ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(154)


__ADS_3

"Wih, dia senang ya. Terus kamu mau balas apa?" Tanya Ney yang terus fokus pada layar hpnya Rita.


Rita menatap Ney dengan sebal dan menggeser posisi duduknya dan menutup hpnya. "Rahasia."


Ney yang melihatnya manyun karena dia tidak akan bisa lagi mendapatkan info apapun mengenai Alex. "Kelihatannya kalian banyak yang dibicarakan ya, tadi aku melihat ada kalimat Alex yang dari hari kemarin. Kalian bicara soal apa sih?" Tanya Ney yang super kepo.


"Bukan urusan kamu," jawab Rita sambil mengetik dan tersenyum lagi ke arah hpnya.


"Kamu kok jadi begitu sih? Tidak ada cerita lagi ke kita katanya kamu anggap kita teman dekat. Teman dekat bukannya harus banyak cerita ya?" Tanya Ney.


"Yang beranggapan teman dekat itu cuma kamu. Toh yang kamu ingin tahu bukan soal aku tapi Alex. Maaf ya mulai sekarang cerita apapun aku batasi. Arnila juga tidak memaksa aku harus cerita. Kamu dengan Dins saja memangnya aku penasaran?" Tanya Rita yang menutup hpnya dengan mendekapnya di dada.


"Ya buat apa juga kamu tahu soal aku dengan Dins!" Jawab Ney.


"Nah itu sama juga soal aku dan Alex, aku harus mulai bisa memilih mana yang layak untuk diceritakan dengan yang tidak," kata Rita yang tidak bisa diganggu gugat keputusannya dan Ney frustasi dengan itu.


"Tapi aku tidak bisa percaya apa yang Alex katakan ke kamu dengan menggunakan bahasa Inggris. Kamu kan tidak mengerti bahasa Inggris!" Kata Ney yang memang ya selalu merasa paling pintar.


"Rita itu kan guru bahasa Inggris kamu jangan suka merendahkan. Kali saja Rita pura - pura tidak mengerti untuk menguji kesabaran kamu," kata Arnila yang senyum jahil ke arah Rita.


"Hahahaha sikap kamu yang merendahkan itu memangnya banyak yang bisa menerima? Ketahuan kan itu yang harus kamu ubah kalau mau diterima dia masyarakat kalaupun ada lagi yang seperti kamu, jangan kamu bilang, 'Itu ada juga yang lain berarti aku juga normal.' Ya itu terserah kamu, tapi pasti ada konsekuensinya. Awal - awal aku pikir kamu bisa bantu aku menerjemahkan tapi sepertinya aku salah orang. Entah kenapa kamu malah jadi sering ikut campur sampai kamu menyalahkan aku padahal aku yakin, kamu tahu banget siapa yang salah. Aku butuh dukungan, kamu malah beri yang buat aku sakit! kamu merendahkan, meremehkan aku padahal kamu tahu, aku itu menguji kamu," kata Rita dengan nada yang kesal dan sedikit marah.


"Menguji seberapa sabar dan pengertian ney ya?" Tanya Arnila yang bisa menangkap dengan mudah. Menurutnya Rita jauh dari yang dibayangkan oleh Ney.


"Iya, Nil. Tapi yaaah aku malah melihat sesuatu yang tidak ingin kulihat. Kamu jelekkan aku, bukannya memberi solusi yang baik, kamu malah memihak Alex. Yang dekat sama kamu itu Alex apa aku sih? Teman kamu siapa? Kamu baru kenal Alex, eh lebih mihak dia. Pikir deh kamu tahu apa soal aku? Kamu tahu tidak, Nil dia memihak Alex karena apa?" Tanya Rita menatap Arnila.

__ADS_1


"Apa tuh?" Tanya Arnila yang berbalik bertanya. Yah sudah tahu sih jawabannya tidak jauh - jauh juga.


"Dia punya banyak uang, lebih kaya. Gila kan! Menyesal asli aku sudah kenal kamu, menganggap kamu teman, membela kamu kemana - mana astagfirullah! Seperti ini ternyata hasilnya, enak tidak tuh?" Rita tertawa menggelengkan kepalanya untuk menggambarkan kefrustasiannya lalu minum air aqua.


"Kamu memang keterlaluan, Ney. Serius deh! Tapi tenang Rita," kata Arnila sambil menepuk bahu Rita.


"Kenapa?" Tanya Rita yang menutup kembali botol Aqua nya.


"Aku juga sering kok digituin sama dia terus dianya merasa tidak salah," kata Arnila yang membuat Ney menatapnya tanpa dosa.


Rita tertawa meratapi dirinya yang memang bodoh sekali. "Seriuslah? Kamu kan orang kaya, Nil rumah seperti hotel aku pernah lihat foto rumah kamu tuh dari Ney. Apa kurangnya kamu sih?"


"Yah, itu kan rumah orang tua. Aku sih belum punya nanti kalau menikah dan begonya kita berdua ya masih mau saja kenal sama dia," Arnila tertawa juga.


"Merasa paling ter - ter kali nil. Memang aneh sih apa kurangnya Arnila buat kamu sih, Ney? Kalau aku ya mengakui punya rumah kecil tidak seperti Nila. Tapi ada baiknya kamu sering bercermin deh apa rumah kamu sendiri lebih besar? Lebih dari aku atau Arnila, kalau iya dimaklumi ya tapi kalau kebalikannya... Kamu harus sadar diri. Arnila saja yang statusnya di atas kita dia tidak pernah menyombongkan diri tapi kamu yang biasa saja, agak aneh justru," kata Rita yang lumayan menohok tajam pada Ney.


"Nih ya, aku katakan berjuta kali pun sampai kamu sadaaaar kalau mencari teman itu jangan lihat materi sama besarnya rumah. Itu kamuflase! Lihat dari ketulusan mereka yang mau menerima kamu jelek baiknya. Kamu juga harus sama bisa menerima mereka jangan hanya kamu bisa menerima kalau mereka kaya. sifatnya harus mau nurut sama kamu sampai tua juga tidak akan ada yang mau dan kamu akan berakhir lonely. Bagaimana dengan grup kamu? Uang itu bisa berkurang kalau kamu tidak pandai menjaganya," kata Rita tapi Ney seperti biasanya lelah mendengar. Penampilannya yang tadi rapih sekarang sudah agak mulai yahhh pudar.


"Jaga dengan sedekah ya kan?" Tanya Arnila.


"Iya. Supaya Allah SWT menjaga harya yang kamu punya. Ini sih lebih pantasnya yang pilih - pilih justru Arnila. Ini malah terbalik!" Rita merasa aneh dan tertawa lagi. Arnila hanya tersenyum jahil dan Ney tersenyum tapi pahit. Dia lupa soal dirinya, rumahnya memang biasa saja yang termasuk luar biasa memang hanya Arnila. "Kalau Arnila sombong, merasa tinggi ya wajar dia kan memang berbeda buntutnya tapi kalau orang biasa sombong terus tinggi padahal buntutnya biasa, you kidding me!"


Beberapa saat terhening, Ney terus menundukkan kepalanya dan menyibukkan dirinya dengan membuka hpnya entah sedang apa. Arnila dan Rita melirik Ney yang sama sekali tidak berkomentar apa - apa. Lalu Arnila memutuskan memecahkan keheningan itu.


"Eh, jam berapa kamu janjiannya?" Tanya Arnila membuat topik lain. Yang tadi biarkan saja Rita dan Ney yang membahasnya berdua nanti. Rita yang masih merasa kesal pun hanya bisa menghela nafas.

__ADS_1


"Kita bicarakan soal itu lain kali saja deh nanti mood bertemu pamannya Alex jadi tidak enak. Intinya saja harus kamu selalu ingat ya kalau aku sudah kecewa berat sama kamu dan aku sama sekali tidak tahu apakah akan masih ada jodoh antara kita di jalan nanti atau tidak. Tapi untuk sekarang dan saat ini, aku akan berusaha mengesampingkan hal yang menyakitkan itu. Hmmm sebentar aku chat dulu pamannya, kita masih mau disini atau jalan - jalan?" Tanya Rita tanpa melihat siapapun.


"Sudah sudah. Ini sebagai peringatan juga Ney, kamu harus banyak berpikir. Aku sih masih ingin banyak mengobrol disini. Aku sudah bilang Imron kalau kita sampai sore. Oh iya sandwich sama bawang bombay gorengnya tidak kamu habiskan? Tidak enak?" Tanya Arnila yang juga sudah merasakan rasa makanan Ney.


"Oh, mau aku bawa pulang untuk orang rumah. Kamu sendiri?" Tanya Rita yang melihat bagian sandwich yang Arnila makan juga ternyata tidak habis.


"Sama. Imron penasaran tentang makanan kalian, berarti semua orang penasaran ya," Katanya yang memasukkannya diam - diam ke dalam tupperwarenya. Begitu juga Ney yang memasukkan makanan ke dalam tasnya dengan cara melemparkannya.


"Lalu kenapa kamu masih mau bertemu? Itu bukannya kamu masih butuh aku ya?" Tanya Ney menatap Rita tapi Rita menatapnya dengan kedua mata yang kosong.


"Bukan butuh karena aku memaklumi kekurangajarnya kamu tapi apapun ada batasnya. Aku tidak tahu sampai kapan aku masih ada di sisi kamu. Kedepannya aku tidak tahu apa aku masih bisa terus memaklumi perilaku hina kamu ke aku," jawab Rita yang membuat Ney sedikit ketakutan. Kalau memang takut ditinggal sendiri lalu kenapa dia selalu melakukan hal seenaknya yang membuat Rita kecewa?


"Rita masih bisa mentolerir apa yang kamu perbuat sekarang tapi sama dengan Rita, aku juga begitu apalagi nanti kita berdua menikah, Rita juga dengan Alex kita tak pernah tahu. Jadi persiapkan saja diri kamu untuk yang terburuk nanti," kata Arnila yang juga membuat Ney kaget. Ada apa ini? Kenapa mereka berdua seperti membuat keputusan yang sama? Memangnya apa salah aku selama ini? Pikir Ney.


Rita memandangi Arnila dengan penuh arti dan Arnila hanya menarik nafas lalu menghembuskan nya.


"Apa yang kamu lihat sih?" Tanya Rita kepadanya saat itu juga agar Ney juga tahu.


Arnila menatap mereka berdua. "Sama dengan yang Rita lihat,"


"Kok kalian kemampuannya sama sih?" Tanya Ney sebal.


"Rita lebih besar. Rita punya banyak kemampuan yang belum kamu tahu. Aku hanya setengah saja. Jangkauan kekuatan Rita bisa lebih jauh dari kita, Ney tapi aku kagum Rita tidak pernah sekalipun menyombongkan itu,"


"Karena buat apa? Tidak bisa dibuat jadi uang juga," kata Rita yang memakan makanan buatan Arnila.

__ADS_1


"Nanti akan ada yang beritahu kamu, kamu punya apa saja," kata Arnila yang penuh teka teki bagi Rita dan Ney. Ney sama sekali tidak suka saat mendengarnya, menurutnya posisi dia akan terancam apalagi Rita orangnya lurus. Apa yang dia lihat akan langsung diutarakan.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2