KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kekhawatiran Dan Kerinduan Keluarga Mendez


__ADS_3

Sudah dua puluh hari keluarga Mendez belum mendapatkan kabar mengenai Askara. Baik Baren, Nuria, Emily, Yufal, Soraya, Renata, Livia, Rafif, Daisy, Lidia, Khary, Monica dan Mehdy begitu merindukan Askara. Bahkan mengkhawatirkannya.


Mereka sudah menyuruh beberapa anak buahnya untuk mencari keberadaan Askara. Namun selama satu minggu para anak buahnya tidak berhasil menemukan keberadaan Askara.


Saat ini Baren, Nuria, Emily, Yufal, Soraya, Renata, Livia, Rafif, Daisy, Lidia, Khary, Monica dan Mehdy berada di ruang tengah. Sampai detik ini mereka masih memikirkan Askara.


"Apa kita akan diam saja seperti ini, kakak Baren, kakak Yufal?" tanya Khary.


"Kita harus ikut mencari keberadaan Askara. Kita tidak bisa hanya mengandalkan anak buah kita saja," ucap Khary lagi.


Mendengar pertanyaan dan perkataan dari Khary membuat Baren dan Yufal sebagai saudara tertua membenarkan apa yang dikatakan oleh Khary. Mereka juga harus ikut mencari keberadaan Askara. Dan tidak hanya mengandalkan anak buah saja.


Ketika mereka tengah memikirkan bagaimana cara untuk menemukan keberadaan Askara. Mehdy seketika teringat dengan sosok mahasiswi yang memeluk Askara. Dan bahkan Mehdy mengingat tujuh pemuda yang selalu menatap kearah Askara setiap dirinya berkumpul bersama Askara dan teman-temannya di kampus.


"Aku tahu dengan siapa kita menanyakan keberadaan Askara!" seru Mehdy tiba-tiba.


Mendengar seruan dari Mehdy membuat Baren, Nuria, Emily, Yufal, Soraya, Renata, Livia, Rafif, Daisy, Lidia, Khary dan Monica langsung melihat kearah Mehdy.


"Siapa sayang? Katakan!" tanya Lidia.


"Di kampus ada tujuh pemuda dan tujuh gadis. Mereka begitu dekat dengan Askara. Bahkan mereka semua menangis ketika melihat Askara yang tidak mengenal mereka semua. Bahkan mereka memanggil Askara dengan sebutan Darren."


Mendengar jawaban dari Mehdy membuat mereka semua menatap Mehdy dengan tatapan bahagia.


"Jadi nama aslinya Askara adalah Darren?" tanya Livia.


"Iya. Nama aslinya Askara adalah Darren."


Bukan Mehdy yang menjawabnya, melainkan Lidia.


Mereka semua melihat kearah Lidia dengan tatapan bingung dan penasaran.


"Lidia, kamu!"


"Iya, kakak Baren. Aku tahu nama asli Darren. Bahkan aku juga tahu bahwa Darren memiliki kekasih," ucap Lidia.


"Dari mana kau mengetahuinya? Dan sejak kapan?" tanya Yufal.


"Aku meminta beberapa anggotanya kakak untuk mencari tahu pemuda yang telah menyelamatkanku dan Renata. Selama satu minggu akhirnya aku mendapatkan kabar dari anggota kakak itu. Dari hasil itu mengatakan bahwa pemuda itu bernama Darren. Dia seorang CEO di perusahaan yang terkenal nomor satu di dunia dan di Jerman. Dan Darren sudah memiliki kekasih. Hubungannya dengan kekasihnya itu sudah berjalan setahun. Hanya itu saja yang didapat oleh anggotanya kakak."


Lidia menceritakan tentang dirinya yang memerintah anggota dari Yufal untuk mencari keberadaan Darren.


"Jadi itu alasan kamu yang begitu marah kepada Chintia yang mencoba mendekati Askara?" tanya Livia.


"Iya, kak Livia." Lidia menjawab pertanyaan dari Livia, kakak perempuannya.


"Berarti Chintia tahu bahwa Askara adalah Darren. Seperti yang dikatakan oleh Monica dan Mehdy bahwa Chintia makin gencar mendekati Darren yang saat ini tengah Amnesia. Jadi dia memanfaatkan Amnesia Darren agar dia bisa berdekatan terus dengan Darren. Apalagi di kampus!" seru Emily.


Mendengar ucapan dari Emily membuat Baren, Nuria, Yufal, Soraya, Renata, Livia, Rafif, Daisy, Lidia, Khary, Monica dan Mehdy menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Ketika mereka semua tengah membahas tentang Darren atau Askara, tiba-tiba seorang pelayan datang menghampiri mereka semua.


"Permisi tuan, nyonya!"


"Iya, Lany. Ada apa?" tanya Soraya.


"Itu di depan ada tamunya tuan Baren."


"Siapa?" tanya Baren.


"Katanya tangan kanannya tuan."


"Suruh dia langsung kesini."


"Baik, tuan."


Setelah itu, pelayan itu pergi untuk menemui tamu tersebut. Dan tidak butuh waktu lama, tamu yang dimaksud sudah berada di ruang tengah.


"Ada informasi apa?" tanya Baren.


"Ini tentang tuan Askara," jawab tangan kanannya itu.


"Katakan."


"Begini tuan. Saya sudah mendapatkan secara lengkap data pribadi dari tuan Askara. Nama aslinya adalah Darrendra Smith, putra ketujuh dari tuan Erland Faith Smith dan nyonya Belva Carlise Garcia. Tuan Darren seorang CEO di perusahaan Accenture, Micro Sinopec dan dua perusahaan lainnya. Tuan Darren juga memiliki perusahaan lokomotif yang bergerak dalam bidang perakitan motor sport dan mobil mewah. Serta dua Showroom mobil dan motor sport mewah. Tuan Darren juga memiliki satu Galery yang cukup terkenal, karena tuan Darren juga seorang pelukis. Nama galery nya adalah DARREN GALERY OF ART."


Mendengar cerita yang disampaikan oleh tangan kanannya Baren tentang Darren membuat mereka terkejut dan tak percaya. Mereka tidak menyangka jika Darren atau Askara bisa sehebat itu diusianya yang masih muda.


"Bukan itu saja tuan, nyonya! Tuan Darren itu seorang ketua organisasi di kampus. Semua jenis kegiatan, tuan Darren yang memegangnya. Bahkan tanggung jawab kampus diserahkan kepada Darren. Sementara pemilik kampus memutuskan untuk pensiun."


"Tuan Darren tidak sendirian dalam menjalankan semua tugas-tugasnya itu. Ada tujuh sahabatnya yang selalu membantunya. Bahkan ketujuh sahabatnya itu juga sama seperti tuan Darren yang berprofesi sebagai seorang CEO. Persahabatan tuan Darren dengan ketujuh sahabatnya itu sudah terjalin sejak mereka duduk di sekolah dasar."


Mendengar perkataan terakhir dari tangan kanannya Baren membuat Baren, Nuria, Emily, Yufal, Soraya, Renata, Livia, Rafif, Daisy, Lidia, Khary, Monica dan Mehdy terkejut dan seakan-akan tidak percaya apa yang telah mereka dengar.


"Darren dan ketujuh sahabatnya itu menjalin hubungan persahabatan sejak sekolah dasar?" tanya Soraya.

__ADS_1


"Iya, nyonya Soraya."


"Berarti persahabatan mereka sudah sepuluh tahun lebih dong," ucap Emily.


"Ya, nona Emily."


"Wah! Salut sama hubungan persahabatan Darren sama ketujuh sahabatnya itu. Pengen deh seperti mereka," ucap Renata.


"Terus informasi apa lagi yang kau dapatkan?" tanya Yufal.


"Ada beberapa kelompok yang menyerang tuan Darren setelah menemui tuan Yufal di perusahaan."


"Tapi Askara tidak sempat menemuiku karena sudah dicegah dan diusir oleh Mikko dan Kenzo."


"Ya, saya tahu itu."


"Lalu apa yang terjadi dengan Askara?" tanya Lidia khawatir.


"Awalnya tuan Darren berhasil melawan dan menghajar para musuh-musuhnya. Namun musuhnya yang lain datang menyerang. Seperti pepatah mengatakan 'mati satu tumbuh seribu'. Jadi musuh-musuhnya itu bukannya berkurang, melainkan bertambah."


"Singkat cerita. Tuan Darren berhasil ditolong dan dibawa ke rumah sakit akibat pukulan di punggungnya dan hantaman keras di dada kirinya. Salah satu musuhnya berhasil melukainya. Tuan Darren koma selama delapan hari."


Mendengar kabar mengenai Askara membuat mereka semua menangis. Mereka telah gagal melindungi Askara yang sedang sakit.


"Lalu bagaimana kondisi Askara sekarang?" tanya Livia.


"Tuan Darren telah sadar setelah koma selama delapan hari. Dan dirawat selama satu minggu di rumah sakit karena butuh perawatan medis terutama bagian bahu kiri dan jantungnya. Tuan Darren mendapatkan injakan yang cukup kuat di bagian dada kirinya dari salah satu musuhnya sehingga membuat jantungnya mengalami cedera. Ditambah lagi tuan Darren memiliki jantung lemah sejak lahir."


Mereka semua  menutup mulutnya terkejut ketika mendengar ucapan demi ucapan dari tangan kanannya Baren yang mengenai kondisi Askara. Dan membuat mereka lebih terkejut lagi adalah ketika tangan kanannya Baren mengatakan bahwa Askara memiliki masalah di jantungnya sejak lahir.


"Apa Askara masih di rumah sakit, Paman?" tanya Monica.


"Sudah tidak, Nona! Tuan Askara sudah kembali pulang ke rumah keluarganya."


"Jadi Askara sudah bertemu dengan keluarganya?" tanya Nuria.


"Iya, nyonya. Ketika kejadian tuan Askara diserang. Yang menolong tuan Askara adalah kelima kakak-kakak mafianya dan ketujuh sahabatnya."


"Apa? Kakak-kakak mafia?" tanya Baren, Nuria, Emily, Yufal, Soraya, Renata, Livia, Rafif, Daisy, Lidia, Khary, Monica dan Mehdy bersamaan.


"Lima kelompok mafia nomor satu sampai nomor lima di dunia. Kelimanya ketua mafia itu sudah menganggap tuan Darren dan ketujuh sahabatnya sebagai adik laki-laki mereka. Mereka mengirim para anggota mafianya untuk selalu memantau dan mengawasi setiap pergerakan tuan Darren dan ketujuh sahabatnya


Disaat mereka tengah membahas Darren atau Askara, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara seseorang.


"Baren, Yufal!"


"Papa!"


"Kakek!"


***


Darren saat ini berada di dalam kamarnya. Kondisinya masih belum 100% sembuh. Bagian tubuh atasnya masih dibalut perban gulung. Balutan perban gulung itu sudah diganti dengan yang baru beberapa menit yang lalu oleh Davin. Davin dengan telaten memasang dan membalut perban gulung itu di tubuh adik laki-lakinya.


Sementara untuk kedua orang tuanya, kelima kakak-kakak laki-lakinya, kelima adik laki-lakinya, putri angkatnya, Paman, Bibi dan ketiga saudara sepupunya berada di ruang tengah. Mereka berkumpul di ruang tengah hanya untuk menghabiskan waktu bersama sembari bercerita tentang rasa bahagia mereka masing-masing akan kepulangan Darren.


Ketika mereka semua tengah mengobrol membahas tentang Darren, terdengar bunyi bell beberapa kali.


Mendengar suara bell, seorang pelayan perempuan berlari menuju ruang tamu untuk membukakan pintu.


Tak butuh waktu lama, terdengar suara sapaan dari beberapa orang yang melangkah menuju ruang tengah.


"Selamat siang semuanya!"


Erland dan anggota keluarga lainnya langsung melihat keasal suara. Dan dapat mereka lihat bahwa ketujuh sahabatnya Darren, kekasihnya Darren beserta sahabatnya datang. Mereka semua tersenyum menyambut kedatangan orang-orang terpenting dalam hidup Darren.


Kini Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, Darel, Brenda, Elsa, Alice, Vania, Milly, Felisa, Lenny dan Tania sudah duduk cantik di sofa.


"Bagaimana kuliah kalian hari ini?" tanya Erland.


"Melelahkan, Paman!" jawab Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel bersamaan.


"Hm!" Elsa, Alice, Vania, Milly, Lenny, Tania dan Felisa menganggukkan kepalanya setuju akan perkataan dari para kekasihnya.


Mendengar jawaban dari Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, Darel, Brenda, Elsa, Alice, Vania, Milly, Felisa, Lenny dan Tania membuat Erland dan anggota keluarga Smith lainnya tersenyum.


"Oh iya, Paman Erland! Darren di kamarnya kan?" tanya Darel.


"Iya. Darren di kamarnya. Paman dan kita semua menyuruhnya untuk istirahat. Tapi tidak tahu kalau dia benar-benar istirahat atau sebaliknya," jawab Erland.


Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel langsung berdiri dari duduknya. Dan diikuti oleh Brenda, Elsa, Alice, Vania, Milly, Felisa, Lenny dan Tania.


"Kalau begitu kami akan ke kamarnya. Kami pastikan kalau Darren tidak akan melakukan apapun di kamarnya," ucap Willy.


"Baiklah. Paman serahkan urusan istirahat Darren kepada kalian semua."

__ADS_1


"Baik, Paman!"


Erland, Agneta dan anggota keluarga lainnya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah laku dari Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, Darel, Brenda, Elsa, Alice, Vania, Milly, Felisa, Lenny dan Tania.


Setelah itu, mereka semua pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamar Darren yang berada di lantai dua.


^^^


Darren tengah duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya. Pikirannya saat ini tertuju kepada keluarga Mendez. Darren tengah memikirkan keluarga Mendez.


"Bagaimana keadaan kakek Reymond sekarang? Apa dia sudah sadar dari koma? Lalu bagaimana kabar keluarga Mendez lainnya?"


Darren bertanya kepada dirinya sendiri. Darren benar-benar mengkhawatirkan kondisi kakek Reymond dan keselamatan keluarga Mendez.


"Siapa orang itu? Kenapa aku tidak bisa mengingat wajahnya ketika aku tidak sengaja bertemu dengannya ketika kejadian itu?"


Darren berusaha untuk terus memikirkan wajah orang itu, namun usahanya selalu saja sia-sia. Wajah orang itu samar-samar di pikirannya.


"Kalau lo nggak bisa mengingatnya. Jangan dipaksakan!" seru Axel.


Darren seketika terkejut ketika mendengar suara salah satu sahabatnya.


Sementara Axel seketika langsung tersenyum melihat keterkejutan Darren. Begitu juga dengan yang lainnya.


Darren menatap kearah Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, Darel, Brenda, Elsa, Alice, Vania, Milly, Felisa, Lenny dan Tania yang saat ini sudah berada di dalam kamarnya. Dan tanpa permisi, mereka telah duduk dengan angkuhnya di sofa.


"CK!" Darren berdecak kesal melihat kelakuan Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, Darel dan para kekasihnya.


"Bagaimana kondisi kamu saat ini?" tanya Brenda yang sudah duduk manis di samping Darren.


"Buruk," jawab Darren.


"Ada yang sakit?"


"Ada," jawab Darren.


"Mana? Biar aku pijitin."


"Percuma, karena itu nggak akan mempan."


"Kan belum dicoba."


"Justru itu aku tidak mau mencobanya, takut kecewa."


"Terus apa yang harus aku lakukan biar rasa sakitnya hilang?" tanya Brenda dengan menatap wajah Darren.


Mendengar pertanyaan dari Brenda seketika Darren tersenyum di dalam hatinya.


Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel yang menatap perubahan wajah Darren seketika langsung paham.


Darren menatap wajah cantik kekasihnya itu. Begitu juga dengan Brenda yang masih menatap wajah tampan Darren.


"Aku mau ini." Darren langsung menyentuh bibir merah Brenda. "Tempelkan kesini," sambung Darren dengan menyebut bibirnya sendiri.


Brenda seketika membelalakkan matanya ketika mendengar permintaan Darren.


Sementara Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, Darel, Elsa, Alice, Vania, Milly, Felisa, Lenny dan Tania hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Darren yang modus.


"Tapi, Ren..."


"Nggak mau?"


"Bukan...."


"Ya, sudah kalau nggak mau."


Darren langsung menyandarkan punggungnya ke punggung sofa lalu memejamkan matanya.


"Kekasihku tidak mencintaiku lagi. Bahkan dia sudah tidak...."


Brenda langsung membungkam bibir Darren sehingga membuat perkataan Darren terhenti.


Setelah beberapa detik, Brenda pun melepaskan ciumannya itu dan menatap wajah tampan Darren.


Sementara Darren yang mendapat ciuman dari Brenda seketika terukir senyuman manis di bibirnya dengan kedua matanya yang masih terpejam.


Beberapa detik kemudian, Darren membuka kedua matanya. Darren mendekatkan tubuhnya kearah Brenda.


"Aku mencintaimu."


"Tapi aku tidak."


Darren menggeram marah ketika mendengar jawaban tak sesuai keinginannya.


Brenda tersenyum lalu memberikan dua kecupan di pipi Darren.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, calon masa depanku."


__ADS_2