ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
365


__ADS_3

Tapi Ney sama sekali tidak percaya kalau mereka akan dilupakan begitu saja apalagi kalau memang benar Rita jadi dengan Alex. Akan ada banyak keuntungan yang bisa didapatkan olehnya namun Ney lupa, Rita sudah sangat kecewa kepadanya.


Apalagi Ney merasa paling berjasa selama ini hanya saja Ritalah yang kurang bisa berterima kasih kepadanya. Selama ini apa yang Rita inginkan nyatanya jauh dari yang diharapkannya. Masih saja Ney berharap Rita akan terus menerima kehadirannya.


"Kira-kira kalau Alex sudah tahu sifat asli Rita bagaimana ya? Apa kita masih di lihat sama dia?" Tanya Ney.


Arnila tidak mengerti maksud pertanyaannya. "Mungkin maksud kamu kalau Rita diterima oleh Alex?" Tanya Arnila yang menerjemahkan maksud perkataan Ney yang sebenarnya.


"Nah iya itu maksudku," kata Ney yang menyadari perkataannya salah.


"Ya kalau kita dari awal terlihat kesan yang baik pasti tidak akan dilupakan sih biasanya. Tapi masalahnya kan... kamu sudah menghancurkan segalanya. Apalagi berkenaan dengan kepercayaan," kata Arnila mengingatkan.


"Tapi aku kan melakukan itu semua buat dia. Sekarang dialah yang tidak menghargai kita kan. Aku sudah banyak lho membantu dia tapi apa hasilnya?" Tanya Ney yang sudah kecewa juga meskipun itu hanya dari pendapatnya.


"Kalau kamu memang niatnya membantu, jangan pernah mengharapkan imbalan, Ney. Terkadang manusia itu sangat banyak mengecewakan. Apa pernah Rita meminta imbalan sama kamu, saat dia membantu tugas kuliah kamu?" Tanya Arnila.


"Yaa... tidak ada sih. Tapi menurutku dia pasti ingin kan," kata Ney memandangi kedua kakinya.


"Menurutku tidak deh. Waktu kamu menyuruh dia ambil skripsi kamu dulu, kamu malah yang tidak pernah berterima kasih padanya. Bayangkan! Dia dari Lembang bantu kamu ambil 6 skripsi, sampai dibayarkan hutang kamu. Kurang apa lagi sih?" Tanya Arnila yang memang tahu kisah itu.


Ney terdiam, selama mereka dalam semester 2 Rita memang banyak membantu, padahal Rita juga masih sama-sama sedang menempuh perkuliahan. Ney selalu memaksa Rita menuruti apa yang dia inginkan tapi sekalipun Ney tidak pernah mengatakan terima kasih, apakah ini balasannya?


"Ke depannya kamu tidak perlu lagi deh memaksakan kehendak kamu sama Rita, bukan hanya ke dia tapi SEMUA orang," kata Arnila.


"Aku yakin Rita pasti akan sombong sekali nanti," kata Ney tidak memperdulikan pendapat Arnila.


"Jangan suudzon deh Ney, kebiasaan kamu. Sudah berapa kali kamu selalu salah berpendapat mengenai beberapa orang. Kamu pernah lihat isi akun Rita?" Tanya Arnila yang sudah lelah.


"Pernah dong bukan sekali dua kali," kata Ney jutek lalu apa maksudnya?


"Terus apa ada foto terbarunya sedang pamer barang atau memasang foto yang membuat orang iri? Jangan asal ucap deh, selama ini yang aku tahu Rita itu orangnya cuek," kata Arnila yang pertama dia lihat.


Dalam akun Rita lebih banyak foto anime dan game daripada barang atau sesuatu yang bermerk. Dan beberapa ulasan soal game terbaru yang ada di aplikasi Play store. Hanya itu, foto lelaki pun tidak ada sama sekali, Ney sulit mencari alasan agar Rita terlihat seperti yang dia duga.

__ADS_1


"Anime sih," kata Ney membuka akun Rita.


"Ada barang mewah? Mahal? Uang atau apapun? Coba kamu lihat statusnya ada yang unsur menyombongkan? Buka ya mata kamu selebar mungkin, sejelas itu Rita yang sederhana meski dia memang punya banyak uang," kata Arnila menangkap beberapa status yang dibuat Rita kemarin.


Ney membaca dan diam. Untung apa juga dia mencari-cari kesalahan? Tidak ada status Rita satupun memamerkan sesuatu yang dia beli apalagi soal sakit hatinya mendapati temannya yang menyakitinya. Ada sih beberapa dan semua temannya berkomentar, melapangkan dadanya untuk ikhlas.


"Yang dia kirimkan hanya status ini. Coba deh kamu baca bagaimana perasaan dia tahun lalu, kalau aku sih untung bukan teman dekat dia. Teman biasa saja membuat aku tidak enak apalagi kamu yang katanya sudah lama kenal dia," kara Arnila mengirimkan status terbaru Rita.


"Baru kali ini dikhianati orang yang aku anggap sebagai teman awalnya, tapi inikah hasilnya selama berteman seabad dengannya? Sungguh terlalu!" Itulah status yang Rita update kemarin. Masalahnya status Rita itu ternyata banyak yang Like dan dilihat sudah ada 1000 orang.


"Lihat kan? Mau dia banyak uang juga tidak ada kan dia pamer jumlahnya segimananya. Yang dia makan, yang dia pakai, terserah orang mau melihatnya seperti apa. Beda sama kamu, Ney. Sebenarnya aku yakin kamu yang butuh Rita tapi karena gengsi akhirnya kamu membuat banyak kesalahan," kata Arnila menyadarkan Ney.


Ney terdiam lagi, selama dia kenal Rita memang jauh sekali dia sama sekali tidak pernah terlihat pamer tidak seperti teman grupnya yang lain. Ney juga tahu kalau Rita sama sekali tidak pernah membicarakan keburukannya hanya sesekali menasehatinya, tentu kalau sudah terganggu.


Ney teringat akan kalimat ayahnya kepada dirinya dulu saat masih SMA. Kala itu ayahnya sama sekali tidak pernah melihat Ney membawa satu orang teman yang lain kecuali Arnila, dan akhirnya berpendapat kalau Ney tidak bisa berbaur dengan orang lain.


"Ney, saat nanti kamu bisa mendapatkan teman yang tidak pernah berkomentar soal perilaku kebiasaan, atau kekurangan kamu, kamu harus jaga teman itu. Karena dunia ini kejam, teman yang baik seperti itu sangat langka didapatkan, jangan pernah kamu membuatnya kecewa dengan tindakan kamu," kata Ayahnya.


"Karena mungkin dari kamunya yang tidak bisa menghormati mereka? Ayah tahu kamu ini seperti apa saat berhadapan dengan mereka, Ney. Jangan sampai saat kamu mendapatkan teman baik itu, kamu mengkhianati kepercayaannya sama kamu. Sekali kamu membuatnya kecewa dengan tindakan kamu, atau saat kamu memiliki teman yang lebih dari dirinya lalu kami tinggalkan. Untuk kembali lagi kepadanya itu tidak mungkin bisa," kata Ayahnya yang agak cemas kepadanya.


Ney saat itu sama sekali tidak terpikir kalau yang dimaksud mungkin pertemanannya dengan Rita. "Maksud ayah teman aku yang mana sih?" Tanya Ney penasaran.


"Nanti juga kamu tahu, jangan iri kepadanya karena kamu tidak tahu seperti apa perjuangannya. Dia baik sekali menerima kamu apa adanya tapi kamunya agak tidak bisa menerima dia. Ingat pesan Ayah, bertemanlah dengan semua orang tanpa mengenal status," katanya membelai kepala anaknya itu.


"Tapi apa tidak rugi kita kan dari keluarga kaya, Ayah. Setidaknya teman aku harus yang sama juga," jawab Ney.


"Jangan begitu, yang lalu biarlah berlalu. Ayah juga sadar sudah banyak salah mendidik kamu. Ayah kehilangan banyak teman baik, kamu jangan seperti Ayah. Saat kamu nanti meninggal, teman baik itu akan selalu mengingat kamu dan mendoakan." Kata ayahnya dengan senyumnya yang ramah.


Itulah pesan ayahnya sebelum ayah Ney sibuk dengan pekerjaannya. Ayahnya tahu sekali bagaimana watak anak tengahnya itu, kadang beberapa temannya melaporkan apa yang dilakukan oleh Ney pada mereka.


Kita kembali pada obrolan Arnila dan Ney yang masih berkisah seputar Rita dan Alex. "Memangnya Rita akan menerima aku seadanya?" Tanya Ney yang masih belum yakin. Daripada tidak yakin, dirinya hanya ingin diterima sebagai Sahabat.


"Selama ini kamu pernah tidak sih mendengar Rita mengejek parah soal kebiasaan kamu?" Tanya Arnila, dia juga tidak terlalu kenal Rita tapi yang dilihatnya memang Rita sederhana. Meski aneh juga bisa menjadi teman Ney.

__ADS_1


"......." balas Ney.


"Da yang aku lihat mah dia tidak ada masalah deh kamu mau seperti apa tapi saat kamu bilang kalau kamu malu soal kelakuannya, kebiasaannya aku yakin dia sakit hati. Kalau malu, kenapa sampai sekarang kamu masih mau kemana-mana sama dia? Bukannya kamu yang kesepian ya?" Tanya Arnila.


Lagi-lagi Ney tidak menjawab, dia hanya terdiam membaca apa yang Arnila katakan dalam chatnya.


"Jangan judge dia seperti kamu yang paling benar deh, Ney. Memang semua masalah ini adanya di kamu," kata Arnila yang sudah bete.


"Kok aku sih?!" Tanya Ney keberatan.


"Kamu sirik ya sama Rita?" Tanya Arnila dengan tepat.


"Apaan sih. Tidak! Idih buat apa aku sirik sama dia?" Tanya Ney kesal sekali meskipun memang iya.


"Halaaah ngaku looo kalau memang tidak kenapa kamu selalu marah? Lalu seperti terkesan sengaja memancing emosi. Ya kali kamu sirik sama fisik dia, warna kulitnya, tinggi semampai," kata Arnila menggoda.


"Helooooo aku tuh kaya ya, keluarga aku juga cukup terpandang. Dih, tidak level sama dia mah," kata Ney dengan sombong.


"Kalau dia jodoh sama Alex, level kamu paling bawah lho. Tidak ada kesempatan deh buat kamu bisa setara," kata Arnila.


Deg! Jantung Ney berdebar, dia tidak berpikir kesana. Benar juga kalau Rita jadi sama Alex, sudah pasti tingkatannya langsung jatuh.


"Tapi untungnya," kata Arnila sengaja memotong.


"Apa?" Tanya Ney penasaran.


"Dia orangnya rendah hati dan jauh dari sifat sombong. Malahan super cuek dan tomboi kan, dia bisa berteman dengan kalangan dari paling bawah sampai paling atas," kata Arnila.


"Apa itu yang membuatnya banyak teman?" Tanya Ney menyadari memang temannya Rita kebanyakan dari kalangan menengah kebawah.


"Iya, dia kan kalau berteman asalkan nyambung dan bisa buat di nyaman ya oke. Dia juga bukan tipe teman yang melihat seberapa besar rumahnya. Orang tuanya juga sama-sama PNS kan. Jelas terlihat dia sangat bete kalau ada orang yang paling ingin diperhatikan, tapi tidak ada feedback ke dia," sindir Arnila dalam chatnya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2