
"Kenapa jadi gini sayang," ucap Erland lirih menatap wajah pucat Darren.
Erland duduk di samping kiri ranjang Darren dan Agneta di sisi kanannya. Keduanya menangis melihat kondisi Darren saat ini. Baik Erland maupun Agneta secara bersamaan memberikan kecupan sayang di kedua pipinya, lalu beralih menuju kening putihnya.
Sementara Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang duduk di sofa bersama ketujuh sahabatnya Darren. Begitu juga dengan Elzaro dan kelima sahabatnya.
Untuk Kathleen duduk di kursi di samping ranjangnya Darka bersama kelima adik laki-lakinya yaitu Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.
"Sekarang ceritakan kepada kami, kenapa Darren bisa seperti ini?!" seru Davin dengan menatap satu persatu wajah ketujuh sahabat adik laki-laki kesayangannya.
"Sepulang urusan kami di kampus. Kami tidak langsung pulang karena kami akan pergi ke markas Almight Black milik kakak Enzo," sahut Jerry.
"Untuk apa kalian kesana? Apa ada masalah?" tanya Andra.
"Atau ini ada hubungannya dengan kakak Enzo yang menghubungi Darren semalam?" tanya Gilang.
"Iya." Axel, Jerry, Dylan, Darel, Rehan, Qenan dan Willy menjawab bersamaan.
"Kakak Enzo menghubungi Darren dan memberitahu Darren tentang pelaku penusukkan kakak Darka di mall malam itu," ujar Dylan.
"Eh, tunggu dulu!" seru Elzaro tiba-tiba.
"Iya, Lino. Ada apa?" tanya Qenan.
"Seingatku bukankah pelaku penusukan Darka malam itu adalah para preman-preman itu?" tanya Elzaro.
"Iya, itu memang benar. Tapi preman-preman itu adalah suruhan," tutur Rehan.
"Apa?" Elzaro dan kelima sahabatnya terkejut ketika mendengar ucapan dari Rehan dan Dylan. "Jadi preman-preman itu...?"
"Hm." Axel, Jerry, Dylan, Darel, Rehan, Qenan dan Willy menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Siapa yang membayar preman-preman itu untuk melukai adikku? Dari keluarga mana?" tanya Andra.
"Keluarga Raimund," jawab Willy.
"Raimund," batin Gilang.
Gilang berusaha untuk mengingat nama keluarga yang barusan disebut oleh Willy. Dia pernah dengar nama keluarga itu.
"Apa orang yang sama?" batin Gilang lagi.
Setelah beberapa detik berperang dengan pikirannya. Gilang mengambil ponselnya. Gilang membuka ponselnya dan mencari aplikasi galeri.
Aplikasi galeri terbuka, lalu Gilang memilih satu foto. Gilang ingin memperlihatkan foto itu kepada ketujuh sahabat Darren untuk membuktikan kecurigaannya.
"Apa ini orangnya?" tanya Gilang sembari memperlihatkan foto yang ada di galeri ponselnya ke hadapan Axel, Jerry, Dylan, Darel, Rehan, Qenan dan Willy.
__ADS_1
Axel, Jerry, Dylan, Darel, Rehan, Qenan dan Willy langsung melihat kearah layar ponsel milik Gilang.
Dan detik kemudian...
"Iya, dia orangnya!" Axel, Jerry, Dylan, Darel, Rehan, Qenan dan Willy bersamaan.
"Brengsek!" umpat Gilang.
Davin, Andra, Dzaky dan Adnan melihat kearah Gilang. Begitu juga dengan Axel, Jerry, Dylan, Darel, Rehan, Qenan dan Willy. Serta Elzaro, Melky, Allan, Glen, Derry dan Diego.
"Ada apa Gilang?" tanya Dzaky.
"Pria brengsek ini membuat keributan di perusahaannya Tristan. Bahkan dia melukai tiga orang karyawan. Aku juga tidak tahu apa masalahnya. Ketika aku bertanya, dia langsung memerintah beberapa orang-orangnya untuk menyerangku," jawab Gilang.
Mendengar penjelasan dari Gilang membuat mereka semua terkejut. Yang paling terkejut disini adalah Axel, Jerry, Dylan, Darel, Rehan, Qenan dan Willy. Mereka tidak menyangka jika keluarga Kathy akan melakukan hal menjijikkan itu.
"Kalau tahu bakal begini kejadiannya. Aku menyesal memberikan kesempatan pada keluarga brengsek itu. Terutama putrinya itu," ucap Willy dengan sorot matanya yang tajam.
"Sudahlah. Kita melakukan hal itu hanya karena kemanusiaan saja. Jadi, lupakan saja. Nggak usah dipikirkan lagi," ucap Axel.
"Terus apa selanjutnya? Apa alasan keluarga itu melukai Darka, membuat keributan di perusahaan Tristan dan berakhir menyerang Gilang?" tanya Adnan.
"Keluarga Raimund tidak terima kami mendatangi kediamannya," ucap Rehan.
"Kalian mendatangi kediaman Raimund?" tanya Davin.
"Memangnya kalian ada masalah apa sampai mendatangi keluarga itu?" tanya Glen.
"Ini masalah hati," sahut Willy dengan ekspresi wajah tak mengenakkan.
Mendengar perkataan dari Willy dan melihat raut wajah Willy yang tak mengenakkan membuat mereka makin penasaran.
"Kathy, putri bungsu dari pria brengsek itu mencintai Willy. Sedangkan Willy sama sekali tidak mencintainya. Willy mencintai Alice yang memang sudah kenal sejak lama. Ditambah lagi Alice adalah sahabatnya Brenda. Jadi kami semua disini sudah menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih." Darel menjelaskan maksud dadi perkataan Willy barusan.
Mendengar penjelasan dari Darel membuat Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang tersenyum. Begitu juga dengan Erland, Agneta dan Darka.
"Jadi kalian benaran sudah resmi jadian dengan sahabat-sahabatnya Brenda?" tanya Dzaky.
"Hm!" Axel, Jerry, Dylan, Darel, Rehan, Qenan dan Willy menganggukkan kepalanya.
"Kakak pikir kedekatan kalian beberapa bulan ini hanya sekedar teman biasa saja," ucap Adnan.
"Selamat ya! Akhirnya kalian jadian juga," ucap Andra.
"Jangan berantem lagi. Kalian itu bukanĀ teman kayak dulu yang selalu berantem ketika bertemu. Kalian itu sudah resmi jadi kekasih sekarang!" seru Gilang menggoda ketujuh sahabat adik laki-laki kesayangannya.
Axel, Jerry, Dylan, Darel, Rehan, Qenan dan Willy hanya tersenyum mendengar ucapan dari Gilang.
__ADS_1
"Lanjutkan cerita yang tadi!" seru Davin.
"Tujuan kami mendatangi kediaman keluarga Raimund hanya untuk memberikan bukti atas apa yang telah dilakukan oleh Kathy. Kami melakukan hal itu agar mereka sebagai orang tua menegur dan menasehati Kathy," pungkas Jerry.
"Bahkan kami memberikan ancaman penjara jika Kathy masih terus mengusik Willy dan Alice," ujar Dylan.
"Namun diluar dugaan. Mereka tidak menegur dan menasehati Kathy. Justru mereka melakukan pembalasan terhadap kami melalui keluarga kami masing-masing, termasuk keluarga Smith!" seru Axel.
"Dan keluarga Smith yang menjadi sasaran pertama, begitukan?!" seru Elzaro.
"Dan berlanjut dengan keluarga kalian," sela Diego.
"Iya. Kalian berdua benar!" Axel, Jerry, Dylan, Darel, Rehan, Qenan dan Willy bersamaan.
"Wah! Dasar keluarga gila," sahut Allan.
"Bukan gila lagi. Tapi stres," sela Derry.
"Mungki obat mereka sudah habis. Jadi penyakit mereka kumat," ucap Melky.
Gilang menatap lekat wajah-wajah ketujuh sahabat-sahabat dari adik laki-laki kesayangannya itu.
"Pasti terjadi sesuatu yang besar di markas kakak Enzo," ucap Gilang.
Mendengar perkataan dari Gilang. Mereka semua menatap kearah Gilang. Setelah itu, mereka menatap ketujuh sahabat Darren.
Axel, Jerry, Dylan, Darel, Rehan, Qenan dan Willy saling memberikan tatapan. Setelah itu, mereka kembali menatap wajah para kakak-kakaknya Darren.
"Tolong jujurlah pada kami. Kami ingin tahu apa yang terjadi ketika kalian berada di markas milik Enzo sehingga membuat Darren harus kembali masuk rumah sakit," ucap Davin memohon.
Erland melangkah menuju sofa dimana putra-putranya dan para sahabat putranya duduk. Diikuti oleh Agneta.
Setelah tiba di sofa, Erland dan Agneta menduduki pantatnya disana.
"Tolong ceritakan semuanya pada Paman. Jangan ada yang disembunyikan," mohon Erland.
"Kami hanya akan menceritakan kejadian ketika kami di markas kakak Enzo. Selebihnya, kami tidak bisa menceritakannya. Jika kalian ingin tahu sisanya, tanyakan langsung kepada Darren!" seru Qenan.
"Ketika kalian bertanya nanti. Tanyalah pelan-pelan," ucap Axel.
"Jika Darren tidak ingin bercerita. Jangan dipaksa. Jika kalian memaksanya, itu akan membuat Darren tertekan." Rehan menambahkan.
Mendengar ucapan demi ucapan dari Qenan, Axel dan Rehan membuat mereka langsung paham. Mereka sangat menyayangi Darren. Jadi mereka tidak akan menyakiti Darren dengan memaksa Darren bercerita.
"Baiklah. Paman dan Bibi akan mendengarkan perkataan kalian," jawab Erland dan Agneta bersamaan.
"Kami juga!" seru Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang.
__ADS_1