
"Oalaaah jadi selama ini dia menyembunyikan warnanya dari kamu sendiri? Kalau kamu mau tahu, warna aslinya juga tidak jauh kok dari bagaimana dia ditempeli sosok jin," kata Jasmine.
"Hah? Serius? Teteh bisa lihat?" Tanya Rita bengong.
"Bisa gampang banget. Tapi kenapa dia lakukan itu ya? Hmmm memang sih yang teteh lihat ke kamu perlakuannya seenaknya ya," kata Jasmine menerawang Ney.
"Jangan tanya deh teh, saya juga inginnya bertanya. Dia lebih terbuka sana teman semasa SMA nya yang dari Jakarta jadi memang bukan sahabat kan karena dia lebih terbukanya sama yang Jakarta," kata Rita menjelaskan.
"Ya benar juga sih kalau begitu mah. Kenapa dia jadinya mengaku sahabat kalau dia lebih terbuka sama teman Jakarta. Dulu kamu tahu kan saya benci sama kamu?" Tanya Jasmine mengingatkan ada rasa tidak enak ternyata kakaknya pun salah mengira kalau Rita anak yang seenaknya.
"Oh iya tahu tidak apa - apa maklum soalnya saya yang salah sih dan tidak semua orang harus suka saya juga," kata Rita memaklumi.
"Hmmm... saya juga minta maaf ya ternyata kamu diluar dugaan aslinya. Saya juga tertawa membaca chat kamu sama Alex, kamu murni polos juga ya. Ya sudah kalau begitu alasannya tadi aku pikir kamu orangnya sombong hanya karena kenal Alex lalu kamu mengenyahkan teman - teman kamu. Ternyata yang bermasalah itu ya dia," kata Jasmine.
"Menurut teteh harus bagaimana ya menghadapi teman seperti itu?" Tanya Rita kali saja kakaknya Alex bisa lebih pas beri solusinya.
"Kamu tampaknya sudah trauma banget ya. Adik saya membully kamu karena ada maksudnya tapi bodohnya dia melakukannya secara kasar. Maaf ya dia memang bodoh," kata kakaknya melirik Alex yang kebosanan tapi ibunya memegang kuat tangannya agar tidak kabur.
"Trauma iya karena mereka begitu banget katanya dia mengerti aku tapi caranya kasar. Wah, sori deh," kata Rita tidak mau tahu lagi soal Ney.
"Kalau tahu seperti itu keadaannya ya terserah kamu saja yang penting kata saya bicarakan dengan jujur sama dia apa yang kamu tak sukai dari dia. Orangnya memang tidak pernah pakai hati ya aneh juga masalahnya bukan hanya ke kamu saja tapi ke semua orang. Lalu kamunya jangan terlalu banyak memakai perasaan ke dia soalnya dia sama sekali tidak sebaliknya dari kamu. Coba belajar jadi orang yang agak sadis, kamu kan bisa ke adik saya masa dia ngga," kata Jasmine yang tersenyum. Ternyata Rita hanya seorang anak yang polos banget dan sangat baik sampai tak sadar dia dimanfaatkan.
Rita membaca jawaban dari kakaknya Alex berarti selama ini Ney menganggap dirinya terlalu baik ya, dia bisa sesukanya berlaku walaupun berbuat salah sudah tentu Rita akan memaafkannya. "Hmmm.."
"Keluarkan unek - unek kamu sama dia selama ini kalau bisa hanya kamu dan dia yang bertemu dan hati - hati kalau dia mengatakan yang negatif, jangan didengarkan soalnya dia mengeluarkan hal yang bikin kamu down," kata Jasmine memberi peringatan. Parah banget tuh temannya Jasmine menggelengkan kepalanya dan Alex melihatnya, dia penasaran kakaknya membaca soal apa.
"Sudah pernah sih teh," kata Rita.
"Terus?" Tanya Jasmine.
__ADS_1
"Ya begitu sama sekali tidak didengarkan makanya aku malas banget kalau bertemu atau janjian lagi sama dia. Mana saya beli makanan dia yang habiskan, saya baru makan sedikit. Pokoknya ingin teriak deh," kata Rita. Jasmine tertawa terbahak - bahak membacanya.
'Uuh, aku ingin ini cepat selesai,' pikir Alex yang bermaksud kabur namun ibunya menatapnya dengan tajam. Alex hanya manyun.
"Ya ampun ternyata masalahnya bukan hanya teman kamu saja, tapi kamunya sendiri. Coba untuk lebih tegas lagi atau galak deh! Kalau kamu beli sesuatu karena sudah tahu dia seperti apa, ya tolak. Kamu harus gerak cepat kalau sudah tahu teknik dia. Orangnya memang tidak tahu sopan santun, kalau ada yang kenal dia, dia anggap sudah jadi temannya. Makanya dia menganggap sahabat kamu itu sudah jadi temannya juga," kata Jasmine lagi, Rita terlalu polos banget pastilah dia kesal tahu makanannya selalu dihabiskan. Jasmine terus tertawa.
"Iya teh sudah juga. Kesaaaal banget kemarin saja makan bareng teman untungnya teman saja jaga jarak duduk saya sama dia. Dulu saya yang bayar makanannya, enaknya dia malah menghabiskan huh!" Rita teringat soal itu dan kasirnya pun tampak jelas tidak menyukai kelakuan Ney.
"Dia banyak buat masalah ya sama kamu karena dia juga iri kamu bekerja lalu punya gaji besar kan. Tapi itu karena kamu berusaha keras, sedangkan dia ingin instan," kata Jasmine.
"Wow kelihatan semua ya teh? Padahal daripada saya gajinya lebih besar tapi pelit! Justru saya gajinya di bawah dia. Bisa - bisanya jelekkan saya tapi soal jajan dia yang habiskan. Sue!" Kata Rita.
"Kamu yakin gajinya lebih besar dari kamu?" Tanya Jasmine menahan ketawa.
"Kata dia... jangan - jangan..." kata Rita terpotong.
"Hah!? Sama dong dengan gaji awal saya. Kenapa dia bilang gajinya 2 juta ya. Ih, sadar tukang bohong!" Rita sebal awas saja dia akan menjebaknya nanti.
"Kalau dia bicara apapun lebih baik jangan dipercaya dulu deh. Orangnya sudah berbohong padahal jujur saja ya kamu juga bukan orang yang menghakimi. Teman kamu ada juga pastinya yang di bawah kamu kan," kata Jasmine.
"Ada dong teh tapi aku berteman sama mereka karena yang aku lihat bukan dari ukuran rumah tapi kalau mereka beri saran selalu bagus, saya nyaman, bisa adil. Tapi kalau Ney sebenarnya sudah sadar dari dulu juga yah terpaksa saja masih sama dia juga, kemana - mana dia saya lihat tidak ada dengan siapapun," kata Rita.
"SISTER!" Teriak Alex dari dalam ruangan dokter. Ibunya sontak mencubit pinggangnya dan dokter tertawa terkekeh - kekeh.
"Kamu kenapa sih?" Tanya ibunya kesal.
"Itu... itu..." kata Alex terbata - bata, dia tentu saja penasaran ingin tahu apa yang mereka obrolkan tapi ibunya membuat dia terduduk lagi.
"Kenapa? Tenang saja kelihatannya kakak kamu menginterogasi pacar ya. Baik, kita lihat kondisi jantung kamu ya," kata Dokter membuat Alex kaget. 'Pacar?' Yah kalau saja bisa membuatnya menjadi pacar.
__ADS_1
Kemudian mereka bertiga melihat kondisi jantung Alex dan dokter nampak tidak percaya apa yang tengah terjadi pada jantung anak cengeng itu, dokternya terdiam sesaat lalu membuka kacamatanya dan mengusap lalu melihat lagi. Yang dilihatnya sama sekali di luar dugaan, ini pertama kalinya dokter itu melihat keajaiban. Ibunya juga terheran - heran melihat dokter jantung yang sesekali mengernyitkan dahinya.
"Ada apa dok? Apa ada yang salah? Tapi dia jarang kambuh sih dok, apa semakin parah?" Tanya ibunya yang semakin khawatir. Alex hanya menunduk pasrah dengan keadaannya bila jantungnya semakin buruk.
"This is soo amazing!" Teriak dokter membuat suster terheran juga dan melihat gambar jantung Alex. Lalu dokter tertawa sambil menangis melihat ke arah Alex dan ibunya yang belum mengerti.
"Cepatlah dok, katakan kenapa? Ponsel saya terancam nih," kata alex yang tidak peduli bagaimana kabar jantungnya.
Dokter dan suster tersebut tertawa melihat Alex. "Hohoho ini luar biasa! Masya Allah, Allah Maha Besar!" Kata dokter tersebut sambil menengadahkan kedua tangannya dan mengusap wajahnya.
"Apalah dok lama sekali! Mom, aku keluar ya sudah selesai juga kan," Kata Alex tidak sabaran.
Ibunya menatap lebih sadis dari biasanya dan membuat Alex memilih diam di kursi. "Anda tak perlu cemas. Lihat ini, jantungnya sehat! Ini keajaiban! Lukanya yang disini entah bagaimana Alhamdulillah seharusnya masih ada luka panjang sisa operasi minggu lalu. Tapi semuanya tertutup!"
"Alhamdulillaaaahhh! Ya Allah!" Teriak ibunya sambil memeluk sayang anak kesayangannya itu. Alex tersenyum bangga itu semua berkat energi Rita yang selalu dia ambil dan akibatnya tentu Alex tahu, Rita suka sakit.
"Kamu harus banyak berterima kasih pada pacar kamu. Tampaknya anak Anda nih lebih ceria dan bersinar sekarang daripada terakhir dulu kamu periksa ke sini. Tapi saya sarankan jangan sampai membuatnya marah," kata dokter mengambil lembaran resep yang bisa Alex konsumsi saat kambuh saja.
"Kenapa dok memangnya?" Tanya Alex. Dia sudah membuat Rita marah juga kemarin malam. Dia diam dan menyesal karena Rita berjasa membuat jantungnya bisa tertutup bekas luka dari operasi.
"Dia bisa dengan mudah membuat kamu koma lagi. Pacarnya galak banget ya setelah ini kamu harus lebih memperhatikannya," kata dokter sambil tertawa. Susternya tertawa juga mengetahui kebenaran pacar Alex karena Alex hanya bengong melihat apa yang dikatakan dokter.
"Memperhatikan bagaimana?" Tanya Alex mereka kan berjauhan.
"Jangan banyak tengkar, kalau kamu suka cintai dia, ajak menikah, kamu bisa panjang umur kalau dekat dengannya. Ini obat kamu minum kalau sakit saja ya," kata dokter membuat Alex terdiam. Ibunya tertawa mendengarnya. Semua orang termasuk dokter yang sudah mengurus Alex sejak bayi sampai dewasa sudah tahu apa yang dialami oleh Alex. Dan tampaknya Alex sudah menemukan tambatan hati yang lain apalagi sampai bisa membuat jantungnya sembuh.
"Rita ya?" Bisik ibunya kepada Alex dan Alex berwajah merah. Tapi bagaimana ya Alex sudah kepalang membuat Rita bersalah lagi. Memarahinya karena salah paham.
BERSAMBUNG ...
__ADS_1