
"Ngomong - ngomong, soal kata kamu ada Alex itu apa maksudnya?" Tanya Arnila yang berusaha menenangkan dirinya sendiri dengan berusaha membuat tema baru.
"Iya ini sih yang aku lihat ya. Jadi kamu tahu kan kalau aku banyak nge-fans sama aktor lokal atau luar negeri, nah waktu kemarin aku itu memeriksa biasalah mau lihat mereka update apa. Tapi kok tidak ada ya? Lalu aku cek di daftar pertemanan. Ya Allah nama mereka tidak ada!" Kata Rita yang panik.
"Kok bisa?!" Tanya Arnila. "Error kali hp kamu atau yah karena sinyal,"
"Aku yakin itu karena Alex," Ney menjawab sambil takut - takut tapi tidak digubris oleh Arnila.
"Iya aku pikir juga begitu, Nil. Aku matikan hpku lalu dinyalakan lagi. Tapi tidak ada yang salah. Ternyata teman - teman lelakiku juga tidak ada!"
"Kamu punya teman lelaki kok aku tidak tahu ya jangan - jangan kamu halusinasi itu soalnya aku tidak lihat kamu berteman sama mereka," kata Ney lagi yang tampaknya sudah kembali semula. Tapi Rita maupun Arnila sama sekali tidak menghiraukan.
"Lalu?" Tanya Arnila penasaran.
"Aku tanyakan pada Alex dan jawabannya hanya 'hehehehe kamu tidak perlu itu dan kamu kan sudah punya aku, aku bisa jadi teman lelaki kamu sepanjang masa.' Begitu katanya," balas Rita dengan menambahkan mimik muka yang datar.
Arnila tertawa begitu juga Ney meskipun mereka berdua tidak mempedulikannya. "Ya Allah, jadi dia menghapus teman kamu dan aktor yang kamu suka. Lalu kamu bereaksi bagaimana?"
"Aku teriak saja ke dia diketik ya. Meminta kembalikan mereka seperti semula kalau tidak, aku akan membuatnya koma lebih parah," kata Rita kesal.
Arnila semakin keras tertawanya begitu juga Ney yang sepertinya perasaan bersalah itu baginya cukup hanya sedetik.
"Aku yakin dia tidak mau mengembalikannya," kata Arnila sambil setengah menahan tawa.
"Tidak juga. Dia kembalikan seperti semula dan melarang aku untuk jangan banyak bicara dengan mereka. Terus aku teriak 'bodo amat! Kamu bukan pacar dan suamiku, jadi jangan macam - macam!' Dia langsung membalas dengan emot wajah datar. Tapi dia kembalikan seperti semula," kata Rita yang sekarang setengah menyandarkan punggungnya dengan ditahan kedua tangannya yang dia letakkan kebelakang.
"Teman lelaki kamu Anggara kan ya," kata Arnila.
"Bukan hanya dia kok, ada empat orang termasuk Anggara ya," kata Rita yang membuat Ney kaget. "Aku tidak mau menceritakan mereka sama kamu ya," Rita menatap lekat Ney yang menatapnya.
"Oh. Ya sudah," jawab Ney yang sibuk dengan ponselnya. Mereka tahu pasti Ney mencari tahu tentang mereka. Ney melihat memang ada selain Anggara, ketiganya sangat tampan juga. Dia bengong menatapnya lalu memandangi Rita dengan wajah uang tidak percaya.
__ADS_1
"Dulu rencananya aku mau memperkenalkan salah satu dari mereka ke kamu. Tapi kamu malah menolak mentah - mentah. Masih ingat apa yang kamu bilang ke aku? 'Teman kamu tidak ada seorangpun yang kelas atas. Aku tidak cocok dengan teman - teman kamu.' hahahaha kalau kamu tahu ya, mereka bertiga itu pengusaha sukses meski masih muda. Mereka mempercayai aku untuk mencarikan mereka calon istri tapi karena kamu menolak ya sudah," kata Rita dengan tertawa ringan.
"Sekarang kan bisa," kata Ney yang masih sulit percaya.
"Tidak mau! Lagipula aku sudah bilang sama mereka lebih baik cari sendiri saja. Akhirnya sih 3 bulan kemudian, mereka semua ada yang menikah duluan sisanya menyusul. Kamu sudah punya Dins buat apa aku kenalkan kamu dengan yang lain," kata Rita menatap Ney. Wajah Ney tampak menyesali perkataannya waktu itu. Dan teringat dengan apa yang dikatakan oleh ibunya.
"Aku masih belum jadi sama Dins," jawab Ney dengan suara kecil.
"Tetap tidak mau. Kamu bukan tipe perempuan setia, tidak ada jaminan juga kalau aku kenalkan mereka ke kamu, kamu akan setia. Untung ya kamu menolak jadi aku tidak akan menyesal,"
Ney terdiam mendengarnya. Dia mengutuki dirinya sendiri. Dan menggarukkan tangannya yang berkuku tajam ke kulit tangannya.
"Mereka suka perempuan yang bersih, terawat dan rapih. Jadi yah aku bilang juga tidak mungkin sih cocok sama kamu," kata Rita menyindir Ney.
"Don't judge by cover," kata Arnila memandangi Ney dengan jutek. "Oh iya kalau kamu menikah misalkan dengan Alex sudah pasti di Indonesia ya ngapain ke Malaysia?" Tanya Arnila sambil menggoda Rita.
"Bisa juga kok menikahnya di dua negara. Kalau kamu menikah di Malaysia, kamu harus bayarin aku!" Tandas Ney yang tidak mendengarkan perkataan Rita sama sekali dan membelok tentunya.
"Kok begitu sih? Tidak sesuai janji," ucap Ney.
"Aku tidak pernah buat janji begitu. Itu kan kamu yang mau," kata Rita mengingatkan. Menurutnya daripada membayari Ney yang sama sekali tidak membantu, lebih baik dia berikan pada sahabatnya yang selalu mendoakan.
"Ya sebagai hadiah dong karena aku banyak membantu," kata Ney yang tetap memaksa bahwa dirinya sudah membantu Rita dengan segenap hati. Preetttt!
"Membantu atau menjatuhkan ya, untung tidak kena tanah," kata Rita tertawa.
"Perasaan yang kamu bantu itu merebut Alex eeh kamu malah selingkuh. Bagian mananya yang kamu banyak membantu?" Tanya Arnila keheranan juga.
"Kalian lemot banget sih terutama Rita lemoooot sampai stres aku menghadapi kamu!" Kata Ney kesal.
"Iyalah stres kamu bukan teman aku. Kalau teman aku sih mana ada yang stres, karena mereka kenal aku tidak seperti kamu. Dilihat dari kulit, mereka lihatnya itu isinya. Coba saja kamu tanya ke Sina dan kawan - kawan apa pernah mereka stres setelah berteman lama dengan aku?" Tanya Rita dengan santai.
__ADS_1
"Kita saja stres banget dengar omongan kamu yang banyak tidak bermanfaat," kata Arnila melawannya.
"Kalau terbukti aku menikah dengan Alex, aku hanya akan membayari Arnila saja. Dia dari awal saja selalu bisa bicara baik - baik meski tidak kenal aku. Kamu pergi pakai uang sendiri ya, Dins kan kaya," Rita cuek mengatakannya karena Ney saja tidak pernah memakai hatinya. Ops! Dia kan tidak punya hati ya.
"Kalau yang aku lihat sih Rita tidak lemot. Itu kamu sengaja ya dibuat lemot pasti ingin tahu reaksi aku dan Ney seperti apa kan?" Tanya Arnila yang menepuk keras bahu Rita. Ney bengong mendengarnya.
"Serius?" Tanya Ney tidak percaya lagi. Kok bisa ya dia itu sudah lama kenal dengan Rita tapi masih saja tidak tahu Rita seperti apa. Benar tampaknya dia selalu menutup mata mengenal orang lain.
Rita hanya tertawa sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Ah, ketahuan deh sama Arnila! Kamu kok tahu sih? Intuisi kamu memang tajam banget ya. Suksesnya hanya sama Ney saja, bayangkan! Sejak lama!"
"Tahu dong. Hebat kan, wajah kamu bukan wajah lemot. Tapi kamu memang lemot kalau berhadapan dengan lelaki seperti Alex. Tapi kalau sesama perempuan, kamu tajam banget makanya Rita selalu bisa menebak kamu, Ney. Kamu tidak sadar sama sekali ya? Rita memang tidak pintar dalam ranking sekolah mungkin dia paling bawah, tapi dia memiliki kemampuan yang tidak aku punya," jelas Arnila yang mencubit pinggang Rita. Rita tertawa keras.
"Masa sih? Kenapa aku sampai bisa tertipu selama ini!?" Kata Ney yang setengah berteriak.
"Karena kamu memang tidak punya hati dan nol empati!" Jawab mereka berdua bersamaan.
"Kamu menutup mata kamu sendiri sehingga, orang yang berada di dekat kamu, kamu selalu anggap sebagai musuh. Padahal bisa jadi orang yang bisa mengerti kamu tapi sayang, kamu tolak jauh - jauh," kata Arnila.
"Beda kan? Arnila baru beberapa periode kenal aku dan kamu yang sudah lama. Aku yakin kamu sudah kenal aku banget apa aku ini suka berhalu atau berimajinasi. Aku jujur sangat suka berimajinasi bukan halu. Tapi kamu tidak bisa membedakannya, itu yang sangat aneh. Iya benar! Memang aku sengaja pura - pura lemot di hadapan kalian berdua, alasannya aku ingin tahu bagaimana reaksi kalian berdua soal aku yang lemot. Apakah kalian akan menerima aku yang seperti itu ataukah... menendang dan menginjak. Kalian sudah tahu jawabannya," kata Rita yang duduk bersila dan tertawa puas.
"Alex tahu?" Tanya Ney yang masih terkejut.
"Dia yang pertama tahu dan mengerti alasannya. Alex juga bilang aku ini sangat cerdas bukan pintar. Dia tidak percaya kalau aku benar - benar lemot kecuali beberapa hal memang aku tidak tahu. Aku senang menjahili. Tapi dari jahilnya aku itu, orang yang kuduga sangat mengenalku ternyata hanya sebuah kepompong kosong," bisik Rita yang membuat Ney tidak mengerti tapi Arnila sangat tahu maksudnya.
"Apa sih? Aku tidak mengerti!" Kata Ney kesal.
"Yang mengerti hanya orang yang punya hati tulus dan empati besar," balas Rita yang meregangkan badannya yang sudah pegal.
"Terus kenapa kamu sengaja lemot ke aku?" Tanya Ney yang kesulitan mencari jawabannya. Arnila hanya menggelengkan kepala ke arahnya.
"See? You really doesn't know about me jadi berhentilah seakan kamu tahu segalanya soal aku. Yang aku herankan kok bisa ya kamu kalau dengan Arnila yang baru sebentar kenal aku. Kita memang tidak pernah kontak ya, Nil. Orang normal seperti Arnila saja tahu aku berpura - pura menjadi lemot, kamu? Ya Allah baru sadar sekarang?! Kamu yang kenal aku bertahun - tahun sama sekali zero!" kata Rita.
__ADS_1
BERSAMBUNG ...