ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(354)


__ADS_3

Ney terdiam sambil mengibaskan rambutnya yang jatuh ke wajahnya. Dia memang baru tahu kalau sifat pendiam dan pemalu nya Rita hanyalah sebuah kulit saja. Dia berpikir, 'Ada benarnya juga sih. Selama ini awal kenal Rita, dia memang pendiam dan pemalu tapi lama kelamaan ternyata heboh. Lalu kenapa gue baru sadarnya sekarang?' Tanyanya dalam hati. Dia mengusap wajahnya sudah tidak mungkin lagi juga mereset apa yang dia katakan pada Alex. Untuk merubahnya sudah sangat terlambat tapi bukan Ney namanya kalau tidak nekat. Tapi nanti saja, dia masih penasaran soal Rita. Ya baru sekarang dia ingin tahu karena Rita berkenalan dengan seorang lelaki jenius yang super tajir.


Baru sekarang dia ingin mengenal Rita, baru sekarang dia ingin tahu mengenainya dan baru sekarang... dia butuh Rita. Sebagai... orang yang paling dekat. Meski jauh dalam hatinya terasa sudah tidak mungkin untuk bisa menarik simpati lagi untuknya. Dalam hati nuraninya posisi dia telah jatuh dalam pandangan Rita. 'Aku yakin Rita pasti akan menganggapku teman yang lebih peduli karena sebanyak apapun aku berbuat salah, Rita selalu mau memaafkan. Jadi aku tidak perlu khawatir. Tapi masalahnya....' Pikir Ney yang membuka chat Alex. 'Alex sama sekali tidak aktif lalu bagaimana caranya aku bisa memperbaiki apa yang sudah aku sampaikan padanya?' Ney memukul kepalanya dengan stres.


Selama ini pun dia sebenarnya tahu persis soal hal itu tapi dia tidak percaya dengan intuisinya sendiri, tidak mungkin sosok asli Rita cuek dan tomboi meski dia sendiri dengan jelas melihatnya. Dan malah menukarnya dengan karakter yang dia buat hanya agar Rita diterima Alex dan keluarganya. Tanpa dia sadari hal itulah yang membuat Rita kecewa berat padanya.


Kita baru kenal orang nih, tidak mungkin kan kita langsung bicara koar - koar tidak jelas apalagi sok kenal sok dekat, yang ada sudah pasti pada kabur atau pada bilang 'Siapa sih?' Author juga pernah melihat orang yang seperti itu apalagi Author pun pernah mengalaminya. Kasihan sih jadinya Author dengarkan saja sampai tamat, selesainya dia pergi Author menggelengkan kepala. Penyebabnya bisa jadi dalam keluarganya tidak ada yang bisa diajak curhat, yang penulis alami anak tersebut ternyata memiliki kakak dan adik lelaki, ibunya meninggal. Lalu semua teman pun dia sangat kurang bisa dekat dengannya mungkin karena sifatnya yang langsung cas cic cus itu. Baru kenal sudah langsung banyak curhat tidak heran banyak yang ketakutan.


Ney juga sama dia langsung cus saja kepada siapapun makanya sampai saat ini pun yang dekat sama dia paling hanya Arnila dan teman sosialitanya alias Teman Pamer. Dan... hmmm agak kurang nyambung kalau bicara sama Ney sih, kalau soal mengalihkan topik memang begitu dia kebiasaannya. Mojok kin orang sampai terpojok bisa, tapi kalau dirinya yang terpojok, langsung ganti topik. Beda dengan Rita atau yang lainnya mungkin, dia yang memojok kan kalau Rita mengalihkan topik terus saja dia menjago sampai ujung. Sama sekali tidak mau berhenti tapi beda kalau itu yang terjadi sama dirinya.


Sedangkan Rita? Ya dia tidak bisa seperti itu, apalagi yang baru dikenalnya banget perlu waktu untuk bisa menyeimbangkan dengan orang tersebut. Dia lebih memilih untuk diam memperhatikan apa yang harus dia lakukan pada orang tersebut, mengamatinya sampai dia pikir sudah waktunya mengobrol. Bukan pemalu hanya menurutnya penting untuk mengenal siapa orang tersebut lalu bisa mengobrol seperti biasanya. Dan hal itu sama sekali tidak bisa dimengerti oleh Ney yang memang berbeda cara berkomunikasi dengan seseorang. Jadi memang tidak akan bisa disatukan dalam 1 kelompok dengan Ney untungnya hanya saat SMP saja mereka sebangku dan sekelas. Bayangkan kalau sampai SMA, satu universitas, sepertinya Rita akan memilih cari jurusan lain yang tidak perlu bertemu muka dengannya setiap hari.


Kalau soal pemalu nanti juga seiring waktu akan berubah saat Rita merasa orang tersebut enak diajak mengobrol atau enak diajak bercanda, tidak gampang baper atau sensitif seperti dirinya. Pokoknya dia mencari teman sosok yang lebih dewasa dari dirinya yang bisa menghentikannya dari aksi gilanya, yang bisa memberikan saran terbaik bila dia dalam masalah. Yang tidak masalah dia ganggu kapanpun, yang tidak masalah bila dia egois sekalipun dan itu semua hanya ada di semua teman dan sahabat yang dimilikinya. Seberapa jeleknya Rita mereka sama sekali tidak keberatan karena Rita maupun mereka menyadari manusia tidak ada yang sempurna.


Itulah alasannya kenapa banyak orang yang nyaman berada di dekat Rita karena setelah diajak mengobrol ternyata karakternya seru banget! Apalagi Rita sama sekali tidak pernah keberatan bila beberapa orang perilakunya parah, kalau tidak suka dia hanya tinggal tidak usah berkomunikasi. Hanya itu so simple life. Yang semudah itu anehnya tidak terlihat oleh Ney.


"Jadi itu hanya kulit kamu saja!? Aku baru tahu selama ini kamu banyak membohongi semua orang aku tahu pasti kamu juga melakukan hal yang sama dengan semua teman kamu kan. Itu sih tidak beda jauh dong dengan aku. Kamu juga memanfaatkan mereka sama ke aku juga dong!" Kata Ney yang tidak menduga. 'Tuh kan benar seperti dugaan gue kalau Rita itu sebenarnya palsu. Heran saja kok semua orang malah senang sama dia sih!?' Pikir Ney sebal.


"Memanfaatkan bagaimana sih maksud kamu? Gue heran deh serius sama lu selama lama kenal lu, asli! Yakin sih lu pasti kalau kenal orang baru ada kemungkinan langsung sok kenal ya? Atau pamer sesuatu mungkin dengan gaya sok," kata Rita yang menepuk dahinya. Nih orang asli banget tidak ada empati atau simpati dalam dirinya. Masa sih dia tidak mengerti apa maksud Rita?

__ADS_1


"Lho, memangnya salah gitu? Terserah gue dong mau seperti apa kenalan sama orang baru. Masalah buat lu!?" Kata Ney sebal juga lama - lama chat dengan Rita. Beberapa orang yang mudah membuatnya sebal terutama dengan Rita. Karena dari sudut pandang Ney, Rita seperti menyombongkan dirinya sendiri padahal jauuuuuh.


"Ya iyalah. Tipe orang itu kan beda semua kamu baru kenal lalu sudah sok kenal kalau dia berbalas ya oke, tapi dia dalam hati pasti agak nyinyir. Contohnya kamu dengan Diana, dia cerita kok bagaimana cara kamu mendekati dia plus hina aku. Siapa juga yang bisa nerima seperti yang kamu lakukan," kata Rita.


"Heh! Mendingan gue ya daripada situ lama banget keburu kiamat tahu gak lo!" Kata Ney dengan sinis.


"Helloooow lebih baik sopan dan lama memproses daripada yang langsung nyerocos, endingnya banyak ditinggalin apalagi sampai dicap tak tahu sopan santun. Ish!" Balas Rita. Akhirnya yah mereka saling adu chat mereka memang seperti itu, susah ya membuat mereka akrab.


"AAAAARGGGGHHHHH GUE KESEL BANGET SAMA NIH ORANG!!" Teriak Ney dalam kamarnya sambil setengah melempar barang - barangnya ke lantai.


"Aku memang orangnya tidak bisa langsung cas cis cus seperti kamu harus tahu dulu orangnya bisa menyambung saat bicara atau tidak. Itu berlangsung selama 3 hari kalau cuma selintas ya sudah hilang semua tapi kalau dia punya niat berteman ya lama prosesnya. Dengan perilaku kamu seperti itu yang nyablak tidak terkontrol dan kelakuan yang seenaknya, pasti banyak orang yang langsung hilang begitu kamu ajak ngobrol," kata Rita menjelaskan dengan jelas. Agaknya si Ney memang mengerti banget soal karakter manusia serta sifat - sifat. Dia itu sejak SMP entah belajar apa saja sih yang umum memang pintar tapi soal manusia lainnya sepertinya parah total.


"Intinya ya sampai kita berusia 26 nih, memang terlihat sekali kalau kamu lebih mementingkan diri kamu sendiri, buktinya sifat asliku saja kamu sama sekali nol. Gue heran asli. Lu nih tidak butuh teman ya? Soalnya kalau yang butuh dia akan berusaha melihat orang sekitarnya seperti apa. Tapi lu tidak, seperti menutup mata semuanya tapi lu ingin semua orang tahu soal lu. Tidak mengherankan juga sih kalau Alex tidak percaya kamu sahabat aku," kata Rita. Nih kalau soal Alex, dia pasti menyambut memang nampaknya masih suka sama dia.


"Dia bilang begitu?" Tanya Ney melongo.


"Iya. Jelas kentara banget kamu nih sama semua orang termasuk teman - temanku yang baru kenal kamu pun ya begitu. Makanya Alex heran kok ada ya orang yang mengaku sahabat tapi sama sekali tidak dekat?" Tanya Rita memancing Ney.


Ney sama sekali tidak peduli apa yang ditanyakan oleh Rita dia hanya menginginkan sesuatu. "Terus sifat asli kamu itu yang seperti apa?"

__ADS_1


Rita tertawa membacanya masa iya dia harus beberkan semuanya. Karena sudah tahu Ney seperti apa, Rita enggan mengatakannya. "Kok aku harus kasih tahu sih? Hahahaha ya kamu pikir sendirilah, kalau kamu benar - benar niatnya ingin kita berteman seharusnya dari beberapa bulan kita kenal di SMP, kamu sudah bisa membaca semuanya soal aku. Tapi ternyata yang kamu baca malah kulitnya saja. Mana ada orang yang bilang sifat dia seperti apa, coba dong kamu menganalisa sendiri," kata Rita tertawa.


"Ya itu hasil analisa aku. Kamu itu pendiam, pemalu dan penurut. Salah mananya sih?" Tanya Ney yang jenuh.


"Idih, sori ya aku penurut. Enak saja! Penurut kamu suruh ini itu aku mau, begitu maksudnya?" Tanya Rita.


"Iyalah," kata Ney yang langsung menjawab.


"Ohh.. jadi lu kira gue budak lu? Lu sadar gak sih apa yang lu suruh malah menyebabkan gue jatuh ke lubang?" Tanya Rita bete.


"........"


"Lu suruh gue buat bertanya soal mantan pacar Alex, masa lalunya, kekayaannya, saat gue di marahi sama dia, lu ada? Semua saran lu tuh BULSHIT!" Kata Rita yang masih sebal dengan kejadian waktu itu.


"Gue... gue... ya itulah si Alex tuh yang salah. Jadinya kan dia berusaha mengadu domba kita, Rita. Aku tidak ada niat lain kok hanya Alex saja yang berpikir dia bilang kita harus mengubah sikap lu supaya diterima di depan orang tuanya," kata Ney yang berusaha membuat Alex salah. Alex juga membaca dan dia geram dengan kelakuan Ney.


"GILA LO! BISA - BISANYA MENYALAHKAN ORANG. SUDAH TAHU LU YANG SALAH KENAPA BAWA - BAWA ALEX!? Cih katanya kenal dekat dengan aku sampai bilang Sahabat pula tapi anehnya lu sama sekali tidak kenal gue! Sekarang malah nanya sifat gue yang asli bagaimana?" Tanya Rita sebal sekali untungnya dia punya keripik setan yang asoy.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2