ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(98)


__ADS_3

"Oh, begitu kamu penasaran juga kalau belum tahu soal Alex?" Tanya ibunya.


"Penasaran tapi nanti juga Alex bilang sendiri," kata Rita sejauh ini, rasa penasaran itu hanya sewajarnya saja.


"Kenapa?" Ibunya heran karena hanya Rita seorang yang menunggu penjelasan dari Alex sendiri meski ternyata temannya yang mencari tahu.


"Dia sering keceplosan, tante tidak saya pancing pun selalu bilang sesuatu jadi saya bisa menarik kesimpulan," ingat pada sesuatu yang Alex pernah katakan bahwa ayahnya itu ... apa ya? Rita lupa.


"Oh, begitu. Sekarang tante tahu kenapa Alex terus fokus chat sama kamu. Dia banyak cerita?" Anaknya benar - benar sering keceplosan bahkan sewaktu ibunya bertanya memaksa siapa Rita. Alex bilang perempuan yang selalu membuat dia pusing tapi sekaligus banyak tertawa.


"Iya lumayanlah, Tante," jawab Rita sebisa mungkin sopan.


"Soal mantannya yang sudah meninggal juga?" Tanya ibunya yang merasa heran. Baru kali ini hanya Rita seorang yang mampu membuka hatinya dengan cepat hanya berjarak 3 bulan, Alex kembali seperti anaknya yang semula. Ibunya semakin penasaran seperti apakah Rita ini?


"Iya. Bukan saya lho Tante, dia sendiri yang bicara terus saya tanya saja. Ribet ya urusannya," kata Rita sambil memegang dahinya.


"Yah, kamu sampai sudah tahu soal itu sih hebat. Alex sangat tertutup pada semua orang termasuk saudara dan kakak perempuannya," bisa terbayang seperti apa syoknya Alex saat itu kehilangan pacar termasuk calon istri.


"Tapi pasti tahu juga kakaknya kan, Tante?" Tanya Rita mana mungkin kakak yang tersisa tidak tahu.


"Tahu karena teman mantannya itu teman dekatnya dan dia akrab dengan kakaknya. Saya yakin kamu akan segera berkenalan dengan semua sahabatnya dan mungkin dengan anak saya yang besar," katanya.


Rita hanya bisa menghela nafas pastilah akan kenal dengan semua anggotanya. Tapi kalau bapaknya? Wuidih Rita hanya bisa bahasa Inggris yang sederhana kalau harus berbicara panjang lebar, butuh penerjemah. Ayah Alex kan orang Jepang, setidaknya kalau bukan bahasa itu pasti bahasa Inggris. Mak jleb!!


"Ya pastinya kena juga ke luarnya sih. Alex posesif, tante?" Tanya Rita kebetulan sekali kan ibunya chat sama Rita huehehehe sekalian cari tahu juga.


"Wah! Parah dia. Kamu pernah mengalami? Pernah jadian ya. Tante baca hehehehe," kata ibunya. Sejenak Rita merasakan kalau ibunya sangat lembut dan agak bodor juga.


"Hehehe iya tante, tapi baru seminggu saja saya sudah pusing. Sedetik saja dia chat banyak kalau tidak dibalas mulai berpikir negatif. Kalau ada orangnya ingin sekali saya jeduggin kepala saya ke dia. Rusuh!"


Ibunya tertawa keras membaca komentar Rita tapi lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Saat menyadari suster yang lewat menatap heran ke arahnya dan beberapa pasien memandanginya. Ibunya ingat Alex yang tertawa keras di rumah sampai terheran - heran. Dengan siapa anaknya itu tertawa lepas begitu? Sudah jarang sekali ibunya melihat Alex tertawa dengan puas. Ternyata dengan Rita, sekarang ibunya mengalami kejadian yang dirasakan Alex. Bahaya sekali anak ini! Pikir Ibunya yang masih terus berusaha menahan tawa.

__ADS_1


"Oh, iya dia memang begitu. Sama mantan - mantannya juga posesif banget tante bilang sama dia jangan terlalu mengekang, mereka semua pasti tidak akan ada yang bertahan sama dia. Tapi dia bilang takut kalau pada pergi, yah memang pergi sih. Dia keterlaluan sekali posesifnya. Yah, tante minta maaf ya sama kamu kalau dia pernah mengatai kamu. Biasanya dia seperti itu kalau banyak kerjaan," jelas ibunya menggelengkan kepalanya. Alex jelas keterlaluan masih kenal malah sudah memarahi orang pantas kalau Rita sangat marah.


"Oh iya Tante hanya kaget saja baru kenal sudah seperti begitu, kesal iya apalagi pastinya tante tahu juga soal pembullyan dia kan?" Tanya Rita tidak mungkin ibunya tidak tahu.


"Iya tante tahu. Anak itu memang suka membuat masalah tante juga bingung kenapa sampai begitu ke anak orang. Bukan ke kamu saja tapi banyak orang makanya tidak heran kalau banyak juga musuhnya. Tapi itu karena dia kecewa mungkin melihat kamu seperti kakak laki - lakinya," kata ibunya yang juga heran. Rita jelas perempuan tapi kenapa kelakuannya juga sama seperti anaknya yang paling besar, yang sudah tiada.


"Kakak laki - lakinya kenapa, tante?" Tanya Rita ingin tahu. Alex tidak pernah menceritakan soal kakaknya mungkin karena lebih menyakitkan dari pacarnya.


"Kamu tanyakan saja pada Alex kamu sudah bisa membuka hatinya dan membuat Alex nyaman sama kamu. Saya juga tidak menyangka sampai bisa curhat banyak sama kamu. Nanti, dia pasti banyak merepotkan kamu. Tante minta maaf ya dan tolong jaga Alex," kata ibunya penuh harap.


Rita tidak mengerti kenapa dia harus menjaga Alex. Alex kan sudah dewasa, apalagi dengan sikap songongnya itu makin malas Rita menjaganya.


"Duh tante, saya tidak bisa pegang janji ya maafkan kalau nanti mungkin tante mendengar kabar saya menjauh dari Alex itu artinya saya sudah tergeletak sekarat di trotoar," kata Rita yang tidak mau menjaga Alex. Biarlah sia jaga dirinya sendiri masa iya, tidak bisa?


Ibunya tertawa lagi dan sampai memegang perutnya sendiri. "Iya iya Alex memang begitu. Dia itu terlalu lebay dan apa - apa dianggap serius. Saya lihat juga sifat kamu agak mirip anak saya yang sudah tiada padahal perempuan ya. Dia kecewa karena terlambat untuk mengubah kakak laki - lakinya menjadi lebih baik, nah kebetulan dia bertemu kamu mungkin karena sifatnya sama lalu tidak sengaja dia terlalu memaksakan kehendak. Nanti dia pasti cerita. Keluarga kamu bagaimana tanggapannya?" Tanya ibunya.


"Ohh iya biar Alex saja yang cerita. Keluarga saya sih ya begitu saja, tante meski ibu saya menanyakan tapi saya tidak akan ceritakan lebih panjang," kata Rita telah yakin kalau itu adalah yang terbaik daripada nanti ibunya banyak mengomeli macam - macam. Ibunya enggan menerima seseorang yang sangat kaya sama sewaktu Rita suka dengan kakak kelasnya.


"Saya disebut halu kalau cerita soal Alex. Kalau cerita, ibu saya pasti ingin lihat orangnya dan saya sudah malas belum apa - apa didoakan jodoh seperti sebelumnya tapi berakhir pilu," Rita mengingat kejadian sebelumnya lama sebelum dia kenal Alex. Orang itu yang paling Rita sayangi tapi karena ikut campur ibunya, semuanya tenggelam termasuk kakak kelasnya yang enggan bertemu lagi dengannya. Setelah kejadian itu, ibunya hanya menyalahkan Rita dan yah, sangat sedih.


"Oh namanya juga seorang ibu, Rita pasti cemas dan ingin segera kamu menikah kan. Saya baca kamu pernah dikecewakan dengan orang lain?"


Wadow jangan - jangan kejadian waktu Rita ditinggal nikah itu? Semuanya kelaaarrr.


"Oh iya, tante ditinggal nikah hehe," maluuuu sekali haduh! Entah bagaimana dan apa yang dipikirkan ibunya Alex saat membaca itu.


"Sama dengan Alex ya tante tidak tahu ada takdir apa dengan kalian berdua tapi tante hanya ingin mengingatkan jangan saling menyakiti,"


Ya pasti akan saling menyakiti sih sesuai dengan cover novel ini, jadinya berdarah - darah semua tapi bukan darah tapi sesuatu yang ada di dalam tubuh kita yaitu hati.


"Anak tante lebih menyakitkan kata - katanya. Saya salah apa?"

__ADS_1


Ibunya hanya menggelengkan kepala dan menghela nafas ada apa dengan satu - satunya putra kesayangan ibunya itu? Kenapa selalu membuat semua orang merasa bersalah apalagi seenaknya menyerang emosional mereka. Tahu kalau Alex sangat kesepian yang bahkan seorang ibu pun yang selalu berusaha membahagiakan anaknya tetap saja masih ada yang kurang.


"Dia sama dengan bapaknya kalau sudah kerja, apapun pasti dimarahin. Makanya ibu saja dengan ayahnya sering berantem, saya kira Alex tidak begitu karena di rumah dia manis sekali. Ternyata buah tidak jauh dari pohonnya!" Ibunya tidak tahu ternyata Alex banyak mengungkapkan tentang dirinya dan semua. Semoga Rita anak yang bisa menyimpan semuanya menjadi rahasia karena banyak juga teman Alex yang memanfaatkan.


"Oh gitu. Bapaknya galak juga," Rita membayangkan pasti ibunya punya waktu yang sulit juga. Sudah dengan suaminya sendiri lalu sana anaknya.


"Kalau sedang kerja saja. Ya begitu deh kamu bisa tahu seperti apa bapaknya dengan melihat Alex. Mereka berdua sangat mirip,"


WOOOW sangat mirip. Berarti bapaknya juga ganteng dong. Bagai durian dibelah golok, tidak bisa dibayangkan dalam pikiran Rita. Ganteng - Ganteng Galak hahahaha sepertinya bagus juga kalau dibuat Novel lain.


"Wajahnya juga?" Rita semakin penasaran.


"Bibit dari ayahnya menempel banget sama Alex. Semuanya!" Ibunya yakin pasti Rita kini penasaran.


"Waduh! Jadi tidak enak, malah seperti kenal sama suaminya tante dong," tebak Rita yang merasakan firasat tidak enak.


"Hahaha anggap saja untuk latihan," kata ibunya.


"Latihan apa ya, tante?" Rita sama sekali tidak mengerti maksud ibunya Alex. Latihan apa? Bahasakah?


"Kamu tidak tahu?" Ibunya merasa aneh. Rita tidak peka sekali dengan apa maksud ibunya. Langsung Beliau tertawa sekarang terlihat kenapa Alex selalu menggaruk - garuk kepalanya dan teriak tidak karuan.


"Tahu apa?" Tanya Rita semakin aneh.


"Oh... hahaha pantas anak saya punya waktu sulit sama kamu. Pokoknya nanti suatu hari kamu pasti tahu Ya sudah ya sepertinya Alex sudah sadar, kapan - kapan kita mengobrol lagi ya. Tante sekali lagi minta maaf soal kelakuan Alex ke kamu ya,"


"Iya tante. Saya rahasiakan obrolan ini,"


"Terima kasih ya," jawab ibunya yang agak merasa aneh. Entah kenapa seperti Rita bisa menjawab atau membaca pikiran ibunya. Tapi ibunya menerawang sifat Rita, memang bisa tapi dia tidak bisa. Nah lho! Hanya mungkin Rita berpikir mungkin ibunya berpikiran ini atau itu jadi pas banget saja.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2