KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Panggilan Telepon Dari Darren


__ADS_3

Darren bersama ketujuh sahabat-sahabatnya saat ini berada di kamar tamu. Mereka kini tengah merencanakan sesuatu untuk menyambut kedatangan Charlie dan keluarganya.


Sementara Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya berada di kamar Brenda.


Baik Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya maupun ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda sudah merencanakan sejak di kampus apa yang akan mereka lakukan ketika berada di rumah Brenda.


Maka dari itulah kenapa ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda bersama Brenda berada di kamarnya Brenda. Sedangkan Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya berada di kamar tamu.


Setelah membahas apa yang akan mereka lakukan terhadap Charlie dan keluarganya. Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya keluar dari kamar tersebut. Mereka langsung menemui keluarga Brenda yaitu ibunya Brenda keempat kakak-kakaknya Brenda yaitu Maura, Rangga, Barra, Riana dan satu adik perempuan Brenda yaitu Raya.


Tujuan Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya menemui keluarga Brenda adalah untuk berpamitan. Sebenarnya itu hanya alibi mereka saja agar tidak diketahui oleh keluarga Brenda.


"Bibi Liana, kak Maura, kakak Rangga, kakak Barra, kak Riana dan Raya. Aku dan ketujuh sahabat-sahabatku mau pamit pulang. Sebenarnya rencana kita mau nginap disini. Tapi aku mendapatkan pesan dari asistenku bahwa ada tiga perusahaan yang ingin menemuiku. Ketiganya ingin menjalin hubungan kerja sama dengan perusahaan Accenture. Dan ketiganya juga tertarik ingin memesan mobil di showroomku."


Mendengar perkataan dari Darren membuat Liana dan putra putrinya tersenyum. Mereka tersenyum bangga dengan Darren yang masih muda dan masih kuliah, tapi sudah sukses menjadi seorang CEO.


"Tak apakan, Bibi Liana?" tanya Darren.


"Tidak apa-apa, sayang. Bibi justru bangga sama kamu. Kamu masih muda. Tapi kamu sudah sukses menjadi CEO. Bibi saja dulu ketika masih seusia kamu. Bibi justru banyak menghabiskan masa muda Bibi dengan bermain-main. Mana ada kepikiran buat usaha sendiri. Masak saja Bibi nggak bisa."


"Iya, itukan dulu. Sekarang kan Bibi Liana udah sukses dalam mengembangkan Perusahaan peninggalan kedua orang tuanya Bibi. Bahkan Bibi mulai bekerja di perusahaan kedua orang tuanya Bibi saat Bibi punya anak satu yaitu kak Maura. Padahal dulu Bibi belum bisa apa-apa. Tapi dengan Bibi belajar. Akhirnya Bibi mendapatkan semuanya."


"Sama sepertiku. Semua yang aku dapatkan dan semua yang aku raih ini nggak ada yang instan. Aku mengorbankan semuanya. Mulai dari air mataku, darahku, keringatku, tenagaku dan pikiranku. Aku membangun semua itu awalnya untuk menghibur rasa sepiku. Dan tanpa sangka-sangka semua usahaku berkembang dan sukses. Itu semua juga tak lepas dari dukungan dan kerja keras dari ketujuh sahabat-sahabatku. Mereka semua selalu ada untukku. Jika tidak ada mereka. Aku nggak akan menjadi sekarang ini."


Mendengar perkataan dari Darren. Lagi-lagi Liana dan putra putrinya tersenyum. Mereka semua benar-benar bangga akan kerja keras Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya. Bukan itu saja, Liana dan putra putrinya juga bangga akan persahabatan Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.


"Bibi bangga akan persahabatan kalian.  Bibi harap persahabatan kalian abadi sampai tua. Sampai kalian punya anak nantinya. Dan persahabatan kalian turun kepada anak-anak kalian juga," ucap dan doa Liana.


"Aamiin, Bibi Liana." Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel berucap bersamaan.


"Brenda dan yang lainnya mana?" tanya Darren.


"Mereka ada di kamarnya Brenda," jawab Maura.


"Ach, baiklah. Aku dan sahabat-sahabatku akan ke kamar Brenda sekalian mau pamit pulang," ucap Darren.


"Cie. Pamit sama calon istri ceritanya nih," ledek Riana.


"Ih. Apaan sih, kak Riana!" jawab Darren.


Darren melihat kearah Riana dengan tatapan jahilnya. "Eeemmm... Aku tahu nih! Jangan bilang kalau kak Riana cemburu dengan hubunganku sama Brenda? Secara Brenda sudah punya pacar. Sementara kak Riana belum. Apa jangan-jangan... Ayo, ngaku."


"Apaan sih, Ren!"


"Kak Riana pasti udah ngebet ya pengen punya pacar. Bagaimana kalau aku rekomendasikan kakak-kakak aku. Atau kakak-kakak dari sahabat-sahabat aku, hum!" Darren berbicara sembari menggoda Riana.


"Nggak! Kakak bisa cari sendiri. Dan kakak nggak butuh rekomendasi dari kamu. Apalagi dari sahabat-sahabat kamu itu," jawab Riana kesal akan ulah jahil Darren.


"Hahahahaha."


Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya tertawa melihat wajah kesal Riana.


Mendengar tawa dari Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya membuat Riana makin kesal.


"Udah sana pergi. Katanya tadi mau pulang," ejek Riana.


"Ngusir nih, kak Riana?" tanya tanya Qenan.


"Iya, ngusir. Hus... Hus! Sana pergi," jawab Riana dengan mengibas-ngibaskan tangannya.


Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya menatap dengan wajah kesal kearah Riana. Sementara Riana tersenyum manis menatap wajah Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.


"Ya, udah kita pulang. Tapi sebelumnya kita mau pamitan ama bebeb kita," sahut Jerry dan Dylan bersamaan.

__ADS_1


Setelah itu, keduanya pun pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamarnya Brenda.


"Aku juga mau bertemu dengan bebebku," ucap Qenan, Willy, Axel, Rehan dan Darel. Mereka pun pergi menuju kamarnya Brenda.


Tinggal Darren bersama keluarga Brenda. Darren masih menatap jahil Riana.


"Kamu ngapain masih disini. Katanya mau pulang. Dan katanya ada urusan," ucap Riana.


"Niat banget ngusir," balas Darren.


"Yang ngusir itu siapa? Kan kamu sendiri yang bilang katanya mau pulang karena ada urusan," ucap Riana kesal.


Sementara Liana, Maura, Rangga, Barra dan Raya hanya tersenyum melihat Riana dan Darren.


Ketika Darren ingin membalas perkataan Riana. Riana sudah terlebih dahulu bersuara.


"Kamu pergi atau kak Riana timpuk pake bantal," ucap Riana sembari mengarahkan bantal sofa kearah Darren.


"Iya, iya! Aku pergi," jawab Darren dan langsung berlari menuju kamar Brenda


Melihat kepergian Darren ke kamar Brenda. Tawa Liana, Maura, Rangga, Barra dan Raya pun pecah.


"Hahahahaha."


"Belum resmi jadi adik ipar udah ngeselin. Bagaimana nanti kalau udah resmi jadi adik ipar aku. Pasti setiap hari buat aku kesal," ucap Riana.


"Sabar. Orang sabar dijauhi cowok-cowok ganteng," ucap Liana menjahili putrinya.


"Ih, Mama! Kok Mama doain aku agar dijauhi cowok-cowok ganteng sih?" Riana menatap ibunya dengan wajah merengutnya.


"Walaupun nanti kak Riana beneran dijauhin sama cowok-cowok ganteng. Kak Riana bisa terima tuh rekomendasi dari kakak Darren dan juga dari ketujuh sahabat-sahabatnya kakak Darren. Bukannya kakak Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya kakak Darren kakak-kakaknya laki-laki semua. Kak Riana bisa pilih tuh." Raya berbicara sambil menjahili sekaligus menggoda kakak perempuannya itu.


"Apaan sih kamu. Nggak usah ikut campur. Kamu tuh masih kecil. Tugas kamu itu belajar," jawab Riana.


"Kok malah marah sih. Aku kan nyaranin doang," balas Raya.


Sementara kamar Liana, kamar Rangga, kamar Barra dan kamar Riana ada di bawah. Masing-masing kamar mereka kedap suara. Jadi apapun keributan di dalam kamar tidak akan terdengar oleh siapa pun di luar.


***


Di rumah Darren terlihat anggota keluarga Darren semuanya tengah berkumpul di ruang tengah, kecuali Darren. Darren belum pulang sejak pagi berangkat ke kampus.


Baik Erland, Agneta maupun yang lainnya sangat mengkhawatirkan Darren. Secara ponsel milik Darren tidak bisa dihubungi.


Sedangkan Gilang dan Darka juga tidak mengetahui keberadaan adiknya itu. Terakhir kali Gilang dan Darka berbicara dengan adiknya itu di halaman kampus pukul 8 pagi sebelum materi kuliah dimulai.


"Gilang, Darka. Kalian beneran tidak tahu dimana Darren?" tanya Andra.


"Beneran, kakak Andra. Kami tidak tahu dimana Darren. Bahkan kami sudah mencari keberadaan Darren ketika kami di kampus," jawab Darka.


"Jangankan Darren. Aku dan Darka juga tidak melihat keberadaan ketujuh sahabat-sahabatnya Darren. Aku bahkan mendengar kabar bahwa Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya tidak mengikuti kelasnya di jam pertama dan kedua." Gilang berucap dengan wajahnya yang kentara khawatir.


"Oh, Tuhan. Lindungi putraku. Jauhkan dia dari segala mara bahaya," ucap dan doa Erland.


"Darren, kamu dimana? Semoga kamu baik-baik saja, sayang."


"Darren, semoga kamu tidak kenapa-kenapa, sayang!"


"Semoga kamu baik-baik saja, Ren!"


"Kakak Darren, pulanglah! Kami semua sangat mengkhawatirkan kakak Darren


Mereka semua memikirkan dan mengkhawatirkan Darren. Mereka semua berharap tidak terjadi hal-hal buruk terhadap Darren.

__ADS_1


Ketika mereka semua tengah memikirkan dan mengkhawatirkan Darren, tiba-tiba ponsel milik Erland berbunyi.


Erland yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambilnya yang kebetulan ada di atas meja.


Ketika ponselnya sudah berada di tangannya. Erland melihat nama 'Bungsunya Papa' tertera di layar ponselnya. Seketika terukir senyuman manis di bibirnya. Setelah itu, Erland pun langsung menjawab panggilan dari putra kesayangannya itu.


"Hallo, Darren. Kamu dimana, Nak? Papa mengkhawatirkan kamu disini."


Mendengar ayahnya yang menyebut nama Darren membuat Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Carissa, Evan, Daffa, Tristan, Davian, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin melihat kearah Erland. Mereka semua bahagia ketika suaminya/ayahnya/Pamannya/kakak laki-lakinya menyebut nama Darren.


"Papa, loundspeaker panggilannya. Kami ingin dengar suara Darren," sahut Dzaky.


Mendengar permintaan dari putra ketiganya, Erland langsung menganggukkan kepalanya.


Sementara Darren yang berada di seberang telepon tersenyum sekaligus sedih ketika mendengar pertanyaan dan nada khawatir dari ayahnya.


Bahagia karena ayahnya mengkhawatirkan dirinya. Sedih karena sudah membuat ayahnya dan juga keluarganya khawatir akan dirinya.


Darren menghubungi ayahnya dikarenakan Darren mematikan teleponnya sehingga tidak ada satu pun yang bisa menghubunginya atau pun melacak keberadaannya.


Ketika Darren sadar, Darren pun langsung menghidupkan kembali ponselnya.


Setelah ponselnya hidup. Banyak pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Dan yang paling banyak adalah pesan dari ayahnya. Ketika Darren membaca semua pesan dari ayahnya. Darren merasa bersalah karena sudah membuat ayahnya khawatir. Dan Darren pun memutuskan untuk menghubungi ayahnya langsung.


"Maafkan aku, Papa. Maafkan aku yang sudah membuat Papa khawatir."


"Tidak apa-apa, sayang. Papa tidak marah sama kamu. Sekarang kamu ada dimana? Kenapa belum pulang. Kamu baik-baik sajakan, sayang!"


"Aku baik-baik saja, Papa! Aku saat ini berada di rumahnya Brenda. Aku dan ketujuh sahabat-sahabatku sedang membantu menyelesaikan masalah keluarga Brenda. Malam ini sekitar pukul 7 malam saudara laki-laki dari ibunya Brenda akan datang bersama keluarganya. Kedatangan saudara laki-laki ibunya Brenda itu akan menyebabkan kehancuran keluarganya Brenda. Maka dari itu aku, ketujuh sahabat-sahabatku dan salah satu tangan kanannya kakak Noe dan beberapa anggotanya akan menyelesaikan masalah tersebut malam ini juga."


Mendengar perkataan dari Darren membuat Erland, Agneta dan keluarga lainnya terkejut. Mereka tidak menyangka jika ada yang berbuat jahat terhadap keluarga Brenda. Apalagi yang menjadi dalangnya adalah keluarga sendiri.


"Tapi kamu baik-baik sajakan, Darren!" seru Darka.


Darren yang mendengar suara kakak kesayangannya tersenyum di seberang telepon.


"Aku baik-baik saja, kakak Darka. Kakak Darka nggak usah khawatir, oke!"


"Bagaimana kakak tidak khawatir, Ren! Kamu nggak ada kabar sama sekali sejak pukul 8 pagi sampai sekarang. Bahkan kamu juga nggak ada di kampus. Begitu juga dengan ketujuh sahabat-sahabat kamu."


"Sekali lagi maafkan aku yang udah buat kakak Darka, kakak Gilang dan kalian semua khawatir."


"Kita maafkan. Tapi jangan ulangi lagi, oke!" seru Davin.


"Baik, kakak Davin. Aku bakal aktifin terus ponsel aku biar kalian bisa menghubungiku."


"Awas aja kalau bohong," sahut Andra, Dzaky dan Adnan bersamaan.


"Nggak."


"Pukul berapa kamu pulang, Ren?" tanya Gilang.


"Kayaknya aku nggak pulang malam ini. Aku dan ketujuh sahabat-sahabatku akan menginap di rumah Brenda. Ibunya Brenda sudah tahu pelaku pembunuhan suaminya. Dan malam ini ibunya Brenda dan anak-anak bakalan mengetahui semua kebusukan dari laki-laki itu. Jadi malam ini akan menjadi malam yang panjang dan juga malam yang menyedihkan untuk Brenda dan keluarganya."


Mendengar perkataan dari Darren membuat Erland dan yang lainnya menjadi sedih. Mereka semua berharap keluarga Brenda dalam keadaan baik-baik saja dan tidak ada yang terluka. Kalau pun ada yang terluka, mereka berharap orang-orang jahat itulah yang terluka. Bukan keluarga Brenda.


"Kamu hati-hati ya sayang. Jangan sampai terluka. Begitu juga dengan ketujuh sahabat-sahabat kamu, keluarga Brenda dan juga tangan kanan dari kakak mafia kamu," ucap Agneta.


"Iya, Mama! Aku janji."


"Ya, sudah kalau begitu. Aku tutup teleponnya. Kalian baik-baik saja di rumah. Jika ada yang mencurigakan di luar rumah. Kalian cukup melihat dari komputer yang ada di dinding dekat bingkai foto aku. Tekan kode DR97, maka bingkai foto itu akan terbuka. Setelah terbuka, kalian tekan lagi kode yang sama, maka komputer itu akan menyala dan memperlihatkan semua situasi diluar rumah."


Mendengar ucapan dan instruksi dari Darren membuat mereka semua tersenyum bangga. Mereka tidak menyangka jika Darren sudah menyiapkan semua untuk mengamankan rumahnya.

__ADS_1


"Baiklah, Ren!" jawab mereka semua dengan kompak.


Setelah selesai berbicara di telepon. Baik Darren maupun Erland sama-sama mematikan panggilannya.


__ADS_2