ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(145)


__ADS_3

Oke, kita beralih ke tempat Ney saat itu dia baru saja terbangun dari tidurnya dan mdlihat jam kalau sudah leboh dari jam 10.


"Ney, kamu janji bertemu mereka jam berapa? Nih Arnila dari tadi menelepon kamu!" Teriak ibunya yang histeris.


Kebiasaan bangun siang anak perempuannya itu sama sekali tidak berubah, dia sering kali melanggar janjinya sendiri dan sering juga ditinggalkan oleh teman sekampusnya Ney langsung bangun begitu melihat jam.


"Aduh! Janjinya jam 10! Bekal untung sudah dimasukkan ke dalam tas. Aku ganti baju dulu!" Ney yang panik bergegas membuka lemari bajunya dan mengambil baju sesukanya.


"Ih, kamu mau bertemu teman tidak mandi?" Tanya Cyphrin yang menatap adiknya dengan jijik.


"Sesuka gue! Yang penting aku pakai parfum!" Ney langsung mengambil parfum milik adiknya karena parfum lelaki lebih tajam dan tidak akan ketahuan kalau dia tidak mandi.


"Parfum gue! Lu ganti ya kalau habis," teriak adiknya yang sedang main game.


"Menurut gue sih mereka akan tahu kanu belum mandi. Rita saja kan sudah sering main ke sini dan dia sudah tahu jeleknya lu seperti apa. Tidak ada gunanya kamu pakai parfum setajam itu justru itu menggali kuburan lu sendiri," kata kakaknya yang sibuk menyusun tugas kuliahnya.


"Ya aku setuju!" Ney tidak perduli dengan perkataan saudara kandungnya itu pokoknya dia malas mandi!


"Eh sebentar. Kalau tidak salah Alex juga mau mencicipi. Coba aku tanya deh," semenit kemudian Ney sudah kembali ke kamar mandi dan terdengar jebar jebur suara air. Kakak dan adiknya keheranan tampaknya dia mandi juga terburu - buru.


"Pasti tidak sikat gigi," kata Zayn.


"Dan tidak pakai sabun," kata Cyphrin. Lalu mereka berdua tertawa bersama - sama.


"Coba kalian seakrab ini ya kalau sudah disatukan. Mama pusing harus misahin kalian apalagi kamu sama Ney, Cyphrin. Bisa tidak sih kamu mengendalikan emosi kamu? Adik kamu mau menikah jangan sampai kamu meledak nanti di gedung," seperginya ibu mereka, Zayn terdiam dan Cyphrin berpikir sendiri.


Saat itu moodnya seperti biasa dan sedang senang karena dia diajak pergi oleh pacarnya.


"Sepertinya sudah waktunya kakak harus bisa mengendalikan amarah terbesar. Mau hidup seperti itu sampai kapan, kak? Kakak tidak takut kalau nanti menikah, suami kakak sendiri babak belur?" Tanya Zayn yang masih memandangi layar komputernya.


Cyphrin terdiam, setelahnya Ney bergegas memakai baju dan juga parfum adiknya sedikit saja. "Ma! Aku pergi dulu!"


"Wah, tumben kamu mandi. Nah gitu dong, coba setiap hari," kata ibunya yang melihat anaknya wangi dan rapi.


"Ah, malas. Buat apa aku tampak cantik kalau hanya mau bertemu merek berdua," kata Ney yang sedang memasang tali di sepatunya.

__ADS_1


"Kalian kalau janjian kan bertemu banyak orang supaya aura cantik kamu itu keluar," kata ibunya yang membantu mengemas tas penuh makanannya. Tampaknya berantakan sekali, ibunya terheran - heran seperti ada yang baru menbukanya. Jangan - jangan ... "Terus sekarang kamu mandi karena apa?" Tanya ibunya yang kemudian menutup tasnya itu.


""COWOK!!" Teriak adik dan kakaknya dari kamar. Ibunya menggelengkan kepala memang seperti itu sih alasannya kalau anaknya mandi pasti ada yang tidak beres.


"Masa karena lelaki baru kamu mau mandi sih? Coba deh kamu buat kesan menarik di hadapan teman kamu juga jadi mereka kalau mau mengenalkan kamu ke teman mereka, tidak memalukan!" Kata ibunya yang mengikuti kemanapun Ney pergi. Ney kesal banget kalau ibunya sudah cerewet mengomeli hidupnya.


"Mereka tidak punya teman lelaki kok bagaimana bisa mau mengenalkan aku?" Tanya Ney yang kemudian membedaki wajahnya dengan asal.


"Kata siapa mereka tidak punya teman? Itu kamu mungkin. Sekarang, siapa lagi yang kerumah hanya pacar - pacar kamu yang kamu sendiri tidak bisa bertahan lama. Mama sudah bosan! Lihat kamu berganti pacar, untung sekarang Dins mau mengikat kamu!"


"Daripada orang yang tidak laku seperri Rita ya lebih baik aku dong!" Kata Ney yang membela diri. Heran apa ibunya lebih senang melihat anaknya menjomblo seumur hidup seperti Rita?


"Rita itu bukan tidak laku, kamu hati - hati kalau bicara! Yang mama lihat, karena dia tidak berminat pacaran dia hanya menunggu seorang lelaki yang lebih tepat. Kata kamu dia tidak laku tapi sekalinya dia laku, dapatnya yang topcer lho. Mama tahu Alex itu siapa, kayanya tidak terkira lho," siapa sih orang tua yang tidak mau mendapatkan menantu kaya? Dins juga tajir sih banyak uang karena dia pekerja keras meski soal ibadahnya kurang banget Yah, 11 12 sama dengan Ney lah.


"Serius? Aku juga tahu kok dia itu tajir banget sampai pusing tapi aku tidak tahan, dia sukanya marah - marah terus dan dia cacat," kata Ney. Ibu dan kedua saudara kandungnya kaget meskipun mereka berdua sama sekali tidak tahu Alex itu seperti apa.


"Tidak apa - apa dong. Kamu jangan hanya melihat lelaki itu dari materi, kalau Rita terlihat banget dia tidak melihat siapapun dari fisik dan status makanya temannya banyak lho kalau kamu tahu. SMP ada ya, SMA juga, kuliah sampai status dia yang mengajar pun sekarang banyak. Arnila juga sama hanya kamu saja yang mama lihat aneh.Ada yang mau dekat sama kamu, eh kamunya pilih - pilih. Kalau kamu mau disebut sebagai teman sejati, kamu harus mau menerima diri kamu sendiri jelek baiknya. Kamu dengar tidak?" Ibunya mencolek tajam ke pinggang Ney sampai Ney merasa kesakitan.


"Dengar! Sudah dong ma!" Ney sebal setiap pagi dan setiap hari ibunya selalu mengingatkan Ney. Padahal dirinya sudah dewasa tapi masih saja ibunya menganggap dia anak kecil.


"Mama kok tahu sih?" Tanya Ney merasa aneh. Dia sama sekali tidak pernah menceritakan apapun soal Alex.Apa Rita yang cerita?


"Mama tahu kamu juga sepertinya ada hati sama Alex kan? Kqmu punya foto dia? Mama mau lihat," pinta ibunya. Kakak dan adiknya saling berpandangan dan juga ingin melihatnya. Kebetulan Ney memang punya foto Alex.


"Dia ganteng banget, tipe aku banget deh ma! Aku ada fotonya. Sebentar. Ini!" Ney menunjukkan foto Alex dengan gembira. "Aku bisa kan jadi sama dia, ma?"


"Gila! Ganteng total! Sama aktor Indonesia sih kalah semua. Rita kenal sama dia?" Tanya Cyphrin yang kedua matanya hampir keluar.


"Ganteng kan," kata Ney bangga.


"Tapi tidak ada gunanya kalau kak Ney tidak bisa mendapatkan hatinya," kata Zayn yang terus menatap foto Alex.


Ibunya yang melihat fotonya pun terpana, memang parah total kegantengannya. "Orang tuanya oarah banget, meski masa lalunya kelam tapi dia bisa diterima oleh perempuan yang dia kagumi," kata ibunya yang memberikan kembali foto Alex di hpnya pada Ney.


"Wah, jangan - jangan Rita tuh," kata kakaknya. Ney terdiam.

__ADS_1


"Jadi dia mengagumi Rita, ma? Kenapa? Rita kan tidak seistimewa itu," kata Ney. Menurutnya justru Rita jauh dari kata spesial juga meski tidak dapat dipungkiri memang Ney juga kagum pada Rita yang sampai kapanpun, dirinya selalu berpikiran positif.


"Menurut kamu Rita tidak istimewa tapi menurut Alex sangat istimewa. Dengan masa lalunya yang kelam dan dia yang sudah tidak perjaka, mana ada yang mau kan menerima dia seadanya? Menurut mama kamu tidak akan punya kesempatan untuk mendapatkan hatinya karena hatinya dia sudah tertambat pada Rita. Mau kamu seperti apapun menarik Alex, tidak akan ada gunanya. Sudah kamu lupakan dia ya, sudah ada Dins kan," ibunya membelai anaknya itu dengan lembut. Dalam hati Ney sudah tahu kalau dirinya tidak pernah ada kesempatan.


"Kenapa ya malah Rita yang dapat? Aku kurangnya apa? Masalahnya mana mungkin cocok sama Rita dia kan hijaber sedangkan Alex bobrok!" Kata Ney.


"Yah, mau bagaimana lagi kalau mereka sudah ditakdirkan? Kamu jangan terlalu iri sama Rita. Setiap manusia itu sudah ada rejekinya masing - masing. Lagipula kamu tidak akan kuat bertahan sama Alex meski pacaran yang bisa hanya Rita. Rita juga tidak pernah pamer apapun kan sama kamu," kata ibunya.


"Tapi memang aneh ya Rita kan aku kira yang lebih suka tertutup semacam lebih suka lelaki yang santun. Lah dapatnya lelaki ganteng ini mana dia liar juga," kata Cyphrin dan Ney setuju.


"Takdir mereka jahil sih kalau kata mama. Kamu jangan suka memancing Rita untuk berantem, kamu harus lebih mengerti katanya sudah dewasa," kata ibunya membelai tangan anaknya.


"Rita itu childish, ma mana mungkin cocok sama Alex!" Ney menggerutu.


"Terus kamu keberatan kalau Rita childish?" Tanya ibunya. Agak aneh dengan pemikiran anaknya itu.


"Kalau lu terima Rita apa adanya buat apa lu mikirin dia childish? Rita mau seperti apapun harusnya lu bisa terima dia. Aku tahu kok Rita memang childish tapi seharusnya lu beruntung punya teman seperti itu. Teman kakak sih pura - pura dewasa kan lebih enek lihatnya," kata Cyphrin yang sedang duduk sambil makan sesuatu.


"Yang Zayn lihat, Rita meski childish tapi dia pengertian lho sama kakak Ney tapi malah kakaknya yang selalu menganggap dia musuh. Kenapa sih? Dia itu tulus lho jadi teman kakak meski kakak juga sama banyak bobroknya. Seperti sudah tidak suci lagi," kata Zayn yang langsung ngibrit ke kamarnya.


"Apa lu bilang!? Memangnya kamu tidak!" Teriak Ney yang mau mengejar adiknya itu.


Ibunya teringat akan kejadian sewaktu mereka masih di Jakarta. Teman adiknya memberikan video yang berisi kakak keduanya sedang melakukan hubungan intim dalam mobil, ibunya menyesal tidak bisa menjadi seorang ibu yang baik bagi anak - anaknya. Ibunya terlalu sibuk dengan urusan arisan emas atau uang saat itu, jadi untuk urusan ketiga anaknya benar - benar nol! Suaminya sudah sering mengingatkan untuk lebih memperhatikan ketiga anaknya, tapi ibunya percaya bahwa mereka bisa menjaga dirinya sendiri. Bahkan kedua anaknya yang lain pun juga sama karena tidak terlalu diperdulikan, pergaulan mereka pun semakin keluar batas.


"Makanya kamu jangan merasa suci deh. Kalau Rita memang masih perawan, harusnya kamu bersyukur Rita menerima kamu meski kamu yah sama dengan Alex. Lambat laun juga Rita akan tahu kalau kamu sudah hilang keperawanannya," kata kakaknya yang tertawa keras.


"Sudah sudah... kamu nanti terlambat perginya!" Kata ibunya.


"Hah! Kamu sendiri lebih parah Lon...te!" Kata Ney yang berkacak pinggang. Alhasil Ney dan kakaknya saling berantem lalu Zayn keluar dan melerai mereka. Kalau hanya ibunya sendiri pasti tidak bisa jadi harus ada lelaki yang bisa menengahi mereka berdua.


"Duuuh, pagi - pagi sudah berantem kalian!!" Teriak ibunya yang menarik kakaknya dari Ney.


"Kamu tahu tidak kurangnya apa? Kurang bersyukur, kamu juga tidak pernah sholat yang wajib malah rajin yang sunah, apapun yang beri saran ke kamu, kamu tidak mendengarkan! Bahkan mama beri saran apa pernah kamu nurut?" Tanya kakaknya yang menahan amarahnya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2