
Setelah menceritakan tentang bagaimana Vazza yang tidak jadi bekerja di perusahaan ER sebagai General Manager sehingga berakhir bekerja di kediaman Mondella. Kini Vazza akhirnya bekerja di sebuah perusahaan milik Daffa. Vazza bekerja sebagai Manager keuangan disana.
Saat ini Darren berada di perusahaan Accenture. Dia tidak sendirian, melainkan bersama kedua sahabatnya yaitu Qenan dan Willy. Mereka bertiga berada di ruang kerja masing-masing.
Darren, Qenan dan Willy tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing di ruang kerjanya. Baik Darren maupun Qenan dan Willy tengah mengerjakan beberapa tugas untuk proyek beberapa bulan lagi. Ditambah lagi Qenan dan Willy juga tengah memeriksa berkas-berkas data keuangan perusahaannya pribadi. Jadi sembari fokus dengan perusahaan Accenture, Qenan dan Willy juga fokus dengan beberapa berkas-berkas yang dikirim oleh kepercayaannya melalui email.
***
Di kediaman Chaim dimana sepasang suami istri dan ketiga anaknya berkumpul di ruang tengah. Mereka berkumpul beberapa menit saja. Setelah itu, barulah mereka akan pergi ke tempat kerjanya masing-masing.
"Bagaimana keadaan Darren sekarang, Ziggy?" tanya Zeroun.
"Sudah lebih baik, Pa!" jawab Ziggy.
"Apa Darren ada mengatakan sesuatu kepada kamu atau kepada yang lainnya penyebab sosok Rendra bisa muncul dan membunuh kelima pemuda itu?" tanya Farraz.
"Tidak, kak. Darren tidak cerita apa-apa. Aku dan yang lainnya juga tidak ada niatan untuk bertanya karena kami tidak ingin membuat Darren mengingat kejadian itu. Kakak tahu sendiri kan bagaimana Darren. Darren akan berubah menjadi sosok lemah dan seketika menyalahkan dirinya atas apa yang telah terjadi. Tanpa aku maupun yang lainnya bertanya. Baik aku maupun yang lainnya sudah bisa menebaknya bahwa kelima pemuda itu yang terlebih dahulu mencari masalah dengan Darren. Bisa saja kan kelima pemuda itu mengatakan hal-hal yang buruk terhadap Darren. Intinya! Jika Darren atau pun sosok Rendra sudah mengamuk, masalah tak jauh-jauh dari itu semua."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Ziggy membuat Zeroun, Gloria, Farraz dan Wilona langsung menganggukkan kepalanya tanda setuju. Mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh Ziggy.
"Dan soal sosok Rendra yang muncul lalu membunuh kelima pemuda itu. Sebenarnya sosok Rendra sudah muncul sejak Darren berada di perusahaan Micro Sinopec. Namun sosok Rendra tidak muncul lama karena sosok Rendra bergantian dengan Darren."
"Apa Darren ke perusahaan Micro Sinopec untuk mencari tahu identitas tiga mata-mata itu?" tanya Wilona.
"Iya, kak! Memang itu tujuan Darren datang ke perusahaan Micro Sinopec. Darren ingin menyelidiki dan mencari identitas tiga mata-mata itu lewat alat-alat yang Darren pasang di ruang data dan ruang sistem keamanan. Darren pernah mengatakan sekali pun sistem keamanannya berhasil dihancurkan oleh orang lain, namun jejak orang tersebut sudah tersimpan secara otomatis di dalam ruangan itu. Dengan begitu Darren bisa dengan mudah mendapatkan jejak orang itu."
Mendengar penuturan dari Ziggy membuat Zeroun, Gloria, Farraz dan Wilona tersenyum. Mereka benar-benar bangga akan kejeniusan yang dimiliki Darren.
"Papa benar-benar bangga akan kepintaran dan kejeniusan Darren. Dia bisa melakukan apa saja untuk melindungi miliknya dari orang lain. Terbukti, setiap orang ingin mencuri miliknya. Darren selalu berhasil menemukan pelakunya." Zeroun berucap dengan penuh bangga akan Darren.
"Bukan itu saja Pa! Di kediaman Smith. Baik bagian luar rumah maupun bagian dalam rumah sudah terpasang banyak alat. Mulai dari alat perekam, alat pelacak atau kamera pengintai dan senjata api. Terakhir ketika enam anggota kakak Farraz mendatangi kediaman Smith yang akan membawa Adrian dan Mathew ke kantor polisi, tiba-tiba terdengar suara tembakan sehingga menewaskan tiga anggota kakak Farraz. Semua yang ada di kediaman Smith tidak tahu berasal dari mana tembakan tersebut. Dan setelah diceritakan oleh Darren, suara tembakan itu berasal dari dinding rumahnya. Tembakan itu akan bergerak sesuai dengan gerakan tangan Darren pada cincin yang dipakai Darren."
"Benarkah?" tanya Gloria dan Wilona bersamaan.
"Iya," jawab Ziggy.
"Wah! Kakak benar-benar kagum sama Darren!" seru Wilona.
Ketika Zeroun, Gloria, Farraz, Wilona dan Ziggy sedang mengobrol di ruang tengah. Tiba-tiba ponsel milik Farraz berbunyi menandakan panggilan masuk dari seseorang.
Farraz langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Setelah ponselnya di tangannya, Farraz melihat nomor salah satu bawahannya.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Farraz langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo."
"...."
"Gawat kenapa?"
"...."
"Apa?!"
Farraz seketika berdiri dari duduknya ketika mendengar jawaban dari Aiptu Sargan.
"Sejak kapan kejadian tersebut?"
"...."
__ADS_1
"Apa?! Kejadiannya sudah tiga hari dan kau baru mengatakannya sekarang. Apa saja yang kau kerjakan tiga hari ini, hah?! Kenapa kau tidak langsung memberitahuku masalah ini?!"
"...."
"Sekarang, kerahkan semua anggota kepolisian untuk mencari bajingan itu. Temukan bajingan itu dalam keadaan hidup atau pun dalam keadaan mati!"
"...."
Pip..
Setelah mengatakan itu, Farraz langsung mematikan panggilannya secara sepihak. Dirinya saat ini benar-benar marah terhadap anggotanya yang tidak langsung memberitahunya masalah tersebut.
"Farraz, ada apa?" tanya Zeroun.
Farraz melihat kearah ayahnya, lalu beralih melihat kearah adik laki-lakinya.
"Bajingan itu kabur dari penjara," ucap Farraz.
Seketika kedua mata Ziggy membelalak sempurna ketika mendengar ucapan dari kakaknya. Begitu juga dengan Zeroun, Gloria dan Wilona. Mereka juga terkejut ketika mendengar ucapan dari Farraz.
"Kapan kejadiannya, kak?"
"Tiga hari yang lalu."
"Tiga hari yang lalu, tapi anggota kakak itu baru memberitahunya sekarang?!"
Ziggy seketika marah ketika mendengar jawaban dari kakaknya yang mengatakan bahwa bajingan tersebut kabur dari penjara sudah lebih tiga hari, namun para anggota kepolisian baru memberitahu sekarang.
"Brengsek!" teriak Ziggy.
Ziggy mengambil ponselnya lalu menghubungi salah satu tangan kanannya yang bertugas memantau keadaan seluk-beluk jalanan.
"Hallo, King!"
"Hallo, Tory. Kau dimana sekarang?"
"Aku sedang memantau keadaan diluar, terutama jalanan-jalanan yang sering dilalui oleh kedelapan adik-adik anda, King!"
"Bagus kalau begitu. Oh iya! Aku ingin memberitahu kamu kalau bajingan itu berhasil kabur dalam penjara. Kemungkinan dia akan mengincar Darren. Jadi dengan kata lain nyawa Darren dalam bahaya. Bukan itu saja, kemungkinan Qenan dan Willy juga dalam bahaya karena mereka bersama dengan Darren di perusahaan Accenture."
"Saya mengerti, King! Saya akan berjaga-jaga di sekitar jalanan yang akan dilalui orang tuan Darren, tuan Qenan dan tuan Willy!"
"Hubungi Billy. Dan minta dia menyelisir semua jalanan untuk menemukan keberadaan bajingan itu. Pastikan juga apakah dia sendirian atau membawa pasukan."
"Baik, King!"
Setelah mengatakan itu kepada Tory, Ziggy pun langsung mematikan panggilannya.
"Kali ini kau akan mati di tanganku, sialan!" Ziggy berucap di dalam hatinya.
***
"Kalian sudah selesai?" tanya Darren kepada Qenan dan Willy yang saat ini berada di meja salah satu karyawan laki-laki.
Qenan dan Willy langsung melihat kearah Darren yang tengah melangkah menghampirinya.
"Pekerjaan kita sudah selesai," jawab Qenan.
"Ini kita sedang memberikan dua pekerjaan kepada Sargio," jawab Willy.
__ADS_1
"Langsung pulang atau kita pergi makan dulu?" tanya Darren.
"Eeemm.. Aku langsung pulang saja ya. Aku lelah banget hari ini. Aku ingin istirahat sejenak sampai di rumah. Kebetulan nanti malam aku dan Alice akan pergi kencan," sahut Willy.
"Lo bagaimana, Nan?" tanya Darren menatap kearah Qenan.
"Kita pergi makan dulu sebelum pulang," jawab Qenan.
"Eemm.. Baiklah!" Darren langsung mengiyakan jawaban dari Qenan.
"Aku akan kembali ke ruanganku dulu untuk merapikan berkas-berkas yang berserakan di atas meja. Setelah itu, kita pergi!"
"Hm!" Qenan dan Willy berdehem sembari menganggukkan kepalanya bersamaan.
Darren kemudian pergi meninggalkan Qenan dan Willy untuk kembali ke ruangan kerjanya.
Beberapa menit kedua...
Darren, Qenan dan Willy sudah berada di depan perusahaan Accenture. Ketika kaki mereka hendak melangkah menuju mobil masing-masing, tiba-tiba ponsel milik Darren berbunyi.
Darren langsung mengambil ponselnya di saku celananya. Ketika ponselnya sudah ada di tangannya, Darren melihat nomor tak dikenal tertera di layar ponselnya.
Karena rasa penasarannya, Darren langsung menjawab panggilan tersebut. Sedangkan Qenan dan Willy hanya mendengar pembicaraan Darren dengan seseorang di telepon.
"Hallo."
"...."
Deg..
Darren seketika membelalakkan matanya ketika mengenal suara seseorang di seberang telepon. Sementara Qenan dan Willy yang melihat reaksi dari Darren saling memberikan tatapan. Setelah itu keduanya kembali menatap Darren.
"Apa terjadi sesuatu?" batin Qenan dan Willy.
"...."
Tuttt.. Tuttt..
Seketika tubuh Darren menegang ketika mendengar ucapan serta ancaman dari Darel orang itu. Darren kemudian mengepalkan kuat tangannya.
Detik kemudian, Darren menatap wajah kedua sahabatnya yang juga ditatap oleh Qenan dan Willy.
"Kalian kembali masuk ke dalam. Kalian pulang nanti sekitar pukul 5 sore! Jangan pulang sekarang!"
"Tapi, Ren! Ada apa?" tanya Qenan.
"Kenapa?" tanya Willy.
"Nggak perlu alasan buat aku menyuruh kalian kembali masuk ke dalam perusahaan. Sekarang, masuklah. Jangan pulang sekarang!"
Setelah mengatakan itu, Darren pergi meninggalkan Qenan dan Willy menuju mobilnya. Darren tidak mempedulikan panggilan dan teriakan dari Qenan dan Willy. Darren menulikan pendengarannya.
"Darren!" panggil Qenan dan Willy bersamaan.
"Kalian boleh pulang setelah jam 5 sore. Jika kalian berani pulang sebelum jam 5 sore. Aku tidak akan pernah memaafkan kalian berdua!"
Setelah mengatakan itu, Darren melajukan mobilnya meninggalkan perusahaan Accenture
Sementara Qenan dan Willy terdiam di tempat ketika mendengar ucapan sekaligus ancaman dari Darren.
__ADS_1
Qenan menatap kearah Willy. Begitu juga dengan Willy. Keduanya saling memberikan tatapan. Setelah itu, keduanya memutuskan untuk menyusul Darren. Mereka tidak peduli jika Darren akan marah hingga berakhir mengabaikannya.