ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
443


__ADS_3

"Memangnya Teteh kenal dengan yang satunya lagi?" Tanya Tyas.


"Iya," jawab Rita.


Tyas bengong. "Hah!? Serius? Aneh juga ya. Bagaimana menurut Koko?" Tanyanya.


"Iya, memang aneh pemikirannya tuh seperti benang kusut, Yas. Sekarang, saya sarankan jangan dekati lagi apalagi dia sudah tahu kalau Malaysia ini ada hati sama kamu. Dia menghubungkan orang-orang jelas tujuannya agar dia dikenal," jelas Koko.


"Selama kenal dia pasti ada pengalaman tidak enak kan? Dia itu tidak peduli dengan masalah yang orang miliki. Tyas yakin Teteh tahu kan?" Tanya Tyas. Yah meski Rita tidak peka, tapi soal pertemanan pasti peka.


Rita mengangguk. "Sudah lama tahu kalau dia yang punya masalah, kita dipaksa mengerti dia meskipun aku sedang sibuk kuliah," kata Rita.


"Nah memang begitu dia super egois orangnya. Kalau punya pacar juga tidak ada yang bisa bertahan. Dekat sama dia pasti ada yang hilang entah barang, entah uang," kata Koko merinding.


"Kalau misalkan dia mau ketemu Koko bagaimana?" Tanya Rita.


"Iiiiihhh no no no, Gila ih! Koko sama sekali tidak mau kan kalau ruqyah harus menyentuh supaya tahu masalahnya. Kalau harus sentuh dia no way nanti Koko kena sial. Hiiiiii, coba kalau Teteh bisa lihat auranya. Kotor," kata Koko langsung menolak.


"Ya kan kasihan kali bisa di ruqyah," kata Rita.


"Di ruqyah juga itu mah dari orangnya memang jelek Teh. Kalau misal nih di ruqyah ya berhasil tidak Ko? Ditambah Ua Mori," kata Tyas menatap mereka.


"Ih, amit-amit. Ua juga tidak mau. Auranya kotor Teh, gelap hitam pokoknya siapapun yang dekat dia pasti kena sial. Neng juga nanti lagi jangan sampai Malaysia ini ketemu dia. Kasihan," kata Ua Mori langsung menolak.


Rita berpikir sepertinya Ney memang gawat orangnya sampai Ua Mori yang ilmunya tinggi saja enggan menangani sampai menyentuh.


"Memang auranya warna apa sih?" Tanya Rita karena dia tidak bisa melihat.


Ua Mori dan Koko berpandangan meskipun mereka tidak bertemu dengan orangnya, tapi para khodam mereka langsung berangkat menemui Ney.


"Sebentar Teh," kata Koko.


Di tempat lain khodam Koko dan milik Ua mendatangi Ney yang sedang mengerjakan sesuatu. Dia mencoret-coret sesuatu di kertas. Dan merasa panas sekali, dia curiga dan menyuruh jin nya untuk menghadang.


"Ini pasti perbuatan Rita memangnya dia kuat apa," kata Ney sambil tertawa sendiri.


Pertarungan Khodam melawan setan tentu saja mereka berhasil menginjak setan itu. Salah satu khodam Ua berjaga dan membuat batasan supaya setan-setan kecil tidak ada yang kabur.

__ADS_1


"Bukan. Bukan Rita, dia kan tidak punya khodam. Lalu siapa? UGH! Mereka membuat pelindung," desis Ney marah sekali.


Ney penasaran tapi tidak bisa mencari tahu soal "benang" yang dia berikan pada Rita pun sepertinya putus begitu saja. Kini dia hanya bisa bertanya pada Rita.


"Rita, kamu masih di rumah saudara?" Tanya Ney chat pribadi.


"Iya. Kenapa?" Tanya Rita mendengus.


"Kok aku merasa pengap ya?" Tanya Ney terganggu. Sinyal antenanya sama sekali tidak bisa kemana-mana.


"Mana ku tahu," kata Rita.


"Lu kasih tahu dong ke mereka buat apa sih tahan aku disini? Seperti penjahat saja," kata Ney kesal.


"Lho kan memang supaya kamu tidak cari info lagi. Kamu menunggu ya? Kasihan," balas Rita membuat Ney kesal sekali.


Ney membacanya dan kesal dia mau berbuat apapun tampaknya khodam itu membuatnya sama sekali tidak bisa menggunakan apapun.


"Sudah. Dia memasang sesuatu sama kamu tapi Ua sudah tebas jadi dia tidak akan bisa mencari info lagi. Asalkan Neng tidak bertemu dia lagi," kata Ua menepuk kedua tangannya. Tampak sekali rasa puas.


"Iya, Ua lalu auranya bagaimana sih?" Tanya Rita.


Ney juga menyadari itu dan baginya sangat bahaya apalagi kalau benar Rita menjauh dari dirinya. Kenapa ya dia sampai takut? Toh, kenal Rita bertahun-tahun tidak membuatnya pantas menjadi Sahabat.


"Jelek sekali. Baru kali ini saya melihat warna begitu. Sejelek-jeleknya orang pasti ada kelebihan yang membuat auranya sedikit ada warna putih. Dia sih tidak ada, beda dengan aura Teteh atau Tyas atau yang lainnya. Seperti abu-abu tapi lebih ke hitam pekat gelap," kata Koko tidak mengerti.


Rita dan Tyas agak heran kenapa bisa sehitam itu?


"Auranya hitaaaam sekali tidak ada warna lain. Aura hitam identik dengan yang jelek kalau dicari sisi baiknya juga tidak ada sih. Makanya aneh menurut Koko. Dari lama dia sudah punya rasa iri dan dengki kepada semua orang," jelas Ua Mori melihat masa lalunya Ney.


"Orang tuanya yang salah. Mereka kok bisa ya berbuat begitu?" Tanya Koko menggelengkan kepalanya.


"Yah, dulu kan soal dukun memang paling nomor satu. Neng tidak perlu tahu deh ada apa, sekarang anaknya begitu karena memang salah didikan juga. Apa Teteh tahu dia punya penyakit yang sering dialami orang tua sejak kecil?" Tanya Ua menatap Rita.


Rita menggelengkan kepalanya. "Dia tidak pernah memberitahukan aku apapun selain masalah dia dengan pacar-pacarnya. Perempuan murahan kan," kata Rita dengan jutek.


"Iya. Dia kalau punya pacar juga hmmm... suka... minta begituan," kata Koko agak geuleuh.

__ADS_1


"HAH!?" Teriak Tyas dan Rita bersamaan.


Koko mengangguk. "Makanya tidak cocok sama Teh Rita yang lebih suka cari ilmu agama. Pokoknya mah jauh-jauh deh Teh. Parah orangnya. Dia punya kepribadian ganda dan yang asli atau palsu ya mereka jelek," kata Koko.


"Aku punya kepribadian ganda?" Tanya Rita.


Mereka semua bengong menatap Rita. "Dia bilang begitu ke sama kamu? Astagfirullah, budak gelo ( Anak gila )," kata Koko keceplosan.


"Ya Allah Teh kalau teman sejati mah untuk apa berkata jahat seperti itu? Kalau memang menurut dia Teteh susah orangnya, ya tinggal saja. Perlu ditonjok dia tuh," kara Tyas geram sekali.


"Nanti juga kamu ketemu sama dia, Tyas nanti dia akan menghancurkan kamu karena paling dekat dengan Rita," kata ibunya Ryan.


"HAH!?" Teriak Tyas dan Rita bersamaan lagi.


"Dia sakit apa sih, Ko?" Tanya Rita itu nanti saja dibahas.


Tyas sudah tentu kalau benar bisa bertemu, akan membuat perhitungan.Toh Ney kini merasa merinding tidak tentu dan merasakan bahaya juga dari seseorang.


"Pastinya mau tahu sih. Sakitnya itu yang menjadi penyebab semua usahanya untuk membuat teman pasti hancur karena pikirannya error," kata Koko dengan bahasa agak kasar karena sangat geram dengan perilakunya.


Yang Koko lihat mengenai Rita memang benar anak baik. Dia tahu jeleknya Ney bagaimana dia berusaha menutupinya tapi memang teman sialan malah membuatnya terluka.


"Kalau kata Tyas sih orang ini tuh lebih banyak energi negatif daripada yang positif. Teteh aku yakin kalau sama dia selalu kelelahan kan? Benar tidak, Ko?" Tanya Tyas.


Koko mengiyakan. "Karena dia menyerap energi positif Teteh nah timbal baliknya itu dia akan memasukkan energi negatif ke Teteh. Tapi yang saya lihat sih semuanya malah terpantul. Kok bisa ya?" Tanya Koko menatap Rita.


Ua Mori tertawa. Tentu saja dia tahu, Ua melihat sesuatu yang besar berputar di belakang Rita. "Benda" itulah yang bertugas melemparkan energi negatif.


"Teteh kalau simpatinya nol seperti Tyas bagus sekali. Semua musuh mental semua, kalian berdua saling membutuhkan. Tyas nol simpati, sedangkan Teh Rita kelebihan simpati hampir 300% aduh-aduh. Coba dikurangi ya Teh nanti banyak yang memanfaatkan termasuk yang Toxic," kata Ua memberikan saran.


Rita dan Tyas saling berpandangan dan tertawa.


"Kalian berdua itu aneh kebalik. Kalau jadi teman bukan saudara, Tyas cocok sekali. Dia tidak nyablak asal, bicara sesuai yang dia lihat bukan ngadi-ngadi," kata Koko tertawa.


"Kok bisa ya?" Tanya Tyas garuk pipinya.


"Teteh harus seperti Tyas, saya yakin Teteh bisa menduplikasi sifatnya. Nah Tyas, harus punya simpati seperti Teteh jadi kalau bicara atau berkelakuan ada rasa di hatinya. Tidak lurus," kata Koko tersenyum.

__ADS_1


"Iya. Kalau kalian bukan saudara jadi sahabat cocok sekali. Kalau Rita lelaki, bisa jadi jodoh. Cocok sekali!" Kata Ua tertawa. Sayangnya mereka bersaudara.


Bersambung ...


__ADS_2