
Prita memang sangat tidak menyukai Ney sejak awal kakaknya berkenalan dengannya. Adiknya selalu merasa aneh pada kakaknya kenapa bisa mau berteman dengan Ney yang kepribadiannya jelek. Tapi akhirnya mengerti karena kakaknya pernah mengalami tidak punya teman sewaktu sekolah SD. Saat kenal dengan Ney, kakaknya melihat Ney selalu sendiri mungkin dari sanalah, Rita beranggapan sama dengannya. Tapi tentunya Ney adalah sosok teman yang berbeda menurut pandangan Prita.
Daripada Ney, Prita lebih senang teman - teman kakaknya yang ada di kampus. Mereka dari awal berkenalan sangat sopan apalagi lebih dewasa. Terutama Komariah dan Diana yang selalu siap memberikan saran bila kakaknya galau atau sedang bersedih, apalagi saat kakaknya sakit, mereka berdua selalu menjenguk ke rumah. Hal sepele itu saja yang membuat keluarganya yakin kalau mereka berdua teman dekat kakaknya yang terbaik. Ney datang kalau tahu kakaknya punya banyak uang lalu mengajaknya main. Ney tidak bisa berbaur atau mengobrol dengan kedua orangtuanya mungkin itu yang membedakan orang yang tahu pendidikan dasar dengan yang tidak.
Bukannya menilai seseorang dari kulit dan penampilan tapi perempuan manapun mau dari feminim sampai tomboi tetap saja perawatan tubuh itu penting. Tidak dengan Ney yang sekarang saja bercak noda bekas cacar air nampak mengerubungi seluruh bagian tubuhnya. Merinding melihatnya! Dan juga banyak bocelan luka gatal yang berdarah dan merasa heran ada juga perempuan seperti dia? Dia sama sekali tidak merasa malu terhadap pandangan orang, sampai kuku jarinya memendek akibat terlalu sering digigit paksa.
Ya soal kebiasaannya pun Prita tahu semua makanya tidak cocok banget kalau disejajarkan dengan kakaknya. Tapi kalau dengan Arnila, Prita suka tapi yah kembali lagi lebih bagusnya dengan teman kampusnya. Lalu kedua matanya Ney yang tampak terkesan aneh banget membuat Prita selalu merasa ada perasaan tidak enak setiap kali berada di dekatnya. Yah, Prita juga memiliki kemampuan Sixth Sense sepertinya. đŸ˜‚Prita semakin fix tidak menyukainya saat tahu kakaknya dia bilang memiliki kepribadian ganda, yang membuat kakaknya meyakini dia memilikinya. ****! Kalau kata Prita yang Rita dengar saat itu.
"Teman kamu tuh **** banget orangnya. Sudah dibilang seperti itu kamu masih mau jadi temannya? Dia itu gila!" Kata Prita dengan marah.
"Ibu sakit hati banget sama itu anak berani banget bilang begitu sama kamu yang selalu membela dia! Kalau dia nanti ke sini lagi, ibu hajar dia. Kurang asem ka anak aing!" Kata ibu juga yang meledak.
"Nih ya bandingkan dengan teman - teman Rita yang dari kuliah sampai sekarang kerja, apa ada yang bilang Rita punya kepribadian ganda? Egois? Orang yang bilang seperti itu dari awal juga punya niat jelek, Ri! Dimana si Ney kampret tuh sewaktu Rita sakit? Ada jenguk? Yang datang siapa? Komariah dan Diana kan? Mana dia apa katanya Sahabat? Prita mah tidak ikhlas ya kakak sendiri dibilang begitu. Kampret memang, awas saja kalau bertemu!" Kata adiknya lagi sambil menangis.
Itulah. Akhirnya datang juga kesempatan kalau bisa sih pengennya Prita nimpukkin tuh orang! Tapi cukup dengan membawa Anne sebagai lawan sampai membuat Ney terdiam. Dan memang kelihatan jelas tidak tahu malunya!
"Teh Ney kok tidak punya rasa malu ya setelah berbuat begitu sama kakak saya, sekarang terus merongrong sampai teteh ambil minuman kakak saya. Jangan dekati kakak saya lagi deh kalau masih punya niat buat nyakitin dia!" Kata Prita langsung di depan mukanya. Ney hanya memandangi adiknya dengan salah tingkah. Lalu pura - pura memeriksa ponselnya.
Lalu Prita menchat kedua temannya untuk berkumpul dan benar saja mereka datang.
"Pri, antar yuk ke apotek. Buat beli obat bisul. Disini tidak ada, mungkin apotek diluar ada," tunjuk Anne.
"Yuk deh, aku juga sudah bosan disini!" Kata Prita yang kemudian beranjak pergi.
"Eh, tunggu cokelatnya mana!" Kata Ney yang tidak memperdulikan omongan Prita.
"Cuih!" Kata Prita lalu pergi meninggalkan Ney dengan tatapan geuleuh!! Mereka bertiga lalu pergi menjauhi Ney dengan tatapannya yang kesal juga lagi - lagi mengeluarkan air mata yang tidak sesuai. Kebiasaan sekali! Bukan karena sedih tapi karena keinginannya tidak terpenuhi.
Lalu keluarlah Rita dan Arnila sambil mengobrol. Melihat adiknya sudah tidak ada, dan melihat dari kejauhan Rita ngambek. "Sudah makan langsung pergi, dasar Pritot!" Katanya berkacak pinggang.
"Datang hanya ikut makan saja ya!" Kata Arnila tertawa. Tapi dia juga melihat Ney yang terdiam dengan wajah yang memerah. Pasti ada kejadian nih tadi sewaktu mereka berdua di toilet. Hanya Rita tidak menyadarinya.
"Kenapa wajah kamu seperti tomat," kata Rita heran.
Mungkin.
"Tidak apa - apa habis debat saja sama adik kamu," kata Ney dengan suara pelan.
"Pasti kalah," tebak Rita tertawa keras.
__ADS_1
"Yang namanya Anne nusuk banget ya kalimatnya. Sepertinya jago debat," kata Arnila dengan nada menyindir.
"Iya. Dia jago debat kalau berantem sama orang memang begitu tapi sesuai kenyataan sih bukan yang berkhayal gitu," kata Rita menjelaskan.
"Pernah bertengkar sama adik kamu?" Tanya Arnila.
"Jarang. Kalau berantem juga ya bodor pakai Sunda kasar tea. Pernah sih berantem di rumah akhirnya daripada dengerin mereka berantem, aku masak saja sama Karla," kata Rita cengengesan.
"Mereka sahabatnya ya. Sejak kapan?" Tanya Arnila lagi sambil berjalan.
"Sejak SMP. Mereka bertemu sudah bodor juga, ketemu di tim lawan pula. Saking bodornya langsung nempel saja mereka berdua sama Prita. Karla di tim lawan, Anne ternyata penyoraknya, Prita di tim lawan Karla," kata Rita.
"WOW! Dari SMP ya sama dong seperti kamu," kata Arnila yang mengedipkan kedua matanya ke Rita.
Mereka melihat Ney yang merasa senang karena dipikirnya Rita membicarakan soal dirinya. Arnila dan Rita cekikikan melihatnya.
"Iya, masa - masa SMP bersama kelima sahabatku The Best banget! Bahkan sampai sekarang juga masih terhubung, Nil. Seperti kamu sama Ney juga kan," kata Rita sambil menjulurkan lidahnya sedikit.
Arnila membalas Rita dengan tatapan yang nyeleneh karena menyesal sudah kenal lama dan agak bolong juga, hasilnya tidak sesuai harapan.
"Jadi aku tidak termasuk teman dekat kamu?" Tanya Ney yang langsung menerobos antara mereka.
Ney seharian super kesal sekali karena:
Tidak bisa meminta cokelat lagi,
Disindir pedas teruuuuusss,
Bertemu lawan kuat temannya Prita,
Prita yang tidak menyukai dirinya sejak awal, dan
Rita mulai bisa menjebaknya dalam banyak hal.
Di sisi lain saat Prita sudah berjauhan dengan tim lawan tadi, mereka mulai membicarakan sesuatu.
__ADS_1
"Itu yakin temannya teteh kamu?" Tanya Karla yang tidak yakin.
"Iya. Yang waktu itu aku pernah ceritakan sama kalian," kata Prita memberi kode dengan matanya.
"Ih, pantas kamu tidak suka. Teteh maneh naha masih daek main jeung nu eta? Geus mah teu sopan menta cokelat deui?" Tanya Anne yang kaget.
"Matakna urang tadi chat pan, embung teuing lama - lama ngobrol sama itu orang! Ai tadi kenapa kamu pindah posisi?" Tanya Prita.
"Aku mencium aroma yang tidak enak!" Kata Karla.
Mereka semua lalu tertawa keras. "Bau apa? Bau badan?" Tanya Prita sambil masih tertawa.
"Bau badan iya, bau mulut iya, ada bau yang lain deh. Bukan bau haid sih tapi bau amis siga lauk nu busuk! Terus teu nyaman weh duduk dekat - dekat," kata Karla yang disambut derai tawa mereka lagi.
"Makanya aku tidak mau duduk situ. Kamu kan belum pernah," kata Anne sambil jongkok tertawa.
"Da aku juga gimana ya. Ada rasa - rasa aneh gitu kalau selintas ya lewat komo tadi si eta sampai menghampiri ngobrol. Ugh! Bau mulut iya sih ingin muntah! Bermasalah banget sama karang giginya, kakak aku saja tidak separah itu," kata Prita heran.
"Anehnya seperti tidak punya rasa malu ya sudah memperlakukan kakak kamu seperti itu," kata Karla keanehan.
"Ada masalah di otak sama Hati itu mah. Normalnya seperti kebanyakan orang kalau sudah memperlakukan orang dengan jahat, boro - boro dah mau jalan bareng lagi kan. Kalau iya, pasti dia kebanyakan nunduk malu atau jarang bicara atau apa gitulah! Dia mah beda, Pri. Memang lebih baik kakak kamu jauh - jauh deh," Kata Anne sambil memperhatikan Ney dari jauh.
"Aku sudah bilang susah! Kakakku orangnya tidak peka harus mengalami langsung sampai luka dulu baru bisa pergi jauh. Sekarang sepertinya mulai ada renggangan antara mereka," kata Prita yang berdiri membersihkan tanah dari bajunya.
"Mau kita yang bilang?" Tawar Anne.
"Jangan deh. Nanti juga pasti ditinggal. Aku yakin!" Kata Prita menolak. Soal teman - temannya memang lebih baik kakaknya yang memutuskan.
"Tadi lihat kan seperti apa kesannya dia waktu ngobrol sama kita? Sombong banget! Waktu kasih pendapat saja, seperti punya dia tuh lebih berbobot," kata Anne kesal banget.
"Hahaha makanya kamu langsung ngajak nantang kan. Kalau satunya lagi sih aku suka, dia bisa berbaur dengan topik yang kita buat," kata Karla mencari - cari lagi.
"Tapi kalau sudah lama dengan si Teh Ney sih biasanya sifatnya sama saja lho. Jadi kalau cari teman itu harus dilihat dulu lebih bagus kita memperlihatkan kita ada masalah atau saat sedih, kira - kira dia ada tidak. Sepertinya dulu pas saja kali ya waktunya?" Tanya Anne pada Prita.
"Dia memang suka berantem juga dengan kakakku, waktu SMP kan kelima temannya dibuat jadi lawan sama dia. Tapi yah, mereka lebih pintar sih mana mungkin Teh Rita seperti itu ya ketahuan ternyata memang akal bulusnya dia," kata Prita sebal.
"Teteh kamu tahu soal dia seperti apa?" Tanya Anne.
"Tahu banget. Soal jeleknya juga tahu mending sih kalau orangnya lebih cantik dari kakakku tapi ini kan malah dibawah. Dia sendiri yang tidak tahu kakakku seperti apa, sok banget ngatain dia Sahabat. Ngakak aku!" Kata Prita tertawa terkekeh - kekeh.
__ADS_1
BERSAMBUNG ...