ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
378


__ADS_3

Melihat kue yang dibeli oleh Ney membuat mereka semua bergidik menolak untuk memakannya. Diana apalagi menolak dengan tegas dia juga menolak Rita memakannya.


"Aku tidak mau ah! Kalian mau ambil saja. Dia kan terobsesi sama aku jadi takut dimantrai. Katanya supaya tidak kena, orang lain yang harus makan. Aku tidak mau," kata Diana melambaikan tangannya.


Mendengar perkataannya sontak semuanya semakin mundur untuk memakannya. Kue itu tersimpan begitu saja di tengah meja makan. Akhirnya Tamada mengambil dan membuka kue itu lalu mendoakan surat Ayat Kursi dan meniupkannya ke dalam kue.


"Nih sudah aman in sha allah kalian tidak perlu khawatir lagi. Untuk menghapus mantra memang menggunakan surat Ayat Kursi," kata Tamada mengambil kue dan memakannya dengan tenang.


Melihat Tamada mereka pun lalu berani mengambil kue tersebut dan memakannya. Diana juga dan Rita memakannya meskipun Rita bilang kue itu untuk Diana.


"Makan sajalah sudah tahu itu orang rada error. Makan dia tidak akan tahu kita semua makan ini kue kok," kata Tamada dengan santai.


Rita keheranan kenapa Tamada bisa tahu? Tapi sudahlah Rita pun ikut makan tanpa bisa merasakan rasa kuenya.


"Dia sudah pulang belum sih? Waktu dia kasih kue ini kamu lihat dia pergi?" Tanya Komariah.


"Aku saja deh yang lihat kan dia belum tahu aku," kata Melinda lalu berpura-pura jalan ke depan. Semenit kemudian kembali dengan wajah yang agak... aneh.


"Kenapa? Wajahnya aneh begitu," kata Rita.


"Masih ada dong dia tuh di depan sebelah sananya," kata Melinda duduk lagi.


Semuanya kaget. "Mau dia apa sih?" Tanya Rita yang tidak mengerti.


"Sedang apa, Melinda?" Tanya Linda.


"Tidak tahu seperti menunggu orang. Kayanya Rita atau Diana deh. Hayooo," kata Melinda menggoda mereka berdua.


"Seram sekali sih anaknya. Orang sudah dibilang begitu biasanya pergi karena malu," kata Komariah keheranan.


"Ya makanya dia itu sudah tidak punya rasa malu, Kom. Kita jalan lewat belakang saja bagaimana? Aku malas kalau harus ketemu dia," kata Rita yang berdiri membawa tasnya.


Mereka semua setuju, selesai Rita dan Diana membayar mereka semua bergegas menuju pintu mall belakang. Kemudian setelah jauh mereka kembali berjalan dengan santai dan tiba di Mall lain. Entah bagaimana, Komariah melihat Ney berjalan di belakang mereka seakan mengekori.


"Hei! Hei! Lihat deh di belakang," kata Komariah berteriak.


Mereka semua melihat dan kaget sekaligus ketakutan melihat Ney berjalan di belakang meski jauh.


"Kita pindah tempat yuk," ajak Linda yang ketakutan begitu juga Komariah dan Diana.


"Kita mau kemana pun itu orang akan selalu mengekori. Tipe orang kesepian itu ya begitu, sekarang hadapi saja deh kalau dia macam-macam lagi, kita maju semua," saran Tamada ke semuanya.


Semua setuju. "Lihat saja dia pasti akan menjadi orang yang biasanya, Rita. Berlagak tidak ada salah sama kita tadi," kata Diana kesal tapi tidak meledak lagi.


"Aku tuh penasaran sama dia. Yang takut jalan di depan deh, yang penasaran belakang," kata Melinda.


Akhirnya barisan depan ada Linda dan Diana, lalu tengah Melinda dan Tamada sisanya belakang Komariah dan Rita. Linda dan Diana sengaja melangkah lebih jauh dari mereka berempat karena mengerikan. Mereka berempat dengan sengaja memelankan langkah mereka agar Ney tidak bisa menyusul Diana.


Benar saja saat Ney menegakkan kepala, didepannya ada mereka berempat dan tersenyum. Hanya saja mereka semua berwajah datar kecuali Melinda yang memang penasaran.


"Rita, kamu jalan lewat mana sih? Aku cari tadi tidak ada," kata Ney yang merapihkan rambutnya yang ditiup angin.


"Sesuka kita dong mau lewat mana," kata Rita.


"Kok kamu ada ke arah sini?" Tanya Komariah.


"Ya aku tahu saja kalau kamu lewat sini, tidak aneh. Kamu tidak akan bisa lari dari aku," kata Ney memandangi Rita dengan angkuh. Lalu tertawa tapi aneh.


"Yuk jalan, Rita. Yang lain katanya sudah sampai di perpustakaan," kata Tamada.


"Yuk," kata Rita menggandeng Komariah.


Mereka berdua berjalan kembali sambil mengobrol sedangkan Ney kesal dia tidak ada pasangannya. Melihat Rita bergandengan tangan dengan Komariah lalu melihat ke tengah dan ke depan. Diana sama sekali tidak bisa dia lihat lalu dia pindah ke depan Rita.


"Diana kemana? Kok tidak ada?" Tanya Ney tapi Mereka berempat tidak ada yang menjawabnya dan jalan melewati Ney.


Karena tidak mendapatkan jawaban, Ney terus mengikuti sambil melihat-lihat. Sesekali Komariah mengajak Rita dan yang lainnya melihat aksesoris kalung. Ney kemudian ikut menimbrung dan mengatakan hal yang tidak enak.


"Dih, kok kalian suka sih sama kalung palsu? Kata aku sih lebih baik kalau mau cari kalung emas, sekalian saja di tokonya daripada di sini," kata Ney dengan suara cukup keras.

__ADS_1


Mereka berempat menatap Ney dengan pandangan tidak banget. Pedagang aksesoris tertawa mendengarnya. "Aduh Neng, ini mah memang KW tapi lihat bagus kan. Kalau Neng tidak suka dagangan saya dan lebih senang menghujat, bagaimana kalau Neng jangan masuk sini. Tuh ke toko mas sana saja," katanya.


"Bagus sekali ini bisa menipu mata perampok hehehe," kata Komariah.


"Memang bagus sih meski KW tampak seperti asli. Bu, aku beli cincinnya," kata Rita. Cincin emas KW dengan batu hijau berbentuk Love.


"Boleh boleh harganya Rp 15.000 saja," kata pedagangnya.


Langsung Rita pakai dan memang cantik sekali. "Bagus kan," kata Rita senang.


"Ih, aku tidak mengira ya kamu suka barang palsu, Rita. Sama ya dengan kamu yang palsu juga ke aku," kata Ney sengaja berkata seperti itu.


Rita dan ketiga temannya memandang menjijikkan pada Ney yang sama sekali tidak peduli. Ibu pedagang itu menggelengkan kepalanya. "Anak jaman sekarang ya merundung tidak peduli tempat dan waktu. Neng ini tidak pernah diajarkan sopan santun ya? Ckckck badan totol seperti macan begitu kelihatannya jarang perawatan ya. Tidak seperti Neng-Neng ini kulitnya mulus," kata ibu itu tertawa.


Ney diam mendengarnya dan mereka berempat menahan tawa. "Bu, saya mau beli yang ini kebetulan punya ibu saya hilang," kata Melinda.


Ibu pedagang itu mengambilkan kresek di belakang tokonya. Tamada marah sekali pada Ney.


"Kamu bisa tidak sih mulutnya diajari sopan santun? Kamu tidak perlu ya memberitahu soal Rita atau barang ini KW atau asli. Kamu itu yang palsu!" Seru Tamada.


"Sepertinya memang kurang di didik ya sama orang tuanya tidak bisa menghargai usaha orang. Kalau tidak bisa bicara baik, lebih diam deh. Iritasi sekali dengar kamu bicara," kata Komariah.


"Harap dimaklumi dari caranya bicara dan kelakuannya tidak ada yang mau lama-lama temenan sama dia," kata Rita tertawa.


"Aku itu punya banyak teman ya. Kamu yang tidak punya, mereka itu palsu tahu aku ini asli," kata Ney dengan sombongnya.


"Neng, dimana-mana yang namanya manusia itu asli. Neng tidak tahu? Tidak ada gunanya belajar tinggi-tinggi tapi otak Neng bloon," kata tukang becak.


Sontak mereka berempat lepas tertawa mendengarnya. Sampai menangis juga Rita sedangkan Ney kesalnya bukan main. Masih belum bisa berhenti tertawa sampai ibu toko datang dan keheranan.


"Terima kasih ya Bu, maaf orang ini harap dimaklumi saja belum pernah punya teman sih," kata Rita masih tertawa.


"Iya Neng sama-sama tidak apa-apa saya sudah biasa menghadapi pembeli yang hanya lihat lalu kasih komentar pahit. Tapi baru kali ini ada perempuan nu teu kinclong, terus rundung kalian nu mulus. Kurang seimbang." Kata pedagang itu lalu mereka berempat tertawa lagi dan pergi.


Tentu saja Ney kesal pada ibu itu dan tidak peduli lalu masih mengikuti Rita lagi.


"Hei, Annisa nanya kita jadi tidak ke perpustakaannya?" Tanya Melinda dengan suara yang imutnya.


"Boleh. Kita kan sudah kenyang makan dan ini sekalian jalan-jalan. Oh iya kue dari kamu kita makan rame-rame," kata Rita melihat kebelakang.


"Hah? Aku kan beli kuenya untuk Diana saja kenapa kalian semua makan juga? Siapa coba yang tidak punya sopan santun," kata Ney dengan angkuh.


"Diana menolak untuk makan kuenya takut kamu masukkan mantra jahat yang membuat dia menjauhi Rita," kata Komariah menahan sebal.


Ney diam mendengarnya dia kaget. Lalu Tamada melanjutkan. "Jadi aku bacakan surat Ayat Kursi ya maaf ya bukan maksudnya fitnah. Tapi Diana menolak kenapa kamu memaksa? Lagian harusnya kamu kan meminta maaf ke Rita kenapa malah ke Diana?" Tanya Tamada berhadapan langsung dengan Ney.


Ney terdiam dia tidak menduga kalau pemberiannya akan ditiupkan ayat Al Qur'an. Ney tidak mampu berkata apapun, apapun yang dia pegang benda atau bahkan makanan semuanya akan terkontaminasi. Tamada bisa melihatnya aura gelap di sekitar badannya, tidak ada aura putih atau yang berwarna makanya heran sekali kenapa Ney selalu mengikuti Rita.


"Kalau tidak dijawab berarti benar tuh memang ada bahan sesuatu," celetuk Komariah. Tamada juga setuju.


"Ya Allah jahat sekali sih kalau memang benar. Kamu cari teman apa seperti itu caranya? Sungguh terlalu," kata Melinda.


"Bukan.. aku tidak begitu, itu memang otomatis ada," kata Ney yang kemudian menutup mulutnya sendiri.


"Benar saja," kata Tamada mengajak mereka bergegas menuju tempat pertemuan.


Rita memandang Ney dengan tatapan sangat mengecewakan, Ney sadar itu. Kemudian meminta ijin untuk bicara dengannya, akhirnya Komariah berjalan bersama Tamada namun kekasihnya memanggil lewat ponsel.


"Rita, aku mau bicara," kata Ney menarik tangannya Rita. Rita melepaskan tangannya Ney tidak ingin berlama-lama menggenggam tangannya yang kurus kering itu.


"Apa lagi," kata Rita ketus.


"Diana mau tidak ya berteman sama aku lagi? Aku kan sudah minta maaf," kata Ney merajuk.


Rita terbelalak bisa-bisanya nih anak masih berharap. Rita menarik nafas, "Mana kutahu," jawabnya malas.


Mereka lalu berjalan bersama tapi tidak ada yang mengobrol. Ney juga kadang sibuk dengan ponselnya dan kesal karena teman kuliahnya bertanya apa akan bergabung atau tidak. Lalu Ney menatap ke arah Melinda dan menatap Rita.


"Apa?" Tanya Rita dengan datar.

__ADS_1


"Teman kamu ada kan yang seputih itu namanya Linda kan ya. Mereka kakak beradik ya?" Tanya Ney.


"Hah?" Tanya Rita yang sudah malas.


"Soalnya mereka berdua sama-sama paling putih lalu kulitnya mulus sekali sih," kata Ney mengakui.


"Kembar," jawab Rita membuat Ney terkejut.


"Tuh kan benar kata aku kalau mereka kembar. Benar kan tebakan aku, kamu sih tidak percaya," kata Ney dengan sombongnya. Kapan juga dia ada bicara soal tebakan? Memang aneh sekali.


"Memangnya kapan kamu menebak? Dari tadi juga kita hanya diam kok tidak ada pembicaraan," kata Rita merasa aneh. Dia lalu menggeser berjarak dengan Ney.


"Ih, tadi kan kamu nanya ke aku teman kamu itu sama Linda kembar atau tidak terus aku bilang iya. Masa kamu lupa sih?" Tanya Ney dengan sebal.


Rita menatap keheranan pada Ney. "Hei kalian, memangnya dia ada obrolan soal Linda?" Tanya Rita pada ketiga temannya di depan.


"Hah? Tidak ada. Kalian kan sama sekali tidak mengobrol. Kapan kamu nanya ke dia soal Melinda kembaran sama Linda?" Tanya Tamada keheranan menatap Ney.


"Ya memang tidak ada tapi kata dia aku mencoba bertebakan dengan dia. Ih memang kamu tuh ada yang korslet disini," kata Rita menunjukkan kepalanya.


"Memang kamu bilang, aku kan bisa baca isi pikiran kamu Rita jadi jangan bohong deh," kata Ney.


"Haaaa? Aku lagi mikirin laporan mengajar kok," kata Rita keheranan.


"Aku juga dengar kok meski sedang menelepon kalau kalian tidak ada obrolan. Rita, teman kamu ini sepertinya harus diperiksa deh ke Psikolog," saran Komariah.


"Aneh sekali tidak ada yang berbicara sama dia, dibilang Rita mengobrol," kata Tamada.


Tampak Melinda memandang sengit kepada Ney dan Ney salah tingkah jadinya. "Kamu ini sok tahu sekali ya orang yang bisa membaca pikiran orang itu kan kolaborasi dengan jin. Kamu pelihara jin ya? Astagfirullah," kata Melinda menutup mulutnya.


"Melinda dan Linda memang kembar kan," kata Rita.


Dengan senang Ney senyum menang. "Iya aku tahu kok mereka itu kembar," katanya.


"Beda orang tua sayangnya ya," kata Rita pada Melinda. Melinda langsung tertawa.


"Rita bisa saja. Iyalah beda," kata Melinda tertawa geli.


Ney kemudian terdiam intinya mereka tidak ada hubungan saudara, Ney memandang Rita yang tersenyum menang kepadanya. Lalu memperlihatkan orang tua Linda dan Melinda saat berfoto bersama di kampus.


"Awal kenal mereka berdua juga menyangka kembar tapi ternyata berbeda sampai mereka memanggil kedua orang tua yang ternyata memang tidak ada hubungan darah apapun. Tapi memang sih mereka berdua dekat layaknya kakak beradik di kampus," jelas Rita.


Ney menggenggam tangannya gemetaran, mereka bisa melihat itu dengan jelas. Penerawangannya omong kosong dia hanya bisa berkata yang kebalikannya. Kadang dia sendiri juga sering heran intinya mungkin dia memang punya kemampuan itu, tapi sayang otaknya terhenti tidak bisa dipakai untuk mengartikannya.


"Jangan sok tahu deh ramalan seperti itu kamu sama sekali tidak punya kemampuan. Kalau Rita dia bisa karena perhatian orangnya. Kemampuan ramalan yang aslinya tidak semudah itu kamu bisa ungkapkan pada orang lain," kata Tamada.


Ney kaget mendengar penjelasan Tamada. Saat itu Rita sedang membeli cilok bersama Komariah, mereka membeli 15 buah, isinya ayam dan keju.


Melinda dan Tamada berhadapan dengan Ney. "Kamu tidak tahu kalau ada harga yang harus dibayar kalau ingin bisa meramal dengan tepat," kata Melinda menambahkan.


"KALIAN BISA!?" Teriak Ney tapi syukurlah karena suara mobil disana, Rita dan Komariah masih sibuk.


"Bisa kenapa tidak," kata Tamada memandang jutek pada Ney.


"Lalu kenapa..." kata Ney yang agak panik.


"Memangnya penting?" Tanya Melinda.


"Saya berteman dengan orang tidak pernah memakai hal begituan. Itu kan menyalahi aturan agama Islam lagipula, kamu memang tidak akan pernah ada lagi kisahnya dengan Rita, mau memaksakan pun Rita tidak akan bersama kamu lagi," kata Tamada.


Melinda mengangguk. "Kamu tidak cocok dengan Rita. Kamu sudah tahu aku yakin tapi kamu memaksakan karena Rita bisa membuat pamor kamu naik ya? Kamu itu yang palsu," kata Melinda dengan tenang.


"Rita itu aslinya ya sama sekali jauh dari pikiran kalian. Aku begini karena kasihan sama kalian. Pokoknya dia itu bukan teman yang baik deh," kata Ney meyakinkan.


"Sebenarnya diri kamu yang terdalam tahu kebaikan Rita, tahu kalau Rita anak yang baik tapi ada sesuatu yang mengambil alih diri kamu sendiri. Kamu tersesat di dalam sana tidak ada yang bisa menolong kecuali diri kamu yang asli yang berjuang. Sepertinya sejak kamu berusia 8 tahun ya," kata Tamada membuat Ney mundur.


"Sepertinya benar tuh," kata Melinda senyum.


"Tapi kita tidak bisa menolong kamu apalagi Rita. Harus orang lain yang tidak kenal sama kamu baru bisa," kata Tamada masih melihat ke arahnya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2