ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
1


__ADS_3

Ney hanya bisa terdiam mendengarkan apa yang dilihat oleh Arfa dalam kartunya. Tanpa perlu dikatakan detailnya, bagian yang dia sembunyikan terbeber kan. Ney tidak bisa lagi berkutik. Arfa dalam hati hanya merasa aneh bagaimana bisa mereka bertiga memiliki ikatan teman?


Padahal isinya saja sama sekali tidak ada yang sama. "Sudah jalan Tuhan mereka harus begini kali ya. Dan ada akhir bagi Ney yang kurang enak dilihatnya. Tapi itu semua adalah hasil dari kesalahannya yang enggan mengakui. Apalagi enggan berubah," pikir Arfa agak merinding.


Ney : "Oh ya? Aku tidak ada masalah kok sama


dia, apa kamu tidak salah lihat?"


Ney menghindari tatapan Arfa yang tajam.


Arfa : "Wajahnya bersinar membuat kamu risih,


banyak yang nyaman dengannya. Kamu


tahu tidak bagaimana dia bisa seperti itu?"


Ney : "Pastilah dia pakai pelet kan makanya bisa


mulus,"


Arfa : "Wudhu. Dan mengerjakan sholat lima


waktu, dia selalu meminta diberikan Sinar


pada Tuhannya. Ya dia dapatkan, lalu dia


banyak dzikir juga. Kamu tidak


mencobanya? Kamu Islam kan? Kenapa


malah jauh dari agama sih?"


Pertanyaan Arfa sudah tentu langsung menonjok hati ( Ups, lupa mana punya dia ) dan jantungnya. Apalagi dikaitkan dengan agamanya sendiri. Orang Muslim biasanya banyak berdoa, banyak berserah diri tapi tidak dengan Ney.


Ney : "Memangnya bisa cuma melakukan itu


saja?"


Arfa : ( angkat bahu ) "Wajar kamu tidak tahu toh


kamu Islam KTP. Mengaku Islam tapi tidak


pernah mengerjakan kewajiban. Makanya


ilmu kamu sangat rendah,"


Ney : "Kedatangan aku ke sini bukan untuk


membahas soal agama ya!" ( jutek )


Arfa : "Ini juga ada kaitannya dengan semua yang


sering kamu lakukan sejak dulu. Aku punya


kemampuan meramal untuk menolong


bukan mengintip. Tugasku memberikan


saran bukan menjelekkan orang. Sedikitnya


aku membantu memberitahukan apa yang


salah,"


Arfa menyilang kan kedua tangannya. Pantas sih anggota grup banyak yang menyuruh Ney mengurungkan niatnya. Sudah jelas tidak disukai Arfa eh tetap saja datang padahal peramal kan masih banyak yang lain.


Ney : "Ya tapi yang kamu jelaskan tidak enak aku


menerimanya,"


Arfa : "Ya memang begitu kenyataannya.


Meramal itu tanggung jawabnya besar ya


apalagi kalau disalah gunakan oleh orang


yang tidak ahli. Hanya dipakai untuk


menipu supaya dapat pujian, hukumannya


juga besar. Kalau kamu keberatan ya


pulang saja, kenapa juga harus datang ke


tempat aku,"


Ney memegang kepalanya, dia berpikir sepertinya memang salah dia datang ke sini. Tapi mau bagaimana lagi, mana sudah ditulis juga kedatangan dia di meja depan. Meski gratis.


Ney : "Oke, lanjut," ( menarik nafas dan memutuskan mendengarkan semuanya. Daripada menggantung nasibnya ).


Arfa : "Oke. Intinya memang kamu yang


bermasalah ya, kamu terima saja. Masalah


kamu itu ya diri kamu sendiri, banyak


bercermin makanya banyak belajar agama


kamu sendiri. Aku baca kamu sering ya


melemparkan kesalahan ke semua orang.


Yang melakukan itu kan kamu sendiri, Ney,"


Pernyataannya banyak jebakan yang harus dia jawab dengan jujur. Mau tidak mau Ney harus menjawab meski menolak.


Ney : "Yaaa. Ya dia itu kelihatannya jarang punya


masalah, Fa. Jadi sedikit aku tambahin


gitu," ( menjelaskan sambil tunduk kepala )


Arfa : "Ya Tuhan, Ney itu tidak boleh! Siapa kamu


memutuskan kalau dia jarang ada


masalah? Kamu nampak ke dia juga itu


masalah. Kamu itu bukan Tuhan,"


Arfa menggelengkan kepalanya dan berkali-kali juga garuk kepala. Sial sekali nasibnya kliennya ternyata Ney, orang yang sangat dia hindari.


Ney mengedip-ngedipkan kedua matanya menangkap sesuatu yang membuatnya heran.


Ney : "Tunggu, maksud kamu aku masalah bagi


dia. Maksudnya?"


Arfa : ( menarik nafas dan hembuskan ) "Begini


ya Ney, ujian dia itu kamu sejak dulu


sampai sekarang. Dulu kalian memang


tampak baik-baik saja tapi, masalah itu


sudah ada sejak kalian kenal dan berteman.


Masalahnya, Rita ini polos orangnya jadi


kamu bisa seenaknya injak-injak dia,


usir dia. Kamu banyak memanfaatkan


dia sih,"


Ney hanya menganga, dia kaget semuanya soal itu juga Arfa bisa tahu.


Arfa : "Dulu dia masih belum Terbangun lho


harusnya ya itu kesempatan baik untuk


kamu untuk bisa lebih menjaga


pertemanan. Sikapnya baik ke semua


orang dan kamu iri, coba kamu dulu


berhenti berpikir negatif soal dia,"


Ney : "Kalau sekarang? Dia masih baik kan sama


aku?"


Arfa : "Yang sekarang, dia Terbangun apalagi


orang asing itu juga niatnya


membangunkan dia. Untuk sadar siapa


kamu yang aslinya, bagaimana sikap


kamu yang asli ke dia. Terbukti kan, meski


dia Lebay ya orangnya dia sudah peduli


sama teman kamu dari awal kenal,"

__ADS_1


Ney terasa seperti kejedug beton membuat kepalanya pusing. Arfa hanya tertawa melihatnya memijat kepala. "Boleh juga sih jadi tahu ini anak bagaimana sebenarnya. Yah, tapi bukan berarti aku akan menjadi penyihir yang sama seperti dia. Ini jadi ilmu juga aku tidak boleh seperti dia," pikir Arfa.


Arfa membuka semua kartu menyisakan 1 yang dia simpan di paling pinggir. Dia membaca dan mengangguk lagi-lagi bernafas seperti lelah membaca apa yang baru dia lihat.


Arfa : "Aku lanjut saja ya. Dia yang sekarang


melihat kamu dengan memakai


Perasaannya. Banyak kebohongan yang


selalu kamu katakan daripada kebenaran.


Jadi dia sengaja menguji kamu, apakah


pilihannya tepat mencap kamu sebagai


teman yang baik atau sebenarnya kamu


itu... Fake, ya,"


Ney : ( Kaget ) "Dia memang baik, Fa tapi lemot


dan dia itu tidak peka,"


Arfa : "Kenapa kamu mempermasalahkan? Dan


baru sekarang? Kenapa tidak bilang ke dia


dari dulu? Apa harus ada orang lain yang


bergabung lalu kamu ungkapkan? Kamu


hobinya mempermalukan orang di hadapan


publik ya. Kamu selalu begitu sama yang


ini,"


Ney : "Aku suka kesal sekali sama dia kadang aku


juga suka marah. Aku itu stres sekali sama


dia,"


Arfa : "Kenapa masih bertahan?"


Arfa penuh selidik pada Ney. Ada gambar kartu yang memperlihatkan gambar banyak koin emas tentunya karena ada Alex.


Ney : "Ya kasihan kalau dia sendirian,"


Arfa : "Bukan itu alasannya,"


Ney : "Tidak kok itu alasannya,"


Arfa : "Bukan. Kamu bertahan karena kamu yang


kesepian. Apalagi sejak kamu tahu dia


kenal orang asing yang kaya, sejak itu kamu


merasa lebih penting. Akhirnya yang kena


playing victim kamu si satu lagi tuh, kamu


ajak dia merundung yang ini kan. Tanpa ada


perasaan bersalah, kamu puas-puasin diri


menjatuhkan dia di depan laki-laki itu,"


Ney ingin membantah tapi mulut dan badannya seakan enggan melakukannya. Dia hanya bisa diam, Arfa sangat mengutuk sikap perundungan. Menurutnya semua masalah lebih bagus diselesaikan secara baik-baik.


"Tahaaan. Sabaaar, Arfa" pikirnya pada dirinya sendiri.


Arfa : "Aku sarankan ya kalau kamu tidak tahan


sama dia, lebih baik pergi saja deh dari


sekarang,"


Ney : "Pergi bagaimana?"


Arfa : "Ya pergi, go away! Leaving her alone. Pergi


daripada kamu menyakiti dia. Kamu sering


sekali mengecewakan dia secara sadar ya


bukan tidak sengaja. Karena kamu tidak


mengerti bagaimana menjadi teman yang


Ney : "Itu... kalau itu... aku... tidak bisa..."


( bergumam )


Arfa : "Iya dia memang kenal dengan laki-laki


asing itu. Tapi soal dia aslinya tidak lemot,


dia juga peka sekali kok. Kamu yang tidak


peka dalam hubungan kamu dan dia. Kamu


tidak mau mengenal dia lebih jauh, dia


sendiri tanpa perlu kamu bilang sudah bisa


lihat kamu seperti apa orangnya,"


Ney : "Aku tidak perlu... dia sampai seperti itu!"


Arfa : "Dia itu teman yang sebenarnya dan kamu


bukan teman yang sebenarnya. Jadi kalian


memang kurang cocok,"


Ney : "Tapi ke aku, perlakuannya berbeda. Aku


merasa seperti dipermainkan,"


Arfa : "Oh ya? Kapan?"


Ney : "Ada. Hmmm kapan ya. Aduh aku lupa,"


Ney sibuk mencari-cari jawabannya dan Arfa ambil dengan cepat lalu memberikannya pada asisten.


Arfa : "Disini klien tidak diijinkan membuka ponsel


kecuali bila aku yang meminta. Dan kamu


sejak awal memang tidak ada sopan ya


langsung masuk ke area sini.


Mentang-mentang kenal kamu diajari kan


sopan santun bertandang ke rumah


orang?"


Ney : "Sori tadi aku pikir tidak ada orang jadi aku


langsung ke sini. Mana aku tahu harus


daftar dulu. Ya sudah deh aku tulis nama


dulu,"


Ney mencari buku dan hendak beranjak.


Arfa : "Sudah telat, tahu tidak! Dilatih ya


kesopanan kamu. Telatnya kamu tata


krama ini sama dengan telatnya kamu bisa


dekat lagi dengan mereka berdua,"


Ney memandangi Arfa dengan wajah kaget, sangat terlihat jelas. Namun Arfa tidak perduli toh dia bukan tukang intip atau tukang kepo.


Arfa : "Kalau tahun kemarin iya, dia ada memper


mainkan kamu. Karena yang sudah aku


bilang tadi, dia merasa kamu mulai dekati


dia hanya untuk kepo ke laki-laki asing ini,"


Ney terdiam sambil memainkan jari tangannya.


Arfa : "Kalau saat dia berteman dengan kamu di


masa sekolah, tidak ada. Dia sekarang ini


banyak menguji kamu karena

__ADS_1


pengalamannya di masa sekolah dulu.


Kamu juga tidak ada peduli karena sibuk


dengan pacar dan kecengan kamu, jadi


jangan sibuk menyalahkan. Lihat dulu diri


kamu sendiri seperti apa dulu,"


Ney : " ...... "


Arfa : "Kamu menyimpan rahasia pacaran dengan


siapa, ada kamu cerita ke dia? Tidak kan.


Dia ini orangnya bukan pemaksa seperti


kamu Ney, kamu enggan berteman sama


dia, dia tidak akan kenapa-kenapa. Kamu


enggan menceritakan apapun ya oke, tapi


jangan menyalahkan apapun soal apa


yang kamu lakukan ke dia,"


Ney masih terus diam.


Arfa : "Dia menguji kamu karena kamu selalu


merendahkan dia. Kamu tahu jelas apa


kekurangannya tapi tidak pernah kamu


apa-apa kan dulu? Kenapa sekarang kamu


berbalik menyerang? Ingin dipandang


superior sama laki-laki asing itu? Sadar Ney,


laki-laki itu juga muak sama kamu.


Kelakuan kamu memalukan makanya dia


ingin perempuan yang dia sayangi ini


menjauh dari kamu!"


Ney terus menatap jari-jari tangannya, Arfa inginnya menghentikan ramalannya tapi sekali lagi dia harus profesional!!


~Haduh, Saya mengerti perasaan Anda~


Ney : "Apa... normal kalau dia begitu ke aku?"


Arfa : "Tidak. Dan kalau orang yang dia kenal itu


kamu, aku setuju! Menguji orang dengan


niat dia tulus atau tidak, itu harus! Apalagi


kalau sifat orang itu angin-angin seperti


kamu! Ada ketidaksukaan dari dalam diri


kamu ke dia. Kalau kamu mau membantu


orang, jangan sekali-kali mengharapkan


pamrih atau keuntungan, Ney. Kamu tidak


buat dia sampai luka kan?"


Arfa memandanginya.


Ney : "Membuat luka? Aku tidak mendorong dia


ke lantai atau aku lempar batu ke dia kok,"


Arfa : "Luka secara artian dengan mulut dan otak


jahat kamu,"


Ney masih kebingungan dan Arfa meletakkan gambar hati yang tertancap 2 pedang sampai berada di tengah pedang tersebut.


Ney : "Maksud gambar ini apa?"


Arfa : "Itu hati dia tertancap pedang sampai


tengah berarti lukanya dia dalam sekali.


Ada 2 orang yang membuat dia sangat


trauma. Yang pertama berada dalam posisi


paling atas, orang yang dia percayai


sebagai teman tapi seorang pengkhianat,"


Ney menatap lekat kartu itu, wajahnya menyiratkan dia tahu siapa itu. Dia mengusap wajahnya dan memalingkan wajah.


Arfa : "Yang kedua, orang yang baru dia suka


ternyata sama saja isinya dengan kamu.


Posisi kalian tidak aman,"


Ney tiba-tiba tertawa saat dia tahu orang kedua adalah Alex. Arfa yang melihatnya menaikkan alis mata sebelah.


Ney : "Jadi aku ada teman dong,"


Arfa : "Kok kamu tertawa? Karena ada teman?


Kalian sudah melukai orang yang tidak


bersalah lho apalagi kamu seret orang yang


tidak tahu apa-apa dan setelah puas, kamu


usir yang satu itu dan membuat yang ini


menangis? You freak,"


Ney terdiam menghentikan ketawanya.


Ney : "Aku tidak pernah ya membuat masalah


apalagi yang sampai membuat dia terluka.


Dia itu terlalu baper dan sensitif saja,"


Arfa : "Dan kamu sangat kurang ajar dalam


menilai orang. Kamu ingat Syifa? Dia juga


kamu perlakukan seenaknya,"


Ney menelan ludahnya, ya Syifa anggota baru yang sekarang lebih memilih pindah grup. Nasibnya juga sama dengan Arnila dan Rita, sebagian grup menolak keras dia dimasukkan. Karena ketua masih memberikan kesempatan, setengah anggota memutuskan membuat kelompok baru.


Ney : "Aku kan sudah minta maaf juga. Masa


kamu terus bawa-bawa masalah itu sih?"


Arfa : "Karena Syifa itu adik dari kakak ipar aku,"


Ney tersentak kaget.


Arfa : "Kamu klien aku, ini peringatan saja. Kalau


tidak tahu lebih baik diam jangan nyerocos


asal mulut kamu!"


Ney : "Iya. Terus masalah apa sih maksudnya


tadi?"


Arfa : "Merundung perempuan ini contohnya.


Sama dengan yang sering kamu lakukan ke


banyak orang,"


Kedua mata Ney membesar, dia merapihkan rambutnya dan berusaha menjelaskan.


Ney : "Aku tidak bermaksud merundung dia kok,"


Arfa terdiam menatap datar Ney.


Ney : "Me-memangnya kenapa? Kalau aku


merundung dia lalu akan ada apa?"


Arfa memberikan kartu yang bergambar awan dengan kata Spesial di tengah awan itu. Ney melihatnya tampak di atas awan.


Arfa : "Coba jelaskan menurut kamu apa?"

__ADS_1


Ney garuk kepala dan mengangkat bahu.


Bersambung ...


__ADS_2