
Karena Arnila merasa Rita menjadi percaya kepada Ney, akhirnya dia bertanya.
"Rita, memangnya itu foto-fotonya memang bukan si Alex?" Tanya Arnila mencari tahu.
"Hahahaha yang salah itu sebenarnya bukan fotonya tapi nama akunnya," kata Rita tertawa. Arnila juga ternyata ikut kena tipu.
Arnila menganga. "Serius? Aku pikir..." akhirnya Arnila paham dan Ney memang mudah terpancing.
"Iya, kamu mengerti kan biarkan sajalah supaya Ney semua galeri di ponselnya kosong dan tempat sampahnya juga kosong. Baru aku beritahu yang sebenarnya," kata Rita cengengesan.
"Oalaaaa tapi kok Ney tidak menyadari ya?" Tanya Arnila tertawa.
"Yahhh kamu tahulah, dia matanya lebih fokus sama fisik dan harta. Soal nama dia yang berbeda, mana bisa kelihatan," kata Rita lagi.
"Hahaha oke deh kalau begitu," balas Arnila. Ternyata Rita cerdas juga bisa membuat Ney menghapus semua foto Alex beserta videonya.
"Maksudku baik kan daripada di ketahuan sama Dins hayoo kan lebih gawat," kata Rita.
Arnila mengangguk tanda setuju. Ternyata Rita meskipun telah disakiti sesakit nya, masih bisa berperilaku dengan baik. Kalau saja Ney menyadari semuanya, Rita tidak seperti sejelek pikirannya.
"Iya aku setuju," kata Arnila.
Mereka lalu kembali ke grup. Rita masih terus meminta bukti foto bahwa Ney sudah hapus semuanya.
"Mana buktinya uy," balas Rita di grup.
Akhirnya Ney kirimkan sebuah video, isinya bukti dia menghapus semua foto dan video menggunakan ponsel suaminya. Rita senyum puaaaaahhhh sekali begitu juga dengan Arnila yang cekikikan.
"Nih ya buktinya. Aku tidak bohong, semua dari galeri, sampai tong sampah sudah kosong!" Balas Ney dengan mantap. Tumben kali ini dia bisa jujur.
"Benar yang di gambar tempat sampah sudah kosong?" Tanya Rita.
"Sudaaaaah nih ya lagi proses penghapusan. Kamu kok tidak percaya sih?" Tanya Ney sebal.
"Ya kamu kan minim jujur Ney," balas Arnila.
Dengan kesal, Ney kirimkan video lagi. "Nih," katanya. Benar Tempat sampah itu sedang dalam proses penghapusan file besar. Ya semoga saja memang foto Alex.
"Itu kalau sudah dihapus apa bisa dipanggil lagi?" Tanya Rita meyakinkan diri.
"Tidak akan bisalah. Itu permanen Rita tidak akan bisa panggil-panggil," balas Ney yang bete.
"Oh," kata Rita tertawa menang.
"Kecuali harus di telepon ke pusatnya kan. Tapi unt apa juga kan," kata Arnila yang sudah paham betul.
"Ho oh," kata Ney.
Proses itu kemudian selesai dalam 15 menit sebelum Rita beberkan kebenarannya. Dan akhirnya ponsel Ney bersih dari foto Alex yang sebenarnya. Lalu dengan marah Ney menghubungi temannya yang memberikan banyak info dan foto video soal Alex.
"Woi kok lu bisa-bisanya sih kasih ke gue info yang salah? Kan gue malu jadinya!" Serobot Ney pada teman laki-lakinya itu.
Sebelum menelepon, Ney memastikan suaminya fokus menonton televisi.
"Hah? Ini soal apaan sih? Lu juga tiba-tiba marah tanpa ada penjelasan," balas temannya yang sedang mengerjakan sesuatu.
"Itu lho soal foto Alex, ternyata palsu semua. Gila ya lu bohongin gue," kata Ney.
"HAH!? Kata siapa? Itu asli dia kok, sepertinya ada yang sengaja deh mainin lu," kata temannya.
"Ah ya lu yang mainin gue," kata Ney menahan emosi ucapannya.
"Ih, sumpah Ney, itu benar Alex semua fotonya. Terus karena lu pikir gue bohong jangam-jangan fotonya," kata yang disana agak kaget.
"Ya iyalah gue sudah hapus semuanya! Kenapa juga masih gue simpan?" Tanya Ney sebal sekali.
Temannya menggaruk kan kepala keheranan. "Lah kok dihapus? Sekarang gini deh coba li tanya ya ke orang yang bilang foto gue itu palsu semua. TANYA yang benar jangan percaya doang," kata temannya itu menekan lalu menutup teleponnya.
Ney terdiam, masa iya dia kena jebakan Rita? Akhirnya dia mencoba bertanya dan memastikan bahwa dia tidak dipermainkan.
"Sudah. Kok teman gue bisa kasih info yang salah ya?" Tanya Ney sengaja. Bukan Rita namanya kalau instingnya menyala ada kemungkinan Ney tersadar.
"Memangnya Rita bilang yang bermasalah itu fotonya, Ney?" Tanya Arnila mulai membongkar.
Ney diam membacanya. "Maksud lu?"
"Ya kan si Rita belum kelar menjelaskan mana yang palsunya. Terus tiba-tiba lu yang bilang kalau fotonya palsu. Yakin fotonya palsu?" Tanya Arnila lagi.
"Jadi?" Tanya Ney mulai tegang.
"Kapan aku bilang fotonya Alex semua palsu? Kan situ yang heboh duluan," kata Rita juga.
__ADS_1
Ney memegang kepala dengan kedua tangannya, dia melihat lagi chatnya. Ya benar, dialah yang heboh soal foto padahal kan Rita belum jelaskan apa-apa.
"Jadi maksud lu yang palsu itu apa?" Tanya Ney agak deg-degan.
"Yang palsu itu nama akunnya. Nih kalian lihat kan Alex Safwan Alfarizki?" Tanya Rita mengirimkan foto akunnya Alex.
"Iya," jawab mereka berdua.
Arnila dari awal sudah tahu kalau itu bukan nama yang sebenarnya tapi hanya diam saja. Dia tidak mau semakin banyak masalah nantinya dan akhirnya terbongkar semua oleh Rita.
Ney masih terdiam, dia mulai mencerna apa kata Rita dan pemikirannya.
"Alex yang kita kenal itu Alex Haryaka Alfarizki kan?" Tanya Rita.
"Iya," jawab mereka lagi.
"Nah sekarang, yang kita lihat itu nama akunnya Alex Safwan Alfarizki Kamu mengerti tidak sih Ney? Simple sekali lho ini aku kira kamu sadarnya disini," jelas Rita.
"Tunggu," kata Ney yang akhirnya sadar. Rita sudah pasti tersenyum lebar dan bersorak tertawa.
Ya Ney kini sadar dan dia menggebrak kursi dengan kesal. Dia kemudian memeriksa lagi penghapusan foto dan sudah selesai. Dia berteriak namun ditahan, menggenggam ponselnya dan dia lempar dengan frustasi ke sofa luar.
"Wey, sadar kan apa yang sebenarnya salah?" Tanya Rita yang puas sekali.
"LU BOHONGIN GUE! MANA GUE SUDAH HAPUS SEMUA FOTO DIA!" Teriak Ney dalam chatnya.
"Lah kok marah ya? Lagipula untuk apa juga kamu simpan semua foto Alex? Jadi dosa lho karena kamu kan sudah menikah, Ney HAHAHAHA!" Balas Rita puas sekali tertawa keras di kamarnya.
"Ya anggap saja ini pembalasan buat kamu yang sering menyembunyikan titipan pesan dari Alex, Ney," kata Arnila.
"Siapa yang sembunyikan? Aku kan sudah mengantarkan semuanya," balas Ney.
"Ada yang kamu sembunyikan. Aku tahu itu Ney, kaku sendiri lho yang memberitahu. Eh ternyata Alex sendiri beri tahu Rita perihal titipannya," kata Arnila.
Ney tidak bisa membalas apapun lagi sekarang. Beberapa pesan Alex memang dia simpan entah untuk apa tapi karena akhirnya Alex katakan, hancur semua rencananya.
"Makanya jadi orang itu biasakan jujur. Aku juga tahu kok kamu sembunyikan beberapa pesan Alex buat aku. Ney, jangan iri pada rejeki orang nanti kamu yang rugi lho," balas Rita puas sekali.
Benar saja menurut teman laki-lakinya itu kalau dia sebenarnya dijebak atau dibalas. Ney kesal, sedih, frustasi, semuanya dia keluarkan.
"Iya kamu tuh susah sekali ya jujur bicara. Nanti lagi Rita, jangan percayakan apapun deh sama Ney. Untung Alex langsung beritahu apa yang dia titipkan buat kamu," kata Arnila.
"Entahlah, aku merasa sepertinya Alex sangat jujur sekali, Nil. Padahal kan baru kenal ya," kata Rita membayangkan wajah Alex.
Ney gregeeeeet sekali pada Rita. "Lu ya kalau memang bukan fotonya kenapa sih tidak langsung diberitahukan saja? Sekarang semua foto Alex alhasil hilang. PERMANEN!" Kata Ney sebaaal sekali.
Ney tanpa sadar menggebrak meja makan yang berada di ruangan lain. Membuat Dins menghampirinya dan melihat Ney marah sendirian.
"Kamu kenapa sih? Menggebrak meja makan segala? Kalau rusak bagaimana?" Tanya Dins memeriksa meja tersebut.
"Habis Rita menjebak aku sih. Sengaja kata dia," lapor Ney cemberut.
"Soal apa? Itu sudah pasti kamu yang pertama buat masalah. Sini ponselku!" Kata Dins menagih.
Ney tidak memberitahukan apa masalahnya dengan Rita. Tapi itu sudah cukup membuat Dins penasaran.
"Kenapa?" Tanya Ney agak gugup saat Dins memandanginya.
"Memangnya ada persoalan apa kamu sama Rita, sampai membuat kamu marah sekali," kata Dins menyelidikinya.
"E-eh itu Rita paksa aku untuk kenalan sama temannya," kata Ney berbohong.
"Laki-laki atau perempuan?" Tanya Dins.
"Perempuan," kata Ney gemetaran.
"Yakin? Kamu tidak bohong kan?" Tanya Dins.
"Dih, kenapa sih? Iya perempuan tapi aku menolak," kata Ney.
"Ohhh kalau laki-laki kamu tidak menolak ya?" Tanya Dins.
Ney terdiam.
"Aku tidak percaya kalau Rita mau mengenalkan kamu dengan teman perempuannya. Soalnya kamu kan sama Rita saja tidak bisa akur," kata Dins memeriksa sesuatu.
Ney terus diam, Dins yang tidak pernah menanyakan apapun soal Arnila atau temannya yang lain, apalagi Rita yang kejauhan. Entah kenapa Dins selalu tahu semuanya.
"Kok kamu bilang begitu sih? Rita itu teman aku lho. Kita ini Best Friend!" Kata Ney.
"Sudah sudah yank, kamu itu terlalu banyak berhalusinasi. Hadapi kenyataan deh. Kenapa aku bilang begitu? Karena semasa kita pacaran, kamu sama sekali tidak ada cerita soal Rita bahkan saat kita menikah, ada kamu undang dia?" Tanya Dins menatap Ney.
__ADS_1
Ney memainkan jarinya. Diam seribu kata, tidak menangis tidak sedih.
"Jangan memaksa orang untuk jadi teman atau sahabat kamu, yank. Itu tidak baik, menurutku cukup kamu dengan grup sosialita kamu jangan masukkan Rita atau... mengaku-aku sebagai teman dekat atau sahabat. Kamu bukan sahabatnya," kata Dins membelai kepala istrinya.
"Bukan, aku itu benar-benar teman dekatnya, Dins. Serius! Aku hanya lupa mengundang dia karena banyak urusan kan," kara Ney keukeuh.
"Sahabat mana ada kata Lupa mengundang? Sini kemari kan ponsel kamu," kata Dins meminta.
Ney menolak. "Kenapa? Untuk apa? Tidak ada apa-apa kok," kata Ney menyembunyikan.
"Kemari kan! Aku tahu kamu seperti apa," kata Dins akhirnya berhasil merebut ponsel istrinya.
Dins memeriksa semua chat WA termasuk dengan Arnila dan Rita. Dins menghela nafas saat membaca di sebuah kalimat yang terbaru.
"Kamu simpan foto lelaki lain? Siapa!? Foto selain aku sebagai suami kamu," kata Dins dengan nada mengancam.
Dins orangnya tidak kejam dia begitu karena kelakuan Ney yang sudah menikah masih juga jelalatan dengan laki-laki lain.
"Tidak ada. Periksa saja," kata Ney menggigit jarinya.
Perilakunya itu sudah jelas diketahui oleh Dins. Mereka pacaran lebih dari 6 tahun hanya Ney saja yang tidak tahu perilaku Dins. Ya, bukan hanya soal Rita, bahkan suaminya sendiri dia sama sekali tidak kenal.
"Nih. Awas ya kalau aku menangkap dalam galeri kamu ada laki-laki lain," kata Dins lalu keluar rumah.
Tanpa ada rasa penyesalan, Ney lega sekali Dins keluar lalu merasa lega juga menatap galerinya kini hanya ada foto dirinya sendiri.
Kemudian Ney menerima telepon dari temannya dan Ney menceritakan segalanya. Tapi tanpa memberitahukan bahwa yang salah pertama adalah dirinya.
"HAHAHA teman kamu pintar sekali ya bisa menjebak kamu untuk menghapus semua foto Alex," katanya tertawa keras.
Ney kesal setengah mati mendengarnya. Bukannya cemas pada suaminya yang entah kemana, Ney malah asyik menelepon.
"Malah ketawa lagi. Eh kamu masih punya foto dia kan? Aku hapus kan kalau salah, ya masih ada lu yang jadi back up nya," kata Ney dengan riang. Kesedihannya kini berubah menjadi ceria.
"Ya tidaklah," balas temannya itu.
"Lho?" Tanya Ney yang membeku di tempat duduknya.
"Waktu aku share ke kamu itu, ya itu yang terakhir kalinya aku simpan semua foto dan videonya. Aku juga sudah hapus permanen semua," kata temannya.
Ney menepuk dahinya dan memeluk kedua kakinya. Dia menggerakkan kedua kakinya dengan stres mirip anak yang yang mengalami gangguan kesehatan.
"Videonya juga?" Tanya Ney tidak percaya.
"SEMUA! Lagian untuk apa sih? Lu kan sudah merit Ney," kata teman laki-lakinya itu keheranan.
"Teman ku ada yang kenal sama dia kalau aku masih punya fotonya, ya otomatis kan aku juga bisa sedekat sama mereka gitu," kata Ney yang pusing.
"WAH! SERIUS!? Gila keren sekali teman kamu, Ney. Wah patut diacungi jempol deh. Tuh orang syusyah sekali kalau diajak kenalan ke perempuan," kata temannya itu terkejut sekali.
"Memangnya kenapa sih?" Tanya Ney kepo. Dalam dirinya dia tidak suka kalau Rita harus lebih dekat dengan Alex, yaa karena iri.
"Wah, gila deh keluarganya. Kalau teman kamu bisa meraih hatinya, sudah deh Alex akan bertekuk lutut. Apapun akan dilakukan demi perempuan itu. Aku kenal dia, semua kampus yang perempuannya kan tergila-gila sama dia," kata temannya semangat.
Ney bengong dan diam. "Serius? Keluarganya parah atau gimana?" Tanya Ney yang tidak suka.
"Parah tajir melintir deh! Tidak ada perempuan di kampus gue yang bisa merebut hatinya. Ada yang tanya nomor ponsel dia, aku kasih. Tahu tidak? Selama apapun tidak akan pernah dibalas. Sampai teman gue merit juga diblokir! Wah parah teman lu pasti orangnya baik ya," kata temannya.
Tuh kan benar saja ingin rasanya Ney membanting semua barang. Rita Rita Rita, kenapa sih harus Rita yang jadi anak baik? Bukan dia? Alex adalah doanya tapi kenapa Allah mempertemukannya dengan Rita??
"Memangnya kenapa kalau baik?" Tanya Ney agak jutek.
"Dulu si Alex buat sayembara katanya kalau dia mendapatkan perempuan yang asli baik, tulus hatinya buat dia, bukan yang gila harta atau matre. Dia akan beri perempuan itu mobil mewah dan beberapa tumpuk uang. Makanya gila banget," kata temannya membuat Ney semakin membara kepanasan.
"Duh, kepanasan nih gue," kata Ney mengipas-ngipaskan badannya.
"Jangan iri Ney setiap manusia itu rejekinya berbeda. Kalau teman lu sampai bisa mendapatkan hati Alex, itu sudah rejekinya dia. Mungkin hanya teman lu yang bisa mengendalikan perilaku liar Alex. Dan yang bisa menyeimbangkan status keluarganya. Jangan sampai lu buat teman sendiri terluka," saran temannya.
Ney sudah tentu semakin cemberut. "Memangnya kenapa? Kan belum tentu jadi juga mereka," kata Ney senewen.
"Pasti jadi. Asli! Alex tuh bukan tipe laki-laki yang main-main apalagi kalau sudah menemukan apa yang dia cari terutama perempuan. Teman lu masuk ke kategori dia, ya siap-siap saja diboyong tuh anak. Eh selamat ya. Selamat berpanasan ria HAHAHAHA," Ney diketawain oleh temannya itu.
Langsung saja Ney matikan ponselnya dan rebahan. "Tidak mungkin Rita bisa mendapatkan Alex. Dia itu gila parah sekali anaknya! Aku harus cari cara supaya Rita tidak berhubungan lagi dengan Alex! Harus!" Katanya bangkit.
Dia menerima chat dari temannya. "Sori Ney, aku tidak bisa bantu lagi soal Alex. Alex kan sekarang ada di Malay ya, soal aku beritahu kamu foto sama video dia, aku dapat peringatan dari temannya di sana," katanya.
Ney membelalakkan matanya kaget. "Kok bisa? Kamu diancam?" Tanya Ney agak berdebar.
"Semacam itulah. Saran aku, jangan buat masalah dengan teman kamu deh. Karena dia sudah masuk ke lingkungan sekitar Alex. Aku yakin dia akan menghadapi orang-orang sekitar Alex nanti. Dan lu lebih baik stay away dari dia," kata temannya lalu tidak membalas chat lagi.
Mana mau Ney diberi saran seperti itu. Kalau benar Rita harus berhadapan dengan orang sekitar Alex, otomatis bantuannya akan sangat diperlukan. Dan Ney yakin Rita akan meminta bantuannya lagi. Ney tersenyum menang dan bersorak sendirian, menanti saat itu yang tidak akan pernah datang.
__ADS_1
Bersambung ...