
Ibunya sangat mengerti sekali kenapa Ney menjadi sangat sulit mempercayai orang lain perihal dulu keluarganya adalah keluarga miskin dan banyak orang - orang yang menghina mereka. Sekarang keadaannya berbalik tapi masa lalu itu kerap membuat Ney menjadi sangat takut dan akhirnya berlebihan membalas ke semua orang termasuk Arnila. Ney bertekad bila nanti dia menjadi orang kaya semua yang mengejeknya akan dia balas satu per satu, tapi malah membuat Arnila dan Rita juga dianggap sama dengan mereka.
Sekeras apapun ibunya menjelaskan bahwa tidak semua orang akan seperti itu, Ney sama sekali tidak mau jatuh ke lubang yang sama lagi. Ibunya selalu berdoa tahajud berharap Allah SWT membukakan mata hati Ney untuk menyadari dan melihat kapau temannya yang dia miliki sekarang, adalah teman yang benar - benar baik. Mereka berdua benar - benar akan lebih mengerti dirinya dibandingkan ke diri mereka sendiri tapi sekarang saja mereka mulai kelelahan mengikuti kemauan Ney. Ney ingin lebih diperhatikan, lebih banyak dipuji dari orang lain, lebih lebih lebih dan lebih. Semakin lebih ingin ini ingin itu, Ney tidak sadar kalau Rita dan Arnila akan semakin jauh darinya.
Akhirnya hari yang dijanjikan telah tiba. Saat itu Ney sampai mandi lulur dan menambahkan banyak parfum ke tubuhnya lalu memakai baju yang feminim. Hmmm selama dua bulan Ney telah berkontak dengan Syakieb menurutnya, Syakieb akan menyatakan cintanya pada Ney. Jadi hari ini dia akan dandan semaksimal mungkin, sampai Ney datang ke salon agar menjadi lebih cantik. Dia menyadari kalau kemampuan berdandan sendiri memang kurang bagus jadi berapapun harga untuk mempercantik di salon tidak masalah untuknya. Saat keluar, banyak orang yang memandanginya dan dia senang sekali, hari ini akan menjadi hari spesial untuknya.
"Ney pergi ya?" Tanya adiknya melihat keluar rumah.
"Mau aku ikuti tidak nih?" Tanya Cyphrin yang sudah siap - siap.
"Jangan deh, kak. Biarkan saja! Kalau ada yang buruk juga pasti cepat pulang. Antar yuk mau beli puding buat kabogoh," kata adiknya yang mengambil kunci motor.
"Lu mau sampai kapan ganti - ganti pacar mulu?" Tanya kakaknya keheranan. Ini sudah yang ke 20 perempuan yang adiknya jalani.
"Habis, semuanya tidak ada yang sesuai idaman sih. Jadi aku akan cari terus," jawab adiknya cengengesan.
Sambil berjalan ke arah tempat motor berada, kakaknya memperhatikan Zayn dari belakang. Lalu tiba - tiba kakaknya menendang pantat adiknya yang hampir tersungkur ke depan.
"APAAN SIH KAK?!" teriak Zayn yang langsung mengelus pantatnya yang kesakitan.
"Pantat lu tepos. Belum pernah 'dipakai' ya?" Tanya kakaknya sambil ketawa.
"GILA NIH ORANG! Aku belum mau seperti begituan, nantilah buat istri baru aku goyang habis," adiknya bangun lalu menepuk tangannya.
"Serius bisa tahan? Badan kamu itu tinggi, berotot pula teman kakak saja banyak yang mau gituan sama kamu!" kata kakaknya membuat Zayn melongo.
"Wah! Teman kakak kan seksi semua, bolehlah kalau mereka mau hehehe," adiknya membuat gaya seperti Conan yang sedang berpikir. Lalu kakaknya melemparkan tas tangannya ke kepala adiknya.
"Kampret lo! Buruan ah! Mulai panas," kedua tangan kakaknya menutupi rambut.
"Ini mau kok gara - gara kakak bilang begitu jadi lama. Tidak ah kak, aku mau jaga perjaka ku buat yang istimewa. Aku tidak mau sembarangan seperti kalian,"
__ADS_1
Sekali lagi Zayn merasakan pukulan di kepalanya. digetok sama genggaman tangan kakaknya dan Zayn kesakitan.
"Gue masih perawan! Meski otak gue error kadang - kadang tapi tidak akan menjual perawan gitu saja. Beda sama yang satu," kata kakaknya yang naik ke motor adiknya sambil menarik baju adiknya.
"Duh! Kecekik!" Adiknya lalu balas memukul paha kakaknya yang gantian meringis. Tapi akhirnya mereka pergi juga setelah beberapa menit berantem saling pukul.
Dalam bagian Ney ya yang sedang dalam perjalanan menuju tempat yang dijanjikan, sambil berjalan dia membalas chat dari Syakieb.
"Mau bertemu di mana?" Tanya chat Syakieb.
"Di cafe Bogor saja ya, makanan di sana enak banget!" Jawab Ney.
"Boleh. Pesankan tempat duduk ya." chat akhirnya.
Ney masuk ke cafe yang dia pilihkan lalu duduk manis dekat jendela, beberapa pelayan melihatnya dan seorang dari mereka mengambil buku pesanan lalu menyambutnya. Buku menu sudah ada tergeletak di atas meja dan Ney lalu memilih makanan sambil ditunggu oleh pelayan tersebut. Pelayang yang menunggunya tampak seperti kenal dengan tampilan baju yang Ney kenakan tampaknya dia ingat sesuatu. Ney memesan kopi latte kepada pelayan itu dan sosis serta kentang goreng.
Sambil menulis lalu menuju dapur, pelayan itu mencoba mengingat apa yang dia lihat tadi. Temannya mencolek dirinya dan bertanya karena melihatnya sangat aneh. "Kenapa?"
"Begitu? Teman?" Tanyanya yang ikut pemasaran juga.
"Bukan. Tapi aku merasa dulu ada orang lain juga yang masuk ke cafe ini dengan memakai setelan baju yang sama. Hanya saja..." potong pelayan itu.
"Apa sih? Jangan setengah - setengah begitu," kata temannya yang alhasil beberapa pelayan juga ikut mendengarkan.
"Orang yang dulu itu penampilannya penuh luka di pipinya, ada yang ingat tidak? Padahal orangnya terbilang berwajah cantik dia menangis dan ada lelaki lain di depannya yang berusaha menenangkan dia. Ada yang ingat tidak? Sekitar 3 tahun yang lalu," katanya mencari - cari mungkin ada yang pernah melihatnya juga.
"Kita kan belum kerja di sini, kak mungkin yang angkatan kakak pernah lihat,"
Benar juga pikir pelayan itu. Sambil menunggu pesanannya pelanggannya beberapa pelayan membicarakan soal itu.
"Kira - kira dia mau bertemu siapa ya?" Tanya temannya yang masih memperhatikan Ney.
__ADS_1
"Tidak tahu. Kita lihat saja," Lalu pesanan Ney sudah selesai dibuat pelayan itu mengambil dan mengantarkan pesanan Ney. Ney memang belum sempat sarapan jadi dia setelah memesan makanan itu akan memesan lagi.
"Lihat saja dia bertemu sama siapa kalau orangnya kamu kenal, mungkin kamu bisa ingat juga soal orang tahun lalu," ide salah satu pelayan lelaki pada pelayan itu.
15 menit kemudian, datanglah Syakieb dengan mengenakan baju polo berwarna hijau yang memperlihatkan kedua tangannya yang berotot, melihatnya Ney tidak suka karena dia tak mau perempuan melirik Syakieb. Tentu saja memang banyak menarik perhatian kaum hawa bahkan ada juga yang ingin berkenalan namun Syakieb tidak memperdulikannya. Ney melihat Syakieb menenteng kantong yang berisikan cokelat mewah tampak Ney sangat sumringah tahu itu pasti untuk dirinya. Ney tidak tahu kalau Syakieb juga membawa surat kontrak disamping kantong cokelat itu.
Syakieb memasuki cafe itu dengan kembangan senyuman yang agak menakutkan meski cerah. Pelayan itu lantas terkejut, dia tahu sekali siapa orang itu lalu melirik Ney dengan cepat.
"Kenapa lagi? Kamu seperti melihat setan!" tepuk temannya yang tadi.
"Orang itu. Aku pernah melihatnya," pelayan itu memberi kode memakai bola matanya.
"Hah? Yang perempuan? Katanya tidak kamu kenal?" Tanya temannya yang kebingungan.
"Bukanlah! Yang baru datang itu. Dia kan mantan pacar temanku dulu dia pernah kenalkan ke aku. Itu orangnya!"
Temannya lalu melongo ke arah yang dia tunjukkan. Setelannya seperti Christian Ronaldo tapi lebih muda lagi meski usianya sudah 45. Dan memiliki badan kekar dan sangat gagah. Saat Syakieb masuk, otomatis cafe itu pun mulai dipenuhi perempuan yang melirik pada Syakieb.
"Beda mungkin masa sih mirip?"
Pelayan itu lalu mulai memeriksa isi ponselnya dan memperlihatkan ke mereka. "Nih, sama kan,"
"Terus sekarang sudah putus?" Tanya pelayan lelaki.
"2 tahun yang lalu! Itu parah banget, temanku datang ke kosan aku dengan penampilan rusak! Tapi dia tidak dilecehkan secara seksual sih hanya dari penampilannya yang awalnya rapi dan sangat teliti berubah jadi tidak karuan. Temanku cerita selama ini dia selalu menganggap orang itu sebagai pacarnya ternyata tidak begitu. Orang itu mengadopsi teman aku untuk jadi anaknya sebagai hadiahnya, dia diberi banyak kemewahan tapi di sisi lain, kalau dia ketahuan pulang malam, ijin keluar rumah selalu dipukul. Wah, kakak itu harus diberi tahu,"
Mereka memperhatikan Ney dan Syakieb yang tampak akrab karena sesekali tertawa bersama. Ney berusaha semaksimal mungkin untuk tertawa tidak terlalu keras.
"Coba saja kamu tulis di kertas tatakan gelas ini pasalnya mereka tamu kita jangan sampai membuat keributan. Kita akan dipecat," jelas temannya. Pelayan itu lalu menganggukkan kepalanya dan menuliskan sesuatu di kertas tatakan itu sambil mengantarkan pesanan pelanggan yang lain.
BERSAMBUNG ...
__ADS_1