
"Kenapa?" Tanya guru besar itu sambil memegang pundak anak didik kesayangannya.
"Mual, Ustadz. Saya tidak tahan mau keluar dulu boleh?" Tanya anak didik tersebut yang sudah memegang selembaran uang Rp 50.000,-.
Guru besarnya menghela nafas dan mengijinkannya membeli beberapa makanan.
"Jang, antar beli cemilan tadi waktu kesini ada warung atau kedai, mungkin kamu lapar," beberapa anak bahkan senior menemaninya pergi sambil tertawa.
Rita bertanya - tanya ada apa dengan salah satu anak lalu apa yang dilihatnya? Sampai anak tersebut mual harusnya kan Rita sendiri yang mual karena sudah diruqyah. Guru besarnya masuk lagi dan mengeluarkan nafas pasrah.
"Sudah? Sekarang sampai mana?" Tanya guru besar menghampiri Ust Vodiy.
"Ini," guru besar kaget ternyata jin itu menuliskan sesuatu yaitu salam. Lalu Bapak Rita dan Rita sendiri duduk bersama, Ust Vodiy memperlihatkan tulisan itu pada mereka berdua.
...'Assalamualaikum,'...
Begitu isinya, kemudian Ust Vodiy duduk di depan mereka berdua. Tulisannya bagus sekali, Bapak Rita juga tulisannya keriting - keriting tegak bersambung seperti kaligrafi.
"Walaikumsalam. Maaf saya memanggil kamu untuk bertanya apa niat kamu sampai teteh ini merasa terganggu dengan kehadiran kamu,"
Kemudian Ustadz mengusapkan kertas itu dengan melantunkan surat Jin lagi. Rita ingin sekali melihat pulpen itu bergerak namun Ust Vodiy tidak memperlihatkannya, sebenarnya agak aneh banget kenapa harus disembunyikan? Beberapa menit kemudian, Bapak Rita agak merasa aneh juga dan mereka saling menatap dan berpikiran yang sama. Setelah ini aku harus mulai membersihkan diri takutnya memang ada unsur musyriknya meski sedikit, pikir Rita. Ustadz itu lalu memberikan lagi kertasnya, mereka membaca isinya :
...'Saya hanya ingin menjaga saja, saya tidak punya niat jahat. Saya takut teteh ini diperalat...
...oleh beberapa lelaki. Jadi mungkin ...
...penjagaan saya terlalu berefek berlebihan. Kalau teteh ingin saya pergi, saya akan pergi. Saya ikhlas.'...
__ADS_1
"Bagaimana? Kasihan teh, jinnya baik sih ini sopan," Rita menatap Ust Vodiy dengan tatapan yang aneh, guru besarnya ingin berkata sesuatu namun diurungkan dan hanya menggelengkan kepalanya saja. Bapak Rita hanya bengong mendengarkan apa yang dikatakan Ust Vodiy. Namun Rita tetap memutuskan untuk mengusir jinnya karena dia sudah terlalu sering kekurangan tidur.
"Tetap usir saja! Saya sudah sangat terganggu,"
Kemudian Ust. tersebut meminta jin itu untuk pergi meninggalkan Rita, sempat ada perlawanan dari dalam isi kertas yang dipegang oleh Ust Vodiy tiba - tiba terbakar. Barulah guru besarnya ikut melawan kertas itu lalu dimasukkan ke dalam baskom berisi air. Well, ruqyah ini entah kenapa sangat kurang efeknya pada Rita tapi dia juga enggan meneruskannya karena sudah sangat tidak nyaman diteruskan.
Kemudian Bapak Rita meminta ijin untuk pergi sebentar ke kamar untuk membawakan uang biaya ruqyahnya. Lalu guru besar mendatangi Rita tentunya setelah Bapaknya kembali.
"Saya melihat saat tengah mendoakan teteh, ada semacam kekuatan besar di dalam diri teteh," kata guru besarnya membuat Ust Vodiy kaget mendengarnya kemudian menatap Rita.
"Serius? Kenapa tidak terasa tadi ya?" Tanya Ust Vodiy merasa heran.
"Karena kekuatannya sama sekali tidak merespon kamu, kang. Harus didekati dulu baru ada, itu Hidayat saja langsung kabur tadi. Sepertinya dia juga bisa melihatnya,"
Lalu Ust Vodiy keluar rumah dan memeriksa murid istimewanya itu. Muridnya sudah kembali segar karena sudah makan nasi dan ayam yang dijual di pinggir jalan. Lalu memeluknya, Ustadz itu tampak takut kehilangan dan takut kenapa - kenapa, itu terlihat dari benak Rita, yang juga ditangkap oleh guru besar.
"Lalu bagaimana, Ustadz? Apakah baik kekuatannya itu?" Tanya Bapaknya Rita menurutnya pastilah berat karena Bapaknya selalu memperhatikan tingkah laku anak keduanya. Meski Bapaknya bukanlah seorang manusia yang memiliki kelebihan juga, tapi Bapak bisa merasakan kalau anaknya terganggu dengan sesuatu.
"Kamu merasakan ada kekuatan itu?" Tanya Bapaknya dengan melotot bukan marah ya hanya terkejut saja.
"Tidak tahu. Aku kira itu firasat yang dimiliki manusia pada umumnya. Kalau keluar bagaimana, Ustadz?" Tanya Rita.
"Tadi saya yakin ada yang terlintas di benak teteh mungkin tentang Ust Vodiy dan Hidayat? Itu salah satu kekuatannya, Pak. Tapi baik ya karena bisa jadi peringatan atau sesuatu yang ingin teteh ketahui,"
Kemudian sebagian muridnya yang angkatan senior memasuki rumah dan duduk bersebelahan dengan guru besarnya. Tampaknya mereka juga ingin tahu ada penampakan apa yang terlihat oleh gurunya.
"Yah, hanya alam yang tahu kalau kekuatan teteh keluar, semua orang yang memiliki kekuatan indera ketujuh, hal spesial dalam dirinya tidak akan ada yang bisa menandingi teteh," setelah mengatakan itu tampak kedua mata guru besar itu berkaca - kaca.
__ADS_1
"Ustadz, apa termasuk Hidayat juga akan kalah?" Salah satu senior bertanya.
"Iya," jawab guru besarnya yang harus rela mengatakannya. Semua senior yang hadir kaget dan menatap Rita tapi tidak lama karena diingatkan salah satu temannya, itu tidak sopan. Terlalu lama memandang perempuan nanti keluar fitnah Ain.
Rita hanya menggaruk kan kepalanya yang memang gatal, tidak tahu harus berbicara apa. "Apa ada cara untuk menghilangkan atau kekuatan itu tidak keluar? Kenapa harus anak saya?" Tanya Bapak yang sangat keberatan karena mengetahui anaknya harus menanggung kekuatan yang besar itu.
"Wallahu alam, Bapak. Itu adalah kehendak Allah SWT, mungkin hanya teteh ini yang mampu membawa kekuatan sebesar itu dan termasuk ke dalam anak yang sangat istimewa. Bapak jagalah teteh ini sampai waktunya harus dilepas atau menikah ya teh. Kekuatannya itu seperti hanya disitu saja, bergerak tapi tidak menyebar atau bagaimana. Diam tapi berputar seperti gasing, bisa sangat dekat kalau teteh membutuhkannya tapi bisa sangat jauh kalau teteh tidak membutuhkannya. Anak didik saya, Hidayat sepertinya sudah melihatnya. Maha Suci Allah SWT, ini mengingatkan kita agar jangan sombong. Di atas langit masih ada langit kalian dengar?" Tanya guru besar kepada murid seniornya dengan dijawab anggukan kepala.
"Iya, guru." Jawab mereka yang tampak tidak percaya dengan apa yang dikatakan guru besarnya itu. Mereka takjub karena tidak pernah sekalipun guru besar mengakui sesuatu.
"Meskipun yang kita tahu Hidayat juga memiliki keistimewaan, ternyata kita bertemu dengan yang Maha Besar sekaligus langsung titipan dari Gusti Allah SWT. Ingatkan Hidayat masih ada yang lebih besar darinya, teteh ini buktinya. Kadang Hidayat menyombongkan kemampuannya, Pak padahal saya yakin masih ada yang lebih dari dia. Mana Hidayat, masih mual?" Tanya gurunya menatap senior.
"Sieun ceunah mah. Jadi moal kadieu ( takut katanya sih. Jadi tidak akan kesini )." Jawab seniornya.
"Moal nanaon, da tetehna oge bageur ( tidak akan apa - apa, tetehnya juga baik ). Sok ajak masuk lagi sudah makan kan?" Tanya gurunya lalu seorang senior keluar dan mengajak Hidayat untuk masuk. Dengan takut, hidayat masuk tapi tidak mau terlalu dekat dengan Rita.
"Moal nanaon, bageur tetehna. Ka hareup! ( tidak akan apa - apa, baik tetehnya. Ke depan! )" kemudian Hidayat duduk sebelah gurunya sambil menundukkan kepalanya karena malu.
"Makan saja yang banyak pasti sehat lagi," ucap Rita yang tiba - tiba, mereka lalu memandangi Rita dengan tatapan aneh. Rita juga sama karena dia hanya melihat sesuatu dari benaknya. "Ya itu biasa kalau mual lemas biasanya tanda lapar kan?"
Mereka semua lalu tertawa suasana pun kembali ringan. Hidayat terlihat rileks setelah mendengar suara Rita yang riang. Rita memang senang dengan anak kecil karena toh dia seorang guru TK. Rita memandangi Hidayat dengan lembut dan Hidayat pun merasa malu. Guru besarnya menatap Hidayat yang sangat malu lalu guru besar tersenyum.
"Untungnya anak Bapak ini lebih ingin memiliki hidup yang normal, makanya kekuatan itu berada di pojok. Sekali saja dia diam di tengah pusat dari indera, tidak akan ada tandingan apapun. Penyembuhan, pemanggilan, apapun yang bisa dilakukan paranormal, dukun, indigo, siapapun akan kalah. Allahu Akbar! Allah SWT adalah Tuhan dari yang menciptakan bumi ini dan seisinya, Bersyukurlah Bapak memiliki anak yang sangat baik. Lebih senang hidup normal daripada menomor satukan kekuatan. Biarkan saja Pak, jangan cemas. Tetehnya bisa berjalan mandiri tanpa menggunakan kekuatannya." jelas guru besar itu.
Ust Vodiy kembali dari luar dan melihat Hidayat yang sudah segar dan ceria kembali, Ust Vodiy kembali lega. Lalu kembali duduk bersama gurunya merasa kelewat, Ust Vodiy bertanya pada murid seniornya apa yang sudah dia lewati. Sambil mendengarkan cerita mereka, Ust Vodiy tampang sangat terkejut mendengarnya lalu guru besar melanjutkan perkataannya.
Sepertinya guru besar dan Ust Vodiy memiliki pemahaman yang berbeda. Guru besarnya tampak lebih bijak daripada Ust Vodiy. Beliau lalu bergabung secepatnya pastinya penasaran ingin tahu lebih banyak lagi.
__ADS_1
"Untuk saat ini, kami bukan tandingannya jadi ma.i hanya bisa mengeluarkan yang menjadi gangguan. Untuk kemampuannya tidak bisa dihilangkan atau dihapus, itu semua adalah kehendak yang Kuasa. Bapak terima saja."
BERSAMBUNG ...