KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Panggilan Dari Sekutu


__ADS_3

Brenda bersama dengan anggota keluarganya saat ini berada di ruang tengah. Beberapa menit yang lalu, Brenda sudah menceritakan alasan dirinya yang meminta izin kepada ibunya dan mengatakan jika temannya butuh bantuannya di perusahaan hingga berakhir di rumah sakit.


Mendengar penjelasan dari Brenda membuat Liana, Maura, Rangga, Barra, Riana dan Raya terkejut.


Dan sesuai perkataannya di telepon bahwa dirinya akan mengatakan sesuatu kepada anggota keluarganya tentang apa yang telah disembunyikannya selama ini.


"Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan ke kalian," ucap Brenda.


Brenda berbicara sembari menatap satu persatu wajah anggota keluarganya.


"Katakan sayang. Mama tidak akan marah apapun yang akan kamu sampaikan," ucap Liana yang mengerti akan tatapan mata putri kelimanya itu.


"Iya, Brenda. Katakan saja. Seperti yang dikatakan Mama barusan. Kak Maura nggak akan marah sama aku," ucap Maura.


Brenda kembali menatap satu persatu anggota keluarganya. Detik kemudian, Brenda menarik nafasnya dan membuangnya berlahan.


"Mama, kak Maura, kak Rangga, kak Barra, kak Riana dan Raya. Maafkan aku selama ini aku telah menyembunyikan masalah ini dari kalian. Aku... Aku adalah salah satu anggota mafia dari kelompok mafia THE CRIPS yang diketuai oleh Kakak Ziggy."


Mendengar pengakuan dari Brenda membuat Liana, Maura, Rangga, Barra, Riana dan Raya terkejut. Mereka tidak menyangka jika Brenda seorang anggota mafia.


"Sayang, kamu...." perkataan Liana terpotong karena Brenda sudah terlebih dahulu berbicara.


"Aku bergabung dengan kelompok mafia The Crips untuk membalaskan kematian Papa!"


Lagi-lagi mereka terkejut mendengar perkataan dari Brenda. Mereka dapat melihat dari manik coklat Brenda, ada kesedihan disana.


Baik Liana, Maura, Rangga maupun Barra dan Riana. Mereka tahu bahwa Brenda sangat dekat dengan sang ayah. Bahkan saat kematian suaminya/ayahnya, Brenda lah yang paling terpukul. Sementara Raya saat itu masih kecil dan belum tahu apa-apa.


"Tapi sayang. Bukankah Papamu meninggal karena kecelakaan. Bahkan polisi sudah menyelidiki kasus kecelakaan itu. Polisi bilang itu murni kecelakaan," ucap Liana.


"Iya, Brenda. Bahkan kita semua ikut serta dalam penyelidikan itu," sela Barra.


Brenda langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak. Papa meninggal bukan karena kecelakaan. Tapi Papa meninggal karena dibunuh," ucap Brenda dengan lantangnya. Dan seketika air matanya mengalir membasahi wajah cantiknya.


Melihat Brenda yang tiba-tiba menangis, mereka menjadi terkejut. Liana berdiri dari duduknya dan berpindah duduk di samping putri kelimanya itu.


GREP!


Liana memeluk putrinya itu dan mengusap-ngusap dengan lembut kepala belakangnya. Dapat Liana rasakan tubuh putrinya yang bergetar.


"Mama," isak Brenda di perlukan ibunya.


Liana makin mengeratkan pelukannya pada putrinya. Dirinya benar-benar tidak tega jika melihat putrinya menangis. Apalagi putrinya menangis teringat akan ayahnya.


Merasakan putrinya sudah tenang. Liana pun berlahan melepaskan pelukannya. Setelah pelukannya terlepas, Liana mengusap lembut air mata putrinya.


"Sekarang katakan pada Mama. Kenapa kamu bisa seyakin itu mengatakan bahwa Papamu meninggal karena dibunuh?" tanya Liana.


Mendengar pertanyaan dari ibunya, Brenda pun menceritakannya.


FLASHBACK ON


Brenda saat ini sedang melangkahkan kakinya menuju kelasnya. Brenda saat ini berada di Kampus THE AUSTRALIAN NATIONAL UNIVERSITY. Brenda hari begitu sibuk dalam tugas-tugas kampusnya.


Ketika Brenda tengah fokus berjalan dengan tatapan matanya menatap ke depan, tiba-tiba datang seorang pemuda yang menghalangi jalannya.


"Siapa kamu? Kenapa kamu menghalangi jalan saya?" tanya Brenda kepada pemuda itu.


Pemuda itu hanya tersenyum. Ketika kemudian, pemuda itu memberikan sebuah benda kecil kepada Brenda.


"Terimalah ini," ucap pemuda itu sembari memberikan benda kecil itu.


"Flashdisk," batin Brenda.


"Apa ini? Kenapa kamu berikan kepada saya?"


"Terima saja. Isi dari flashdisk ini ada hubungannya dengan kematian ayahmu."

__ADS_1


Brenda mengambil flashdisk yang ada di tangan pemuda itu. Brenda menatap cukup lama flashdisk itu.


"Simpan baik-baik flashdisk itu. Jangan sampai hilang," ucap pemuda itu.


Brenda menatap wajah pemuda itu yang juga menatapnya.


"Jika flashdisk itu sampai hilang, maka kau akan menyesal seumur hidupmu. Seperti yang aku katakan padamu barusan. Isi flashdisk ini ada hubungannya dengan kematian ayahmu."


Setelah mengatakan itu, pemuda itu pun langsung pergi meninggalkan Brenda.


FLASHBACK OFF


Mendengar cerita dari Brenda membuat Liana, Maura, Rangga, Barra, Riana dan Raya terkejut dan juga syok.


"Apa kamu masih menyimpan flashdisk itu, Brenda?" tanya Rangga.


"Masih," jawab Brenda.


"Mana? Berikan pada kami. Kami ingin melihatnya," sahut Barra.


"Ada di kamarku," jawab Brenda.


"Biar aku yang ambilkan. Dimana kak Brenda menyimpan flashdisk itu?" ucap dan tanya Raya.


Brenda tersenyum. "Di laci dalam kotak merah. Flashdisknya warna hitam."


"Baiklah."


Setelah mengatakan itu, Raya pun pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamar kakak perempuannya.


Tak butuh waktu lama, Raya pun kembali dengan membawa flashdisk di tangan kanannya.


Sementara Rangga juga sudah kembali dari kamarnya membawa laptop sebelum adik perempuannya kembali membawa flashdisk.


Kini mereka semua duduk di satu sofa yang sama, kecuali Brenda. Rangga memasang flashdisk itu di laptop miliknya.


Setelah flashdisk terpasang, Rangga mulai menggerak-gerakkan jari-jarinya di atas keyboard untuk membuka isi dari flashdisk tersebut.


"Rangga, kamu buka video itu!" seru Maura.


"Baik, kak Maura."


Rangga kemudian mengklik video tersebut. Video itu berputar-putar beberapa detik. Di detik keempat video itu terbuka dan terlihatlah sebuah tayangan di dalam video itu.


DEG!


Baik Maura, Rangga maupun Barra, Riana dan Raya terkejut ketika melihat adegan di dalam video itu.


Maura dan Rangga mengalihkan perhatiannya untuk menatap kearah Brenda yang kini masih menangis. Dan sang ibu masih menghiburnya.


Setelah itu, Maura dan Rangga kembali menatap kearah layar laptop.


"Brengsek!" Barra benar-benar marah ketika melihat adegan di dalam video itu.


Di dalam video itu terlihat mobil yang digunakan oleh ayah mereka tengah dikejar dua mobil di belakang. Ayah mereka mengetahui bahwa mobilnya dibuntuti dari belakang.


Mengetahui hal itu, ayah mereka melajukan mobilnya dengan sangat kencang agar bisa terhindar dan menjauh dari dua mobil itu.


Tapi ketika ayahnya melihat kearah depan. Ayah mereka terkejut karena ada satu mobil yang melaju kencang tepat di jalur yang sama dengan mobil ayah mereka.


Melihat hal itu membuat ayah mereka tidak bisa merem mobilnya dan berakhir ayah mereka membanting stir ke kiri dan mengakibatkan mobil ayah mereka menabrak membatas jalan sehingga mobil ayah mereka jatuh ke bawah.


Tepat setelah kejadian itu, baik dua mobil di belakang dan satu mobil di depan berhenti sejenak. Pemilik ketiga mobil itu keluar dan melihat kearah bawah.


Setelah beberapa detik, sipemilik tiga mobil itu pun kembali masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan lokasi kejadian.


"Brengsek! Bajingan!" teriak Rangga ketika melihat kejadian yang menimpa ayahnya.

__ADS_1


Sementara Raya sudah menangis ketika melihat kejadian yang menimpa ayahnya.


"Papa," isak Raya.


Mendengar isak tangis Raya. Maura yang kebetulan duduk di samping adik bungsunya langsung memeluk tubuh adik perempuannya itu.


"Kak Maura... Papa," isak Raya di pelukan kakak perempuannya.


"Papa," lirih Maura di dalam hatinya. Maura menangis.


Seketika Maura teringat ketika jasad ayahnya ditemukan di semak-semak dalam kondisi buruk. Jasad ayahnya berhasil ditemukan ketika setelah dua hari kecelakaan itu terjadi.


"Sayang," lirih Liana yang teringat akan suaminya. Liana menangis.


"Papa, aku berjanji padamu. Aku Rangga Wilson akan membalaskan kematianmu," batin Rangga.


"Papa tenang saja. Aku tidak akan membiarkan orang-orang yang sudah membunuh Papa hidup tenang. Aku akan membunuh mereka semua. Nyawa dibalas dengan nyawa," batin Barra.


"Papa," lirih Riana.


***


Keesokkan pagi di kediaman keluarga Orlando terlihat seorang gadis tengah duduk di bersandar di kepala tempat tidur. Gadis itu duduk sembari menatap layar ponselnya yang ada di tangannya.


Ketika gadis itu tengah menatap layar ponselnya, tiba-tiba gadis itu dikejutkan dengan suara dering ponselnya.


Mendengar suara dering ponselnya, gadis itu tersenyum kala melihat nama 'Sekutu' di layar ponselnya.


Dan detik kemudian, terukir senyuman manis di bibir gadis itu.


Setelah itu, gadis itu langsung menjawab panggilan tersebut.


"Hallo."


"Musuh kita sudah hancur sekarang."


"Eemm... Maksud kamu?"


"Maksudku adalah semua musuh-musuh kita sudah hancur. Kita adalah pemenangnya sekarang."


Gadis itu tersenyum. "Bagaimana dengan bajingan sialan itu?"


"Dia terbaring koma di rumah sakit PLADYS HOSPITAL dengan luka tembak 4 peluru. Dua peluru menembus perutnya dan dua peluru menembus jantungnya. Dan aku yakin bajingan itu tidak akan bisa bertahan."


"Wah! Ini berita bagus untukku. Setidaknya aku bisa sedikit bermain-main dengan tubuhnya sebelum ajalnya menjemput."


"Apa yang akan kau lakukan?"


"Eeem. Apa ya? Apa kau punya ide?"


"Aku punya ide. Bagaimana kalau kau dan ibumu datang ke rumah sakit. Kau dan ibumu bisa siksa bajingan itu sepuasnya. Atau kau dan ibumu bisa langsung membunuh bajingan itu. Bukankah kau dan ibumu masih menaruh dendam kepada bajingan itu."


"Ide yang bagus. Baiklah! Aku dan ibuku akan menemui bajingan itu di rumah sakit."


"Oh iya! Ini saran. Kalau bisa ketika kau dan ibu mau ke rumah sakit. Ajaklah beberapa anggota keluargamu yang dari pihak ayahmu. Bukankah mereka juga marah dan dendam kepada bajingan itu atas apa yang telah dilakukan pada ayahmu."


Mendengar saran dari sekutunya itu membuat gadis itu tersenyum. Gadis itu menyetujui saran dari sekutunya itu.


"Baiklah. Aku dan ibuku akan membawa beberapa keluargaku dari pihak ayahku untuk ke rumah sakit."


"Semoga berhasil. Kali ini aku tidak membantumu. Apalagi ikut campur. Itu adalah adalah tugasmu dan urusanmu. Urusanku dengan bajingan itu sudah selesai."


"Terima kasih. Tidak apa-apa. Kau sudah melakukan pekerjaanmu di awal."


"Baiklah. Kalau begitu aku tutup teleponnya."


"Oke."

__ADS_1


Setelah itu, sekutu gadis itu pun langsung mematikan panggilannya.


Gadis itu tersenyum di sudut bibirnya. "Tunggu kejutan dariku, sayang! Aku akan datang mengunjungimu. Sekalian aku ingin mengucapkan kata perpisahan," batin gadis itu.


__ADS_2