
"Iya ih kamu ini bagaimana sih sehari - harinya? Mandi jarang. Daki pasti menumpuk tebal. Pokoknya Minggu depan kamu harus mandi dan wangi! Jejak air liur kamu juga itu ya Allah!" Kata Rita mengomel panjang. Siapa yang tidak jijik melihatnya? Bekas bangun tidur tapi tidak dibersihkan malah ditumpuk dengan bedak? Siapapun orangnya pasti melihatnya sangat jelas, alur dari mana bekas air liur itu.
"Pantas tidak ada yang tahan menemani kamu. Jorok ih," kata Arnila juga.
"Iya iya aku mandi dengan benar!" Kata Ney yang sangat senang karena mereka berdua perhatian padanya. Apa dia sengaja ya berperilaku seperti itu? Tapi sejak SMP pun memang begitu, masa iya kalau sengaja? Memang begitu sepertinya dia kurang bisa merawat dirinya sendiri. Sikap cuek juga tidak sampai separah itu soal kecantikan dirinya sendiri.
"Kamu tuh sebentar lagi in sha allah ya mau menikah, tapi masih sejorok itu. Ya Allah pakai make up juga tidak benar semua, pakai bedak tapi tidak merata! Kamu bagaimana sih pakainya? Gugling sana pakai make up yang benar itu seperti apa, sampai bisa merata. Cara maskara juga bagaimana bukan hanya bisanya ke salon saja! Setiap pergi, pasti saja bau apek. Sudah mau nikah harus ekstra kamu perawatan malau tidak, Dins bisa pindah ke lain hati! Kamu bisanya saja bilang ke aku soal Alex, kamu sendiri? Setidaknya aku sudah sejak keluar SMP mulai tertarik kosmetik," Rita panjang lebar mengomeli Ney meski dia yakin tidak akan didengarkan.
Selama ini entah seperti apa dia merawat diri, jarang mandi banget. Mending ya jarang mandi meski tidak bagus tapi setidaknya soal tahi mata dan air liur itu digosok habis sampai tidak ada jejak. Tapi ini tidak dan sudah berapa tahun Rita atau Arnila ber"teman" dengannya juga sama sekali tidak ada perubahan. Aneh banget sama nih perempuan, sama sekali tidak pernah berseka diri. Sudah untung juga ada yang mau sama dia, mungkin terpaksa karena dia orangnya cuek dan kalau sudah jodoh ya mau bagaimana lagi kan.
Secueknya perempuan jangan sampai cuek banget sama penampilan. Secueknya perempuan juga pasti ada rasa ingin menarik di depan lelaki sampai bela - belain segala macam produk perawatan dan kecantikan. Tapi kalau Ney, Rita sama sekali belum pernah melihat dia membeli peralatan dandan meski ada bedak atau lipgloss. Sekalinya memakai maskara, sama sekali tidak rapi dan bedak pun seperti belang - belang.
"Kalian berdua kenapa sih malah mentingin soal penampilan aku, itu kan urusan aku! Aku saja tidak peduli lihat kan masih ada yang bisa menerima gue meskipun gue tidak pernah perawatan apapun," katanya. Memang iya tapi laki - laki siapapun mau sederhana atau simpel pasti ingin perempuannya agak centil atau bisa merawat tampilan. Meskipun Dins cuek juga tapi pasti ingin Ney tampil lebih glowing. Tapi memang dasarnya Ney sih kurang peka dengan masalah kewanitaan. Daripada dibilang sok tahu lagi, ya mudah - mudahan dia nanti tersadar sebelum kealamin pindah ke hati lain.
"Iya menerima tapi tetap kalau sudah menikah kamu harus membuat suami selalu tertarik sama kamu. Banyak kok kasusnya sewaktu sudah nikah, suaminya malah menyesal karena istrinya sama sekali tidak pernah rawat diri!" kata Arnila. Dengan kejadian ini membuat Rita anggap sebagai pembelajaran juga. Wanita memang perlu dan harus bisa dandan meski simpel.
"Sudahlah, Dins saja mau sama aku yang tidak pandai merawat diri seperti Rita. Jadi tidak masalah kan?" Tanya Ney.
"Iya memang tidak masalah tapi jangan lupa identitas kamu sebagai seorang perempuan. Secueknya kamu, harus bisa berpenampilan menarik untuk Dins nanti jangan sampai kamu termasuk ke dalam perempuan yang diminta cerai sama suami karena terlalu cuek sama penampilan kamu sendiri. Dan, kamu harus mulai banyak belajar memasak juga," kata Rita yang tetap saja mengingatkan. Selama ini Ney memasak, kalau merasa "kepanasan" dengan kemampuan Rita yang langsung bisa masak.
Padahal Rita saja harus berlatih untuk memukul telor jangan sampai kulitnya hancur. Itu adalah latihan dasarnya agar bisa memasak. Dia selalu melihat ibunya dan adiknya memasak, jadi bisa tahu cara menggunakan pisau, wajan, dan semua alat dapur lainnya. Rita pandai memasak masakan barat apalagi Jepang. Meskipun pandai tidak membuat dirinya menjadi ahli, Rita hanya memasak masakan yang dia sukai tentu saja sudah jadi, semua anggota keluarga ikut memakannya. Juga mengepaskan kadar bumbu seperti garam, merica, pala bubuk, apapun.
__ADS_1
Ney pikir Rita memendam semua kemampuannya hanya untuk mengujinya padahal, Rita memang bukan orang yang suka pamer. Dia hanya ingin Ney tahu kalau dia memasak untuk pertama kalinya tapi malah membuatnya dibilang pamer. Memang sangat aneh orang ini, terlalu banyak aura negatif sampai otaknya. Ney memang harus dibersihkan alias diruqyah karena sering kali berpikir negatif mengenai Rita.
"Kamu bisa masak ya, Ri. Aku mau dong sekali - kali makan masakan buatan kamu. Aku lihat tangan kamu, kamu memang dianugerahkan tangan yang kalau memasak pasti enak!" Kata Arnila.
"Alhamdulillah, Nil dari aku belajar cara memukul telor mulai lancar memasak. Aku kan selalu lihat ibu dan adikku kalau memasak jadi bisa sekalian belajar juga. Boleh, Nil. Nanti aku buatkan," balas Rita yang senang lalu dia mulai memikirkan baiknya buat apa.
"Asyik! Masak yang gampang saja, Ri biar tidak banyak waktu," kata Arnila yang enggan merepotkan.
"Memangnya masakan kamu enak?" Tanya Ney yang kurang suka saat tahu Rita bisa masak.
"Nanti coba saja. Aku punya menu andalan dari puding, kue, sampai burger. Nanti aku buat sekalian piknik saja yuk," ajak Rita tidak mempedulikan anggapan sinis Ney.
"Jangan minggu depan waktu kita ketemulah. Kan niatnya mau jalan - jalan juga kan. Nanti deh sesudah itu lewat berapa hari baru kita piknik. Bagaimana?" Tanya Rita.
"Aku sih oke saja. Kamu bagaimana, Ney?" Tanya Arnila.
"Kapan saja deh. Bagaimana kalau kita sama - sama membuat makanan andalan juga? Jangan hanya Rita saja yang masak, kita juga jangan sampai kalah,"
"Memangnya kita sedang lomba masak?" Tanya Arnila yang tahu kalau Ney memang tidak pernah mau kalah. Pikirnya Rita ingin memamerkan masakannya padahal kan Arnila yang minta dibuatkan.
"Oh iya," jawabnya singkat.
__ADS_1
"Oke deh sudah malam nih. Aku mau tidur cepat besok kan harus pergi mengajar lagi," kata Rita yang ternyata sudah malam untungnya dia sudah sholat Maghrib sebelum memulai obrolan lagi.
"Kamu serius besok mau pergi mengajar?" Kata Ney keheranan.
"Iyalah. Besok kan masih ada jadwalnya. Kenapa?" Tanya Rita yang keanehan.
"Ya kamu nanti kecelakaan lho," Ney mengingatkan kembali pada penglihatannya.
"Ooh, tidak masalah. Kalau harus terjadi pasti terjadi. Kun fayakun, kan. Aku akan berdoa lebih heboh besok pagi supaya dihindarkan," kata Rita yang mulai malas menjawab soal itu. Baginya hanya Allah saja yang bisa memutuskan apakah dia akan mengalami musibah atau tidak.
"Penglihatan aku tuh selalu tepat lho. Kamu yakin masih mau pergi? Menurut aku sih lebih baik jangan deh," Ney masih memaksa Rita untuk tidak pergi. Seenaknya banget ya, dia bukan orang yang mengerti kalau gaji itu sangat penting untuk Rita jadi dia tidak perlu meminta uang jajan lagi pada ibunya.
"Iya aku yakin mau pergi kok. Kamu kenapa sih? Biasanya juga tidak peduli mau aku terkena musibah atau tidak," kata Rita sangat heran. Dia punya alasan apa ya?
"Alex itu ingin kamu ada banyak waktu buat dia, Rita. Jangan egois bisa tidak sih?" Tanya Ney yang membuat Rita semakin aneh.
"Egois? Coba kamu bercermin deh siapa yang egois sebenarnya. Kamu memaksa ke aku harus mempercayai penglihatan kamu, lalu kamu memaksa juga agar aku tidak pergi mengajar karena alasan penglihatan kamu juga, lalu kamu maksa juga aku untuk terus kontak sama Alex? Tolong ya, jangan egois hanya untuk kepentingan kamu sendiri! Sudah aku mau tidur. Lagipula, Alex sangat lapang dada tahu kalau aku bekerja juga untuk bisa mandiri! Aku bukan istrinya yang harus on buat dia, bedalah kalau memang istrinya dengan senang hati aku berada dekat dia terus."
Rita menutup obrolannya dengan yang terakhir itu. Rita menggeleng - geleng kan kepalanya, sok tahu banget! Meski Rita tahu Alex sangat kesepian tapi mereka masih bisa mengobrol dengan waktu yang ada. Harus stop mengajar? Helllooooowww siapa dia siapa Alex? Bukan siapa - siapa lagipula Rita sudah mendapatkan gaji tambahan sampai 2 juta mana ada pikiran berhenti mengajar. Aneh banget pemikiran Ney, dasar egois!
BERSAMBUNG ...
__ADS_1