
Kini Darren bersama anggota keluarga Smith, anggota keluarga Radmilo, ketujuh sahabatnya dan anggota keluarganya, kelima kakak mafianya berada di ruang tengah. Mereka membahas masalah Rolando Santa.
"Sekarang katakan padaku, apa yang telah Papa ketahui? Dan alasan Papa sampai berpura-pura Amnesia?" tanya Darren dengan tatapan matanya menatap wajah ayahnya.
"Singkat cerita, ketika Papa sadar. Papa sudah berada di sebuah ruangan. Dan samar-samar Papa mendengar pembicaraan seseorang di diluar."
"Apa yang Paman Erland dengar?" tanya Enzo.
"Mereka mengatakan bahwa mereka harus menjaga Paman dengan baik. Jika terjadi sesuatu terhadap Paman maka Bos mereka akan marah," jawab Erland.
"Apa mereka menyebut nama Bos nya?" tanya Aldez.
"Iya. Mereka menyebut nama Bosnya."
"Siapa Papa?" tanya Gilang dan Darka bersamaan.
"Rolando Santa."
Mendengar nama Rolando Santa disebut oleh Erland. Seketika ekspresi wajah Darren tak mengenakkan. Begitu juga dengan ketujuh sahabatnya.
"Ketika mendengar nama itu, aku teringat perkataan Darren dimana saat itu Darren mengatakan kepada kita untuk berhati-hati dan waspada, terutama saat menandatangani berkas-berkas. Baik itu berkas kerjasama maupun berkas yang diberikan oleh sekretaris atau asisten kita di kantor. Mengingat itu, entah mengapa terlintas sebuah ide di benakku. Ketika aku sedang memikirkan hal itu, tiba-tiba terdengar knop pintu berputar. Dan aku kembali memejamkan mataku."
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya Paman Erland?" tanya Jerry.
"Setengah jam kemudian, aku kembali membuka kedua mataku. Aku sudah berada di sebuah kamar. Di kamar itu aku tidak sendirian. Ada tiga orang laki-laki, salah satunya seorang Dokter. Dan aku tidak tahu dua orang laki-laki selain Dokter itu, siapa diantara mereka yang bernama Rolando Santa."
"Apa yang mereka lakukan ketika melihat Papa telah sadar?" tanya Davin.
"Setelah Papa dinyatakan sembuh. Dokter itu pamit. Dan meninggalkan dua laki-laki itu bersama Papa. Kemudian salah satunya mendekati ranjang Papa. Laki-laki itu bertanya banyak. Mulai dari nama Papa, alamat rumah Papa, keluarga Papa dan orang-orang terdekat Papa. Mendengar pertanyaan-pertanyaan itu hanya empat kata sebagai jawaban yang Papa berikan yaitu saya tidak ingat apa-apa."
"Mendengar jawaban dari Papa membuat kedua laki-laki itu awalnya terlihat terkejut. Namun seketika keduanya saling memberikan tatapan. Setelah itu, kedua tersenyum. Dari situ Papa sudah curiga, jika salah satu dari mereka adalah Rolando Santa."
Erland menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di hadapannya yang juga menatap dirinya.
"Laki-laki yang berdiri di hadapanku memperlihatkan sebuah foto. Foto istri dan putra-putraku. Hanya saja di dalam foto itu tidak ada foto Darren. Laki-laki itu mengatakan bahwa orang-orang yang ada di dalam foto itu adalah keluargaku. Dia juga mengatakan bahwa Darren berada di Amerika dan sebentar lagi akan kembali ke Jerman."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Erland membuat Darren benar-benar marah saat ini. Dia tidak menyangka jika Rolando Santa sudah sejauh ini bertindak.
"Apa dia juga yang sudah memerintah anak buahnya untuk mencelakai Erica?" tanya Darren dengan suara yang sudah berubah. Bukan suara asli Darren lagi.
Mendengar suara dan nada bicara Darren membuat mereka terkejut. Melihat kearah Darren, tepatnya di manik Darren. Dapat mereka lihat warna manik Darren telah berubah menjadi warna abu-abu.
"Rendra," ucap ketujuh sahabatnya dan kelima kakak-kakak mafianya bersamaan.
"Iya. Dia dalangnya," jawab Erland
Erland seketika terkejut ketika melihat bola mata putranya yang berubah abu-abu.
Davin yang melihat keterkejutan ayahnya langsung mengatakan yang sebenarnya tentang sosok Rendra kepada ayahnya.
"Dia adalah Altar Egonya Darren, Papa! Namanya adalah Rendra," ucap Davin.
Erland menatap wajah putra sulungnya. Dia ingin mencari kebenaran di tatapan mata putranya itu.
"Itu benar, Papa! Papa bisa melihat sendiri dari warna bola mata Darren," ucap Davin.
Erland kembali menatap wajah putra ketujuhnya itu, lebih tepatnya menatap kearah bola mata Darren. Benar apa yang dia lihat. Bola mata putranya itu berubah menjadi abu-abu.
"Papa," panggil Erica tiba-tiba.
Mendengar panggilan dari Erica. Seketika bola mata Darren berubah seperti biasa.
Baik Darren maupun yang lainnya langsung melihat kearah Erica yang berlari menghampiri Darren dan diikuti oleh pengasuhnya di belakang.
Erica langsung memeluk tubuh ayah angkatnya. Dan seketika tangisannya pun pecah.
Mereka yang mendengar tangisan Erica menjadi khawatir dan juga takut.
Darren melihat kearah pengasuhnya dan bertanya, "Ada apa?"
"Secara jelasnya saya tidak tahu, tuan! Saya berada di kamar mandi tengah membersihkan baju nona Erica yang kena muntah."
"Apa?!"
Mereka semua berteriak ketika mendengar perkataan dari sang pengasuh.
"Tuan, Nyonya dan yang lainnya tidak usah khawatir. Nona Erica muntah karena kekenyangan."
"Terus? Kenapa tiba-tiba Erica berteriak dan berlari ke bawah?" tanya Qenan.
"Saya menemukan ini di atas tempat tidur nona Erica," jawab pengasuh itu sembari memberikan gulungan kertas kepada Darren.
Darren mengambil gulungan kertas yang diberikan oleh pengasuh itu. Kemudian Darren membuka gulungan kertas tersebut dan membacanya.
Detik kemudian...
"Brengsek!" teriak Darren.
Mendengar teriakkan dan umpatan amarah Darren membuat mereka semua berpikir pasti terjadi sesuatu dengan isi gulungan kertas itu.
"Ren, ada apa? Apa isi gulungan kertas itu?" tanya Noe.
Darren tidak langsung menjawab pertanyaan dari salah satu kakak mafianya. Justru Darren memberikan gulungan kertas itu kepada Noe.
Noe mengambil gulungan kertas itu, lalu membacanya. Begitu juga dengan Ziggy, Devian, Enzo dan Chico.
Sama halnya dengan Darren. Noe, Ziggy, Devian, Enzo dan Chico terkejut dan juga marah akan isi yang tertera di kertas tersebut.
__ADS_1
"Sepertinya Rolando Santa sudah tidak sabar ingin berperang dengan kita. Bahkan dia sudah mulai merencanakan untuk menargetkan Erica," ucap Chico.
Mendengar ucapan dari Chico membuat semua yang ada di ruang tengah itu terkejut.
"Benar-benar brengsek kau, Rolando!" teriak Axel dan Rehan bersamaan.
"Gue nggak akan pernah maafkan lo jika lo berani nyentuh putri angkat gue," sahut Qenan dengan penuh amarah.
Darren menatap wajah ayahnya. Dia ingin menanyakan dimana keberadaan sianak palsu itu.
"Papa."
Erland langsung melihat kearah putra ketujuhnya itu.
"Iya, sayang! Ada apa?"
"Dimana anak sialan itu?"
"Dia ada di markas milik Ibra, tangan kanan Papa."
"Apa dia masih disana?"
"Masih, sayang. Kenapa?"
"Kita gunakan dia untuk memancing bajingan itu keluar. Aku sangat yakin dia akan keluar jika kita mengancam dia."
Mendengar ucapan dari Darren membuat Erland terkejut. Begitu juga dengan yang lainnya.
Disini hanya Darren yang belum mengetahui tentang hubungan Rolando dan Rogert. Dan mereka belum menceritakan hal itu kepada Darren.
Darren yang melihat wajah terkejut semua orang hanya tersenyum. Dia tahu alasan keterkejutan mereka semua.
"Aku sudah tahu bahwa Rogert adalah adik laki-laki Rolando Santa. Dan aku juga tahu bahwa seorang Rolando Santa sangat menyayangi adik laki-lakinya. Dia akan melakukan apa saja untuk adik laki-lakinya itu."
Darren tersenyum lebar ketika membayangkan wajah musuh-musuhnya. Dari mulai Samuel sampai Rolando Santa. Menurut Darren, semua musuhnya itu terlalu bodoh menyembunyikan sisi lemahnya sehingga mudah untuk dikorek oleh musuh-musuhnya.
Melihat Darren yang tersenyum begitu lebar membuat mereka mengartikan bahwa Darren saat ini tengah memikirkan sifat dari musuh-musuhnya.
"Cara berpikirnya sama seperti Samuel dulu. Yang membedakannya adalah cara kerjanya. Jika Samuel hanya melukai. Sementara Rolando langsung menghabisi musuhnya."
Mendengar perkataan dari Darren membuat anggota keluarga Smith, ketujuh sahabatnya dan kelima kakak-kakak mafianya mengangguk setuju.
"Dan keduanya memiliki kelemahan yang sama," ucap Darren lagi.
Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel melihat kearah Darren lalu berucap, "Kelemahan mereka terletak pada keluarga!"
"Jika Samuel memiliki Ibu dan dua adik perempuan. Maka Rolando memiliki satu adik laki-lakinya," ucap Rehan.
Ketika mereka tengah membahas Rolando, tiba-tiba ponsel milik Darren berbunyi menandakan sebuah panggilan masuk.
Melihat hal itu, Willy yang kebetulan duduk tak jauh dari Darren bergeser mendekat kearah Darren.
"Erica, sayang. Pindah duduk sama Papa Willy yuk," bujuk Willy.
Tanpa diduga, Erica langsung melepaskan pelukannya dan berpindah memeluk tubuh Willy. Mereka yang melihat itu tersenyum bahagia.
Setelah itu, Darren mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.
Darren melihat nama 'Andrean' di layar ponselnya.
Tanpa buang-buang waktu lagi. Darren langsung menjawab panggilan dari Andrean. Sementara yang lainnya memasang telinganya untuk mendengar pembicaraan Darren dengan seseorang di telepon.
"Hallo, Andrean."
"Hallo, Ren. Gue ada informasi penting buat lo. Dan gue sangat yakin lo pasti senang dengarnya."
"Apa, Andrean? Buruan katakan!"
"Ini tentang Rolando Santa dan pelaku pembunuhan keluarga Mondella."
"Nicko Dilbara?"
"Iya. Mereka kerjasama. Nicko Dilbara masih mencari seperti apa sosok dari keponakannya itu. Sejak mereka kerjasama, Nicko sudah mengetahui wajah dari Erica."
Mendengar ucapan dari Andrean membuat Darren seketika berteriak. Dia tidak menyangka jika penyamaran Erica diketahui juga oleh Paman tirinya Erica.
"Bagaimana bisa itu terjadi? Bukankah semua data-data asli Erica sudah dimusnahkan. Bahkan ibunya juga sudah membakar semua foto-foto Erica."
Mendengar teriakkan dan perkataan Darren membuat mereka semua menatap Darren khawatir.
"Ada kesalahan saat kita menghapus semua data-data asli Erica. Ada satu data yang lupa kita hapus."
"Data yang mana?"
"Identitas asli Erica dimana data itu masih tersimpan dan masih bisa dicari di media sosial. Bahkan ada satu foto ketika bersama dengan ibunya."
"Tidak. Ini tidak mungkin. Saat itu aku benar-benar sudah menghilangkan semua bukti-bukti tentang identitas asli Erica."
"Tapi itu kenyataannya, Ren! Eriklca dalam bahaya. Nicko Dilbara sudah tidak lagi mengincar seluruh kekayaan milik keluarga Mondella. Begitu juga kekayaan pribadi milik ibunya Erica. Yang jadi incarannya saat ini adalah nyawa Erica."
Darren menggeleng-gelengkan kepalanya ketika mendengar perkataan dari Andrean.
Sementara anggota keluarganya dan yang lainnya makin menatap khawatir dan takut kearah Darren dan juga Erica.
"Dan ada satu lagi kabar dari gue. Dan kabar ini akan membuat lo marah."
"Kabar buruk apa lagi?! Buruan katakan!"
__ADS_1
"Ada pengkhianat di keluarga lo."
Seketika Darren membelalakkan kedua matanya ketika mendengar kabar tersebut.
"Lo cari tahu sendiri siapa orangnya. Apa lo masih ingat dengan perempuan yang pernah menghina Erica di acara pameran lukisan beberapa bulan yang lalu?"
"Iya. Aku tahu. Dia anak tiri dari tuan Manaf. Kenapa?"
"Dialah yang menjadi penyebab adanya seorang pengkhianat dalam keluarga lo. Perempuan itu bernama Lusiana. Berasal dari keluarga Migael. Dan sedikit banyaknya dari dialah identitas asli Erica terbongkar di telinga Nicko Dilbara dan Rolando Santa."
"Brengsek!"
"Sekarang yang harus lo lakukan adalah perketat penjagaan Erica."
"Itu sudah pasti."
"Baiklah. Aku akhiri pembicaraan ini. Aku akan terus menyelidiki dan mengawasi kedua bajingan itu."
"Hati-hati."
"Oke."
Darren melihat kearah Adrian. "Adrian."
"Ya, kakak Darren."
"Tolong ambilkan laptop kakak di kamar."
"Baik, kakak Darren."
Setelah itu, Adrian langsung pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamar Darren di lantai dua.
"Ren, ada apa?" tanya Darka kepada adik laki-lakinya.
"Identitas asli Erica terbongkar. Nicko Dilbara selaku saudara tiri dari ibunya Erica sudah mengetahui siapa Erica."
Mendengar jawaban dari Darren membuat Darka terkejut. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Bagaimana bisa?" tanya Darel.
"Aku juga tidak tahu. Tapi Andrean mengatakan padaku bahwa saat itu ada yang tertinggal. Dan kita lupa menghapusnya."
Ketika Axel ingin bertanya, tiba-tiba Adrian datang membawa laptop milik Darren.
"Kakak Darren, ini laptopnya!"
Darren menerima laptop itu dan tak lupa mengucapkan terima kasih pada adik laki-lakinya itu.
"Terima kasih."
"Sama-sama, kakak Darren!"
Darren membuka laptop miliknya. Setelah itu, Darren menghidupkan laptop tersebut.
Darren mencari aplikasi kamera pengintai yang terhubung dengan kamera-kamera yang terpasang di kediaman keluarga Smith.
Setelah mendapatkannya. Darren meng-klik aplikasi tersebut.
Beberapa detik kemudian, terlihat sebuah video yang terpampang di layar laptop miliknya.
Mereka semua melihat kearah layar laptop milik Darren. Mereka juga ingin tahu apa yang sedang dilihat oleh Darren.
"Itukan Bibi Lani! Dia bicara dengan siapa? Mencurigakan sekali!" seru Dzaky.
"Jadi selama ini dia......"
Perkataan Agneta terpotong karena Darren sudah terlebih dulu bersuara.
"Dia seorang pengkhianat. Perempuan itu suruhan dari Lusiana Migael, perempuan yang dulu pernah menghina Erica saat di acara pameran lukisan beberapa bulan yang lalu."
Mendengar perkataan Darren membuat anggota keluarga Smith, ketujuh sahabat Darren dan anggota keluarganya terkejut.
"Han, panggil Fito kemari!"
"Baik, Ren!"
Rehan beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju keluar rumah.
Dan tak butuh lama, Rehan dan Fito datang.
"Ada apa, Bos Darren."
"Kau jemput perempuan ini," sahut Darren sembari memperlihatkan layar laptop miliknya kearah Fito.
Fito seketika membelalakkan matanya ketika melihat adegan di dalam video tersebut.
"Bos, dia....."
"Iya, Fito. Sekarang jemput dia. Dan bawa dia kemari. Tapi...."
"Tapi apa, Bos?"
"Perempuan itu jangan sampai tahu bahwa kita sudah tahu pengkhianatan dia terhadap kita. Katakan saja bahwa aku menyuruhnya untuk membantu pengasuhnya Erica bersama-sama menjaga Erica."
"Baik, Bos!"
Setelah mengatakan itu, Fito pun pergi meninggalkan kediaman Darren untuk menuju kediaman keluarga Smith.
__ADS_1