
"Tunggu tunggu masa sih pilihannya begitu? Aku ini masih mengusahakan ya untuk terus terhubung sama Rita terus kamu buat pilihan seperti itu. Kamu saja yang pergi, aku yakin Rita akan kembali lagi ke aku seperti biasanya," kata Ney dengan yakin.
"Hentikan Ney. Kamu tidak akan ada dalam cerita bahagia mereka, bukannya dia sengaja melupakan kita tapi kitalah yang tidak mengerti perasaannya, kitalah yang salah memberikan penjelasan dan juga kamu," kata Arnila yang mengatur pernafasannya membuat Ney mengerti.
"Tidak! Aku tidak terima, aku ini sudah bersusah payah, Arnila melakukan banyak untuk membantunya," kata Ney dengan tidak mau kalah tegasnya. Dia menyeka air matanya.
"Iya tapi cara kamu itu salah. Rita itu terlalu lembut, kita bertiga itu semuanya beda. Rita bisa menyesuaikan diri, aku juga tapi kamu tidak. Kamu bertindak menurut yang kata kamu baik," jelas Arnila.
"Rita itu tidak peka, dia butuh aku! Hanya aku yang bisa membantunya dan Rita itu baperan," kata Ney.
"Aku juga sama lho ya. Terus menurut aku baper itu wajar lho daripada orang yang tidak. Itu artinya dia punya banyak Hati alias terlalu lembut. Rita memang tidak peka tapi Alex mau menunggu sampai Rita sadar, jadi apa urusan kamu?" Tanya Arnila.
Ney diam lagi mendengar kata-kata Arnila masih tidak dapat menerimanya. Selama ini juga dia tahu Alex sangat sabar sekali mengetahui Rita tidak peka.
"Kalaupun kita masih ada di dirinya, atau Rita menyapa itu hanya setitik dan tidak penting. Karena nanti yang ada di sekitarnya hanya orang-orang yang lama bertahan dengan segala perilaku, kekonyolannya, sifat cuek atau yang menurut kamu membuatmu malu. Mereka tidak akan melihat itu sebagai sesuatu yang memalukan," jelas Arnila.
".........." jawab Ney. Dia ingin menjadi salah satunya tapi malah membuatnya jauh dari Rita. Apa yang dia ingin capai dengan tameng Rita, ternyata membuatnya jatuh. Padahal sudah lebih lama kenal, sudah diberi kepercayaan juga tapi malah membuatnya hilang kepercayaan.
"Orang yang hanya ada saat dia senang, itu akan terlindas semua dengan yang lebih tulus. Dari dia sering sedih, susah, duka sampai senang dan ceria lagi, mereka yang selalu ada. Mendengarkan keluh kesahnya, bukan kita," kata Arnila.
"Kalau saja..." kata Ney yang memandangi pemandangan sungai kotor disamping jendela kamarnya.
"Kamu kan masih punya beberapa orang seperti grup Sosialita kamu. Kurang apa lagi sih kan mereka sesuai yang kamu butuhkan," kata Arnila dirinya tidak pernah masuk ke dalam grup itu karena tidak ada manfaat. Di dalamnya hanya orang-orang yang senang mengupdate barang yang mereka beli.
"Tidak ada sih," jawab Ney yang sepertinya membuka sesuatu.
"Ya sudah mereka saja yang kamu pegang kalau dengan Rita, beda ceritanya. Beda lagi kisahnya kalau kamu dari awal menolak perundungan yang ditawarkan oleh Alex, menyikapi Alex dengan baik, tidak mengarang soal kepribadian Rita, dan kamu jujur dengan diri sendiri benar-benar tulus. Ceritanya mungkin saja akan lancar berjalan tanpa ada seperti ini," kata Arnila kepada Ney.
Ney mendengarnya hanya menundukkan kepalanya, terlalu memikirkan dirinya sendiri, mementingkan urusannya. Lalu dianggap apa Rita baginya selama ini? Dia lah yang paling lama bertahan dengan segala perilaku miringnya, dan yang tidak pernah merasa malu bisa menerima semuanya. Lalu Ney sendiri bagaimana?
"Aku bisa jadi sahabat Rita yang sesungguhnya kalau menerima dia yang begitu?" Tanya Ney.
"Ya kalau kamu bisa seperti itu, benar-benar bisa jujur pada diri sendiri, menerima kekurangan orang lain aku juga, kamu berdebat saja sudah lebih ganas dan tidak mau kalah. Kalau kamu jujur, tulus in sha allah sebagai sahabat Rita sudah ada dalam genggaman. Yah, keajaiban sih kalau kamu bisa begitu juga," kata Arnila agak tertawa.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dong sekarang? Apa ada yang harus aku ubah? Kalau untuk bisa kembali semula lagi," kata Ney semangat.
"Jangan deh yang sudah terjadi kamu ambil sebagai pelajaran untuk orang lain. Dan jangan pernah kepo lagi dengan urusan orang lain, Ney," kata Arnila. Dia masih tahu kalau Ney masih kepo dengan keluarga Alfarizki.
Tentu saja Arnila juga kepo sedikit dan bertanya kepada calon suaminya yang ternyata merupakan nama keluarga yang sangat terpandang. Mungkin maksud Allah mempertemukan mereka, karena dengan bantuan Alex impian Rita bisa terwujud.
Dan tentu saja yang Arnila lihat, Rita akan sangat bahagia bersama Alex. Soal dirinya sombong atau mungkin seperti Ney nanti, tentu saja tidak ada. Meskipun Ney akan terus mengekori Rita namun hasilnya akan nihil karena Rita akan semakin menjauh. Hidup Rita akan sangat glamor tapi juga penuh kekonyolan, dan dunia Alex seketika akan berubah menjadi lebih berwarna.
"Aku bukan kepo, Arnila tapi hanya agar Rita tahu saja siapa sebenarnya Alex Haryaka Alfarizki itu," kata Ney yang tidak ingin mengakui dirinya sangat kepo.
"Tahu media sosial dia, sampai Otube keluarganya kamu follow juga, Instogram Fanbasenya juga, Twit bahkan sampai media sosial lainnya. Untuk apa sih? Rita sama sekali tidak butuh info seperti itu lho yang dia butuh itu orangnya. Sudah hentikan, dia tidak akan pernah meminta kamu buat melakukan itu semua. Itu urusan dia," kata Arnila yang juga keberatan dengan kelakuan Ney.
Ney diam dia kaget juga Arnila tahu betul dia mengikuti semua berita soal keluarga Alex. Tentu saja sebagian media sosial yang dia ikuti di blokir langsung oleh orang sana. Karena di semua media nama Ney tertera dan mereka berpendapat kalau Ney memiliki niat tertentu. Tentu saja soal Rita pun mereka tahu dan terus memantaunya, tapi tidak ada gerakan yang mencurigakan.
Mereka pun membiarkan Rita apalagi setelah melihat isi akun Pacebuknya berisikan kegiatan jualannya dan kuliahnya. Tidak ada yang berkaitan dengan Tuan Muda mereka atau berbeda dengan yang dilakukan Ney. Statusnya pun mereka terjemahkan dan terkejut beberapa mereka hapus dan Rita tidak tahu karena memang tidak pernah memeriksa kembali.
"Lalu bagaimana dengan sekarang?" Tanya Ney mengalihkan topik, dia menyadari sudah salah berdebat mengenai hal itu.
"Iyalah meski pastinya tidak bisa aku terima," kata Ney.
"Harus kamu terima buat kebaikan kamu. Cari teman yang lain saja kalau kamu mau mulai tulus berkawan. Dan jangan mengulangi apa yang kamu perbuat pada Rita kepada teman baru. Obrolan ini sudah selesai? Lebih baik kamu buka lembaran baru Ney tapi bukan bersama Rita lagi," kata Arnila melihat jam sudah pukul 6 sore.
Dia bersiap menuju kamar mandi dan wudhu. Sedangkan Ney membacanya memang agak keberatan. Bagaimana bisa? Ney kemudian meninggalkan obrolan itu dengan anggapan tidak benar Rita membuang dia begitu saja. Begitu juga dirinya yang harus jauh dari Rita karena dalam pikirannya Rita tidak akan mampu menghadapi rintangan yang ada.
Ney yakin masih ada cara lain untuk membuatnya kembali bersama Rita yaitu dengan masuk ke dalam dunia pertemanannya Rita. Dia berjanji mau mengubah dirinya agar diterima, setelah semua yang dialaminya memang tidak ada rasa malu dan kapok. Setelah masuk nanti Ney bertekad akan membuka kedok bagaimana rupa Rita aslinya kepada semua temannya.
Ini sih memang kembali lagi apa kata Arnila yang kalau dibiarkan dia kembali pada Rita, akan membuat masalah baru. Untuk maksud agar mereka semua benar bisa menerima Rita ataukah teman palsu seperti dirinya,memang tidak bisa menerima Rita yang punya banyak teman.
Setelah sholat maghrib, Arnila melihat Ney tidak membalas lagi. Ada kemungkinan dia kembali pada chat dengan Rita. Arnila menggelengkan kepalanya sudah pasti berbuat keonaran lagi. Arnila lalu membantu ibunya di dapur.
Benar saja dugaannya, Ney memang langsung menchat Rita saat itu juga. Untung saja Rita sudah mengerjakan sholat maghrib dan membereskan buku kuliahnya. 2 minggu lagi akan mengajar praktek dan waktunya juga akan sibuk.
"Hei Rita, memangnya kamu yakin teman kamu itu isinya asli?" Tanya Ney. Dia menunggu balasan dari Rita lama sekali.
__ADS_1
"Mau bicarakan apa lagi sih? Dimana-mana pastinya orang cari teman ya yang asli dan teman-temanku asli intinya berwujud!" Balas Rita yang kesal. Datang mau buat onar apa lagi?
"Seperti apa?" Tanya Ney menggigiti ujung jarinya.
Ingin sekali Rita bertanya kenapa dia bertanya seperti itu tampaknya heran sekali dengan Ney. Kenapa bertanya? Seperti apa sih teman yang dia punya?
"Terbuka, JUJUR dan ENAK dibawa mengobrol bukan hanya satu arah tapi dua arah. Yang tidak suka berdebat tapi saling mendengarkan pendapat orang meski berbeda. Mengerti tidak kamu?" Tanya Rita agak kesal.
"Aku mengerti, aku kan tidak lemot seperti kamu," kata Ney yang sebenarnya tidak mengerti karena beda otak dan beda pikiran.
"Kalau begitu coba jelaskan kalau kamu mengerti. Karena meski memang kamu tidak lemot, tapi otak kamu itu aku bisa tebak seperti apa. Jelaskan," kata Rita ingin tahu.
Ney terdiam saat Rita bertanya kembali. Beberapa menit tidak ada balasan, Ney berusaha memikirkannya dan bisa menjawabnya.
"Ya jadi kalau ada yang bicara, satunya mendengarkan kan. Tuh kan aku tahu kok kamu pikir aku tidak paham apa?" Tanya Ney kesal, dia juga mendelik, bergumam sesuatu mengenai Rita.
"Terus?" Tanya Rita dengan jutek.
"Ya sudah begitu saja memangnya ada penjelasan apa lagi sih? Ribet sekali," kata Ney yang menahan rasa geramnya. Memang tidak mungkin bisa akur.
"Satunya lagi kalau bicara, yang satunya sedang apa?" Tanya Rita lagi.
*Mendengarkan! Kan sudah aku bilang," kata Ney kesalnya keluar.
"Kamu begitu tidak selama ini? Sama aku bagaimana?" Tanya Rita.
"........ ya aku mendengarkan kok," kata Ney kehilangan kata-kata.
"Kalau kamu mendengarkan kenapa tidak dilakukan? Selama ini kamu bilang ke Alex kalau aku tidak pernah mau dengar omongan kamu kan. Memangnya omongan kamu ada manfaatnya?" Tanya Rita.
"........" jawab Ney.
Bersambung...
__ADS_1