ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(303)


__ADS_3

"Maaf kalau aku benar - benar egois," kata Alex menyadari selama ini dia tidak pernah berpikir mengenai dari sisi Rita.


"Memang kamu egois bukan aku," Rita manyun. Menyebalkan sekali memaksa - maksa dirinya egois padahal Alex paling egois. Sifat memaksanya egois menyuruh Rita mengaku. Semua manusia kan egois aneh banget kalau ada yang sok tahu soal keegoisan diri orang.


"Lalu bagaimana soal isi kotak itu?" Tanya Alex yang sama sekali tidak tahu cara mengembalikannya ya karena keegoisannya itu yang seenaknya ambil milik orang. Si idiot!!


Rita membacanya lalu rebahan lagi di jalanan, nih orang memang kurang tanggung jawab sama hal yang dia lakukan. Malah balik nanya, barang yang diambil tentu saja harus dikembalikan. Rita mengusap wajahnya dengan cemberut ya efeknya...


"Kalau ada apa - apa yang terjadi sama kamu, jangan pernah salahkan aku lagi. Karena aku sudah menyegel semuanya dan kini setelah kamu buka seenak muka kamu mereka kembali ke posnya masing - masing," kata Rita kembali rebahan.


"Maksud?" Tanya Alex kurang mengerti.


"Kalau aku mulai mendapatkan sesuatu yang aneh meski kamu jauh, jangan salahkan. Itu adalah efek dari kejahilan kamu sendiri. Aku sudah tidak mau tahu lagi soal yang aneh - aneh, berkat kamu, aku harus kumpulkan mereka lagi untuk disegel lagi. Menyebalkan!" Kata Rita yang mulai pusing akhirnya minum air minum sampai habis.


"..........." hanya itu yang Alex balas.


"Kamu mungkin bukan lelaki yang aku cari ya. Kamu kurang pengertian, apa yang aku tidak suka dia tidak akan memperlihatkannya. Tapi dia akan berusaha membuatku tertawa dan ceria setiap waktu tanpa ada beban tapi kamu tidak begitu. Yang tidak aku sukai malah kamu terus ungkit, keluarkan, pertanyakan. Aku capek! Kalau aku balas justru kamu meledak sampai mencaci maki. Jadi aku pikir aku harus jaga jarak agar tak diperalat," kata Rita yang mulai senam melenturkan badannya.


Alex terdiam, dia syok berat membacanya. Rasa sedih menggerogotinya, dia memang terlalu seenaknya terlalu menggampangkan semua yang dia lakukan tapi... membaca bagian yang katanya bukan Rita cari, langsung terasa seperti bilah pedang menusuk dirinya.


'Seharusnya aku lebih menurut pada isi hatiku sendiri bukan hasrat keinginanku yang ambisius.' Pikir Alex yang menyesali kalau Rita ternyata sangat berbeda. "Aku harus lakukan apa?" Tanya Alex dipikirnya mungkin bisa meringankan rasa berdosanya.


"Tidak ada," balas Rita yang lalu memandang cerahnya langit. Dirinya menikmati rebahan di jalanan yang biasa dilalui oleh mobil dan motor. Sekarang hari Senin, jalan itu mulai dijadwalkan sebagai hari libur untuk kendaraan beroda empat dan dua.


"Tapi kamu tidak akan pergi kan?" Tanya Alex ingin memastikan bahwa Rita akan selalu ada untuknya meskipun karena kebodohannya, membuat Rita jaga jarak dengannya.


"Tidak tahu," kata Rita dengan wajah sebal. Dia kesal sekali ingin berteriak sekencangnya saat itu juga, mengetahui kelakuan Alex yang... yang... AAAAAAAA!!!!


"Kotaknya bisa kamu kembalikan? Itu punyaku semua," kata Rita meminta toh, dia yang buat Alex sama sekali tidak berhak mengambilnya.


Alex menutup mata memandangi dirinya menggenggam kotak - kotak indah yang bertaburkan permata cantik, benda itu terlalu sayang kalau dikembalikan lagi. Dia cemberut dia ingin memilikinya apalagi kotak itu Rita ciptakan sendiri. Dia terkezut sekaligus kagum dengan kemampuan imajinasi yang Rita miliki.


"Hmmm boleh buat aku ya? Aku suka kotaknya," kata Alex semoga Rita mau memberikannya.


"Bikin sendiri seenaknya saja mencuri," kata Rita membuat Alex tertohok.

__ADS_1


Mencuri? Dalam hidupnya tidak ada seorangpun yang berani mengatakan itu padanya. Seorang Alfarizki keluarga ter ter termasyhur gitu loh! Alex hanya bisa cengo membaca isi dari Rita. Pencuri??


"Kamu berani sekali berkata begitu padaku. Kamu tak tahu aku ini siapa?!" Tanya Alex dia geram tapi dalam hatinya mengakui dia memang pencuri.


"Pencuri ketimun," kata Rita sambil rebahan membalas chat Alex.


"Eh?" Tanya Alex tidak mengerti.


"Ayo lekas ditangkap jangan dikasih ampun," kata Rita lagi ketawa sambil menggelengkan kepala. "Sudah kurang ajar dari awalan, seenaknya masuk ke dalam diri orang, ambil barang berpikir itu punya kamu, sekarang malah tak mau kembalikan barang orang. Apa kamu memang senang mengambil milik orang lain? Aku ingin sekali hajar kamu," kata Rita yang mulai emosi.


Alex terdiam.. "Kamu tak tahu alasannya tapi aku serius aku akan menjaga semua kotaknya. Buat aku saja. Aku tidak bisa membuatnya tapi kamu dengan mudahnya bisa membuat semua kotak yang indah," kata Alex.


"Suatu hari nanti kalau kita ada jalan bertemu, aku akan hajar kamu sampai sekarat. Ingat itu!" Kata Rita yang sudah bertekad membuat Alex langsung merinding. Karena tekad Rita tidak main - main.


"Masa begitu sih? Aku tahu perilaku aku tidak bisa dimaafkan tapi kamu bisa meminta aku untuk melakukan apapun atau membelikan kamu barang misalnya. Apapun! Asal jangan pukul aku sampai sekarat, aku ini sudah banyak berjuang untuk hidup. Masa kamu mau kubur aku?" Tanya Alex yang khawatir.


Alex sama sekali tidak bisa diajak bercanda😓. Dia sangat serius, apalagi lebay juga Rita harus banyak sabar dengannya. Sepertinya ada alasan lain kenapa dia bisa menjadi sosok yang kurang sopan kepada siapapun.


"Aku tidak peduli!" Kata Rita yang tertawa mengenaskan.


"Coba kamu gambarkan kotaknya seperti apa? Jangan - jangan kamu bohong bisa melihatnya," kata Rita menguji Alex.


Alex menahan ketakutannya dia menutup kedua matanya, menyelami jiwanya sendiri dan melihat semua kotak itu. "Berwarna warni, banyak permata lalu ada juga yang berlian besar. Itu kekuatan kamu yang paling besar?" Tanya Alex berhati - hati.


Ternyataaa memang benar Alex bisa melihatnya dengan jelas. Kotak disini adalah kotak yang Rita ciptakan dari kekuatan Spiritualnya untuk menyegel semua kemampuannya sendiri, karena kadang "mereka" seperti memberitahukan sesuatu. Dan Rita tidak tertarik, berbeda lagi dengan Rita selalu mengalami pertanda dalam mimpinya.


"Bukan. Tapi itu yang paling mengganggu bisa melihat sesuatu yang tak kasar mata dan aku tidak mau lihat lagi. Kamu keluarkan juga ya?" Tanya Rita yang sudah pasrah.


"Tidak. Itu tidak aku buka kok. Demi Allah!" Kata Alex meyakinkan Rita. Untung saja dia belum sentuh karena tampaknya sangat berbahaya, dia hanya mengamati belum sempat dia pegang.


"Benar? Kamu kan tukang bohong. Ada berapa yang belum terbuka?" Tanya Rita penasaran.


"Setengah hehehehe," kata Alex yang masih meriang ketakutan.


"Idiot. Karena kamu yang buka, itu semua akan mengarah ke kamu," kata Rita tertawa.

__ADS_1


"Kenapa kok bisa?" Tanya Alex.


"Ya kan kamu yang buka segelnya hahaha! Kamu tidak tahu akibatnya ya? Aduuuh.. tadinya aku marah kesal setengah kepala sama kamu sampai ingin menusuk kamu karena sudah mengganggu. Tapi aku lalu merasakan sesuatu, "mereka" semua kini fokus sama kamu HAHAHAHA!" Kata Rita yang tertawa tapi sebenarnya sebal sekali.


"HAAAAH!?" Alex terkejut apa salahnya. Apa jangan - jangan... Alex melepaskan semua kotak itu.


"Mereka terhubung sekarang sama kamu karena mampu membangun kan mereka dari tidurnya dalam kotak," kata Rita.


"Jadi..." kata Alex.


"Kalau kemampuan kamu On, yang aku juga ikut On. Kalau Off, ya Off juga di aku. Itu tergantung kamu sekarang, contohnya..." kata Rita. Seketika ada kilatan penampakan membuatnya terhenti saat mengetahuinya. Tapi dia putuskan memberitahu pada Alex.


"Apa?" Tanya Alex penasaran. Apa yang dia lihat?


"Ada yang chat sama kamu ya? Perempuan. Cantik sekali tampak seperti wanita Arab. Entah saudara atau bukan tapi ibu kamu kenal sekali dengan kedua orang tuanya. Sahabatkah?" Tanya Rita pada Alex. Dia menghembuskan nafasnya wajarlah bila Alex dijodohkan dengan wanita manapun. Dia sadar kalau terlalu jauh pencapaiannya dengan Alex.


Alex langsung berdiri dari sofanya, dia kaget bukan main. Efeknya ternyata sudah masuk dan bisa melihat semuanya!? "ENOUGH!!" Ketiknya tiba - tiba membuat Rita kaget.


"Kenapa membentak segala? Kan aku cuma bilang. Aku sudah bilang jangan marah kan," kata Rita.


Alex menyembunyikan wajah dengan kedua tangannya, dia bagaimana harus menjelaskannya? "Aku tidak tahu aku pikir kamu membual ( berbohong ). Kamu serius?"


"Iya ada kilatan. Aku juga kaget. Kenapa? Selamat ya kamu dapat pacar baru," kata Rita membalas. Hatinya sakit Alex membentaknya meski hanya lewat chat.


"Sudah cukup," kata Alex terdiam.


"Kok jadi marah. Kamu tidak bisa bertanggung jawab kan? Meledak marah itulah cara kamu membungkam semua orang, kalau aku sepertinya kamu merasa bingung harus berkata apa," kata Rita.


"I said enough ( Sudah kubilang cukup )," Alex memperingatkan Rita. Kesalahannya sendiri tapi dia tidak tahu harus bagaimana tiba - tiba keluar begitu saja.


"Hah, kamu nih..." kata Rita terpotong.


"I SAID ENOUGH! STOP TALKING EVERYTHING U KNOW *******!!!" ( Sudah kubilang cukup? Berhenti berbicara segalanya yang kamu tahu piiiiiiip )


Rita kaget bukan main membacanya. Alex begitu marah sekali entah kenapa. "Bye." Kata Rita yang memblokirnya lagi. Jantungnya berdebar kencang dia kaget bukan main, itu baru chat bagaimana kalau asli keluar dari mulutnya lalu dia dengar ya? Setelah itu Rita ikut senam untuk menyegarkan emosinya. Dia tak akan lagi menerima Alex yang peringainya seperti penjahat.

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2