
"Jadi benaran pemuda yang beberapa hari yang lalu datang kesini marah-marah adalah adik kamu?" tanya Kayana.
"Iya. Dia adikku. Namanya Darren," jawab Gilang.
Saat ini Gilang dan Kayana berada di ruang tengah. Setelah beberapa menit yang lalu Gilang bersama Fito dan beberapa anggota Fito bertarung melawan anak buah dari pria yang ingin menikahi Kayana akibat keserakahan Sashi, bibi dari Kayana.
"Pasti kamu kena marah sama adik kamu dan berakhir kalian bertengkar," ujar Kayana.
"Kalau marah sudah pastilah. Tapi kamu tidak perlu khawatir. Adikku itu marah tidak terlalu. Bisa dibilang marahnya itu hanya marah layaknya anak kecil yang permennya dirampas. Untuk masalah bertengkar, hanya pertengkaran kecil."
"Aku jadi nggak enak sama adik kamu, Gilang!"
"Udah, santai aja. Lagian adikku itu orangnya nggak akan memperpanjang masalah dan juga nggak akan langsung bersikap buruk kepada orang yang baru dikenal. Dia akan menunjukkan ketidaksukaan jika orang itu bersikap buruk padanya dan keluarga. Selama orang itu baik, maka adikku akan bersikap baik pula."
Mendengar penjelasan dari Gilang membuat Kayana sedikit lebih tenang.
"Oh iya. Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu."
"Apa itu Gil?"
"Ini masalah pria tua itu."
"Kenapa dengan dia? Apa dia masih terus mengejarku untuk dijadikan istri keempatnya?"
Gilang tersenyum gemas ketika mendengar ucapan dan wajah kesal Kayana. Bagi Gilang, wajah Kayana saat ini benar-benar lucu.
"Pria itu tidak akan mengganggu kamu lagi," tutur Gilang.
Seketika Kayana membelalakkan matanya terkejut ketika mendengar ucapan dari Gilang.
"Apa? Apa aku tidak salah dengar? Gilang bilang jika laki-laki tua itu tidak akan menggangguku lagi," batin Kayana.
Gilang tersenyum melihat wajah terkejut Kayana. Dia tersenyum menatap wajah itu.
"Hei." Gilang mengibaskan telapak tangannya ke hadapan wajah Kayana.
Kayana seketika terkejut ketika, lalu menatap wajah Gilang.
__ADS_1
"Gil, apa benar yang barusan kamu katakan?"
"Iya. Pria tua itu tidak akan mengganggu kamu lagi. Kamu bisa tenang sekarang."
"Bagaimana bisa?"
"Ini semua berkat adikku."
"Hah!"
Kayana lagi-lagi terkejut ketika mendengar ucapan dari Gilang.
"Setelah adikku bertemu dengan kamu. Adikku itu pulang ke rumah. Setiba di rumah, dia langsung marah-marah padaku. Dan menyerangku banyak pertanyaan. Disaat kami berdua tengah beradu mulut yang udah pasti dimenangkan oleh adikku itu. Justru kelima adikku yang lainnya menjadi kompor meleduk diantara aku dan adikku. Setelah puas meluapkan kekesalannya padaku karena aku membawa perempuan lain ke rumahnya. Besok paginya dia mendiamiku. Aku berusaha membujuk, tapi gagal."
"Terus, bagaimana? Apa udah berdamai?" tanya Kayana dengan wajah sedih. Dia jadi tidak enak hati terhadap Gilang.
"Keesokkannya ketika kita sedang membahas masalah Darka saudara kembarku, tiba-tiba adikku Darren membahas masalah kamu. Aku tidak tahu, adikku menyelidikinya kapan. Yang jelas dia memintaku untuk segera menyelesaikan masalah kamu. Dia memberikan flashdisk padaku. Isi flashdisk itu mengenai kecurangan laki-laki tua itu. Dengan flashdisk itulah aku menekan dan mengancam laki-laki tua itu untuk tidak mengganggu kamu lagi. Bahkan aku menyuruhnya untuk menyelesaikan masalah dengan bibi kamu."
Mendengar penjelasan dari Gilang membuat Kayana tak percaya atas apa yang telah dilakukan oleh Darren.
Seketika air mata Kayana jatuh membasahi wajah cantiknya. Dia tidak menduga bahwa adik dari pemuda yang membantunya ikut membantu masalahnya.
***
Darren saat ini sudah berada di kediaman Immanuel. Dan Darren juga sudah menceritakan masalah yang menimpa Salsa ketika berada di sebuah toko pakaian.
Toko tersebut bukan hanya menjual pakaian saja. Melainkan menjual aneka keperluan wanita.
Mendengar cerita Darren dan dilengkapi dengan sebuah video membuat Dario, Celsea, Radeva, Anshel dan Axel marah. Mereka tidak terima atas apa yang telah dialami oleh Salsa.
"Sekarang dimana keempat wanita sialan itu Darren?" tanya Radeva.
"Aku sudah menyuruh Dito dan beberapa anggotanya membawa mereka ke kantor polisi. Aku juga sudh memberikan video itu agar ditunjukkan kepada polisi. Bahkan aku juga meminta kepada Dito agar keempat mendapatkan hukuman seumur hidup tanpa ada jaminan dari siapa pun!"
Mendengar jawaban dan perkataan dari Darren membuat Dario, Celsea, Radeva, Anshel dan Axel tersenyum bahagia. Mereka tidak menyangka jika Darren sudah bertindak duluan.
"Baguslah. Kakak senang mendengarnya. Setidaknya itu adalah hukuman yang pantas untuk mereka," sahut Radeva.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan keempat gadis itu? Bukankah mereka yang biang keroknya?" tanya Celsea.
"Bibi tidak perlu khawatir masalah mereka. Aku sudah meminta kakak Justin dan kakak Tommy untuk mencari mereka. Setelah keempat gadis itu tertangkap oleh anggotanya kakak Justin dan kakak Tommy. Aku meminta kepada kakak Justin dan kakak Tommy untuk membawa mereka ke markas kakak Enzo dan menempatkan keempatnya di ruang penyiksaan."
Lagi-lagi Dario, Celsea, Radeva, Anshel dan Axel tersenyum bahagia dan juga puas hasil kerjanya Darren.
"Sekarang tugas Paman Dario, kakak Radeva, kakak Anshel dan kau Axel," sahut Darren dengan menatap satu persatu wajah ayah dan anak.
Dario, Radeva, Anshel dan Axel juga menatap wajah Darren. Seketika kelimanya tersenyum di sudut bibir masing-masing.
"Kau pasti meminta kita untuk menemui keluarga dari keempat gadis itu kan?" tanya Dario.
"Tentu. Setidaknya mereka harus tahu apa yang sudah dilakukan oleh anak-anak mereka terhadap Salsa," jawab Darren.
"Kita bagi tugas!" seru Anshel.
"Itu tidak perlu kakak Anshel," sela Darren.
"Kenapa, Ren?" tanya Anshel bingung.
"Untuk apa kita berpencar kalau bisa melakukannya sekali jalan?" tanya Darren menatap Dario, Radeva, Anshel dan Axel dengan senyuman manisnya.
"Caranya?" tanya Axel.
"Kita hubungi mereka semua dan suruh mereka datang ke alamat yang kita tentukan."
"Kita tidak tahu tahu nomor mereka. Bagaimana bisa kita menghubungi mereka?" ucap dan tanya Anshel.
"Bukankah keempat anak-anak mereka akan dibawa ke markas kakak Enzo? Kita bisa mengambil paksa ponsel mereka. Setelah itu, kita kirim satu pesan. Pesan yang sama. Dengan begitu, mereka bertemu di tempat itu."
Mendengar ide cemerlang dari Darren. Dario, Radeva, Anshel dan Axel tersenyum. Mereka menyetujui rencana Darren tersebut.
"Baiklah. Kami setuju!" seru Dario dan keempat putranya.
"Sembari kita menunggu kabar dari kakak Justin dan kakak Tommy. Ada baiknya Paman Dario melakukan tugas lainnya yaitu menghancurkan orang-orang yang sudah menertawai, mengambil foto dan video ketika Salsa dimaki, dipukul, ditampar dan dihina. Bahkan yang lebih parahnya ketika keempat wanita itu hampir membuka pakaian Salsa!"
"Eemm! Bagus juga ide kamu, sayang! Baiklah! Dengan senang hati Paman akan melakukannya," sahut Dario.
__ADS_1