KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Mengambil Keputusan


__ADS_3

Semuanya sudah berada di halaman besar rumah sang kepala desa. Disana juga sudah berkumpul semua para warga desa termasuk Darren, Qenan, Darel, kelima kakak-kakak mafianya, tangan kanannya dan anggota mafianya.


Sesuai yang diinginkan oleh Darren yang mana Darren meminta pemuda yang hampir kehilangan nyawanya ditangan Rendra untuk mengakui kesalahannya di depan kepala desa dan semua warga desa. Begitu juga dengan kesembilan teman-temannya itu.


Mendengar ucapan demi ucapan serta cerita kronologi dari kesembilan pemuda yang ada di hadapannya yang juga berstatus warga asli desa tersebut membuat sang kepala desa terkejut dan juga syok. Begitu juga dengan semua warga desa termasuk para anggota keluarga dari kesembilan pemuda tersebut.


"Aku masih ingat ucapan salah satu dari kalian ketika kegiatan terakhir kami mengalami kegagalan," ucap Darren dengan menatap tajam kearah para warga desa. "Kelompokku melakukan semua kegiatan tersebut dibagi menjadi 4 hari. Hari pertama sampai hari ketiga berjalan dengan lancar. Kalian mendapatkan apa yang kalian butuhkan dari kami. Dan kalian sudah menerima semua itu. Namun...,"


Darren berbicara dengan penuh penekanan dan dengan tatapan makin menajam menatap semua orang yang ada di hadapannya.


"Di malam keempat dimana kita semua tengah membahas untuk kegiatan terakhir yaitu kegiatan keempat. Bahkan kita juga membahas lokasi yang akan kita gunakan. Di malam itu juga anda sebagai kepala desa mengatakan akan menunjukkan dua lokasi dimana dua lokasi itu adalah perkebunan dan peternakan yang kalian kelola sendiri."


"Namun semua itu gagal dan sia-sia dikarenakan keesokan paginya dimana aku dan kelompokku ingin menunjukkan cara kerja obat-obatan itu sebelum dikonsumsi terjadi ledakan sehingga membuat semua obat-obatan itu rusak dan hancur. Bukannya empati yang kami terima. Justru tuduhan dan fitnah yang kalian berikan. Kalian mengatakan bahwa semua obat-obatan itu palsu. Dan lebih parah lagi kalian mengatakan bahwa obat-obatan itu ada zat kimia berbahaya sehingga terjadi ledakan."


Darren menatap tajam kearah para warga yang mengatakan kata-kata itu sehingga membuat para warga tersebut menundukkan kepalanya. Tidak semua warga desa. Sekitar 25 warga yang mengatakan kata-kata itu untuk kelompok Darren. Dan Darren sudah menandai mereka.


"Dan kalian semua sudah lihat dan dengar sendiri pengakuan dari warga kalian sendiri. Mereka yang biang keroknya. Mereka yang sudah mensabotase semua kegiatan mulia kami untuk desa kalian! Akibat ulah mereka, kami semua terluka. Bahkan dengan kejinya mereka membuat berita palsu. Mereka mengatakan kepada Nandito atau kepadaku kalau aku atau Nandito dalam bahaya. Dengan begitu kami berdua sama-sama khawatir sehingga memutuskan untuk pergi menolong!"


"Setibanya disana, aku tidak menemukan siapa-siapa. Justru aku mendapatkan pukulan keras di kepalaku sehingga membuat aku tidak sadarkan diri."


Qenan, Darel, Axel dan kelima kakak mafianya mengepal kuat tangannya ketika mendengar cerita Darren. Mereka semua benar-benar marah atas apa yang dilakukan oleh kesepuluh pemuda tersebut yang saat ini tersisa sembilan.


"Melihat aku yang tidak sadarkan diri. Mereka!" Darren berucap sembari menunjuk dua pemuda yang hampir mati ditangan Rendra dan pemuda yang berhasil kabur. Mereka semua menunjuk kearah tunjuk Darren dan terlihat dua pemuda yang saat ini ketakutan.


"Mereka mendekati dan berulang kali memberikan tendangan ke pinggangku. Pada tendangan keempat, aku berhasil mematahkan kaki salah satunya sehingga membuat pemuda itu terjatuh dan seketika berteriak kesakitan."

__ADS_1


"Mendengar teriakkan kesakitan temannya, dua pemuda itu hendak menyerangku, namun gagal karena aku berhasil menendang tulang kering kaki salah satunya sehingga membuat pemuda itu juga merasakan hal yang sama seperti temannya itu. Sementara yang satunya langsung kabur."


"Tapi sayangnya. Ketika dia hendak kabur. Aku dan kedua sahabatku terlebih dulu datang dan menahannya!" seru Axel dengan menatap tak kalah tajam kearah pemuda yang awalnya hendak kabur namun pemuda itu berhasil kabur.


"Kami membawanya kembali. Kami membuat pemuda itu untuk menyaksikan adegan demi adegan pembalasan yang akan sahabatku lakukan," sahut Darel.


"Beberapa menit kemudian, kami pun melepaskan pemuda itu dan membiarkan dia kabur. Kami melepaskan pemuda itu hanya untuk mendengar informasi apa yang akan disampaikan oleh kepala desa dan para warga desa ketika mendengar cerita dari pemuda brengsek itu!" Qenan berucap dengan menatap kesembilan pemuda desa itu.


"Pemuda itu menyebut kalian manusia iblis tepat di depan kepala desa dan beberapa warga desa yang bertugas mencari keberadaan kalian!" sahut Chico.


Mendengar ucapan dari Chico membuat Qenan, Axel dan Darel tersenyum di sudut bibirnya. Begitu juga dengan Darren.


"Wajar saja dia menyebut kami iblis karena dia sudah menyaksikan pembunuhan dimana kami sebagai pelakunya. Ach, salah! Aku yang menjadi pelakunya," sahut Darren.


Deg..


"Waktu kalian sudah habis. Dan untuk anda, pak kepala desa. Silahkan ambil keputusan anda. Keselamatan desa ini atau keselamatan kesembilan pemuda-pemuda yang sudah merusak nama baik desa anda?" tanya Darren.


"Kalau aku menjadi anda. Aku akan lebih mementingkan keselamatan seluruh warga desa dan menghukum atau mengusir warga desa yang sudah melakukan kejahatan atau yang sudah menghancurkan nama baik desanya," ucap Darren lagi.


Kepala desa itu hanya diam. Beliau ragu untuk mengambil keputusan. Begitu juga dengan warga desa lainnya.


Namun di hati mereka ada ketakutan besar yaitu desa mereka akan hancur dan semua yang mereka kerjakan selama ini, semua yang mereka hasilkan akan hancur seketika. Dan mereka tidak ingin hal itu terjadi. Jika itu terjadi, mereka akan kehilangan sumber kehidupan mereka untuk selamanya.


"Saya lebih memilih keselamatan desa ini dan semua usaha kita yang sudah kita kerjakan!" seru beberapa warga, baik warga laki-laki maupun warga perempuan.

__ADS_1


"Yah! Jangan gara-gara kesalahan sembilan orang, kita yang tidak bersalah terkena imbasnya!" seru beberapa warga desa lainnya.


Mendengar seruan dari beberapa warga desa membuat para anggota keluarga dari kesembilan pemuda itu seketika berteriak.


"Tidak! Jangan lakukan itu! Maafkan putra kami!"


"Bagaimana pak kepala desa? Saya masih menunggu keputusan anda. Saya tidak punya waktu lagi. Saya harus segera pergi dari sini karena ingin bertemu dengan sepupu saya dan keempat sahabat saya yang lainnya!"


"Buruan jawab!" teriak Axel dan Qenan bersamaan.


"Baiklah. Saya memilih untuk menyerahkan kesembilan warga saya ini kepada anda, nak Darren!" kepala desa itu akhirnya bersuara dan memberikan keputusan yang tepat.


"Kerjasama yang bagus, pak kepala desa! Saya suka dengan sikap tegas anda!"


Darren menatap kesembilan pemuda desa itu dengan tajam. "Sebentar lagi kalian akan reunian dengan orang yang sudah membayar kalian semua. Dari sana kalian baru akan tahu hukuman apa yang akan kalian terima," ucap Darren.


"Kakak Ziggy, kakak Enzo!"


"Iya, Ren!"


"Aku serahkan mereka kepada kalian."


"Siap!"


"Dengan senang hati."

__ADS_1


Setelah itu, Darren pergi meninggalkan kepala desa dan semua warga desa untuk pergi meninggalkan desa tersebut dan diikuti oleh tiga sahabatnya, lima kakak mafianya, tangan kanannya dan para anggota mafianya dengan membawa kesembilan pemuda desa di belakangnya.


Sementara para anggota keluarga dari anak-anaknya yang dibawa pergi berteriak histeris, terutama para ibu. Mereka semua menangis.


__ADS_2