
Setelah itu Alex pun penuh dengan penyesalan, rekan kerjanya heran melihat bosnya menangis. Dalam semasa hidupnya dia baru kali ini melihat Alex menangis dan serangan dalam waktu bersamaan.
"Are you okay? ( Kamu tidak apa - apa? )" Tanya rekannya menepuk pelan bahu temannya itu yang sedang terisak.
"I opened something I shouldn't have done and now she's calling me evil ( Aku membuka sesuatu yang seharusnya tidak kulakukan dan sekarang dia menyebutku jahat )," kata Alex dengan wajah yang tertunduk.
Baru kali ini rekan kerjanya melihat Alex sangat lesu, dan menghela nafas ada apa dengannya. "Some kind of Pandora's box? ( Semacam kotak Pandora )," Tanya rekannya menebak keadaan bosnya.
Alex mengangguk sambil sesekali terisak, dia tidak malu sama sekali saat ketahuan oleh rekannya sedang sedih, karena memang sudah biasa hanya dia seorang yang selalu bisa menangkap apa yang Alex rasakan. Yah memang dia selalu siaga dan sigap karena tahu temannya itu sakit apa.
"Done apologized? ( Sudah minta maaf? )" Tanya rekannya.
"Already but she said it's not something that can only be forgiven ( Sudah tapi dia bilang itu bukan hal yang bisa dimaafkan )," kata Alex dengan nada yang sangat sedih dan penyesalan.
"Hmmmm give her some time. A girl who is angry or disappointed, don't bother her, wait until she can breathe ( Hmmmm beri dia waktu dulu. Perempuan yang marah atau kecewa jangan kamu ganggu, tunggu sampai dia bisa bernafas )," kata rekannya dengan menepuk bahu temannya itu.
Alex lalu mengerti dan menepuk bahu temannya pertanda dia sudah tak apa - apa. Dengan butiran air mata yang menetes sisanya, Alex bangkit lalu duduk dan menghapus air matanya. Rekannya menggelengkan kepalanya dia berpikir nampaknya perempuan yang sedang dia dekati sangat galak. Dan Alex membuat ulah. 2 jam Alex menunggu kabar Rita dia dengan gelisah terus memeriksa ponselnya.
"Mau apa kamu sampai aku harus mengakui segala? Kamu tidak sadar, kenapa aku tidak mengaku? Karena aku tidak suka dengan yang aku punya! Berbeda dengan kamu yang sangat bangga karena kamu orang yang sombong! Kamu juga lebih mengejar keduniawian kan? Tapi aku beda! Dan aku tidak suka hal - hal seperti yang Ney dan kamu punya. Penyakit kalian berdua itu sama!" Kata Rita akhirnya panjang lebar.
Alex terduduk membacanya, tepatlah dugaannya kalau Rita memang tidak suka bahkan tidak pernah mengakui keberadaan kekuatannya. Dan dirinya tak harus memaksanya untuk menyukainya atau bahkan menggunakan semuanya, dia tidak ada kewajiban untuk itu. Semuanya terserah bagaimana Rita.
__ADS_1
"Aku benar - benar kurang ajar maaf!! Kalau sudah membuat kamu sedih, saya tahu kamu menangis akan kelakuan saya yang tidak sopan. Buka seenaknya kotak kamu lalu mengeluarkan semuanya. MAAF!! Saya memang orang jahat dan kurang ajar tapi aku hanya ingin tahu tadinya tapi sampai sangat iri juga sih," kata Alex yang mengetik secepatnya.
"Iri apaan sih? Kamu tidak tahu itu semua beban?" Tanya Rita yang masih menggerutu kesal. Dia merasa semuanya mulai masuk sambil memasang wajah kesal. Mereka menempati pos jaganya masing - masing dan efeknya beberapa menit akan terlihat.
"Kenapa kamu menyembunyikan segalanya? Kalau dikeluarkan itu akan bisa memperkaya kamu," kata Alex karena yahhh dia nyatanya punya juga tapi Rita tidak yakin itu murni dari Allah swt.
"Kamu tahu orang yang benar - benar punya Gift dari Allah swt itu tidak akan pernah mengaku bahwa mereka istimewa atau memang punya. Karena berat sekali tanggung jawabnya kecuali itu keluar sendiri sih untuk beritahu sesuatu, tetap saja mau keluar sendiri mau aku keluarin juga, nanti di akhir hidup pertanggung jawabannya itu lho," kata Rita menjelaskan. Masa iya Alex tidak tahu sih?
"Hah? Bukannya namanya Gift ya bonus kan untuk kita sendiri," kata Alex memang tidak tahu.
"Bukanlah. Apapun yang Allah SWT beri itu pasti ada efeknya. Mau dipakai baik atau buruk, semuanya rata. Tanggung jawab. Dipakai baik untuk diri sendiri, orang lain atau alam? Sama dengan yang buruk. Jadi kalau kamu juga punya, kamu harus pikir tanggung jawabnya nanti mau dijelaskan bagaimana. Berat banget lebih berat dari zina. Dan aku takut tidak bisa menjawab apapun," kata Rita.
"Kamu sampai berpikir begitu," kata Alex emejing membacanya. Dia sama sekali tidak pernah terpikir ke arah itu, akhir hidupnya untuk mempertanggung jawabkan kekuatan yang dia dapatkan entah dari mana.
"Oh," kata Alex yang terus menyimak apa yang Rita utarakan.
"Itu beban. Aslinya aku juga bertanya kenapa harus aku yang kena? Mana istimewanya? Sholat saja masih bolong, bicara juga tak semanis madu atau bidadari. Lalu kenapa? Masih jadi tanda tanya itu. Aku hanya ingin dilahirkan dengan kemampuan biasa tidak perlu berurusan dengan per-hantuan sampai deja vu. Bisa tidak sih paham apa yang aku tidak suka dengan yang aku suka?" Tanya Rita pada Alex yang pastinya penasaran. Tapi apapun itu lebih baik tidak mengganggu sesuatu di dalamnya. Sampai membusuk tidak pernah dia pakai.
"Oh, aku tidak tahu," kata Alex.
"Ya kamu tidak tahu tuh bertanya jangan langsung memaksa! Kalau kamu tidak bisa mengerti, plis pergi saja! Daripada harus banyak mendapat penglihatan lain better you live!" Kata Rita yang kesal menatap langit.
__ADS_1
"Aku tidak bisa... aku sudah nyaman sama kamu," kata Alex yang menggeleng harus meninggalkan Rita begitu saja. Hatinya sudah menempati hati Rita tapi orangnya sama sekali tidak sadar.
"Kalau begitu hargai dong apa yang tidak mau aku akui kamu tidak punya hak memaksa aku mengakui. Siapa kamu!? Orang asing kok hanya karena sudah tahu nama aku, semua, kamu pikir kamu sudah punya hak memiliki semua? Aku juga tahu nama kamu dan semuanya, apa aku pernah membatasi kamu dengan sekitar kamu? Kamu sendiri yang begitu!" Kata Rita yang masih marah dan geram dengan kelakuan Alex.
Alex kembali meneteskan air matanya, dia sadar sekali kalau memang orang asing tapi entah kenapa begitu ingin memiliki Rita, dia menyeka air matanya dan masih terisak. Entah bagaimana harus mengatakan kepadanya kalau dirinya merasa seperti bertepuk sebelah tangan, menyangka Rita tidak mau menerimanya. Lebay memang🙄🙄salah melulu sangkaannya, cengeng banget nih orang. Yakin sih pasti anak bungsunya super manja dihadapi perempuan galak langsung nangis. Alamak!
"Kamu nyaman sama aku? Tapi kamu yang seenaknya begini, apa kamu pikir aku akan nyaman juga? Sepertinya aku harus pikir ulang lagi untuk dekat sama kamu," kata Rita yang agak ragu bila dirinya sudah salah mengambil langkah.
"Jangan... tolong jangan pergi... maafkan...aku... maaf..." kata Alex yang menangis terisak lagi dengan keras.
Rekannya yang ada diluar pintu tampak semakin cemas mendengar suara tangisannya yang merontokkan hatinya. Dengan cepat dia menandai pintu menuju kantornya dengan tulisan "Danger" dengan papan berwarna merah. Beberapa pegawai yang melihat tulisan itu langsung berbalik arah, mereka semua sudah hafal betul apa artinya kalau papan merah sudah terpasang pada pintu kaca menuju ruangan bos mereka.
"Kelihatannya bos menghadapi pacarnya yang sekarang rumit sekali. Apa sih yang dia lakukan sampai dimarahi habis - habisan? Kotak Pandora apa ya?" Tanya rekannya pada dirinya sendiri yang penasaran tapi mana mau juga dia bertanya. Bisa - bisa kepalanya habis dimakan oleh bos galaknya.
Dalam ruangan Alex, Rita masih mengiriminya chat. "Ya jangan begini dong. Apa - apa masa kamu pikir aku itu sudah jadi milik kamu? Tolong ya aku hanya sebatas suka bukan lebih! Jangan lebay! Sampai kamu bisa melakukan apapun seenaknya. Giliran aku yang seenaknya kamu tahu, ibu dan kakak kamu akan datang memarahiku. Kamu pernah pikir? Dari pihakku tidak ada yang datang memarahimu, kamu tahu betapa stresnya aku menghadapi keluarga sendiri dan keluarga kamu!? Ditambah Ney dan Arnila yang menyerang aku daripada sebagai teman, mereka menjadi pengikut kamu! MENGERTI SEDIKIT DONG!!!" Teriak Rita tentunya dalam chatnya. Membuat Alex ketakutan.
Kalimat terakhir Rita keluarkan dengan suara asli membuat Prita yang ada di bawah bisa mendengar teriakan Rita. Sisi lain Alex tersentak bahwa selama ini Rita selalu sendirian menghadapi semuanya sendiri, dia tak bercerita kepada siapapun. Kakak juga ibunya dari pihaknya yang memarahinya, Alex pun tahu bahwa Rita selalu menangis karena tidak ada siapapun yang membelanya. Begitu pula dengan Ney dan Arnila yang berada di pihaknya padahal Alex tahu mereka teman terlama nya. Tapi mereka semua malah menyerangnya, dia ajak Ney dan Arnila untuk membuatnya menjadi musuhnya.
Alex menutup mulutnya selama ini yang dia inginkan hanyalah tentang dirinya. Hanyalah keegoisan dirinya sendiri yang menuntut Rita harus selalu mengerti dia. Tapi tentang Rita dia sama sekali tidak mementingkan nya sama sekali dan tidak peduli. Benar sekali kalau Rita sudah merasa lelah dengannya, semua orang menurut Alex harus dan wajib menuruti apa yang dia katakan. Alex lupa kalau ternyata selama ini Rita merahasiakan Alex dari keluarganya. Sedangkan dia sendiri terlalu ceroboh sehingga ibunya bisa tahu semua masalahnya dan menyalahkan Rita, bahkan membuat Rita berhenti untuk kontak dengan Alex.
Rita selalu sendirian, Alex merasa bersalah. Ibunya tidak pernah mendengarkannya apa yang dia inginkan, pendapatnya pun selalu terkubur. Ayahnya membanggakan adiknya, sedangkan doa tidak ada kebanggaan. Tetapi Rita memiliki teman yang selalu ada untuknya bukan Ney dan bukan Arnila, teman yang tidak pernah peduli dengan kekurangannya dan selalu stand by. Bahkan soal Ney dan Arnila pun... mereka tak sedekat teman yang Rita punya. Alex sangat menyesal! Meski Ruta sendirian, kewarasannya masih berjalan, dia tak pernah merasa sendiri, Allah SWT selalu ada bersamanya meskipun semua manusia menjadi musuhnya.
__ADS_1
"Rita selalu sendirian selama ini berbeda denganku yang selalu ada di kumpulan orang - orang." Kata Alex menyadarinya.
BERSAMBUNG ...