
"Kamu tidak sopan," bisik Arnila yang langsung diusir oleh Ney. Lalu Rita menarik tangan Arnila dan menyuruhnya membiarkan Ney berbuat sesukanya. Mereka berdiri disebelah pohon Rita memfoto Ney dengan pamannya lalu melaporkan pada Alex. Arnila melihat juga balasannya, "Like usual. Your friend really like flirty. Biarkan saja pamanku orangnya sangat luar biasa tegas. Ney belum tahu saja dia seperti apa, oh iya kamu jangan sering - sering bertemu pamanku ya,"
Rita merasa aneh kenapa tidak boleh? Arnila menahan senyuman melihatnya dan yakin Rita pasti tidak tahu maksudnya. "Kenapa?" Ketiknya. Alex membalas dengan emoji "😑" Arnila masih saja menaham tawa, pamannya sekilas memperhatikan Rita dan Arnila yang malah asyik sendiri.
"Masa harus selalu aku beritahu? Kamu tidak tahu alasannya?" Tanya Alex yang menepuk dahinya lalu mengusap - usap.
"Kenapa?" Tanya Rita lagi karena dia memang tidak tahu.
Arnila langsung tertawa lepas melihat Rita yang benar - benar tidak tahu alasannya.
"Kalau kata aku sih ada kemungkinan dia cemburu kalau kamu terlalu sering bertemu pamannya kan dia sendiri belum pernah ketemu kamu. Kamu tadi dengarkan rekannya bilang apa, menurut aku mungkin pamannya mau jahili keponakannya dengan banyak memandang kamu. Wih keponakan sama paman sama - sama ganteng parah. Sabar ya, Rita." Sambil menepuk pelan ke bahu Rita.
Rita baru mengerti setelah dijelaskan seperti itu. "Jadi itu maksudnya? Dasar Alex kenapa tidak bilang saja langsung malah pakai kode," mereka berdua lalu tertawa bersama. "Buat apa kamu cemburu? Kalau kamu suka perempuan yang ada di negara kamu, silakan saja. Makanya cepat kamu ke Bandung, kita bertemu!"
"Iya nanti kita pasti bertemu. Kamu akan terkejut karena aku akan buat kejutan yang tidak pernah kamu lupakan," kata Alex sambil tersenyum
"Cieeee!" Kata Arnila sambil memukul tangan Rita dan Ney memandangi mereka berdua. Dia tersadar lupa mengenai Alex dan Rita tapi perhatiannya kini teralihkan pada paman Alex dan bule pirang itu yang masih bergelayutan di jendela mobilnya.
"Nama paman kamu siapa?" Tanya Rita yang penasaran.
"Rahasia," jawab Alex.
"Aku tanya sama Ney saja," kata Rita memancing Alex.
"😑😑," jawabnya yang tidak bisa berkata apa - apa.
Di tempat paman itu, "Teman kamu sepertinya membaca sesuatu yang menarik, tidak bergabung?" Tanya pamannya Alex pada Ney.
Sebenarnya sih Ney juga ingin tahu apa sih yang membuat mereka berdua tertawa. Tapi suara pamannya Alex yang seksi membuat Ney menjadi lumer.
"Oh, tidak penting. Jadi?" Tanya Ney berbalik lagi ke arah pamannya. Kemudian pamannya berpikir sebentar dan mengambil ponsel kerennya dari sakur celananya dan memberikan nomor ponselnya.
Ney sangat kegirangan bukan main mudah sekali bisa mendapatkan nomornya. Rita dan Arnila memperhatikannya dari belakang lalu mendatangi Ney yang sedang fokus dan melihat nomornya. Namun dia merasa aneh karena nomornya berbeda dengan yang Alex berikan. Rita memiringkan kepalanya kok berbeda ya? Untuk memeriksanya, Rita membuka WAnya dan memang berbeda. Rita mau menanyakannya tapi pamannya menyimpan jari telunjuknya di depan bibirnya ke arah Rita.
Arnila juga melihat dan mereka berdua saling melirik, lalu Rita menggaruk - garuk kepalanya. Yah sudahlah terserah Ney saja, kalau ada apa - apa dia yang rugi. Akhirnya setelah berbincang sebentar sebenarnya Ney mengajaknya untuk minum teh, Rita dan Arnila keheranan karena rencananya bukan begitu. Tapi pamannya menolak karena pekerjaan harus segera menuju Malaysia saat itu juga. Mereka lalu saling mengucapkan salam perpisahan, Ney sangat kegirangan bisa menerima nomor itu.
"BYE GIRLS! DON'T..." belum selesai, pamannya menarik dasinya masuk ke dalam mobil dan mereka pun pergi.
"Gila keren semua! Kira - kira pekerjaannya apa ya, Rita? Tanya Arnila.
__ADS_1
"Entahlah! Tapi aku agak merasa orangnya hasil ya," kata Rita memperhatikan mobil Ferrari itu mulai menjauh.
"Kenapa?" Tanya Ney sambil memandang Rita.
"Kamu tidak lihat? Padahal kan kamu lebih dekat tadi berhadapan sama tuh orang. Sorot matanya waktu lihat ke aku seperti mau dikerjain. Aku tidak akan sering bertemu dengan pamannya," kata Rita ingat apa yang dikatakan oleh Alex.
"Hahahaha apa dia ada rasa ya sama kamu?" Tanya Arnila membuat Ney yang langsung lemas. Dia menatap Rita dengan jutek.
"Hah? Menurutku bukan deh," kata Ney yang memang keberatan kalau orang itu menyukai Rita.
"Iya aku juga sama. Ada perasaan seperti seorang ..." kata Rita mencari kata yang tepat. Kedua bola matanya bukan menatap seperti orang yang disukai tapi lebih kepada seorang anak.
"Ayah," kata Arnila. Mereka berdua berpandangan dan memandang Ney yang masih terbang juga pikirannya. Tidak mendengarkan apa yang Rita dan Arnila katakan.
"Menurut kamu?" Tanya Rita sambil menjentikkan jarinya. "1 2 3!"
"Dia sudah menikah!" Mereka berdua menjawab bersamaan.
"Bagaimana ya kalau Ney tahu?" Tanya Arnila kepada Rita.
"Kita nurut saja deh apa kata Alex, kita biarkan saja. Kalau nanti ada apa - apa lebih baik kita tidak mengomeli. Aku sudah lelah memberi dia saran tapi sama sekali tidak pernah bahkan dia pikirkan. Kalau kamu mau bersusah payah memberitahu silakan saja. Tapi aku sih mulai sekarang sudah tidak mau lagi," Rita angkat tangan ke atas sambil melihat Ney yang masih tenggelam.
"Halah! Dia mah godaannya setiap hari juga ada. Bukan masalah untuk pernikahan saja kali," mereka berdua tertawa bersama. "Untung bukan kamu ya,"
"Oh iya! Semoga menjelas pernikahan aku, sedikitlah godaannya,"
Setelah itu mereka berjalan - jalan ke mall penampakan paman Alex seperti penyanyi bernama Shayne Ward kan seksi banget terus suaranya merdu tapi ada garis ketegasan. Dan super gagah sih memakai jas hitam seperti pengawal. Lalu tiba - tiba langkah mereka terhenti dan Ney menyadari sesuatu.
"Eh, kalian yakin tidak sih kalau dia berhubungan dengan Alex?" Tanya Ney tiba - tiba yang membuat mereka berdua saling berpandangan.
"Maksud?" Tanya mereka berdua.
"Aku baru tersadar. Kalian yakin itu makanannya akan dikirim ke Alex? Kalau ternyata Alex itu ada di Bandung? Penasaran tidak sih?" Tanyanya Ney. Agak masuk di akal juga sih soalnya media sosial juga kan banyak penipuan.
"Lah, kalau ternyata Alex itu ada di Bandung sih..." potong Arnila sambil berpikir.
"Siapa tahu kan dia ternyata bukan orang Malaysia. Banyak banget lho kemungkinannya kalau orang yang tadi juga mungkin bayaran," kata Ney meyakinkan. Perkataannya sih kemungkinan besar bisa jadi.
"Kamu sudah tenggelam tuh sama penampilannya," kata Rita dengan wajah datar.
__ADS_1
"Iya sih soalnya ganteng banget. Tapi baru keinget juga orang seperti itu bisa jadi kan. Orang sewaan,"
"Bisa jadi sih, Ri. Terus mau gimana?" Tanya Arnila. Mereka bertiga berdiam diri, Rita memperhatikan mobil itu ternyata berbelok ke arah kiri.
"Kalau menuju bandara biasanya belok kemana?" Tanya Rita yang masih memperhatikan mobil itu.
"Lurus saja, Ri kalau dari sini lebih enak arahnya. Kenapa?" Tanya Arnila merasa aneh.
"Kamu hafal tidak plat mobilnya?" Tanya Rita pada Ney. Karena soal merk, jenis mobil sampai plat saja dia lebih nempel di otak.
"Hafal. Kamu mau ikutin mereka?" Tanya Ney.
"Yuk!" Akhirnya mereka pun mengikuti kemana mobil itu berada. Tapi dengan berjarak tentunya kebetulan mobil itu jalannya lumayan pelan. Kenapa ya?
"Hati - hati jangan terlalu dekat!" Kata Arnila, dan berdua mereka mengangguk. Mereka lalu terhenti di sebuah toko mewah dan melihat paman yang tadi keluar dari sana. Kadang berjalan, kadang berlari dan juga menaiki angkot mengikuti mobil itu.
"Kamu yakin Ney dia orang sewaan?" Arnila kurang yakin tapi bisa jadi sih bohongan.
"Gue yakin! Salahnya gue terlalu terbawa suasana yang dia ciptakan," Ney terus memperhatikan mobil Ferrari.
"Menurut aku sih, dia benar - benar terhubung dengan Alex deh. Yang ciptakan aura bunga - bunga kan kamu sendiri. Hayo!" Tebak Rita yang tidak digubris oleh Ney.
Lama - lama entah kenapa jadi Ney yang malah lebih penasaran dan memaksa mereka untuk terus mengikuti tapi Rita merasa tidak enak begitu juga Arnila.
"Eh, sudah saja yuk. Mau mereka bohong atau tidak, itu urusan mereka deh," kata Rita mengajak Ney sudahan.
"Kamu yakin? Kita sudah cape - cape ya membuat makanan ternyata tidak sampai ke Alex. Aku sih mana mau rugi?" Kata Ney yang mengomel - ngomel.
"Tidak rugilah kan kita juga makan. Ikhlaskan saja deh, Ney! Malu juga sih kita ngikutin mereka," kata Rita yang melihat ke kiri dan kanan.
Beberapa orang bahkan bertanya apa yang mereka lakukan, dan Ney hanya berkata sedang menyelidiki seseorang. Dan bukan seorang dua orang saja sampai bisa dihitung berkali - kali berapa orang yang bertanya. Takutnya mereka tersesat.
"Ney, sudah yu. Tidak enak nih sudah puluhan orang yang bertanya, malah takutnya kita dilaporin karena berperilaku aneh," Arnila juga sudah tidak mau lagi.
"Kamu kan mengidekan untuk mengikuti mereka kan," Ney berkata dengan nada aneh. "Kok sekarang malah berubah?"
"Habis, aku kan cuma ingin tahu sedikit nah kamu malah jadi lebih jauh," kata Rita.
"Masalahnya... kita juga tanpa sadar sudah sampai di bandara lho. Serius mau dihentikan?" Tanya Ney yang menunjukkan wajahnya ke arah bandara pesawat. Rita bengong ternyata secara tidak sadar, mereka sampai juga di Bandara.
__ADS_1
BERSAMBUNG ...