KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Dua Perusuh


__ADS_3

Darren sudah berada di kantornya. Dan saat ini Darren berada di ruang kerjanya.


Setibanya di ruang kerjanya, Darren langsung melakukan pekerjaannya agar cepat selesai dan dirinya bisa pergi ke kampus.


Ketika Darren sibuk dengan berkas-berkasnya yang menumpuk di atas meja, tiba-tiba terdengar suara bunyi ponselnya.


Darren melihat sebuah video call dari ketujuh sahabatnya. Seketika terukir senyuman manis di bibirnya.


Namun ketika Darren ingin menggeser tombol hijau itu, seketika Darren dikejutkan seseorang yang membuka pintu ruang kerjanya. Dan membuat Darren meletakkan kembali ponselnya itu.


"Ma-maafkan saya, Bos!"


"Ada apa?"


"Diluar ada keributan Bos."


"Keributan? Siapa yang sudah berani membuat keributan di perusahaanku?"


"Dia seorang pria Bos. Dia tidak sendirian, melainkan datang bersama seorang gadis. Dia berteriak sambil memanggil seseorang."


"Siapa?"


"Bastian, Bos."


"Baiklah. Kita keluar sekarang!"


Setelah itu, Darren dan karyawan laki-laki yang bernama Roy keluar dari ruang kerja Darren untuk menuju ke tempat sumber keributan.


^^^


Kini Darren dan Roy sudah berada di Aula. Disana terlihat ramai para karyawan. Mereka berusaha untuk menyuruh pria dan gadis itu pergi meninggalkan perusahaan Accenture. Namun pria itu tidak mengindahkannya.


Pria itu membawa sekitar 20 anak buahnya. Niatnya, jika orang yang dicarinya tidak juga keluar. Maka anak buahnya itu yang akan langsung turun tangan.


"Dito, kerahkan beberapa orang. Suruh mereka kesini," bisik Darren di telinga Dito.


"Baik, Bos."


Setelah itu, Dito memberitahu anggotanya dan meminta anggotanya itu untuk datang ke perusahaan Accenture.


"Siapa anda? Kenapa anda membuat keributan di perusahaan saya?" tanya Darren yang berusaha untuk bersikap tenang.


"Bos," sapa karyawan dan karyawati serta security ketika melihat kedatangan Darren.


"Maafkan kami Bos."


"Tidak apa-apa," jawab Darren.


Darren menatap kearah pria, gadis dan dua puluh orang yang berdiri di belakang keduanya.


"Mau apa anda datang ke perusahaan saya dan membuat keributan disini?" tanya Darren.


"Oh, jadi anda adalah pemilik perusahaan ini?!" bentak pria itu.


"Iya. Kenapa?" jawab dan tanya Darren.


"Perusahaan anda adalah perusahaan bonafit dan juga perusahaan yang terhebat serta terkenal. Tapi kenapa anda memperkerjakan orang yang sembarangan. Apa anda memang sengaja memperkerjakan orang-orang seperti itu!" teriak pria.


"Hei, tuan! Kalau bicara itu hati-hati!" bentak Dito.

__ADS_1


"Dito, tenanglah."


"Maaf, Bos."


"Apa maksud anda? Saya benar-benar tidak mengerti," ucap Darren.


"Tidak mengerti? Anda jangan pura-pura bodoh!" bentak pria itu lagi.


Pria itu menatap tajam kearah Darren. Dirinya berpikir jika Darren sengaja mempermainkan dirinya dengan berpura-pura tidak mengetahui apapun. Padahal Darren memang tidak mengetahui apapun permasalahan pria itu dengan karyawannya.


"Ini adalah putri saya. Dia memiliki hubungan dengan salah satu karyawan anda yang bernama Bastian. Tapi karyawan anda itu dengan kurang ajarnya telah melakukan pelecehan terhadap putri saya. Dan bukan itu saja. Karyawan anda yang brengsek itu telah menipu putri saya sehingga putri saya memberikan semua miliknya termasuk perusahaan miliknya kepada laki-laki itu!" pria itu berbicara dengan nada yang begitu keras sembari tangannya menunjuk kearah Darren.


Mendengar perkataan dari pria itu membuat semua karyawan terkejut. Namun tidak untuk Darren. Darren tidak langsung percaya dengan apa yang dikatakan oleh pria itu tentang karyawannya sebelum mendapatkan sebuah bukti. Dan bukti itu harus dari dirinya dan orang-orangnya.


Darren menatap kearah karyawan dan karyawatinya. Matanya mencari keberadaan Bastian.


"Dimana Bastian?"


"Bastian keluar, Bos!"


"Keluar kemana?"


"Dia sedang mengantar sebuah berkas kerjasama perusahaan kita ke perusahaan Filma."


Seketika Darren teringat akan perusahaan Filma. Memang benar, jika Darren memberikan tugas tersebut kepada Bastian.


"Sejak kapan Bastian pergi?"


"Sebelum Bos datang. Bastian ngambil absen terlebih dahulu. Setelah itu, Bastian langsung pergi."


Ketika Darren tengah bertanya-tanya tentang Bastian. Salah satu karyawan perempuan melihat kedatangan Bastian.


Darren dan semua yang ada di perusahaan Accenture langsung melihat kearah Bastian dimana Bastian melangkah memasuki perusahaan.


Darren meminta Dito untuk menghampiri Bastian karena Darren yakin jika pria itu akan memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Bastian.


"Dito."


"Baik, Bos."


Dito yang mengerti langsung menghampiri Bastian yang saat ini belum menyadari bahwa dirinya dalam masalah.


Kini Bastian sudah berdiri di samping Darren. Dirinya saat ini masih belum mengerti akan keadaan sekitarnya.


"Bastian."


"Iya, Bos!"


"Apa kau melakukan satu kesalahan yang tidak saya ketahui?"


"Saya tidak mengerti, Bos! Kesalahan apa Bos? Selama saya bekerja di perusahaan Accenture, saya sama sekali tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Jangankan kesalahan. Memiliki niat untuk mengkhianati Bos, saya tidak ada sama sekali."


"Bukan kepada saya dan perusahaan Accenture. Tapi kepada orang lain," ucap Darren.


"Orang lain?"


Bastian berpikir sejenak akan perkataan Darren. Selama ini, dia tidak pernah melakukan hal buruk. Justru orang-orang diluar sana yang selalu mencari masalah dengannya.


Darren menatap tepat di mata Bastian. Terlihat disana sebuah kejujuran. Darren percaya jika Bastian memang sama sekali tidak memiliki masalah apapun. Baik di perusahaan Accenture maupun di luar.

__ADS_1


"Coba kamu lihat kesana dimana seorang gadis dan seorang pria," ucap Darren membuyarkan lamunan Bastian.


Bastian langsung melihat kearah dimana seorang gadis dan seorang pria yang kini menatap tajam kearah dirinya.


Dan detik kemudian...


Bastian menatap wajah Darren. "Bos, dia perempuan yang satu minggu yang lalu saya ceritakan itu," ucap Bastian.


Darren seketika terkejut ketika mendengar perkataan dari Bastian.


Satu minggu yang lalu Darren berjalan menuju meja dimana para karyawan dan karyawatinya bekerja untuk mengecek pekerjaan mereka.


Namun langkah kakinya berhenti di sebuah ruangan. Darren masuk dan mendapat Bastian yang tengah menangis.


Darren bertanya kepada Bastian ada masalah apa sehingga membuat Bastian menangis. Dan pada akhirnya, Bastian pun menceritakan masalahnya itu kepada Darren.


Darren menatap kearah gadis dan pria itu dengan tatapan matanya yang tajam.


"Jadi nama anda Aurelia Vidella Santos berasal dari keluarga Santos," ucap Darren dingin.


Mendengar perkataan Darren yang menyebut lengkap namanya membuat gadis itu terkejut. Begitu juga dengan pria yang ada di sampingnya itu.


"Bos, pria itu bukan ayahnya melainkan....."


"Aku tahu," sahut Darren memotong perkataan Bastian karena Darren sudah tahu Bastian akan mengatakan apa padanya.


"Saya beri saran kepada anda, nona Aurelia. Sebaiknya anda pergi dari sini. Dan jangan coba-coba mengusik karyawan saya bernama Bastian. Jika anda masih terus mengusiknya, maka anda akan tahu akibatnya."


"Apa anda pikir saya takut dengan ancaman murahan anda itu, hah?! Jawabannya adalah tidak." Aurelia menjawab perkataan Darren dengan menatap tajam kearah Darren.


"Wah! Ternyata anda berani juga ya. Baiklah, saya akan ladeni tantangan anda dan para sampah-sampah anda itu."


Darren menatap tajam kearah Aurelia dan pria itu. Jiwa kejamnya keluar seketika dari tubuhnya.


"Dito."


"Baik, Bos!"


"Kalian, bawa para manusia busuk ini keluar dari perusahaan Accenture," perintah Dito kepada anggotanya.


"Baik, Bos!"


Mereka semua pun menyeret Aurelia dan pria itu. Dan tak lupa dengan para anak buah dari pria itu.


"Tunggu!" teriak Darren.


Darren melangkahkan kakinya menghampiri Aurelia dan pria itu. Dan jangan lupakan tatapan matanya menatap tajam keduanya.


"Kalian sudah salah mencari lawan. Dan kalian juga sudah berani menginjakkan kaki kalian ke perusahaan milikku. Sebagai hukumannya, aku akan hancurkan semua orang yang ada di sekitar kalian berdua. Dan untuk masalah anda dengan karyawan saya yang bernam Bastian. Saya secara pribadi sudah mengetahuinya. Bahkan saya sudah memegang buktinya. Disini anda yang bersalah bukan karyawan saya."


Mendengar perkataan dari Darren seketika membuat nyali Aurelia dan pria itu ciut. Bahkan keduanya takut menatap mata Darren yang menatapnya dengan tatapan membunuh.


"Bersiap-siaplah akan kehancuran kalian berdua. Begitu juga dengan anggota keluarga kalian."


Setelah mengatakan itu, Darren memberikan kode kepada Dito.


Mendapatkan kode dari sang Bos. Dito langsung melakukan pekerjaannya itu.


Sementara Darren kembali menuju ruang kerjanya setelah menyelesaikan masalah karyawannya bernama Bastian.

__ADS_1


__ADS_2