ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(100)


__ADS_3

Heran ya teman sendiri didoakan jelek, apa salah Rita sih? Terbukti salah, Rita anggap indera ketujuh Ney itu antara hanya hoax atau memang punya setengah atau seper satu saja kalau soal Penglihatan pun selalu salah dan tidak ada yang kena. Rita lalu sempat juga mengirim chat pada Alex.


"You right, jangan terlalu percaya apa yang Ney katakan. Aku sampai ke tempatku bekerja dengan selamat justru kecelakaan terjadi saat aku sudah turun dari mobil. Bannya meletus karena menginjak pecahan kaca. Makasih ya sarannya," Rita mengirimnya dan langsung dapat balasan.


"Alhamdulillah. See? Jangan takut lagi ya, hadapi saja. Aku seharian bekerja tidak apa - apa kan kita tidak chat?" Tanya Alex khawatir kalau Rita akan marah karena memang waktu chat mereka jadi semakin berkurang.


Rita membacanya sebenarnya Rita ingin marah tapi dipikir lagi, dia pun lumayan sibuk dengan pekerjaannya sebagai guru TK. Sebisa mungkin mereka berdua selalu mengusahakan untuk selalu bisa mengobrol meski sebentar. Rita memonyongkan mulutnya, berpikir akan terasa sangat membosankan tapi ya sudahlah.


"Tidak apa - apa," setelahnya mereka berdua bekerja meski agak ada rasa kecewa tidak bisa chat dengan Alex begitu juga sebaliknya, tapi yah mau bagaimana lagi.


Sepulang dari sekolahnya bahkan saat pulangnya pun tidak terjadi apapun! Dirumahnya, Rita mengaktifkan lagi internet di hpnya, rumahnya memiliki alat internet jadi Rita hanya beli paket kuota sehari kalau berada di luar rumah. Dan mendapati banyak pesan terutama dari grup Ney.


"Rita! Rita! Kamu sudah pulang?" Tanya Ney di grup itu. Orangnya memang tidak sabaran padahal sudah tahu jadwal mengajar dan pulangnya Rita jam berapa.


"Sepertinya belum deh dia kan pulang jam 1 atau jam 3, Ney. Ada apa sih?" Tanya Arnila. Mana mungkin Ney tidak tahu jam berapa Rita biasa pulang dan sepertinya ada sesuatu yang membuatnya mendadak memanggil Rita.


"Ya aku penasaran saja masa sih dia tidak mengalami kejadian aneh?" Tanya Ney. Oh! Lagi - lagi tentang kecelakaan itu sepertinya dia berharap banget ya Rita mengalami hal jelek.


"Oh, kecelakaan angkot itu. Kenapa sih kamu berharap banget Rita mengalaminya? Dosa lho kalau kamu ingin dia mengalami hal jelek," kata Arnila mengingatkan.


"Bukan berharap memang itu yang aku lihat," Tetap saja Ney begitu memaksa agar itu terjadi pada Rita. Teman kok aneh?


"Sepertinya Rita tidak percaya soal itu. Sudah deh kamu jangan pernah lagi menyampaikan sesuatu yang kebenarannya itu tidak bisa dipastikan benar," kata Arnila yang lama kelamaan bosan juga Ney terus mempertanyakan hal itu. Bahkan saat Arnila sibuk dengan urusan keluarganya pun, Ney terus merongrong Arnila untuk menanyakannya pada Rita langsung.


"Kan kamu juga pernah mengalami soal aku yang lihat kamu jatuh karena ditabrak?" Tanya Ney yang berbalik arah pada Arnila. Oh apa iya? Wah, Rita harus coba menanyakan kebenarannya nih.


"Iya kamu memang bilang aku akan jatuh ditabrak tapi ternyata aku jatuh karena kepleset batu! Dari situ juga kan harusnya kamu instrospeksi deh," Oalaaaa kepleset batu terus jatuh? Ya Allaaaah Rita pikir ditabrak apa, ternyata cuma batu doang. Nih orang kenapa ya tampaknya bukan hanya pada mereka berdua saja, apa jangan - jangan orang lain juga?


"Tapi kan benar jatuh," kata Ney yang tetap masih saja ingin anggapannya itu benar.

__ADS_1


"Jatuh ya bukan ditabrak. Nanti deh kita kasih tahu Rita kalau sekitaran jam 3an," kata Arnila.


"Ya sudah." Oke percakapan mereka berakhir disitu dan sekarang waktunya baru jam 2 tapi perut Rita sudah bunyi. Rita lalu keluar kamar dan mengintip ibunya masak apa saja. Setelah dilihatnya banyak masakan, Rita ambil dan memakannya di meja makan. Ibunya datang dan melihat Rita yang maka lahap.


"Kamu masih chat sama Ney?" Tanya ibunya.


"Iya gitu deh," jawab Rita sambil makan.


"Hati - hati jangan sampai terulang lagi hal yang tidak benar. Kalau dia bicara, pikirkan dulu,"


"Iya," jawabnya yang super lapar.


"Kamu masih kontak sama orang yang berkenalan sama kamu itu? Namanya siapa?" Ibu bertanya.


"Masih. Namanya Alex," kata Rita yang kemudian minum air.


"Kami ada fotonya? Ibu mau coba..." Rita lalu memotong. Kebiasaannya mulai deh.


"Ibu kan cuma membantu kamu saja,"


"Bantu Rita sama doa saja jangan sampai tahajud-in orangnya. Yang sebelumnya juga gagal eh malah ibu ikut campur, Rita malah dibenci sama orangnya. Sudahlah biasanya juga ibu tidak pernah peduli dengan siapa Rita kenalan," kata Rita kemudian cepat - cepat membereskan piring dan beranjak pergi ke kamarnya.


Ibunya tahu yang sebelumnya salah banget ternyata Rita dan kakak seniornya ingin berteman dulu. Tidak pacaran karena tahu Rita tidak suka. Tapi ibunya meminta fotonya Rita kira untuk apa ternyata di tahajud kan! Sudah begitu waktu kakak seniornya datang main ke rumah, ditanya macam - macam hal menjurus ke pernikahan. Rita ingin sekali kabur sejauh mungkin, masih teringat mimik wajah kakak seniornya yang kemudian menjauh darinya. Setelah itu apapun yang ibunya tanyakan tidak pernah Rita jawab. Kabar soal itu pun terdengar lewat adiknya yaitu Prita. Saat diceritakan pada ibunya, ibunya hanya bilang "bukan jodoh."


Kesaaaaalllll!!! Tapi kata Prita, setelah itu Prita katakan pada ibunya jangan pernah ikut campur lagi karena jadinya Rita dijauhi oleh banyak temannya di sekolah. Baru deh ibunya merasa bersalah dan tidak pernah bertanya meskipun tahu Rita dapat kenalan orang luar. Sekarang? Mulai lagi. Rita tidak mau lagi takutnya Alex juga akan pergi. Beberapa kali seperti itu berakhir pahit! Rita sudah tidak mau lagi. Soal dia jodoh apa bukan, menurut Rita justru kitanya yang harus berusaha bukan orang tua.


Di kamar Rita sudah mengganti baju dinas dengan baju bebas. Lalu Rita membalas, "Aku sudah pulang nih. Ada apa? Mau ngobrolin soal apa? Tolong jangan soal kecelakaan lagi ya sudah lewat," Rita menunggu balasannya sambil memeriksa chat dari Alex tapi tidak ada chat.


"Eh, Ri! Sudah makan? Makan dulu gih biar ada tenaga chatnya," tumben Ney kasih nasehat biasanya langsung gas aja dia.

__ADS_1


"Iya kita tidak usah bicarakan lagi soal Penglihatan atau kecelakaan deh. Rita selamat aman, alhamdulillah!" balas Arnila juga.


"Ini sambil makan cemilan tadi waktu pulang ke rumah sekalian beli katsu plus buat adik dan ibuku juga. Ada apa sih?" Tanya Rita.


"Iya iya aku tidak akan mempersoalkan lagi soal itu. Beralih ke hal lain saja," kata Ney yang akhirnya harus ikut setuju. Rita sudah bilang seperti itu buat apa juga terus memaksa.


"Soal piknik, kita jadikan saja yuk!" Ajak Arnila yang bersemangat. Rita juga senang kebetulan nih bisa jadi penyicip makanan yang akan dia buat nanti.


"Boleh. Begini saja deh, masing - masing dari kalian juga buat cemilan atau makanan. Bagaimana?" Tanya Rita.


"Itu kan ide aku kenapa kamu ambil?" Tanya Ney yang merasa dirinya di plagiatkan oleh Rita.


"Ya aku kan bahas lagi takut lupa. Ide kamu sekalian aku mau usul ide aku juga. Kamu takut aku curi ide kamu?" Tanya Rita, dia kok tidak mengerti ya kalau maksud Rita hanya sebagai pengingat?


"Rita bukan plagiat atau orang yang haus pujian atau ide, Ney. Harusnya kamu tahu Rita seperti apa orangnya, katanya kamu sahabatnya tapi masa yang sepele begitu, kamu tidak tahu? Bukannya kamu yang senang ambil ide orang?" Tanya Arnila membuat Ney marah.


Rita merasa aneh membaca perkataan Arnila. 'Ney plagiat?' Masa sih? "Ya sudah ya sudah. Jadinya mau kapan? Sekalian minggu depan?" Tanya Rita yang akhirnya harus memisahkan pertengkaran Arnila dan Rita.


"Jangan. 2 hari berikutnya saja. Sepertinya ada yang mau dia diskusikan nanti tuh. Makanya tidak mau disatukan dengan rencana piknik," kata Ney.


"Okelah. Mulai sekarang dulu deh, kita buat cemilannya 1 atau 3 macam?" Tanya Rita yang sudah tidak sabar ingin memasak.


"3 cukup!" Kata Ney yang antusias. Rita penasaran akankah Ney benar - benar masak? Karena kebanyakan dia hanya bicara membual saja.


"Iya aku setuju. Kalian juga nanti kan buat, jadi pasti cukup banyak," Rita setuju 3 macam saja dan makanannya pasti berbeda.


"Jangan ada yang sama ya makanannya dan semuanya harus yang jago kita buat. Jangan yang sulit, yang mudah saja," Arnila mengingatkan. Rita dan Ney setuju.


"Baiklah. Nanti kita jadwalkan lagi ya. Ney mau bicarakan sesuatu katanya. Jadi kita bertemu minggu depan ya," kata Arnila. Rita lalu menuliskan jadwal itu di hpnya. Sekali - sekali tidak ada konflik kan enak ya supaya kepala tidak selalu pusing apalagi soal Ney.

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2