KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Chip Yang Tertanam


__ADS_3

Di kediaman keluarga Mendez yang saat ini tampak sepi. Hanya ada beberapa pelayan dan penjaga. Sementara pemilik dari kediaman tersebut tidak ada di rumah.


Terlihat seorang pria paruh baya tengah melangkahkan kakinya memasuki ruang tengah. Namun setiba di rumah, pria itu tidak melihat anggota keluarga Mendez, termasuk istrinya. Bahkan ketiga anaknya juga tidak terlihat.


"Tuan Agra sudah kembali," sapa seorang pelayan.


Agra melihat kearah pelayan wanita itu lalu bertanya tentang keberadaan keluarga Mendez.


"Kemana yang lainnya? Kenapa ketika saya pulang tidak ada satu pun orang-orang di rumah?"


"Itu... Itu tuan besar Reymond dan yang lainnya pergi. Mereka pergi kemarin. Dan sudah dua hari masuk hari ini."


"Pergi kemana?"


"Saya tidak tahu, tuan! Tuan besar Reymond dan yang lainnya tidak memberitahu apapun. Mereka hanya mengatakan akan pulang setelah semua masalah selesai."


Mendengar jawaban dari pelayan wanita itu membuat Agra berpikir sejenak. Dan setelah itu, Agra tersenyum di dalam hatinya.


"Baiklah."


Setelah mengatakan itu, Agra pergi meninggalkan pelayan wanita itu menuju kamarnya di lantai dua.


Sementara pelayan wanita itu menatap kepergian tuannya dengan tatapan curiga. Pelayan wanita itu berpikir jika ada sesuatu yang terjadi dalam keluarga Mendez. Dan sebagai pelakunya adalah tuannya itu.


Namun pelayan wanita tidak bisa bisa berbuat apa-apa. Dia tidak ingin melakukan hal yang membuat keadaan makin runyam.


^^^


Agra saat ini sudah berada di kamarnya. Dan sekarang tengah duduk di sofa. Pikirannya saat ini tertuju kepada anggota keluarga Mendez yang tiba-tiba pergi meninggalkan kediaman.


"Pergi kemana mereka? Apa mereka sudah tahu bahwa aku yang sudah melakukan kejahatan selama ini? Tidak mungkin jika mereka pergi begitu saja," ucap dan tanya Agra pada dirinya sendiri.


"Aku harus mencari tahu apa yang sudah diketahui oleh mereka semua. Bahkan situa bangka itu sama sekali tidak membalas atau menghubungiku untuk memberikan keputusannya. Apa dia benar-benar ingin keluarganya mati? Atau Askara palsu itu sudah memberitahu semuanya kepada anggota keluarga Mendez?"


Agra berdiri dari duduknya. Kemudian tangannya mengambil ponsel miliknya yang ada di saku celananya.


Setelah ponselnya berada di tangannya, Agra menghubungi seseorang untuk menyelesaikan semuanya. Dia tidak ingin menundanya lagi.


"Sudah cukup selama 20 tahun aku berpura-pura menjadi suami dan ayah yang baik untuk Livia, Rafif dan Daisy. Menjadi menantu dan ipar yang baik untuk situa bangka dan kedua bajingan itu. Sudah waktunya aku menunjukkan sifat asliku kepada mereka. Dan juga sudah waktunya aku memberitahu mereka alasanku melakukan semua ini."


Terdengar sapaan seseorang di seberang telepon.


"Aku ingin mengakhiri semuanya hari ini."


"...."


"Aku kau dan kelompokmu mencari tahu dimana alamat rumah dari Askara palsu itu. Setelah itu, habisi dia. Aku sangat yakin jika dia tahu tentangku."


"...."


"Jika keluarganya ikut campur. Habisi saja mereka semua."


"...."


Mendengar rencana yang ditawarkan oleh orang di seberang telepon membuat Agra tersenyum di sudut bibirnya.


"Eemm! Rencana yang bagus. Baiklah, aku akan mengikuti rencanamu. Setidaknya aku bisa bermain-main terlebih dahulu dengan mereka sebelum aku menghabisi mereka semua."


"...."


"Baiklah."


Selesai berbicara dengan orang tersebut, Agra pun mematikan panggilannya. Setelah itu, Agra memutuskan untuk membersihkan tubuhnya.


***


Di lokasi yang berbeda namun di waktu yang sama dimana kelima ketua mafia yaitu Noe, Enzo, Devian, Chico dan Ziggy bersama tiga tangan kanannya beserta 1000 anggota mafiosonya sudah berada di depan markas KARTEL, MEDELIN, YARDIES, SALVATRUCHA dan NOSTRA


Saat ini adalah hari terakhir untuk kelima kelompok mafia tersebut. Baik Ziggy, Noe maupun Enzo, Devian dan Chico akan menghabisi semua orang yang ada di dalam markas itu tanpa sisa sehingga mereka tidak lagi mengusik kedelapan adik laki-laki mereka.


Di waktu yang bersamaan waktu di lokasi yang berbeda. Ziggy, Noe, Enzo, Devian dan Chico beserta para tangan kanannya dan anggota mafiosonya langsung masuk dan menyerang semua orang yang sedang berjaga di bagian luar tanpa ampun.


Setelah semua penjaga yang berada di luar dalam keadaan tak bernyawa, mereka semua pun langsung masuk ke dalam markas tersebut.


Setiba di dalam markas. Baik Ziggy, Noe, Enzo maupun Devian, dan Chico bersama dengan para tangan kanannya dan para anggota mafiosonya menyerang dan menghabisi semua anggota mafioso musuh tanpa ampun.


Penyerangan yang dilakukan oleh Ziggy, Devian, Noe, Enzo, dan Chico terhadap musuh-musuhnya sama seperti yang dilakukan oleh musuh-musuhnya itu ketika menyerang Darren, Elzaro dan kelima sahabatnya Elzaro.


Jadi, jika ada para musuhnya berusaha untuk kabur, maka usaha musuh-musuhnya itu akan sia-sia saja. Akses untuk kabur sudah mereka tutup sehingga bisa dipastikan semua yang ada di dalam markas akan tidur dengan tenang dan damai, termasuk para ketuanya.


***


Di kediaman keluarga Smith tampak ramai dimana ketujuh sahabatnya Darren, Brenda dan juga ketujuh sahabatnya Brenda berada disana. Semuanya berkumpul di ruang tengah. Sedangkan Darren berada di dalam kamarnya.


Beberapa jam yang lalu jantung Darren kembali kambuh setelah meluapkan semua yang dialaminya.

__ADS_1


"Darren benaran nggak apa-apa kan, Paman Erland?" tanya Axel.


Erland tersenyum menatap wajah Axel. "Iya, sayang! Darren baik-baik saja. Kambuh jantungnya Darren tidak terlalu serius. Darren masih bisa mengatasinya," jawab Erland.


"Sebenarnya apa yang terjadi Paman Erland? Kenapa Darren kembali kambuh?" tanya Rehan


"Kemarin ketika kami kesini. Darren baik-baik saja," ucap Darel.


"Darren tertekan dengan semua masalah yang datang," ucap Andra.


"Darren sudah tidak sanggup menampung semua masalah-masalah itu," ucap Adnan.


"Masalah yang satu belum selesai. Masalah baru malah datang menghampiri. Bahkan masalah yang sudah lama kembali mencuat ke permukaan," ucap Dzaky.


Mendengar perkataan Dzaky membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel terkejut.


"Apa itu kakak Dzaky?" tanya Qenan.


"Kalian masih ingat dengan masalah Adrian dan Mathew yang menghajar kelima teman-teman sekolahnya hingga masuk rumah sakit?" tanya Davin.


"Iya, kami masih ingat!" Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel menjawab bersamaan.


"Apa yang terjadi?" tanya Willy.


"Apa mereka berulah lagi?" tanya Dylan.


" Berulah lagi sih tidak! Tapi ini ada hubungannya dengan Adrian dan Mathew." Andra berucap.


"Dua dari lima teman-teman sekolahnya Adrian dan Mathew mengalami kecelakaan dan berakhir meninggal dunia," tutur Gilang.


Mendengar ucapan dari Gilang membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel terkejut. Begitu juga dengan Brenda, Elsa, Alice, Vania, Milly, Lenny, Tania dan Felisa.


"Apa itu benar, kakak Gilang?" tanya Jerry.


"Iya, Jerry." Gilang menjawabnya.


"Lalu apa hubungannya dengan Adrian dan Mathew?" tanya Dylan dengan menatap satu persatu wajah anggota keluarga Smith. "Tunggu dulu. Jangan bilang kalau...."


Perkataan Dylan terpotong karena Erland langsung memotongnya dan melanjutkan apa yang akan dikatakan oleh sahabat putranya itu.


"Apa yang kamu pikirkan itu benar, sayang?"


"Dylan," panggil Qenan, Willy, Axel, Jerry, Rehan dan Darel bersamaan.


Dylan langsung melihat kearah keenam sahabatnya. Dapat dilihat oleh Dylan bahwa keenam sahabatnya itu penasaran akan pikirannya dan jawaban dari Erland.


"Jadi, maksud lo kalau keluarga dari dua temannya Adrian dan Mathew menuduh Adrian dan Mathew pelakunya?" tanya Axel.


"Iya," jawab Dylan.


"Paman Erland!" seru Qenan dan Willy.


"Itu benar," jawab Erland.


"Kok bisa?" tanya Darel.


"Ada yang menyamai mobilnya dengan mobil milik Adrian. Bahkan plat mobilnya juga sama," jawab Tristan.


"Darren mendapatkan informasi ini dari Robby. Kalian pasti tahu siapa Robby kan?" ucap dan tanya Darka.


"Iya, kami tahu!" Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel menjawab bersamaan.


"Darren menceritakan semuanya kepada kami. Keadaannya benar-benar kacau ketika menceritakan tentang masalah yang menimpa Adrian dan Mathew. Belum lagi masalah lain yang belum selesai," sahut Daffa.


"Kami semua benar-benar tidak tega melihatnya," ucap Evan seketika mengingat kondisi terakhir Darren setelah mendapatkan informasi dari tangan kanannya.


Ketika mereka sedang membahas masalah yang menimpa Adrian dan Mathew. Serta membahas kesehatan Darren, tiba-tiba mereka semua mendengar derap langkah kaki seseorang menuruni anak tangga.


Mendengar suara langkah kaki menuruni anak tangga, mereka semua langsung melihat keasal suara. Mereka melihat Darren yang menuruni anak tangga sembari tangannya mengancingi kemejanya. Dan mulut menggigit sebuah aduk kecil.


Darren menggunakan kemeja lengan panjang warna hitam dan celana jeans panjang biru.


Darren melangkahkan kakinya menuju dapur, lebih tepatnya menuju ruang makan. Setiba disana, Darren menghampiri sebuah lemari kecil yang terpasang di dinding. Tangannya menyentuh pintu itu lalu membukanya.


Sementara anggota keluarganya, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, Darel, Brenda, ketujuh sahabatnya Brenda dan anggota keluarga Mendez masih terus menatap kearah Darren. Mereka semua penasaran apa yang dilakukan oleh Darren di ruang makan itu.


"Itu Darren sedang ngapain?" tanya Carissa.


Mendengar pertanyaan dari Carissa membuat mereka semua hanya bisa mengangkat bahunya sebagai tanda bahwa mereka tidak tahu.


Darren menggulung telapak tangannya dengan handuk kecil yang dibawanya. Setelah telapak tangan terbungkus dan hanya terlihat jari-jarinya. Kemudian Darren memukul kaca lemari kecil itu hingga hancur.


Prang!


Setelah kaca itu pecah, Darren dengan hati-hati menyingkirkan kaca-kaca itu.

__ADS_1


Kini lemari kecil itu polos tanpa kaca sama sekali. Dan terlihat di dalamnya sebuah benda yang selama ini disimpan oleh Darren.


Darren membuka bungkusan tangannya lalu mengambil benda yang ada di dalam lemari kecil itu.


Setelah benda itu berada di tangannya. Darren pun melangkahkan kakinya menuju ruang tengah yang mana semua orang ada disana. Darren memang sudah tahu jika sahabat-sahabatnya, kekasihnya dan kekasih dari sahabat-sahabatnya datang mengunjunginya.


Sebelum meninggalkan ruang makan, Darren sudah terlebih dulu menekan sebuah tombol merah yang terletak tak jauh dari lemari kecil itu.


"Kalian sudah lama datangnya?" tanya Darren kepada ketujuh sahabatnya, kekasihnya dan para kekasih sahabat-sahabatnya.


"Beberapa menit yang lalu, Ren!" Brenda menjawab pertanyaan dari Darren sebagai perwakilan.


Darren menatap kearah Rafif lalu memintanya untuk mendekat.


"Rafif, kemarilah! Mendekatlah padaku. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Begitu juga dengan kalian, anggota Mendez."


Rafif langsung berdiri dan mendekati Darren yang saat ini posisinya masih berdiri dengan tangan kanannya memegang sebuah benda yang diambil dari lemari kecil itu.


"Ulurkan tangan kirimu."


Tanpa diminta dua kali, Rafif langsung mengulurkan tangannya kearah Darren. Sementara untuk anggota keluarga Smith, anggota keluarga Mendez, ketujuh sahabatnya Darren, Brenda dan ketujuh sahabatnya Brenda menatap bingung Darren.


Darren memperlihatkan sebuah benda di tangannya ke hadapan semua orang. Benda yang mirip seperti pena yang ada tombol tekan di bagian atas dengan ukuran sebesar ibu jari.


Benda itu adalah jarum suntik, tapi bukan jarum suntik pada umumnya. Mereka menatap jarum suntik itu dengan tubuh merinding.


"Ren, apa yang ingin kau lakukan?" tanya Rafif.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Rafif. Darren langsung menghentak-hentakkan benda itu ke pergelangan tangan kiri Rafif sehingga membuat semua orang berteriak, termasuk Rafif.


"Darren, tidak!"


Rafif memejamkan matanya ketika benda itu menancap kulit pergelangan tangannya. Namun beberapa detik kemudian, Rafif membuka kedua matanya.


Seketika Rafif terkejut melihat sebuah benda kecil berdiri di kulit pergelangan tangan kiri itu.


Semuanya berdiri dan menghampiri Darren dan Rafif. Tatapan mata mereka menatap kearah benda yang masih menempel di kulit pergelangan tangan kiri Rafif.


"Sayang, apa sakit?" tanya Livia sembari tangannya mengusap lembut kepala putranya.


"Tidak, Mama! Aku tidak merasakan sakit apapun," Jawa Rafif.


"Ren!" seru Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, dan Darel terkejut bersamaan sembari menatap wajah Darren.


"Jangan ditarik!" cegah Darren ketika Daisy hendak menarik benda itu.


"Ach, maaf!" jawab Daisy.


"Dia akan lepas sendiri," jawab Darren.


Darren melihat kearah kakak bantetnya itu lalu meminta sesuatu padanya.


Melihat tatapan mata adik laki-lakinya itu menatap dirinya membuat Gilang langsung mengerti. Kemudian Gilang pun bertanya. "Apa kamu perlu sesuatu dari kakak?"


Darren seketika tersenyum. "Aku boleh pinjam laptop nya kakak Gilang?"


"Tentu. Akan Kakak Gilang ambil sekarang di kamar," jawab Gilang.


"Terima kasih, kakak Gilang!"


"Sama-sama, sayang!"


Setelah itu, Gilang langsung pergi menuju kamarnya untuk mengambil laptop miliknya.


Kenapa Darren minjam laptop kepada Gilang atau bahkan Darka? Kenapa tidak meminjam dengan kakak laki-lakinya yang lain?


Itu dikarenakan Gilang dan Darka kamarnya berada di bawah. Sementara keempat kakak laki-lakinya termasuk dirinya sendiri kamarnya berada di lantai dua.


Gilang, Darka, Adrian Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin kamarnya di bawah. Begitu juga dengan kedua orang tuanya, Paman dan Bibinya serta ketiga kakak sepupunya.


Tak butuh waktu lama, Gilang datang dengan laptop di tangannya.


"Ini laptopnya, Ren!" ucap Gilang sembari meletakkan laptop tersebut di atas meja.


Setelah benda yang ada di pergelangan tangan Rafif lepas dengan sendirinya, Darren pun mengambil benda itu.


"Kalian pasti tahu ini kan?" tanya Darren memperlihatkan benda kecil itu ke hadapan semua orang.


"Itu... Itu kan seperti chip," jawab Renata.


"Iya, ini memang chip!"


"Kenapa ada di dalam pergelangan kirinya Rafif?" tanya Emily heran.


"Ada seseorang yang menyuntikkan chip ini ke pergelangan kirinya Rafif. Tapi Rafif tidak menyadarinya," sahut Darren.

__ADS_1


Mendengar ucapan dari Darren membuat keluarga Mendez terkejut. Mereka semua tidak menyangka dengan orang yang sudah melakukan hal itu terhadap Rafif.


__ADS_2