
Hai hai apa kabar para pembaca setia Rita dan Alex 🙂🙂.
Ketemu lagi nih kita di Eternal Enemy tapi ini sekilas info saya ya menuju perkiraan Season 2 yang maaf masih tertunda.
Jadi kali ini aku mau mengisahkan tentang mereka berdua yang masih terpantau jarak dan waktu yang berbeda.
Kisah mereka masih menjadi komedi yang menarik untuk ditelusuri. Kenapa sih?
Karena lagi-lagi mereka harus menerima nasib, Long Distance Relationship! Meski sudah bertemu secara beberapa hari di Malaysia, dan tentu saja mereka masih bertengkar. Saat lembaran ini di buka pun, keduanya masih aktif berantem.
Ada juga acar pemblokiran akun! Kok bisa? Penasaran?
Kadang Alex kumat tingkah kuda lumping nya dalam chat yang membuat Rita keki dan akhirnya memblokir Alex, untuk menjaga kewarasannya.
Alex pun dibuat keki dan kesal saat Rita tingkah reognya kumat ketika menceritakan persoalan keluarga dan selalu bersitegang dengan kakaknya.
Alex blokir Rita? Tentu tidak karena dia sayang Rita dan tidak tega memblokir. Berharap Rita menyadari tapi sayang, yang dia tahu Rita sama sekali tidak peka.
Lagi-lagi Alex harus menerima nasibnya terkena blokir akun oleh Rita. 🤣🤣🤣 Karena Alex justru memperpanas keadaan dan terus mengomel.
Di sisi lain reognya Rita kambuh karena dia merindukan Alex tapi apa boleh buat, Malaysia jauh sekaleeee dan kepseknya tidak mengijinkan untuk cuti.
Alex kemudian stres kenapa selalu dia yang terus kena blokir? Kekonyolan dia jelas terbukti membuat Rita banyak tertawa.
Sampai akhirnya Alex membuat Rita menangis lagi dan ... akan ada surat terbuka dari Ney yang tersadar kalau dia merasa bersalah ( Benarkah? ). Siasat ataukah ketulusan?
Kita mulai!!!
...SURAT PERMOHONAN MAAF NEY...
Akhirnya kembali ke masa dimana Ney sama sekali tidak bisa menghubungi Rita. Dia kalang kabut, panik dan gundah gelisah. Setelah kepulangannya dari Malaysia itu, sudah tentu dia dimarahi habis-habisan oleh suaminya. Bahkan, surat cerai sudah tampak di depan wajahnya yang membuatnya memohon maaf.
"Ingat ya Ney, sekai lagi kamu melanggar aturan saya. Saya akan ajukan surat ini tanpa persetujuan kamu!!" Teriak Dins yang sudah stres menghadapi istrinya itu.
__ADS_1
Sejak hari itu pun, dia tidak bisa keluar seenaknya dan mertuanya ternyata pindah ke komplek yang sama hanya berbeda 6 blok rumah. Ney terlihat menggigiti jempolnya dengan gelisah, terlihat kuku dari kesepuluh jari-jarinya memendek tidak wajar.
Ney kini sudah memiliki anak meski dalam prosesnya sangat penuh penderitaan. Baginya. Mulai dari mertuanya yang tidak percaya Ney bisa merawat. Mereka berusaha mengambil anaknya karena dipercaya Ney akan menelantarkannya.
Dins tentu tidak setuju dan meyakinkan mereka mungkin dengan diberikan anak, Ney bisa tobat. Karena masih cemas akhirnya Dins membeli rumah yang satu kompleks dengannya.
Ney tidak bisa protes, dia tahu kesalahannya sudah sangat banyak dan bila dia protes lagi kemungkinan surat cerai melayang.
Tepat dugaan mereka terkadang Ney lupa memberikan susu asi untuk bayinya atau enggan karena sakit. Berkali-kali juga kena marah suami sendiri karena sama sekali tidak berusaha untuk anaknya.
Terpikirkan ingin bunuh diri namun yang didapat kemarahan parah oleh kedua orang tuanya. Para tetangga pula sering mendengar rintihan bayinya yang sangat miris sehingga mereka berdatangan.
"Aduuh kalau dirasa tidak bisa rawat anak, kenapa dibuat? Menyusahkan kami saja disini," kata satu tetangga yang cerewet menggendong bayinya.
Ney hanya bisa terdiam menahan kesal dan marahnya mendengar tetangga membicarakannya. Dia berusaha tapi pikirannya kadang memikirkan Rita yang memang sama sekali tidak memikirkan Ney.
Mertua, kedua orang tuanya dan para tetangga melihat kondisi rumahnya sambil menggelengkan kepala. Ney sama sekali tidak bisa menenangkan anaknya yang menangis. Dia memompa asi tapi anaknya menolak dan terpaksa di susu kan.
"Nah begitu dong. Kamu ini aneh ya tidak menyusukan anak karena alasan sakit digigit. Itulah perjuangan seorang ibu sesungguhnya, orang lain ingin bisa menyusukan, kamu malah menolak. Orang aneh!" Ketus Ibu lain yang membantu.
Anaknya menangis keras dan enggan menyusu lagi, kebetulan mertuanya datang dan mengambilnya. Bayi itu terdiam sesenggukan menatap sang nenek.
"Cup cup anak nenek. Yuk, kita ke rumah nenek saja ya. Ibu kamu tidak bisa apa-apa hanya bisa mengeluh. Ney, ibu ambil perasan susu kamu tampaknya anak kamu ini juga enggan menyusu lagi," kata ibu mertuanya mengambil 5 botol asi dan pergi.
"SIAL!" Teriak Ney membatin tapi dia lega karena rumah kini sepi. Ney juga sering dibicarakan oleh para tetangga dan ibu muda lain karena tidak telaten mengurus rumah.
Ney sama sekali tidak perduli keadaan rumahnya memang berantakan, dia bereskan semampunya. Orang tuanya kemudian mempekerjakan seorang pembantu sekitar usia 40 tahun yang sangat luwes dan bergerak cepat.
Ney lega kini dia bisa santai dan terus memompa sambil sesekali melirik ponselnya mencari sesuatu. Dia menyadari bahwa semua media sosialnya, email bahkan nomor telepon Rita sudah tidak ada. Arnila juga entah menghilang kemana selama 2 tahun ini.
Bulan sekarang akhirnya Ney bisa menghubungi Arnila. Dan dengan perasaan gembira namun juga kesal, dia meneleponnya. Dia sangat stres sekali kadang berpikir apa lagi kesalahan dia pada Rita.
Arnila menghembuskan nafas dan mengucapkan Bismillah.
__ADS_1
"Kamu kemana saja sih? Kok aku sama sekali tidak bisa telepon kamu," kata Ney dengan suara sebal.
Arnila menjawab dengan biasa tanpa emosi. "Aku kan sudah menikah ya urusanku juga banyak sudah bukan jamannya urusi kamu," jawabnya sambil duduk santai.
"Oh... aku kira kamu sengaja menghindari aku," kata Ney dalam telepon.
Arnila menghela nafas. "Ya itu memang salah satunya kalau kamu merasa begitu mau apa lagi hubungi aku segala?"
Ney kaget ternyata memang menghindari dia. Dia agak kecewa dan tidak menyangka. "Kok begitu sih kamu? Salah aku apa sama kamu? Oh iya kamu tahu nomor ponsel Rita yang baru? Aku hubungi dia sama sekali tidak bisa. Pacebuk, email semuanya lost!"
"Oh," jawab Arnila datar.
"Dia itu kenapa sih? Memangnya aku salah apa sama dia?" Tanya Ney dengan lagak tak berdosa.
Arnila sudah tentu tidak membalas ternyata Rita memang sudah benar-benar menjauhi Ney. Pastilah sudah merasa muak juga.
"Arnila! Aku kan bertanya kenapa tidak dijawab sih?" Tanya Ney agak curiga jangan-jangan Arnila menutup teleponnya.
"Sekarang gini saja deh, kamu merasa bersalah atau tidak selama kamu dulu mem bully dia 2 tahun lalu?" Tanya Arnila masih penasaran. Toh dia juga sempat aneh saja kenapa sampai sekarang tidak ada permohonan maaf pada Rita.
Ney diam. Dia lupa soal itu masa iya Rita pergi karena itu? "Kok soal itu lagi sih? Dengar ya si Rita itu terlalu sensitif dan baper orangnya. Dan..."
"Kamu merasa bersalah atau tidak? Tahu orangnya sensitif dan baper, tapi kenapa kamu malah tidak perduli? Kalau kamu sudah tahu, kenapa kamu sengaja men jahati dia?" Tanya Arnila.
"Ya itu... itu aku lakukan demi..." kata Ney yang dipotong langsung.
"Bukan demi kebaikan dia. Rita itu murni ya anggap kamu teman selama ini meski aku tahu orang macam apa kamu sebenarnya. Pikirkan ya kalau kamu memang peka semua kesalahan kamu di masa lalu ditambah 2 tahun lalu. Jangan mulai melempar kesalahan kamu ke aku atau Alex sekalipun. Berhenti melempar kesalahan sama Rita juga bahkan mengorek info soal Alex, bila nanti kamu diberi kesempatan bicara sama dia," kata Arnila menjelaskan panjang lebar.
Tidak ada jawaban, Ney sibuk menggigiti kuku jari lainnya dan melukai jarinya sendiri. "Bagaimana caranya aku bisa kontak dia lagi?" Tanyanya memandangi jarinya yang berdarah.
"Kamu merasa bersalah atau tidak? Jujur!" Tuntut Arnila.
Ney lalu mengistirahatkan dahinya mengingat apa yang telah dia katakan pada Rita dalam chat. Mereka juga sempat bertemu bertiga di Jakarta guna membicarakan soal itu. Tujuannya sih untuk menjernihkan masalah soal Alex tapi malah diserang Rita habis-habisan.
__ADS_1
Ney sempat melihat wajah Rita yang memandang sangat dingin kepadanya. Bukan Rita ramah yang dia kenal, ceria dan baik hatinya berubah beku menatapnya. Ney selalu percaya apapun kesalahan yang dia perbuat, Rita pasti akan selalu memaafkannya. Tapi saat itu tidak, Ney tidak berani menatap wajahnya, yang memandangi tajam ke arahnya.
Bersambung...