
"Hah!? Kamu masih suka sama Alex? Tidak akan ada kesempatan deh," kata Arnila membuat Ney melongo.
"Sudah sudah! Terserah kamu mau bilang apa atau bahkan lu ya Rita mau sindir aku apapun, TERSERAH! Iya, aku akui sudah salah mendukung Alex dan membuat kamu merasa ter khianati, aku tahu dia seperti apa sekarang," kata Ney akhirnya mengaku yang buat dia stres.
"Bisakah kamu berkata jujur? Mau sampai kapan terus saja memutar sesuatu yang kamu baca dan dengar? Capek lah aku ya harus memastikan apa kamu bicara benar atau bohong," kata Rita tertawa menang.
Ney tidak menjawab meski dia membaca, sulit baginya yang memang sudah terbiasa melakukan hal begitu demi... sebuah pujian.
"Iya, Ney bicara adanya, jangan dilebihkan sesuai porsinya. Justru orang akan memaklumi kamu sejelek apapun hanya dengan perkataan yang jujur. Mau bagus atau tidak, pegang. Terus kalau bisa mulut jangan terlalu nyablak. Betul ga?" Tanya Arnila kesempatan.
"Iya. Karena tidak semua orang bisa menerima omongan nyablak, di dunia ini ya orang extro lebih sedikit dari Intro. Yang seimbang Ambivert. Jadi yang biasa Nyablak bicara, harus lebih waspada," kata Rita.
Ney membacanya mendengus. Tapi memang iya juga sih teman-teman dalam grupnya juga banyak Intro. Di kampus, tempat kerja, waktu sekolah dulu juga Intro kebanyakan.
"Ya itu kan bukan mau ku," kata Ney.
"Bukan. Memang itu mau kamu. Kebiasaan memang sulit dihilangkan, tapi kalau harus blokir orang toxic sih diharuskan daripada kitanya kena racun. Kamu sadar itu salah, tapi aku yakin kamu punya tujuan lain. Mengungkapkan kejujuran dengan cara yang salah juga akan berakibat fatal, Ney," kata Rita.
"Tapi Rita, aku Extrovert lho sebenarnya," kata Arnila.
"Iya, Arnila itu ya sama dengan aku tapi kenapa sih aku yang kelihatannya bagi kamu sangat menyakitkan?" Tanya Ney jutek.
"Sederhana karena kamu kalau bicara tidak pakai perasaan. Aku kenal banyak orang, aku juga lihat bagaimana mereka berbicara, bergaul dan komunikasi dengan yang lain. Orang yang seperti kamu memang... selalu sendiri karena omongannya kurang bisa dijaga," kata Arnila.
"Iya ber logika oke, tapi harus dengan perasaan, Ney. Masa kamu masih begitu saja padahal contoh orangnya banyak lho. Mau kamu sampai benar sendirian di dunia? Aku sih ogah," kata Rita mendukung Arnila.
"Ya kalau kamu tidak suka ya pergi saja tinggalkan aku. Susah sekali," kata Ney.
"Aku kan memang sudah pergi siapa yang masih sering datang lagi? Tanya-tanya pertanyaan bodoh? Siapa yang waktu itu sampai buat grup lagi? Aku mah memang tidak ada niat untuk kembali," kata Rita.
"Iya kan aku juga sama, Rita. Justru Ney yang memaksa buat bikin grup lagi, bicara lagi tapi tetap sih isinya hanya untuk dia cari info soal hubungan kamu saja," kata Arnila.
Ney kesal sekali, otaknya tidak bisa dikendalikan. Nyatanya mau Arnila atau Rita memang tidak ada niat untuk membentuk grup.
"Lalu kamu yakin kalau kakaknya meninggal karena kecelakaan?" Tanya Rita lagi untuk mencari tahu.
Biasanya Ney akan menjawab dengan berbeda jawaban. Itu yang membuat Rita pusing, omongannya tidak bisa dia pegang.
"Tidak kok karena kecelakaan. Aku kan bisa lihat kejadiannya," kata Ney membalas dengan komat kamit tidak jelas.
"Bukan penyakit?" Tanya Arnila juga. Baru juga dikasih tahu tetap saja itu otak tidak mudeng. Arnila dan Rita menyerah pada penyakit kebiasaan Ney.
__ADS_1
"Bukan, Arnila. Aku lihat ya kecelakaannya heboh sekali! Kamu jangan dekat sama Alex deh dia itu pembawa sial!" Kata Ney mulai koar tentang kemampuan yang error nya.
"Alex atau kamu Ney?" Tanya Rita bodo amat.
"Kok menyalahkan orang sih?" Tanya Arnila.
"Kok aku jadi tukang sial? Aku lihat semua lho seperti apa kecelakaan yang dia alami sampai cerita hidupnya. Semua itu aku yang tahu lhoooo," kata Ney yang semangat.
"Yayaya," kata Rita bodo amat. Susah memang memberitahukan orang yang wajahnya sudah lebih tebal dari muka badak.
"Aku kasih tahu kamu ya untuk kebaikan kamu, Rita. Terserah kalau tidak mau di dengar juga," kata Ney dengan wajah tanpa dosa.
"Ya mana mau aku dengar toh ini chat dibaca kok," balas Rita.
Arnila tertawa. Iya juga ya mereka kan sedang chat bukan mengobrol.
"Ya memang aku tidak peduli lagi sama chat dan omongan kamu. Penerawangan atau cari info dari teman kamu juga, aku sudah tidak mau dengar. Buat apa aku harus percaya manusia? Musyrik tahu," kata Rita membuat Ney terdiam.
"Iya ya kalau kita percaya sama manusia kan musyrik. Apa gunanya kita sholat tapi malah percaya manusia yang selalu melakukan hal salah," kata Arnila baru sadar.
Ney tidak bisa membalas, setiap kali Rita membicarakan Allah, dia agak sebal, senewen, mendelik tanda kalau Ney kudu di ruqyah.
"Nah itu Anda baru sadar. Kalau ada orang bilang "Percaya deh sama aku," jangaaan. Buktinya orang yang pacaran, percaya sama pasangan tetap saja kena selingkuh. Benar tidak?" Tanya Rita.
"Makanya aku ogah sekali deh percaya sama orang. Mau dia orang baik atau buruk, percaya sesuai porsi. Kalau percaya omongan ramalan orang, aku tidak mau tahu. Apalagi aku sudah dikecewakan ya sama beberapa orang yang aku percayai sebelumnya, jadi lebih baik percaya Allah saja," kata Rita.
"Sebelum kita?" Tanya Ney tidak percaya.
"Iyalah. Aku kan manusia yang suka bersosialisasi bukan anti. Hanya terlalu percaya jadinya banyak dikecewakan," kata Rita.
"Aku baru tahu. Misalnya apa tuh," kata Ney.
"Misalkan aku pernah melamar pekerjaan, dia ikut juga. Waktu aku hampir diterima, dia cerita ke kepala sekolah bahwa aku tidak becus bekerja. Alu ditolak, dia diterima," kata Rita mengingat Ela teman kampusnya.
"Mungkin memang kamu begitu kan," kata Ney yang memang minus attitude.
"Lalu? Nasib teman kamu bagaimana? Kotor sekali ya caranya," kata Arnila.
"Ya dia diterima tapi kena pecat. Ini tempat kerja aku yang sekarang ya disitulah dia pernah kerja. Ternyata dia sendiri yang tidak becus bekerja. Datang mengajar pukul 9, selalu terlambat masuk kelas. ada tugas tidak dikerjakan, tapi gaji ingin tetap kan error," cerita Rita.
Ney membacanya dan menundukkan kepala, tidak mengira ternyata temannya yang berhasil membuatnya jatuh malah jatuh sendiri.
__ADS_1
"Hmmm ya begitulah Rita, kadang teman yang biasanya dipercaya juga suatu hari nanti bisa menjadi musuh. Tapi aku lihat teman dekat dan sahabat kamu, tidak kok. Terus pegang mereka jangan sampai lepas, jangan sampai seperti aku. Gara-gara 1 orang semuanya hancur," kata Arnila. Ya Rita tahu itu siapa.
"Nanti juga kamu kembali lagi kok sama mereka. Akan ada waktunya yang toxic meninggalkan kamu," kata Rita.
"Hah? Serius? Kenapa?" Tanya Arnila melongo ya ini pasti info dari Ua Mori.
"Ya karena dia fokus kejar orang lain untuk menaikkan ratingnya. Terus ya dia akan menganggap kamu tidak berharga dan ya bay bay. Kamu sama kelompok kamu lagi, dia sama kelompoknya," cerita Rita.
"Berarti yang dia kejar tidak dapat dong?" Tanya Arnila.
"Sama sekali tidak pernah dapat kata Ua sih, akan ada banyak penghalang yang menghalangi dia. Karena mereka tahu sepak terjangnya dia bagaimana. Penasaran ya dia kejar siapa," kata Rita penasaran.
"Maksudnya aku? Kejar siapa?" Tanya Ney ingin tahu. Dia kaget dan tidak menduga bahwa takdirnya akan sesulit itu menarik perhatian Rita.
"Tidak tahu. Rintangan kamu sangat banyak dan yang menghalangi lebih banyak. Mana aku tahulah bodo amat sama hidup kamu," balas Rita yang malas menerangkan.
Ney terdiam, dia berpikir keras apa yang akan terjadi dengannya nanti. Se berusaha apapun dirinya menghalangi Rita dan Alex akan ada ujian berat untuknya juga.
"Siapa yang menghalangi gue? Memangnya mereka bisa?" Tanya Ney.
"Ya jangan tanya gue lah," kata Rita.
"Ya kenapa kamu tidak tanya?" Tanya Ney yang sangat gelisah.
"Aku tidak minat melihat hidup kamu. Kamu kan katanya bisa meramal ya ramal saja diri kamu sendiri," kata Rita.
"Aku tidak bisa kalau ramal sendiri," kata Ney.
"Payah! Cari saja orang lain yang bisa meramal hidup kamu. Aku sih tidak mau niatnya juga ruqyah bukan diramal. Tapi entah kenapa mereka malah mengatakan sesuatu yang tidak aku cari," ketik Rita menghela nafas.
"Oke kita hentikan deh soal beginian. Pusing aku bacanya. Kita lanjut soal kakak kembarnya Alex saja ya," saran Arnila.
"Aku setuju," jawab Rita langsung.
"Kamu punya nomor kontak ibu itu tidak?" Tanya Ney yang memang penasaran. Karena kekuatannya memang tidak terbaca olehnya.
"Tidak ada. Ibu itu saudaranya dari ibunya suami saudara jadi tidak ada hubungan darah," balas Rita.
"Wah! Berarti dia penasaran sama takdir kamu Rita," kata Arnila.
"Iya katanya kasus aku istimewa makanya dia ikut membantu nanti," kata Rita.
__ADS_1
Ney yang membacanya lebih lebih kaget lagi. "Kasus Rita istimewa? Wah! Sial ada kemungkinan Alex ini bukan anak sembarangan lagi dong. Dia siapa? Tapi gue sudah tidak bisa tanya lagi sama tuh anak. Kalau benar, Rita menghadapi anak laki-laki yang terpenting dong? Ah, gila!" Kata Ney menggebrak kasurnya.
Bersambung ...