ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(163)


__ADS_3

"Mereka tahu buatan aku keasinan kok seperti yang kubilang mereka tetap memakannya dan memaklumi hasil masakanku sendiri, tidak seperti kalian!" Kata Ney yang mendelik ke arah adik dan kakak kandungnya dengan nada yang kesal lalu pergi menuju kamarnya.


"Ini kamu masih mau tidak makanannya!? Nanti kita habiskan jangan menyesal ya!" Teriak Ibunya yang melihat dirinya melenggang pergi.


"Tidak usah! Sudah kenyang! Lagian juga tidak terlalu enak," balas Ney dari dalam kamarnya. Kakak dan adiknya terus makan mereka memang agak keterlaluan dan terlalu jujur. Ney berusaha memasak tetapi mereka tidak memakluminya meski memang masih jauh dari kata enak makanannya.


"Kalian bisa tidak memaklumi adik dan kakak kalian? Dia memang tidak pintar memasak tapi sudah berusaha kan. Tolong dong kalian ini bisa jadi panutan mama kalian itu yang paling dekat, masa teman - temannya lebih pengertian daripada saudara kandung sih?" Tanya ibu atau mamanya yang membuat mereka berdua terdiam. Oke, disini pasti kalian merasa aneh ya Author menulis mama tapi disebutnya sebagai ibu. Yah, karena maknanya ya sama saja kan lagipula Rita menyebut ke ibunya ya ibu jadi daripada kalian semua pusing bacanya, Author satukan maknanya dengan ibu saja meski... Alex menyebut ibunya dengan sebutan mama ya.


Dalam kamar Ney, sedikitnya dia merasa lega tapi kemudian berubah lagi dan menganggap mereka berdua adalah saingan yang harus selalu dia kalahkan. Ya bagus sih menganggap saingan tapi kalau terus menerus? Berarti artinya dia tidak butuh teman melainkan saingan makanya dia selama ini tidak terlalu peduli dengan kondisi mereka. Lalu dia melemparkan badannya ke atas kasurnya dan mulai rebahan, kasurnya masih berantakan seprai dan selimut berserakan dari ujung ke ujung. Dan banyak buku komik juga berserakan dari terbukanya pintu sampai karpet belajarnya.


Kemudian dia tiba - tiba teringat dengan nomor yang dia dapatkan dari paman Alex yang langsung dia bangun dari rebahan nya dan mencari kertas bernomor itu. Dia senang sekali bisa mendapatkan nomor paman Alex dan bersorak, dia memiliki tujuan lain selain mendekatinya well, sekalian mencari informasi tentang Alex. Setelah pengalamannya tadi dengan mereka berdua yang menguntitnya sampai ke bandara, Ney sekarang menjadi sangat yakin kalau orang itu memang pamannya Alex.


Bersamaan dengan niatnya yang baru teringat, Dins kemudian meneleponnya. Ney melihat siapa yang meneleponnya di ponsel dan membaca namanya, dia sangat malas mengangkatnya sekali dia tidak mempedulikannya sambil menunggu panggilan itu berakhir. Lalu dia memasukkan nomornya dengan sebutan Mr. Syakieb. Ney kemudian ingin membicarakannya pada Rita berpikir dia pasti akan sangat berhutang budi padanya dan bisa menjalin kontak dengan lebih dalam lagi. Karena kalau Rita jadi dengan Alex, maka dirinya akan dapat banyak keuntungan.


"Kamu sudah sampai rumah, Ri?" Dia ketik ke WA dan menunggu balasan. Namun tidak ada balasan sekitar semenit. Ney berpikir apa dia sedang sibuk ya chat dengan Alex, jadinya chat dari Ney tidak Rita balas. Kemudian Ney yang tidak sabaran meneleponnya tapi tidak tersambung dan itu semakin aneh. Lalu dia pun mencoba menelepon Arnila takutnya ternyata sama dengan minggu lalu, mereka masih berjanji untuk jalan berdua. Ney sudah bersiap mau pergi lagi untuk mendekati mereka dengan perasaan kesal. "Kenapa sih mereka selalu bertemu di saat aku tidak ada?" Tanya Ney pada diri sendiri dengan kesal. Teleponnya diangkat oleh Arnila.


"Kenapa?" Tanya Arnila yang langsung ke poinnya. Sepertinya Arnila baru datang ke rumah bibinya dan suaranya terdengar tidak peduli saat Ney meneleponnya.


"Rita kemana ya? Aku telepon kok tidak tersambung di WA juga tidak ada balasannya," kata Ney yang agak panik tapi tidak dengan Arnila. Ney tidak sabar ingin mengatakan maksudnya mendekati pamannya Alex tapi dia tidak mengatakannya pada Arnila. Karena menurutnya, Arnila bukan orang penting yang harus diberitahu. Dan inilah yang menurut Rita sangat aneh! Dia tidak mau Arnila dekat dengan Rita tapi dia juga sering menginjak - injaknya. Agak - agak aneh banget kenapa Arnila masih saja mau menerima pertemanan dengan Ney. Yah kalau Rita sih karena kasihan, dia pernah mengalami bagaimana rasanya tidak punya teman.


"Oh, kurang tahu sih. Mungkin dia belum sampai ke rumahnya atau mungkin ponselnya dia simpan di kamar. Perjalanan ke Lembang kan lumayan jauh dia sampai di rumah pas jam 7 malam kan," jelas Arnila dia tampak jenuh, lelah dengan maksud Ney. Arnila tahu pasti kenapa dia mencari Rita dengan begitu gencar dan Arnila juga tahu kalau Ney punya maksud lain.


Ney tidak berpikir kesana lalu dia menunggu balasan dari Rita.

__ADS_1


"Aku pikir kamu janji bertemu lagi dengan Rita. Kenapa sih kamu suka ketemuan sama Rita saja?" Tanya Ney penasaran.


"Memangnya kenapa? Tidak boleh? Rita kan bukan teman kamu juga, aku tahu kamu tidak pernah menganggap dia ada, hanya sekedar ada saja kan. Aku mau bicara apa dengan dia, bukan urusan kamu," jawab Arnila yang sambil duduk di sofa.


"Ya itu urusan akulah. Ayo dong kalian bicarakan soal apa? Kamu tidak bisa bohong lho sama aku," kata Ney dengan bangga.


"Kalau begitu buat apa kamu bertanya? Tebak saja sendiri," kata Arnila yang malas dia selalu saja diancam seperti itu. Dan benar apa kata Rita bahwa anehnya dia selalu mau saja menurut padahal dia punya banyak pilihan. Kenapa juga harus takut?


Ney tidak menjawab soal itu dan langsung mendengar suara notif dari ponselnya. Rita membalas! "Eh, sudah ya Rita sudah balas," Ney langsung menutup ponselnya. Arnila kesal tapi sudah terbiasa kalau dia selalu menelepon untuk kepentingannya sendiri.


"Ada apa sih? Sampai menelepon segala!" Balas Rita yang bete, kalau soal Ney memang selalu membuatnya sebal. Pasti soal yang tadi!


"Aku yakin pamannya Alex itu asli! Aku mau mendekati dia bukan niat yang lain kok biar bisa dapatkan informasi tentang Alex," kata Ney menjelaskan tanpa memberitahukan niatnya yang lain.


"Masih soal itu lebih baik ya kata aku sih kamu lupakan saja deh. Kamu sudah punya Dins tidak perlu pakai penasaran lagi deh. Kalau kamu mau mendekati pamannya itu buat cari info soal Alex, lebih baik jangan! Aku tahu yakin soal kamu, niat A tapi pasti kamu punya niat B yang lain. Ngaku!" Kata Rita menebak.


"Coba dong kamu kirim nomor paman Alex yang kamu punya. Kali saja berbeda, kamu juga pasti akan sering bertemu sama pamannya kan. Dia kan super hot!" Seperti biasanya Ney memang sering sekali menyuruh atau meminta sesuatu dengan memaksa.


"Tidak mau! Aku hanya kontak pamannya untuk paket Alex saja selebihnya, maaf ya tidak bisa bantu kamu lagi. Sudah ya aku lelah nih terserah kamu saja deh mau apa sama orang itu aku tidak peduli," kata Rita yang mau mematikan ponselnya.


"Ya sudah kalau begitu nanti kamu jangan menyesal ya kalau aku punya informasi," kata Ney mengancam Rita. Rita pasti penasaran, lihat saja!


"Ya ya ya," jawab Rita lalu mematikan ponselnya dan beristirahat.

__ADS_1


Tapi tetap saja Ney banyak bertanya namun Rita tidak membalasnya dan itu membuat Ney kesal dan menceritakannya pada Arnila.


"Kenapa lagi sih?" Tanya Arnila yang agak sewot. Ney hanya menghubunginya kalau dirinya sedang mengalami kesulitan.


"Si Rita itu kenapa sih sama sekali tidak mau membantu aku!" Kata Ney sewot.


"Soal orang yang tadi?" Tanya Arnila.


"Iyalah! Setidaknya dia kasih lihat aku kek nomor pamannya yang dia punya. Lagian aku kan mendekati orang itu buat cari tahu soal Alex juga," Ney akhirnya mengungkapkan karena merasa Rita tidak peduli soal Alex.


"Oooh jadi begitu tujuannya. Ya aku sih setuju dengan Rita, lebih baik kamu jangan suka gali - gali informasi lagi deh soal Alex. Aku juga tidak bisa membantu kamu, kamu saja yang maju sendiri ya. Aku kan sedang sibuk buat persiapanku nanti mana sudah mulai mendekati bulan - bulan pernikahanku. Besok Imron mau mengajakku ke rumah orang tuanya untuk memilih baju pernikahan. Jangan menyalahi ke Rita kenapa dia tidak mau membantu, kamu harus sadar deh. Dia sibuk juga kan mengajar. Kamu sendiri sekarang tidak bekerja?" Tanya Arnila yang malas menerima telepon dari Ney.


"Iya iya aku tahu kalian berdua memang sibuk enak ya, aku menganggur baru saja keluar dari perusahaan paman kamu!" kata Ney yang agak sedikit naik nadanya.


"Lho kenapa kamu keluar?" Tanya Arnila yang setengah terkejut. Dia tahu kejadiannya seperti apa tapi tidak menyangka kalau pamannya atau omnya benar - benar memecat Ney.


"Perusahaan paman kamu itu ternyata gajinya kecil banget! Hanya Rp 900.000. Aku kerja sampai pagi hanya diberi gaji segitu? Bisa saja perusahaannya mewah ternyata pelit!" Ney menyindir banget dan Arnila tidak enak mendengarnya. Menurut Arnila omnya itu sangat baik, karena pegawainya memang sudah penuh tapi masih mau menerima pengajuannya untuk Ney.


"Ah, masa sih. Kamu kali yang bekerjanya kurang rajin. Om aku itu orangnya baik banget, rajin sedekah setiap gajian om selalu kasih ke orang - orang bawah. Yang ada sih pasti lu yang macam - macam. Setelah lu memohon - mohon ke gue, buat nerima lu di perusahaan om, seperti ini perlakuan lu?" Tanya Arnila yang tidak percaya kalau Ney bisa sekurang ajar itu.


"Memang benar. Menurut aku sih ya om kamu itu cuma kulit luarnya aja baik isinya, gaji gue aja hanya segitu. Mana yang katanya gaji 5 juta perbulan? Omong kosong tahu tidak?!" Ney menyindir lagi membuat Arnila panas telinganya.


"Nih ya aku tanyain ke om aku soal kenapa kamu sampai keluar. Aku yakin masalahnya sama kamu sendiri," Arnila lalu mengontak omnya yang sangat dipercayai olehnya.

__ADS_1


"Ya telepon saja! Memangnya aku takut? Pasti sih om kamu memfitnah aku. Menyesal aku sudah minta tolong sama kamu sampai memohon - mohon segala! Tahunya malah segitu gajinya!" Ney terus mengomel.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2