempatan dengan menampar wajah Brenda," ucap Vania.


Mendengar perkataan dari Vania yang mengatakan bahwa Jessica menampar Brenda. Darren yang saat ini duduk di samping Brenda melihat wajah kiri Brenda. Dan benar, Darren melihat ada bekas telapak tangan di wajah kiri Brenda, walau tidak terlalu nampak.


"Terus apa yang terjadi?" tanya Darren sembari tangannya mengusap lembut wajah kiri Brenda yang terkena tamparan oleh Jessica. "Brenda tidak akan diam saja, bukan?"


"Kamu benar, Ren. Brenda tidak diam saja ketika ada orang yang sudah berani menampar wajahnya untuk pertama kalinya. Kamu sudah tahu dari dulukan sifat dan tabiat Brenda seperti apa," sahut Elsa.


Mendengar jawaban dari Elsa membuat Darren tersenyum. "Ini baru gadisku," batin Darren.


"Pasti tuh cewek merasakan sakit dua kali dari pada Brenda," ujar Rehan.


"Iya, iyalah. Secara Brenda namparnya kuat banget. Bahkan telapak tangan Brenda terlihat jelas di wajahnya. Ditambah lagi sudut bibirnya juga terluka," sahut Tania.


"Waw!" seru Willy, Darel, Rehan, Axel, Jerry dan Dylan bersamaan.


Darren mengalihkan perhatiannya untuk menatap wajah dari sahabat-sahabatnya Brenda.


"Untuk kalian juga! Kalian jangan mau ditindas oleh mereka. Siapa pun yang mencari masalah dengan kalian. Kalian hadapi saja. Kalian nggak perlu takut. Sekali pun yang mencari masalah dengan kalian itu anak pemilik kampus, anak donatur atau apalah itu. Lawan saja. Kalau perlu perlihatkan kepada mereka, siapa kalian yang sebenarnya."


"Kita datang ke kampus ini untuk kuliah. Bukan untuk dibully," ucap Darren lagi.


Mendengar perkataan dari Darren membuat Milly, Felisa, Tania, Lenny, Alice, Vania dan Elsa menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Baik, Ren! Kami mengerti!"


__ADS_2