ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
434


__ADS_3

"Hahaha lupa sih kan aku mengidolakannya malaikat Jibril. Eh malah ketemu selain Dia," kata Rita tertawa.


"Oh, Teteh suka malaikat Jibril? Hmm bisa ketemu kok terus saja berbuat baik agar bisa bertemu dengannya. Malaikat Jibril sangat senang manusia yang selalu berbuat kebaikan dengan tulus," kata Ua tersenyum.


"Keadaan di dalam dunia yang ada jembatan itu tidak ada cahaya sedikit pun? Warna keadaannya apa?" Tanya Ratih agak penasaran. Apakah yang dilihat oleh Rita benar Neraka atau tempat lain.


"Apa ya? Merah tapi lebih ke gelap, warna abu-abu. Waktu Teteh berjalan ke jembatan saja semuanya berwarna merah tapi tidak panas. Hanya sepi," kata Rita sambil mengingat lagi.


"Tidak ada yang lewat atau yang mengantri?" Tanya Ryan.


"Tidak ada siapapun," kata Rita.


Ua dan Koko menghela nafas sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangan.


"Jangan dipikirkan Teh soal dua malaikat itu tapi jangan lupa juga Teteh banyak berdoa, mendekatkan diri pada Allah dan jangan lupa sedekah di saat Teteh mampu," kata Ua memberikan saran.


"Iya, Ua," jawab Rita mantap.


"Sudah sejauh itu? Ua bagaimana? Bisa kesana juga?" Tanya Tante.


Ua Mori menggelengkan kepala. "Tidak bisa dan tidak akan mungkin ada yang bisa karena wilayahnya sudah yang termasuk spesial, Ua takjub Teteh bisa kesana dengan mudahnya. Teteh tahu kalau sering dibawa kesana?" Tanya Ua.


"Sadar kalau itu area yang berbeda? Ya sadarlah namanya juga mimpi, wilayahnya kan bisa kemana-mana, Ua. Aku tidak pernah menganggap itu semacam yang Ua dan Koko pikir," kata Rita.


"Saat kamu pergi jauh saya yakin kamu sudah mengunjungi banyak tempat. Pendapat kamu tentang semua itu bagaimana?" Tanya Koko.


"Ya menakjubkan emejing sekali karena memang saya kan mengagumi seperti luar angkasa, benda-benda langit dan bisa melihat itu semua dari jarak dekat. Ya luar biasa sekali," kata Rita senyum.


Semuanya terdiam dan hening, mereka hanya bisa sampai jarak tertentu sedangkan Rita sudah "DiajakNya" untuk melihat kebesaran yang Dia miliki, meski Rita menganggap itu hanyalah mimpi. Bagi yang mengetahuinya sungguh itu adalah peristiwa yang luar biasa.


"Kamu pernah ceritakan pada siapa. Mungkin si toxic atau orang tua bahkan sahabat?" Tanya Koko.


"Tidak ada, saya tidak pernah membicarakan apa yang saya lihat sih, Ko. Anggap itu adalah harta karun yang saya punya, orang lain untuk apa tahu," kata Rita.


"Bagus! Karena terkadang beberapa orang akan menganggap kamu agak diluar kewajaran ya. Yang akan mengerti hanya orang yang memang punya pengalaman yang sama," kata Koko.


"Meski yang kamu alami berbeda dengan kami dilihat dari sisi dalam Teteh juga, yang memang menjadi fans Sang Khalik. Ua baca memang Teteh tidak ada yang merasa bangga atau sombong sudah pernah mengalami hal luar biasa. Bagus Teh, terus seperti itu," kata Ua mengacungkan jempolnya.


"Itu hanya mimpi Teh," kata Koko senyum.


"Iya, hanya mimpi untuk apa di pikir serius hahaha," kata Rita.

__ADS_1


"Ya bagus juga sih Teh Rita menganggap itu semua mimpi karena dia sendiri menjaga hatinya agar tidak berlebihan. Kalau orang lain mungkin sudah parah," bisik Ua pada Koko.


"Apa karena itu juga Teteh diserahkan beban dan tanggung jawab besar untuk kemampuan dan kekuatan yang setara dengan Sang Khalik, Ua?" Tanya Koko ingin tahu. Wajahnya agak sedih bila menang begitu.


"Wallahu alam, Ko. Saya juga iba pada Teteh, terlalu besar beban yang dibawa dari sananya. Belum nanti kalau dia jadi dengan Malaysia ini, tanggung jawabnya menjadi lebih banyak. Yah, kita doakan untuk kesehatannya dari jauh," kata Ua.


"Lalu Teteh tahu bola cahaya terang itu apa?" Tanya Wean. Keluarganya terdiam ternyata keponakan yang selalu mereka remehkan memiliki kekuatan yang tidak mereka sangka.


"Tidak tahu mungkin malaikat yang baik kan. Kalau ada hitam pasti ada putih juga," kata Rita.


"Lebih dari malaikat," kata Ua Mori.


"Wah, lalu apa tuh, Ua?" Tanya Ryan.


Tante dan lainnya menjadi semakin iri dan merasa Rita yang tidak lebih bagus dari anaknya kini hanya terdiam dan menyimak saja.


"Memangnya ada yang lebih dari malaikat?" Tanya Rita masih tidak sadar apa yang membantunya saat di alam sana.


"Ada Teh, Ryan. Dekat dengan kita kita, dengan semua makhluk hidup. Kalau Teteh banyak berdoa, dia akan mengabulkan banyak permintaan. Teteh masih belum sadar tapi Ua dan lainnya bersyukur Teteh diselamatkan sebelum terlambat. Diberi penasaran dan Teteh mau menerimanya. Apapun yang Dia tawarkan, terima karena sangat baik," kata Ua dengan nada yang lembut.


Meski memang tidak mengerti. Bukankah hanya Allah saja yang bisa mengabulkan semua keinginan? Rita berpikir apakah bola terang itu... Allah?


"Kenapa ya saya tidak boleh masuk kesana lagi? Kenapa mereka jadi ada dua?" Tanya Rita agak penasaran.


Meski terkesan aneh bagi Rita tapi dia berjanji tidak akan berkunjung lagi ke tempat itu, mengingat akan rasa ketakutan pada salah satu malaikat itu.


"Lalu bola terang itu apa ya? Ua dan Koko pasti tahu kan?" Tanya Rita.


Namun lagi-lagi Koko dan Ua enggan memberitahukan membuat Rita mendengus.


"Aduh Teh, pokoknya yang menghadang Teteh masuk ke sana itu subhanallah sekali mana itu langsung menolong Teteh," kata Ua terkesan sangat takjub sekali.


Koko mengangguk setuju dan ada rasa tidak percaya diri, melihat Rita yang masih tidak tahu itu apa membuat Koko menghela nafas.


"Pokoknya tidak ada manusia yang bisa bertemu langsung seperti kelas VIP yang paling tertinggi deh. Koko juga belum tentu bisa Teh," kata Koko.


"Oh ya?" Tanya Rita masih keheranan.


"Ya, Teteh padahal jadi fans berharap bisa bertemu saat bisa bertemu malah tidak tahu itu siapa," kata Ua tertawa.


"Hoh?" Tanya Rita. Satu-satunya yang dia ingin bertemu tentunya dengan Allah sendiri yang kedua adalah dengan malaikat Jibril.

__ADS_1


Tapi untuk bertemu Allah bukankah setiap harinya semua orang sudah bertatapan ya? Rita ingin lebih "melihat" dari sekedar mengantarkan doa. Yang dia tahu bisa bertemu kalau usianya sudah habis.


"Bisa bertemu lagi tidak ya hehehe," kata Rita.


Alex yang berada disana kembali sedih, Ua dan Koko bisa melihatnya hanya bisa pasrah karena Rita sama sekali tidak bisa merasakan kehadirannya.


"Bisa Teh, hanya nanti saja toh Teteh masih muda dan perjalanannya juga belum sampai Finish. Masa Aa Malaysia mau ditinggalkan juga? Setelah Kakak dan Mantannya pergi," kata Ua.


Rita masih tidak mengerti maksud ucapan Ua bahkan Koko pun hanya menundukkan kepalanya. Alex berlinang air mata mendengarnya. Dia duduk tepat di sebelah Rita untungnya Rita sama sekali tidak tahu dia ada.


"Hmmm itu kan bukan maksudnya aku lebih ingin ketemu ya nanti maksudnya kalau usiaku sudah habis. Kalau sekarang sih ya mana mau, masih belum banyak menabungnya," kata Rita.


Alex lalu menyeka air matanya dan menggeleng pikirannya terlalu jauh sana sekali tidak tahu itu adalah impian Rita nanti.


"Lalu apa ada obrolan lagi?" Tanya Koko.


"Ada. Katanya, "Waktunya subuh. Sholat ya." Lalu tiba-tiba ya bangun lihat jam itu pukul 4 subuh. Aneh," kata Rita berpikir.


"Alhamdulillah ternyata mengingatkan untuk sholat," kata Ua lega.


"Jadi itu datang untuk menolong Teteh juga mengingatkan untuk waktunya sholat. Lalu yang masih menjadi pertanyaan bola tetang itu apa?" Tanya keluarga Ratih. Rita juga mengangkat bahu.


"Yang penting Bola itu menolong aku di saat yang kritis," kata Rita agak penasaran juga.


"Sudah jangan penasaran itu apa Teh. Jangan memikirkannya nanti juga saat waktunya pas pasti akan bertemu lagi dan Teteh akan tahu, itu apa," kata Ua Mori memutuskan rasa penasaran Rita.


Ua Mori terkagum-kagum karena memang itu alam mimpi yang manusia biasa tidak bisa datangi. Mau ada orang yang rajin sholat, rajin sedekah ataupun hal baik kalau memang tidak dikehendaki mendatangi tempat khusus itu, siapapun tidak akan mampu.


Meskipun dirinya punya kemampuan dari Allah untuk alam semesta tapi tidak semua kemampuan itu bisa membawa mereka lebih jauh.


Kemudian obrolan mengenai hal luar biasa itu dihentikan dan mereka menyambung ke dalam kegiatan ruqyah nanti.


"Kalau Teteh mau,biar lebih gampang bisa memakai medium. Ua-Ua ini pada bisa lho," tawar Suami Ua.


"Medium? Yang nantinya roh itu masuk ke badan seperti Koko tadi?" Tanya Rita.


Koko kaget lalu menatap Ua Mori. "Teteh tahu khodam Ua ada yang masuk?" Tanyanya.


Ua Mori garuk kepala. "Tidak tahu bagaimana caranya tapi iya, Teh Rita tahu dan dia aneh. Peruqyah tapi kok bisa dimasuki jin lain? Agak ragu," katanya.


"Hah? Terus bagaimana dong sekarang?" Tanya Koko.

__ADS_1


"Tenang, saya sudah jelaskan. Karena Koko butuh bantuan jadi saya memasukkan khodam dan Teteh mengerti," kata Ua.


Bersambung ...


__ADS_2