ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(106)


__ADS_3

"Kenapa aku pertanyakan soal ini karena aku ingin tahu apa sih alasan sebenarnya kok bisa.. Padahal selama ini aku selalu membela kalian berdua. Dimana banyak ya orang yang bilang kalian itu bukan teman yang baik tapi aku yang bertahan sama kalian. Sampai kejadian bulan kemarin membuat aku tersadar, mungkin ini tidak baiknya kalian," Rita menundukkan kepalanya.


"Kita sadar kok sepertinya kita ini mudah sekali termakan omongan orang. Aku lihat memang kamu itu ya tidak ada yang diubah sih," kata Arnila sambil memperhatikan lantai.


Ney tetap terdiam tidak bergeming. "Jujur ya Ney, yang aku rasakan dari kamu, tampaknya kamu senang banget kalau aku sampai di bully sama Alex, yang aku heran kenapa sih kamu tega banget. Apa dulu aku pernah bully kamu? Aku bebaskan kamu mau berteman dengan siapapun karena itu hak kamu," Ney tampak tidak membantah. Itulah salah satu ciri dia kalau pernyataan orang lain benar soal dirinya.


"Aku kecewa aslinya. Kamu selalu aku bela ke semua orang ternyata, hmmm aku salah. Kecewa, sedih kok ya kamu bisa berpikir aku sebagai saingan padahal aku benar - benar ingin berteman sama kamu. Tapi ternyata selama ini salah paham ya," Rita memperhatikan Ney yang memalingkan muka dengan tampak air mata yang tertahan.


"Iya Ney, aku jujur juga Rita. Aku juga merasa kamu memang benar - benar tulus mau terus berteman dengan kita seburuk apapun. Ney, kamu harus lebih terbuka sama kita. Lebih dicerna lagi kalau kita bicara apapun, jangan berpikir macam - macam. Rita itu benar tulus adanya," kata Arnila menyenggol Ney. Dia terus saja diam dan malah membaca buku.


"Aku yang banyak memperhatikan kamu ternyata selama ini tidak pernah dianggap ada hahaha mengsedih banget! Kamu tahu Nil, Alex terus membela Ney apapun! Dan aku sangat sedih, bukan maksud menjelekkan tapi maksudku kenapa ya Ney seperti itu eeh malah dapatnya respon mengecewakan,"


Arnila kaget mendengarnya, Ney? Entahlah dia tampak senang tapi sekaligus sedih mungkin karena Rita sudah tidak bisa memiliki kepercayaan dan kenyamanan lagi dengan Ney. Itu langsung pudar.


"Serius!? Terus bagaimana?" Tanya Arnila yang sekarang kedua matanya sudah normal lagi.


"Aku bilang saja kamu tampaknya lebih membela Ney daripada aku. Yah wajarlah aku kan wanita iblis. Aku bilang begitu," kata Rita.


Arnila memegang tangan Rita yang tidak perlulah! "Aku tidak tahu, Alex hanya salah paham, Ri. Waktu kamu out dari grup itu, Alex bilang dia sangat menyesal," kata Arnila.


"Alex terus bicarakan kamu kok sampai kita bosan," jawab Ney.


"Kita sadar kita semua sudah salah menilai kamu. Maksud kamu pasti beda dengan yang kita pikirkan," kata Arnila.


"Kenapa selama ini aku tidak utarakan karena aku punya hati. Aku tidak mau kalian sampai sakit tapi perbuatan kalian malah yang membuat aku tidak mengerti. Aku yang selalu menjaga perasaan tapi kok kalian....beda ya," kata Rita menundukkan kepalanya menatap lantai.


"Maaf, Rita. Kita berdua keterlaluan sama kamu," itu kata Ney. Membuat Rita dan Arnila bengong bersamaan. Hah? Ney meminta maaf? Serius? Untuk para pembaca ya disini Rita dan Arnila tampak sangat heran atas pernyataan Ney. Kenapa? Karena Ney itu tipe orang yang sangat susah sekali kalau dia salah, dia sangat enggan mengakui. Jadi memang terbilang aneh juga Ney tiba - tiba meminta maaf. Sontak kedua mata mereka berdua yang tadinya basah sekarang sudah mengering.


Arnila yang menggenggam kedua tangan Rita, memberi kode soal Ney. Saat itu tampak Ney yang sedang membuka buku sambil membicarakan sesuatu. Rita penasaran karena dari semasa mereka duduk di SMP, Ney sama sekali tidak pernah mengatakan kata 'Maaf'. Rita lalu menarik kepalanya dan melihat seperti apa penampakkan Ney saat itu tapi sedikit Arnila menariknya. Rita perlahan melihat Ney begitu juga Arnila, secara perlahan.


Ney sedang menyenderkan kepalanya ke sandaran lemari kayu yang penuh novel, sambil membalikkan buku, Ney berkata lagi:

__ADS_1


"Kita tidak bermaksud membuat kamu begitu, Rita. Hanya kita sudah keterlaluan aku pikir kamu mengerti dengan cara yang keras tapi ternyata salah. Maaf ya, aku tahu banget kalau kamu memang sudah baik semuanya. Aku hanya sedikit iri dan cemburu sama kamu, kamu dikelilingi orang yang baik sedangkan aku tidak. Aku juga minta maaf Arnila, sering banget kecewakan kamu, tidak hargai keberadaan kamu. Tapi sebenarnya aku senang banget sama Arnila. Aku benar - benar minta maaf sama kalian berdua," kata Ney sambil yang terus membuka - buka halaman buku.


Rita memandangi Arnila yang aneh tapi mereka mendengarkan terus.


"Ney...." kata Arnila yang langsung mulutnya ditutup dengan tangan Rita. Arnila keberatan, dan Rita memberitahunya untuk diam. Dengan suara yang berbisik, Rita memberitahukan Arnila.


MODE BISIK - BISIK


"Itu Ney yang asli," kata Rita membuat Arnila terkejut. Dan perlahan Rita menurunkan tangannya dari Arnila. Arnila hanya bengong menatap Rita tidak percaya.


"Asli? Kenapa bisa tahu?" Tanya Arnila yang berhati - hati.


"Terasa saja, auranya berbeda," kata Rita yang terus memperhatikan Ney dari pinggir.


"Bagaimana?" Tanya Arnila. Dia selalu merasa takjub dengan kemampuan yang dimiliki Rita, yang bisa menjangkau sesuatu yang tidak diduga. Membuat misalnya dia berkomunikasi dengan jin khodamnya Alex dan merasakan kehadiran khodamnya, yang menurut mereka hanya orang yang setara saja yang bisa.


"Perhatikan kedua matanya. Bandingkan dengan saat Ney bicara dengan kita. Maksudku, yang ini kesannya dia sangat lembut. Beda banget masa kamu tidak bisa bedakan?" Tanya Rita sambil mendekatkan lagi dirinya ke arah Ney yang sedang menyender.


"Aku mau bertanya ya," bisik Rita yang perlahan mendekati Ney. Dan Arnila takut itu malah membangunkan Ney ke sosok yang menjengkelkannya.


"Jangan! Yang sisi itu datang, berabe kan! Kita pura - pura saja dari sini bertanya," Rita mundur sedikit lalu Arnila maju dan duduk di sisi Rita.


"Selama ini kenapa kamu selalu berbohong? Soal diri kamu sendiri?" Tanya Rita dengan suara yang biasa. Arnila memandangi Rita dan mendengar Ney.


"Aku takut kamu tidak mau menerima aku kalau aku beritahu situasi yang sebenarnya. Meski sedikitnya kamu sudah tahu bagaimana kondisi aku jadi aku sembunyikan semuanya. Aku tahu kamu akan selalu menerima aku yang sejujurnya tapi rasa takutku terlalu besar akhirnya ya semuanya aku pendam," kata Ney yang masih sama posisinya.


"Aku cuma ingin kamu selalu terbuka dan jujur tidak perlu sampai berbohong. Kalau kamu menganggap aku sebagai teman kamu atau begitu juga dengan Arnila. Kamu bisa?" Tanya Rita.


"Entahlah terlalu terasa menyakitkan setiap kali aku ingin seperti itu. Aku ingin sekali diterima oleh kalian berdua tapi kondisiku yang tidak memungkinkan," kata Ney. Masalahnya kok bisa ya kesadarannya berubah saat dia sedang membuka - buka buku?


"Rita, kita bangunkan yuk!" Ajak Arnila yang ditolak oleh Rita.

__ADS_1


"Kamu tanya. Mumpung dia lagi dengan diri dia sendiri yang asli. Kamu pasti ingin kan ketemu yang normalnya?" Tanya Rita. Arnila tampak ragu akhirnya mencoba berbicara. Takutnya, dia takut dengan suara Arnila, Ney terbangun.


"Kamu sebenarnya suka Alex atau bagaimana?" Tanya Arnila sambil terus memegang bahunya Rita karena takut Ney tersadar.


"Aku tidak ada perasaan apapun terhadap Alex. Aku hanya ingin kamu bahagia dan dapat yang terbaik. Aku terima Dins sepenuh hati dan semoga dia bisa mengubah aku ke jalan yang baik tapi bagaimana ya, Dinsnya sendiri tidak suka sholat. Jadi aku cemburu sama kamu yang bisa dapatkan Alex. Aku juga sama sekali tidak berniat mau memanfaatkan kamu atau Arnila begitu juga Alex. Tapi dia tidak mau aku begitu, dia ingin aku lebih membenci kamu," Ney kemudian menitikkan air mata.


Aihh ini sih sudah bukan kasus yang mudah. Rita dan Arnila bingung.


"Coba lawan dia ya. Kamu pasti bisa masalahnya kamu yang satu lagi benar - benar membuat aku dan Arnila tidak nyaman. Padahal kamu bisa keluar, apa perlu aku bantu?" Tanya Rita. Dia menyadari sebenarnya yang bermasalah itu memang Ney. Ada sosok dia yang setengahnya tersembunyi dan Ney lain memasukkannya ke dalam lubang terdalam. Padahal itu adalah alter egonya yang paling baik.


"Tidak perlu. Kalau kalian merasa sakit dengan yang itu, tinggalkan jangan tinggal terlalu lama. Biarkan dia sendiri, dia tidak akan bisa cocok dengan siapapun. Sekali kalian dekat dengannya, hidup kalian akan dikendalikan oleh dia. Aku keluar karena dia lengah, dia merasa kamu terlalu berlebihan dan membenci semua perkataan baik kamu juga Arnila. Semua yang kamu rasakan itu benar tepat. Dia marah banget kenapa kamu bisa dengan mudah mengatakan semua yang dia pikirkan padahal kamu tak bisa membaca pikiran orang. Dia tidak nyaman dengan kamu sebenarnya tapi dia membutuhkan kamu untuk harga dirinya," kata Ney.


"Kamu bisa keluar?" Tanya Arnila.


"Tidak selalu. Ini saja aku heran bisa keluar mungkin karena dia terganggu mendengar omelan Rita makanya aku gunakan dengan sebaiknya. Aku benar - benar minta maaf kalau kamu bingung dengan kami, tinggalkan. Supaya hidup kalian aman tidak banyak diganggu olehnya." Ney lalu terdiam tapi tangannya masih bergerak membuka buku. Rita melihat beberapa lembar lagi buku itu selesai. Rita memberi tanda pada Arnila disudahi saja. Arnila mengangguk.


"Kamu puas?" Tanya Rita. Arnila mengangguk sambil menahan air matanya lagi. Sebenarnya ini bukan yang pertama dia melihat Ney seperti itu mungkin tiga kali?


(MODE BISIK - BISIK SELESAI)


"Ney, kamu yang sekarang alter ego kamu yang asli ya?" Hanya satu kalimat itu saja, Ney yang yang termenung menyandarkan akhirnya terbangun dan kembali ke dirinya yang menyebalkan.


"Apaan? Sudah selesai kamu ceramahnya!? Sudah siang nih makan yuk," kata Ney yang menggeliat dan menguap lebar.


"Kamu itu tidur apa baca sih? Jadi selama itu kamu tidak dengar apa yang aku bicarakan?" Tanya Rita padahal banyak banget tapi ya sudahlah toh alter ego sisi yang lain sudah menjawab.


"Dengar kok sambil baca buku!" Kata Ney yang menutup wajahnya dengan buku.


"Itu namanya tidak mendengarkan!" Seru Arnila kesal.


"Kamu nangis, Nil? Kalian kenapa sih lihat aku seperti lihat hantu," kata Ney merasa aneh. Rita memandanginya dengan rasa kasihan tapi mengusap wajahnya yang benar - benar tidak percaya apa yang baru dia lihat tadi.

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2