
"Begitulah," kata Diana yang merasa lelah mendengar Ney berbicara sesuatu yang tidak mengenakkan.
"Rita, aku ingin jalan sama Diana!" Kata Ney yang berusaha memisahkan mereka.
Diana mendengarnya jutek banget. "Aku ingin jalan bareng sama Rita dan Komariah!"
Rita menghela nafas ini si Ney seperti anak kecil banget sih? "Ya sudah kita jalan bareng saja!" Sudah kesal juga Rita nih memang kalau ada Ney tidak bisa tenang. Entah kenapa adaaa saja yang Ney perbuat. Seperti anak kecil yang ingin sekali dapat perhatian lebih!
Ney juga kesal ternyata Diana tidak mau berjalan berbarengan dengannya, iyalah mana ada yang tidak kesal kalau bicara dengan Ney, itu selalu soal barang mewah. Memang diantara semuanya Diana sangat menyukai barang mewah tapi tidak membuatnya menjadi pamer. Dia memang berasal dari keluarga level tinggi tapi dia senang berbaur dengan orang - orang dibawahnya apalagi dia sangat jago masak. Ney merasa aneh kenapa semuanya tidak ada yang membicarakan soal barang yang dimiliki oleh Diana, padahal terlihat jelas kalau mereka juga tidak setara dengannya.
Tapi jelas juga kalau hanya Diana dan Komariah yang terlihat lebih dekat dengan Rita. Kok bisa? Padahal Rita biasa saja, orangnya juga sangat menyebalkan ( ini menurut pandangan Ney ). Dengan badan tinggi semampai, pastinya Rita sering sekali pamer temannya yang tajir. Padahal dia yang lebih lama berkawan dengan Rita tapi kenapa orang - orang yang baru setahun berkenalan dengan Rita, lebih akrab dengannya? Itu semua hal yang menurut Ney tidak masuk diakal, dalam pikirannya pasti karena Rita senang memamerkan sesuatu. Ataukah mereka disuap?
Karena kesal, Ney menarik tas Diana begitu saja. Diana sudah ingin marah tapi ditahannya, dilepaskan sebentar tangannya dari Rita lalu menghadapi Ney yang cemberut.
"Rese banget sih si Ney, baru kenal dia kira sudah bisa dianggap teman?" Tanya Komariah pada Rita.
"Dia kepedean orangnya. Kita boleh pede asal jangan terlalu over, jadinya seperti itu. Kita tunggu Diana saja," kata Rita. Sebagian temannya sudah beranjak pergi menuju eskalator ke bawah.
"Apaan sih!?" Ketus Diana pada Ney kok beraninya banget ya sama orang lain hanya baru sekali kenal. Ampyuuun!
"Kamu kok begitu sih? Kenapa tidak mau jalan sama aku? Tadi kamu sudah bela aku dari gunjingannya Rita dan kawan - kawan dia, sekarang kamu seperti tidak kenal aku," kata Ney dengan nada manja pada Diana.
Diana yang mendengarnya ingin sekali muntah. "Aduh, kamu salah paham ya bukan maksud membela tapi tidak terdengar enak kalau mereka berkata seperti itu terutama kamu ya baru kenal merasa sudah dekat? Coba deh pikir baru kenal kamu sudah menggunjingkan soal Rita. Maksud kamu apa?" Tanya Diana dengan kesal.
Ney memainkan ponselnya. "Ya aku ingin jadi teman kamu,"
"Terus apa hubungannya kamu menjelekkan Rita?" Tanya Diana merasa aneh. Ingin jadi temannya tapi tidak mau Rita jadi temannya?
"Ya aku tidak mau kamu terlalu dekat sama Rita. Dia itu tidak setara dengan kita berdua, kamu akan malu lho kalau terlalu nempel sama dia," kata Ney memandangi Diana dengan kedua mata yang memelas.
"Jadi kalau berteman dengan kamu aku akan nyaman?" Tanya Diana yang mengukur kadar keegoisannya Ney.
"Iya dong. Keluarga aku juga kaya banget, kita bisa pergi kemanapun berdua saja. Kami pergi sama Rita pasti hanya ke warung murah saja kan kalau makan, kalau sama aku kita bisa pergi ke restoran yang mewah. Serius!" Kata Ney menggembor - gemborkan kemampuannya padahal selama ini siapapun yang dekat dengannya akan mengalami kesialan. Dan kesialan yang terjadi pada Diana adalah ditempeli Ney bukan Jin.
"Oh... kamu rajin sholat lima waktu?" Tanya Diana yang langsung menyerang Ney.
__ADS_1
Ney gelagapan mendengarnya. "Ya iyalah! Aku sholat, itu kan hal yang paling utama sebagai seorang muslim,"
"Kalau begitu kamu hafal juga dong apa yang paling utama diketahui oleh seorang muslim?" Tanya Diana lagi. Bukan dirinya juga sih yang kenal sama orang harus menyebutkan apa yang kita sebagai muslim ketahui, tapi dia hanya ingin tahu apa Ney benar - benar bisa dipercaya atau tidak. Apalagi dari info soal surat pendek saja lebih sok tahu ternyata hanya omong kosong.
"Maksudnya bagaimana?" Tanya Ney yang tidak mengerti. Ada yang lain selain sholat? Ney kebingungan mendengarnya. Karena lama Komariah dan Diana menyusul setelah mengirimkan pesan kepada Linda dan kawan - kawan untuk duluan saja dan memesankan meja.
"Masa kamu tidak tahu? Maksudku sebutkan Rukun Iman memang sholat adalah yang paling utama tapi disamping sholat ada yang lainnya. Coba kamu sebutkan apa saja," kata Diana menantang Ney dengan posisi berdiri yang agak jutek.
"Oh, yang itu.... hmmm... sebentar aku pikir dulu," kata Ney yang sama sekali memang tidak tahu tapi dulu pernah diajarkan apalagi ibunya juga sering memberi tahu.
"Rukun Islam ada 5 coba sebutkan apa saja kalau kamu benar - benar mengerti sebagai seorang Muslim," kata Diana lagi, dia nyengir memandang Ney yang memijat dahinya, pura - pura berpikir padahal memang tidak tahu.
"Sebentar sebentar," katanya sambil mengetik pada ponselnya.
"Hahaha pasti cari ke ponsel ya. Dari situ saja soal agama kamu minus ya, bagaimana bisa kamu membuat aku nyaman? Entah apa yang ada dalam pikiran kamu ya soal Rita tapi aku nyaman dengan Rita karena dia tidak pernah palsu," kata Diana yang akhirnya meninggalkan Ney sendirian di tengah aula.
Kemudian mereka berdua bertemu Diana yang berjalan sendirian sambil berwajah menang. "Yuk!" Kata Diana sambil tersenyum ke arah dua sahabatnya. Mereka tidak melihat keberadaan Ney tapi tidak bertanya juga, pastinya kalah. Diana lalu menceritakan semuanya dan mereka tertawa.
"Aku saja ingat soal iman kepada Allah itu, kalau rukun Islam masih ada yang salah urutan," kata Rita sambil memegang dahinya.
"Siapa juga yang tidak kesal dibilang begitu apalagi dia sampai tidak ada malunya bilang Rita ini itu! Aku yang dengarnya marah total! Enak saja dia bilang begitu seenaknya soal kalian, mana dibilang kalian tidak setara!" Kata Diana yang esmosi banget sedari tadi.
"Mudah - mudahan kali ini dia pulang deh! Lihat orangnya saja sudah malas! Terlihat banget ya niat jahatnya, jelekkin kamu, rebut Diana. Kalau ada Ratih habis dia," kata Komariah.
"Hahahaha dia sangat percaya diri dikiranya kamu akan percaya sama dia. Aku juga heran bagus sih soal percaya dirinya tapi malah menjadi dia keterlaluan ya. Terus tadinya dia melakukan itu karena cemburu aku dekat kalian tapi nampaknya bukan," kata Rita.
"Dia memang iri, Rita tapi bukan iri karena kamu dekat kita. Tapi iri karena aku yang menurut dia superior mau jadi teman kalian apalagi dia juga aneh kok bisa kita jadi Sahabat? Yang aku tangkap sih begitu. Parah banget! Aku tidak mau ah, Rita kalau dia sampai mengikuti aku lagi!" Kata Diana yang mengomel - ngomel.
"Habis, kamu juga kan yang penasaran sama dia. Tidak perlu ingin tahu juga dia pasti mendekati kamu karena di antara kita semua kan tas kamu paling bermerk," kata Rita yang tertawa.
Tiba - tiba ....
"Diana! Aku sudah hafal!" Teriak Ney. Sontak Diana mendorong mereka berdua berlarian. Untungnya Ney tidak melihat mereka yang sedang berlari.
Sesampainya dia lantai bawah, Linda dan tim sudah menempati kursi ternyata mereka sengaja memilih tempat yang berhadapan langsung dengan dinding. Mengunci Diana agar memojok karena mereka tahu banget kalau Diana sudah malas berhadapan dengan Ney.
__ADS_1
Melihat mereka bertiga yang gaduh berlarian, Linda dan yang lain keheranan ada apa. Setelah Komariah cerita, dengan ngakak mereka mempersilakan Diana duduk paling pojok lalu setelahnya Rita kemudian Tamada lalu Komariah. Tentu saja mereka juga sudah mengantisipasi tempat duduk dekat Siti lagi paling pojok yang berlawanan dengan Diana dan Rita. Sambil tertawa mereka semua melihat Diana yang sudah kelelahan.
"Tidak apa - apa deh, aku depannya si Ney itu kasihan Diana kelelahan banget dikejar terus," kata Komariah.
Rita juga agak pojok dan belakangnya dinding jadi Ney tidak akan macam - macam apalagi sampai curi kesempatan buat makanannya Rita. Ney lalu sampai juga dengan kelelahan, dikiranya Diana masih ada ternyata sudah sampai duluan di kedai ramen. Apalagi mereka sudah duduk juga disana.
"Lho? Aku duduk dimana? Semuanya penuh. Aku maunya dekat sama Di..." Kata Ney yang melihat Diana tidak peduli dan dia duduk di pojok.
"Sudah! Nih masih ada sengaja kok kita atur karena kamu dari tadi nempelin Diana padahal dianya juga gerah sama kamu! Dekat Teh Siti lagi saja ya supaya yang lainnya seimbang," kata Tamada.
Mau tidak mau, Ney akhirnya duduk dekat Siti lagi. Dia manyun ke arah Rita dan Diana. Komariah cuek dengan Ney di depannya. Sebagian tertawa. Mereka kemudian memesan ramen tentunya berbeda menu, kalau Rita pastinya Ramen Katsu.
"Woh! Kesukaannya Rita nih!" Teriak Komariah sambil menunjukkan menu itu.
Ney lalu melihat menu itu dan dia memandangi Rita, pastinya dia memesan dan memang benar. Rita memesan itu, penampakkan Katsunya sepertinya besar dan lebih krispi.
"Eh, Rita aku mau dong duduk dekat kamu," kata Ney.
"Tidak mau." Jawab Rita dengan kesal. Sudah dijelekkan lalu mau untungnya supaya bisa ambil makanannya? Enak saja!
"Tidak tahu malu banget ya sudah terang - terangan hina kamu eh pas kamu pesan makanan dia ingin dekat kamu. Nanti pulang dari sini lebih baik jangan kontak lagi deh!" Kata Komariah yang sengaja bilang begitu di depan Ney.
Ney memandang sengit Komariah, tapi Komariah cuek saja. "Apa sih urusan kamu!? Ikut campur saja,"
"Urusan aku. Mereka teman - teman aku, siapa yang suka dengar teman sendiri dihina sama orang yang menganggap teman tapi musuh dibelakangnya. Kalau kamu tidak suka pulang saja, tidak ada kamu juga tidak ada yang sedih." Kata Annisa yang tampaknya sudah tidak bisa bertahan lagi.
"Sabar, Cha sudah deh jangan ditanggepin. orangnya seperti badak, susah kalau dinasehati. Kita tidak usah meladeninya lagi saja!" Kata Linda menenangkan Annisa.
"Rita, kalau nanti ada seperti ini lagi, jangan pernah deh kamu ajak tuh orang! Bikin darah naik mulu!" Kata Annisa yang kesal.
"Iya. Aku saja hanya basa basi eh beneran dia datang. Orang lain kan pasti sudah on hafal gitu kalau ini kegiatan kuliah mana ada yang mau gabung. Mending kalau omongannya baik ternyata... menyesal aku juga jadinya basa basi sama dia," kata Rita menggelengkan kepala.
"Tidak peka sama sekali ya sama situasi sekitar. Pekanya hanya sekitaran lelaki doang!" Kata Annisa yang mampu menebak.
Ney hanya diam mendengar itu semua. Ternyata benar apa kata Arnila kalau Rita hanya berbasa-basi saja. Dia sama sekali lebih percaya pada intuisinya yang tentunya salah selama ini. Harusnya saat itu dia lebih mengedepankan nasihat orang yang ada di dekatnya bukan mengedepankan keegoisannya. Jadinya semuanya berantakan. Malu juga dia dapat berkali - kali pula apalagi Diana sudah enggan dekat dengannya, seharusnya dia tahu kalau Diana tidak mungkin bisa dipisahkan dari Rita.
__ADS_1
BERSAMBUNG...