
"Oh, beda? Memangnya kamu seperti apa sih, Rita? Aku boleh kan tahu ya mau coba buat lagi nanti untuk di rumah," kata Ney yang seperti hati - hati.
"Oh ya bolehlah. Bebas saja setiap orang kan pasti bisa membuatnya dan rasa pasti berbeda tapi tidak perlu banyak garam, Ney," akhirnya Rita memberitahukan cara membuat sandwich yang pernah dia buat. Arnila juga menyimak dia juga ingin mencoba membuatnya. Ney sampai menulisnya dalam buku yang dia bawa, Rita lalu mempraktekkan cara membalur sandwich yang leboh aman. Ney bertanya semua menu yang Rita buat sewaktu SMP, dan beberapa banyak yang berbeda dengan yang Ney buat.
Setelah selesai, akhirnya Ney melihat resepnya itu dan memperhatikan Rita yang masih menjelaskan tentang menu lainnya. Dia dapat ide itu hasil dari pemikirannya sendiri bukan dari orang. Tanpa Ney sadari, dia menikmati penjelasan Rita tentang yang dia tidak ketahui. Dari kejauhan tanpa mereka ketahui, mamanya Ney memperhatikan anaknya yang tengah serius menanyakan sesuatu pada Rita dan Rita memberitahukannya. Kemudian berjalan menjauh dari mereka dan kembali ke rumah.
"Nah coba deh kamu buat di rumah. Aku yakin sekarang pasti berhasil! Semoga berhasil!" Rita menepuk keras Ney yang membuatnya terbatuk.
"Aku juga mau coba ya.. nanti kita kirim foto Ney!"
"Iya iya," kata Ney yang kemudian memasukkan bukunya ke dalam tas. Dia terlalu banyak berpikir negatif mengenai Rita padahal Rita orangnya sangat mudah dipahami. Hanya jangan sampai menantangnya atau mempersoalkan hal sepele dan mempertanyakan hal yang sudah ada jawabannya. Pusing kan jadinya.
"Kentang kalau kamu mau lebih kres. Kamu goreng setengah matang terus masukkan ke kulkas. Selama 30 menit lalu goreng. Itu Oishii!" Kata Rita menambahkan.
Ney membuka kembali bukunya dan menuliskannya lagi. Arnila menyikut tangan Rita dan Rita senyum. Coba saja dia terus seperti ini jinak normal bukan seperti banteng yang terus ingin menyeruduk.
"Ngomong - ngomong ini tempat bekal untuk Alex. Mau dibentuk seperti apa nih?" Tanya Rita yang mengeluarkan wadah lumayan besar menampung semua hasil masakan mereka bertiga. Sambil makan, mereka bertiga memutuskan untuk menyusun dan merapihkan makanan yang akan dikirim pada Alex. Yang kebanyakan menyusunnya Rita dan merapihkannya Arnila. Menyadari bila semuanya dipegang Ney akan berubah jadi abu.
"Ini dikirimnya bagaimana?" Tanya Ney. Dia juga penasaran seperti apa sosok pamannya Alex itu. Lalu dia memejamkan kedua matanya, Arnila menatap Ney yang tahu dia sedang melihat seperti apa apa pamannya. Arnila mencolek Rita dan menunjuk ke Ney. Rita melihatnya dan bertanya - tanya sedang apa.
"Woy! Ngapain? Kamu mengantuk setelah makan?" Rita menggoyangkan wajahnya sontak Ney membuka kedua matanya dan memandang Rita dengan datar.
"Mengganggu sekali kami nih," kata Ney yang akhirnya konsentrasinya buyar padahal sedikit lagi ada hasilnya.
"Hahahaha!!" Balas Rita yang tertawa sambil membantu Arnila.
"Sudah!" Ucap Arnila. Paket makanannya akhirnya selesai dibungkus erat karena takut ada angin yang masuk.
"Aku sudah buat janji dengan pamannya Alex," kata Rita memperlihatkan isi chat WAnya yang dijawab Ok.
Ney tampak penasaran banget dan sudah pasti dia tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengetahui lebih banyak soal Alex. "Bertemu dimana?"
"Rumah pamannya," jawab singkat Rita.
__ADS_1
"Kenapa, Ney?" Tanya Arnila. Mereka berdua tahu pasti Ney ingin ikut sambil melihat rumah pamannya seperti apa.
"Aku ikut ya sama kamu ke rumah pamannya," Ney dengan senang.
"Buat apa?" Tanya Rita nadanya tidak aneh sih kalau soal Ney. Mau lelaki tampan, uang banyak, rumah mewah, pasti dia selalu ingin melihat dan kepo dengan semuanya.
"Ya supaya aku tahu rumah pamannya dimana kalau aku mau kirim paket buat Alex tinggal kesana saja kan," Mulai deh dia yang biasanya dengan nada genit. Wajah Rita dan Arnila berubah menjadi datar 😑😑. Ampun deh!
"Alex juga pasti inginnya paket dari Rita saja bukan dari kamu. Sudah berhenti membuat masalah lain!" kata Arnila membuat Ney terdiam.
"Kamu jam berapa dijemput Imron? Lebih baik kamu cepat pulang deh," kata Ney menjawab seenaknya. Pasti kesal karena Arnila selalu berusaha menghalangi maksudnya.
"Masih lama. Aku juga mau ikut," jawabnya tidak mempedulikan tatapan Ney yang tajam ke arahnya.
"Ih, buat apa? Kamu kan tidak ada keperluan," kata Ney yang mencibir padanya. Rita hanya menghela nafas melihat ulah Ney itu.
"Memang kamu ada keperluan?" Tanya Arnila menantang.
"Ya aku kan lebih kenal Rita sama Alex. Kamu kan hanya tokoh tambahan saja jadi tidak terlalu penting," Ney bergaya sok menjawab Arnila.
"Lu..." lalu Rita memotong.
"Sudah sudah! Baru saja kita berenti rusuh sekarang mulai lagi. Kamu mulai lagi seperti biasa bicara seenak mulut kamu tahu tidak bagaimana rasanya kalau kalian berdua bertukar tempat? Arnila bilang begitu ke kamu soal orang yang tidak penting? Bagaimana kalau aku bilang begitu ke kamu dan menganggap Arnila lebih penting dari kamu? Rasanya sakit kan. Lagipula menurut aku, kalian tidak terlalu penting. Orang yang ada keperluan hanya aku dan kita lagi di tengah banyak orang tahu kan dari tadi kelompok kita yang paling berisik?" Tanya Rita sambil membentangkan kedua tangannya.
Mereka berdua lalu mengheningkan cipta dan melihat ke sekeliling kalau memang tempat mereka yang banyak diperhatikan. Mana sudah jam 1 sedang banyak - banyaknya orang juga. Rita menambahkan tulisan kalau didalamnya terdapat makanan buatan mereka berdua.
"Aku ini tetap orang penting," kata Ney yang tidak peduli apa jawaban Rita dan Arnila. Rita yang mendengarnya hanya menggelengkan kepalanya.
"Karena apa?" Tanya Arnila yang tertawa sinis.
"Ya karena..."
"Yang pertama mengenalkan diri itu Alex ke aku ya, Ney bukan kamu yang memperkenalkan Alex ke aku. Masih soal itu? Kamu jangan suka mengada - ngada kenyataan deh. Bisa berhenti tidak sih? Entah ya apa maksud kamu terus bilang begitu padahal kenyataannya kita bertiga sama - sama tahu," kata Rita yang masih sibuk membungkusnya dengan plastik parcel.
__ADS_1
Ney terdiam memang itu yang mau dia angkat tapi terhenti karena perkataan Rita yang membuatnya tidak bisa berkata apa - apa. Dia merasa dirinya yang berjasa kenapa ya? Padahal dia tahu banget kalau Alex yang pertama kenal Rita.
"Harusnya kamu membantu Rita memahami Alex dan sebaliknya bukan malah membuat Rita jatuh dan membuat masalah lain. Untungnya Alex sudah tahu kamu orangnya seperti apa. Aku ikut ya!" Kata Arnila. Pasti semuanya penasaran sih ya tapi kalau Rita sih biasa saja mau rumah pamannya sebesar kolam juga, so what?
Baru dipahami kalau ternyata ada sebutan untuk orang yang selalu mengaku - ngaku dia lebih berjasa terhadap sesuatu padahal nyatanya, orang lainlah yang melakukannya. Dan itu disebut Megalomania suatu gangguan kepribadian Narsistik. Ternyata ini adalah masalah pada mental yang menyebabkan seseorang sangat memusatkan perhatian pada diri sendiri alias merasa dirinya lebih hebat, lebih pintar, lebih kaya, berpengaruh dengan orang penting padahal biasa. Orang yang sangat sering melakukan ini sebutannya berbeda lagi, Megalomaniak!
Kecenderungannya yang sering muncul adalah mereka merasa diri lebih hebat dan besar dibanding orang lain dan cenderung terobsesi dengan kekuasaan dan perhatian dari orang lain. Hmmm cocok sekali dengan karakter Ney yang sekarang saja tertampak. Ini adalah kecenderungan yang selalu berdampingan dengan gangguan Bipolar, Inferioritas Kompleks dan Paranoid. Intinya mereka tidak bisa melihat kenyataan yang terjadi di setiap hidup mereka.
Terbukti dengan kemahiran Rita yang semakin pintar memasak, selalu bahagia, banyak orang yang mau berteman dengannya dan tampak ceria sehingga sampai disukai lelaki seperti Alex. Otak super jenius, kaya dan berpengaruh namun lumayan bodoh. Dalam pandangan Ney, Rita adalah musuh terberatnya padahal Rita tidak pernah menganggap Ney sebagai musuh. Dan Ney menyadari kecantikan dari wajah Rita yang bisa meluluhkan setiap hati lelaki bahkan Dino, Dins dan Minto. Rita sama sekali tidak tahu soal itu dan dia lebih berfokus untuk selalu tersenyum apapun masalah yang dia punya.
"Boleh," jawab Rita sambil senyum. "Kalau kamu mau ikut juga Ney boleh saja,"
"Aku minta dong nomor pamannya Alex," kata Ney mengulurkan tangannya agar Rita memberikan hpnya. Rita heran begitu juga Arnila.
"Hah? Buat?" Tanya Rita yang tidak mengambil hpnya.
"Ya buat janjian sama pamannya kalau aku mau kirim sesuatu," kata Ney dengan sikap cuek.
Arnila menganga sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
"Maaf aku tidak bisa. Aku tidak punya hak untuk seenaknya memberikan nomor siapapun sama kamu. Kamu saja nanti yang tanyakan pada pamannya sendiri," kata Rita yang masih heran dengan Ney. Masa iya mau mengganggu suami orang? Ya kalau sudah menikah sih.
"Hanya kasihkan nomornya saja tidak bisa? Alex tidak akan tahu kok," kata Ney yang memaksa.
"Tidak mau! Alex yang beri dan aku tidak enak sesuka hati memberikan nomornya ke siapapun termasuk kamu," kata Rita yang tidak mau lagi terjebak pada setiap ucapan Ney.
"Kamu itu tidak sopan. Kenapa sih setiap Rita kenal siapapun, kamu seperti mengekor? Minta nomor juga. Kamu iri ya?" Tanya Arnila.
Mereka mulai beradu komen tapi tidak sepanas tadi sambil melihat, Rita mencoba chat dengan Alex tidak lupa juga memfoto paketnya yang siap diberikan pada pamannya.
"WOW! So big! Itu buat aku kan?" Tanya Alex yang sangat senang. Rita tersenyum, Ney melihatnya dan sedikit - sedikit menggeserkan badannya ke arah Rita.
"Jangan ikut campur dan ingin tahu apa yang mereka obrolin dong," kata Arnila yang mencolek Ney tapi tidak digubris.
__ADS_1
BERSAMBUNG ...