KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kejahilan Super Dari Qenan


__ADS_3

[ERD COMPANY]


Di sebuah ruangan rapat terlihat empat manusia tampan dan juga cantik. Mereka saat ini tengah menyelesaikan tugas-tugas mereka. Tugas-tugas yang mereka kerjakan itu adalah tugas kerja sama mereka dengan Perusahaan WALMARK GRUP.


ER COMPANY dan WALMARK GRUP sedang mengembangkan proyek besar di lokasi yang begitu luas. Dan keuntungan yang akan diperoleh kedua perusahaan sangatlah besar.


"Akhirnya selesai juga!" seru pemuda pertama.


"Aku juga sudah selesai," sela seorang gadis cantik.


"Kalian bagaimana?" tanya pemuda dan gadis itu bersamaan kepada kedua rekannya.


"Sebentar lagi selesai," jawab gadis itu.


"Ini hampir selesai," jawab pemuda yang duduk di samping gadis itu.


Dan beberapa detik kemudian...


"Selesai!" seru keduanya bersamaan.


"Udah kelar semuanya kan?" tanya gadis pertama.


"Sepertinya sudah," jawab gadis kedua dan diangguki ketiga temannya.


"Ayo kita pulang. ni sudah jam 9 malam." pemuda pertama mengajak ketiga temannya untuk pulang.


Mereka pun beranjak dari duduk dan pergi meninggalkan ruang rapat untuk menuju pintu keluar.


Kini mereka sudah berada di depan pintu keluar perusahaan. Setiba disana, mereka berpamitan dengan satpam yang 24 jam berada berjaga disitu.


"Bianca, kamu pulang sama siapa? Aku sama Alfan mau ke rumah Riyan," ucap dan tanya Valen kepada Bianca.


"Tak apa. Kau pergilah bersama Alfan ke rumah Riyan. Aku akan pulang sendirian," jawab Bianca.


"Kau tidak apa pulang sendirian?" tanya Valen.


Bianca menoleh kearah Valen dan mengangguk santai. Bianca tahu bahwa Valen khawatir akan dirinya.


"Aku sudah dewasa, Len. Dan aku bisa jaga diriku baik-baik. Jadi tidak apa aku pulang sendiri. Dan itu juga tidak akan menjadi masalah bagiku. Sampai jumpa besok Alfan, Riyan, Valen." Bianca melambaikan tangannya.


"Hati-hati, Bianca!" seru Alfan, Riyan dan Valen melambaikan tangannya.


^^^


Kini Bianca menunggu angkutan umum, tapi sudah 15 menit angkutan umum itu belum muncul. Dan dengan terpaksa Bianca berjalan kaki.


Bianca berjalan dengan memakai aerphone di telinganya sembari bernyanyi-nyanyi kecil.


Dikarenakan keasyikan. Tanpa sadar jika Bianca sudah sampai di gang rumahnya. Bianca pun segera buru-buru untuk pulang. DanĀ  membayangkan kasur empuknya kesayangannya. Dengan tergesa-gesa Bianca membuka gerbang rumahnya dan melangkah masuk, tapi itu tidak terjadi.


Bianca melihat ibunya sedang berdiri di pintu gerbang dengan memasang wajah marahnya.


"Anak tidak tahu diri! Kemana saja baru pulang?! Kau memang sudah tak butuh rumah sepertinya!" bentak wanita paruh baya itu.


"Mama, ak-aku baru pulang dari kantor. Aku dan ketiga teman-temanku baru menyelesaikan tugas-tugas kantor. Dan semua tugas-tugas itu untuk besok." Bianca menjelaskan keterlambatan dirinya pulang ke rumah kepada ibunya.


Bianca menunduk takut, bayangannya tentang kasur empuk kesayangannya menjadi sia-sia. Keinginan Bianca ingin tidur nyenyak pupus sudah.


"Jangan pandai berbohong, Bianca! Mama tidak pernah mengajarimu berbohong. Kenapa kakak perempuanmu lebih baik darimu, hah?! Padahal Mama sudah merawatmu baik-baik dari dulu. Kenapa kau menjadi seperti ini?!"


Bianca sudah menangis dalam diam. Hatinya benar-benar sakit mendengar perkataan ibunya itu.


"Ada apa sih?"


Tiba-tiba ayahnya keluar dengan memakai baju tidur kotak-kotaknya


"Lihat anak perempuanmu. Sudah berani pulang malam. Siapa yang mengajarinya. Bahkan Zora saja tidak seperti itu." wanita itu berbicara dengan kejamnya kepada suaminya.


"Papa... Hiks. Aku habis menyelesaikan tugas-tugas kantorku bersama ketiga teman-teman kantorku." Bianca sudah sangat lemah jika dibentak oleh orang tua yang di sayanginya.


"Kenapa kau selalu memalukan keluargamu, Bianca? Papa ingin kau menjadi anak pintar seperti kakak perempuanmu, Zora! Papa ingin kau menjadi gadis yang baik-baik dan tidak kelayapan sesuka hatimu." pria paruh baya itu berbicara dengan tatapan marahnya menatap kearah putrinya.


"Ayo, kita masuk! Karena kau telah berani berbohong, maka kau harus dihukum dan tidak boleh masuk ke dalam rumah! Lebih baik kau pergi!"


Pria paruh baya itu menarik tangan istrinya untuk masuk dan mengunci gerbang rumah itu.


Bianca terpaku menatap kedua orang tuanya. Dirinya tidak tahu kenapa mereka mengusirnya, padahal dirinya tidak bersalah. Dan dirinya sudah berkata jujur bahwa dirinya habis dari perusahaan.


Bianca terus menangis dan membalikkan badannya untuk meninggalkan rumahnya. Dirinya sudah hancur, pakaiannya sudah berantakan. Entah kenapa dirinya malah memilih duduk di pinggir jalan membiarkan telinganya di penuhi suara lalu lalang motor dan mobil.


Bianca tetap menangis. Dirinya tidak ingin masa depannya hancur hanya karena masalah ini. Baginya ini hanya masalah kecil dalam hidupnya. Dirinya tidak mau hancur. Jika dirinya hancur, maka pekerjaannya juga hancur.


Ketika Bianca tengah sibuk dengan pikirannya sehingga tidak menyadari ada sebuah mobil tepat berada di depannya.


TIN!

__ADS_1


TIN!


Seorang laki-laki berjas keluar dari dalam mobil. Dan berjalan menuju Bianca. Sementara Bianca sungguh ketakutan dengan memejamkan matanya.


"Hey, kenapa disini?" laki-laki tersebut berjongkok di hadapan Bianca.


Sungguh hati laki-laki itu sakit melihat gadis yang ada di hadapannya menangis. Serta baju yang berantakan.


"Kenapa tidak jawab?"


Bianca mengangkat kepalanya dan menatap mata laki-laki di hadapannya dengan ketakutan. Pasalnya laki-laki di hadapannya ini seperti seorang psikopat.


"Ja-jangan mendekat... Hiks"


Bianca tidak ingin mati sekarang. Dirinya harus membuktikan pada kedua orang tuanya bahwa dirinya adalah gadis baik-baik. Dirinya juga ingin membuktikan kepada kedua orang tuanya bahwa dirinya akan sukses dengan pekerjaan yang digelutinya saat ini.


"Jangan takut. Aku bukan orang jahat. Percayalah!" laki-laki itu mendekati Bianca untuk menyentuh bahunya.


"Aku tidak ingin mati... Hiks. Jangan bunuh aku tuan... Hiks. Aku mohon."


Ketika Bianca berkata seperti itu seketika matanya mulai buram dan hitam seketika. Laki-laki itu terkejut dan langsung membawa gadis itu ke dalam mobilnya.


***


[Kediaman Darren]


Keesokkan paginya semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang tengah, termasuk Darren.


"Ini susunya sayang," ucap Agneta dengan memberikan segelas susu kepada Darren.


"Terima kasih, Mama." Darren tersenyum menatap ibunya.


"Sama-sama sayang."


"Ih, Mama! Kenapa hanya kakak Darren saja yang dikasih susu. Kita-kitanya mana," protes Melvin.


Melvin tidak cemburu sama sekali kalau ibunya memberikan susu untuk kakak laki-laki kesayangannya. Melvin seperti itu hanya untuk menjahili sang kakak. Sudah lama Melvin tidak menjahili kakak laki-lakinya itu sejak kejadian satu tahun lalu.


Agneta menatap wajah putra bungsunya itu. Begitu juga Darren dan yang lainnya.


"Kamu itu udah gede. Jadi ambil sendiri," jawab Agneta yang menjahili putranya itu.


Mendengar jawaban dari ibunya. Melvin langsung mempoutkan bibirnya. "Di sinikan aku yang paling kecil. Kenapa aku dikatakan udah gede," gumam Melvin.


Mereka yang mendengar gumamam Melvin hanya tersenyum. Begitu juga Darren.


"Ach!"


Melvin seketika menatap wajah Darren. Dan jangan lupa mimik wajahnya yang super imut bak anak kecil berusia 4 tahun.


Seketika Melvin langsung menggelengkan kepalanya cepat ketika mendengar pertanyaan dari kakak kesayangannya itu.


"Nggak kakak Darren. Aku senang kakak Darren mendapatkan perhatian lebih dari Mama," ucap Melvin tulus.


Darren tersenyum ketika mendengar jawaban dari adiknya. Darren dapat melihat ketulusan dan kesungguhan di manik hitam adiknya itu.


"Terima kasih ya. Kakak bahagia punya adik kayak kamu. Kita semua adalah anak-anaknya Mama. Jadi Mama akan bersikap adil pada kita semua anak-anaknya," ucap Darren.


Mendengar perkataan Darren membuat mereka semua tersenyum bangga, terutama Agneta.


Di dalam hati Agneta berjanji dan bersumpah. Selama dirinya masih bernafas. Selama itulah dirinya akan menjadi ibu yang baik untuk semua anak-anaknya.


Ketika mereka semua tengah menikmati sarapan paginya disertai obrolan kecil diantara mereka, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara ponsel milik Darren.


Darren yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.


Setelah ponselnya berada di tangannya, Darren melihat nama 'Qenan' di layar ponselnya. Terukir senyuman di bibirnya. Lebih tepatnya senyuman evilnya.


Mereka yang melihat senyuman di bibirnya Darren sudah langsung paham. Dan mereka semua yakin jika yang menghubungi Darren saat ini adalah salah satu sahabatnya. Dan mereka semua sebentar lagi akan mendengar perkataan-perkataan kejam Darren untuk sahabatnya itu.


"Hallo, hitam!"


"Akhirnya," batin anggota keluarganya tersenyum menatap wajah Darren.


"Yak! Siluman kelinci sialan! Bisa tidak setiap menjawab panggilan dariku menyebut namaku!"


Qenan berteriak sekencang-kencang di seberang telepon. Dirinya tak peduli jika pendengaran sahabat laknatnya itu rusak.


Sementara Darren yang mendengar teriakan melengking dari Qenan membuat telinganya seketika berdengung. Darren menjauhkan ponselnya dari telinganya. Dan tangannya mengusap-ngusap telinganya.


"Kampret tuh anak. Kencang amat teriakannya," ucap Darren.


Anggota keluarganya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar perkataan Darren.


"Woi, siluman kelinci sialan!" teriak Qenan lagi.

__ADS_1


"Yak! Qenan setan. Teriak lagi gue matiin nih."


"Lo juga yang nyari ribut duluan, monyet."


"Kalau gue monyet. Lo apaan?"


"Gue manusia."


"Lah, gue juga manusia kampret."


"Lo manusia jadi-jadian."


"Sama. Lo juga manusia jadi-jadian. Kalau lo manusia. Nggak mungkin lo dipanggil hitam atau kedelai hitam. Bahkan yang lainnya juga manggil lo dengan nama itukan? Apa pernah mereka manggil lo dengan nama Qenan?"


"Yak! Mereka manggil gue dengan nama itu. Itu semua karena lo. Asal lo tahu ya, nyet! Kedua julukan itu lo yang ngasih. Dan berakhir mereka ikut-ikutan manggil gue dengan nama itu!"


"Nah! Berarti itu udah nasib lo. Jadi lo harus menerimanya dengan lapang kepala."


Mendengar perkataan Darren membuat anggota keluarganya cengo dan menatap syok Darren.


"Dasar bodoh. Mana ada lapang kepala. Yang ada lapang dada. Dasar mahasiswa IQ jongkok!"


"Bodo amat IQ gue IQ jongkok. Yang penting mahasiswa kayak gue ini udah punya usaha sendiri. Nggak kayak lo."


Mendengar perkataan Darren membuat Qenan membelalakkan kedua matanya. Qenan tak habis pikir dengan sahabat kelincinya itu. Dengan bangga sahabat kelincinya itu membanggakan usahanya.


Detik kemudian, Qenan mendapatkan sebuah ide untuk membalas sahabat kelincinya itu.


"Oh, ngeremehin gue ya? Apa lo mau gue pergi ninggalin perusahaan Accenture dan balik ke perusahan gue sendiri, hum? Lo nggak lupakan kalau gue sama kayak lo?"


"Pergi aja," tantang Darren.


"Beneran? Yakin nggak bakal sedih jika kehilangan orang berbakat seperti Qenan Syver William di perusahaan Accenture?"


DEG!


Seketika Darren terkejut mendengar perkataan dari Qenan.


"Qe-qenan. Lo serius mau pergi ninggalin perusahaan Accenture? Berarti lo nggak kerja lagi di perusahaan Accenture?"


Seketika air mata Darren jatuh membasahi wajahnya. Darren menangis ketika mendengar perkataan dari Qenan. Ntah kenapa Darren tidak iklas dan tidak rela jika Qenan pergi meninggalkan perusahaan Accenture dan memilih mengurus perusahaannya sendiri.


Bagi Darren perusahaan Accenture itu tidak akan ada jika tidak ada Willy dan Qenan yang ikut membantu membangun perusahaan itu. Perusahaan itu terbentuk dengan kerja keras mereka bertiga, walau ada campur tangan sahabat-sahabatnya yang lain.


Semua usaha yang Darren miliki tak lepas dari bantuan, dukungan dan support dari ketujuh sahabat-sahabatnya.


Qenan yang berada di seberang telepon langsung terkejut ketika mendengar nada lirih Darren.


"Ren," panggil Qenan.


"Qenan, lo nggak serius kan?"


"Hey, Ren! Lo nangis?"


"Jawab gue, Qenan! Beneran kamu bakal buka usaha sendiri lalu pergi meninggalkan gue dan Willy?"


"Hey, Ren. Gue tadi bercanda doang. Gue nggak akan kemana-mana, Ren! Gue akan selalu ada untuk lo. Dan gue akan selalu bantuin lo di perusahaan Accenture."


"Benarkah?"


"Iya. Benar, Ren! Gue tadi hanya bercanda kok. Gue nggak akan ninggalin perusahaan Accenture."


"Jangan pernah pergi. Apapun yang terjadi nanti di perusahaan Accenture."


"Iya, gue janji."


"Ya, sudah. Gue tutup telepon. Kita bertemu di kampus. Lo kuliah kan?"


"Iya. Gue kuliah. Ya, sudah!"


Setelah itu, baik Qenan maupun Darren sama-sama mematikan panggilannya.


"Sayang," panggil Erland.


"Ada apa, hum?"


"Nggak ada apa-apa, Papa! Tadi Qenan hanya ngerjain aku," jawab Darren.


"Beneran nggak ada apa-apa?" tanya Erland lagi.


Erland benar-benar khawatir saat melihat putranya menangis. Begitu juga dengan anggota keluarganya yang lain.


"Iya, Papa. Nggak ada apa-apa. Papa nggak usah khawatir," jawab Darren.


Darren melihat kearah Gilang dan Darka. "Kakak Gilang, kakak Darka. Kita bareng ya ke kampus?"

__ADS_1


Gilang dan Darka tersenyum. "Oke!"


__ADS_2