
Ney hanya bisa terdiam mendengarkan apa yang dilihat oleh Arfa dalam kartunya. Tanpa perlu dikatakan detailnya, bagian yang dia sembunyikan terbeber kan. Ney tidak bisa lagi berkutik. Arfa dalam hati hanya merasa aneh bagaimana bisa mereka bertiga memiliki ikatan teman?
Padahal isinya saja sama sekali tidak ada yang sama. "Sudah jalan Tuhan mereka harus begini kali ya. Dan ada akhir bagi Ney yang kurang enak dilihatnya. Tapi itu semua adalah hasil dari kesalahannya yang enggan mengakui. Apalagi enggan berubah," pikir Arfa agak merinding.
Ney : "Oh ya? Aku tidak ada masalah kok sama
dia, apa kamu tidak salah lihat?"
Ney menghindari tatapan Arfa yang tajam.
Arfa : "Wajahnya bersinar membuat kamu risih,
banyak yang nyaman dengannya. Kamu
tahu tidak bagaimana dia bisa seperti itu?"
Ney : "Pastilah dia pakai pelet kan makanya bisa
mulus,"
Arfa : "Wudhu. Dan mengerjakan sholat lima
waktu, dia selalu meminta diberikan Sinar
pada Tuhannya. Ya dia dapatkan, lalu dia
banyak dzikir juga. Kamu tidak
mencobanya? Kamu Islam kan? Kenapa
malah jauh dari agama sih?"
Pertanyaan Arfa sudah tentu langsung menonjok hati ( Ups, lupa mana punya dia ) dan jantungnya. Apalagi dikaitkan dengan agamanya sendiri. Orang Muslim biasanya banyak berdoa, banyak berserah diri tapi tidak dengan Ney.
Ney : "Memangnya bisa cuma melakukan itu
saja?"
Arfa : ( angkat bahu ) "Wajar kamu tidak tahu toh
kamu Islam KTP. Mengaku Islam tapi tidak
pernah mengerjakan kewajiban. Makanya
ilmu kamu sangat rendah,"
Ney : "Kedatangan aku ke sini bukan untuk
membahas soal agama ya!" ( jutek )
Arfa : "Ini juga ada kaitannya dengan semua yang
sering kamu lakukan sejak dulu. Aku punya
kemampuan meramal untuk menolong
bukan mengintip. Tugasku memberikan
saran bukan menjelekkan orang. Sedikitnya
aku membantu memberitahukan apa yang
salah,"
Arfa menyilang kan kedua tangannya. Pantas sih anggota grup banyak yang menyuruh Ney mengurungkan niatnya. Sudah jelas tidak disukai Arfa eh tetap saja datang padahal peramal kan masih banyak yang lain.
Ney : "Ya tapi yang kamu jelaskan tidak enak aku
menerimanya,"
Arfa : "Ya memang begitu kenyataannya.
Meramal itu tanggung jawabnya besar ya
apalagi kalau disalah gunakan oleh orang
yang tidak ahli. Hanya dipakai untuk
menipu supaya dapat pujian, hukumannya
juga besar. Kalau kamu keberatan ya
pulang saja, kenapa juga harus datang ke
tempat aku,"
Ney memegang kepalanya, dia berpikir sepertinya memang salah dia datang ke sini. Tapi mau bagaimana lagi, mana sudah ditulis juga kedatangan dia di meja depan. Meski gratis.
Ney : "Oke, lanjut," ( menarik nafas dan memutuskan mendengarkan semuanya. Daripada menggantung nasibnya ).
Arfa : "Oke. Intinya memang kamu yang
bermasalah ya, kamu terima saja. Masalah
kamu itu ya diri kamu sendiri, banyak
bercermin makanya banyak belajar agama
kamu sendiri. Aku baca kamu sering ya
melemparkan kesalahan ke semua orang.
Yang melakukan itu kan kamu sendiri, Ney,"
Pernyataannya banyak jebakan yang harus dia jawab dengan jujur. Mau tidak mau Ney harus menjawab meski menolak.
Ney : "Yaaa. Ya dia itu kelihatannya jarang punya
masalah, Fa. Jadi sedikit aku tambahin
gitu," ( menjelaskan sambil tunduk kepala )
Arfa : "Ya Tuhan, Ney itu tidak boleh! Siapa kamu
memutuskan kalau dia jarang ada
masalah? Kamu nampak ke dia juga itu
masalah. Kamu itu bukan Tuhan,"
Arfa menggelengkan kepalanya dan berkali-kali juga garuk kepala. Sial sekali nasibnya kliennya ternyata Ney, orang yang sangat dia hindari.
Ney mengedip-ngedipkan kedua matanya menangkap sesuatu yang membuatnya heran.
Ney : "Tunggu, maksud kamu aku masalah bagi
dia. Maksudnya?"
Arfa : ( menarik nafas dan hembuskan ) "Begini
ya Ney, ujian dia itu kamu sejak dulu
sampai sekarang. Dulu kalian memang
tampak baik-baik saja tapi, masalah itu
sudah ada sejak kalian kenal dan berteman.
Masalahnya, Rita ini polos orangnya jadi
kamu bisa seenaknya injak-injak dia,
usir dia. Kamu banyak memanfaatkan
dia sih,"
Ney hanya menganga, dia kaget semuanya soal itu juga Arfa bisa tahu.
Arfa : "Dulu dia masih belum Terbangun lho
harusnya ya itu kesempatan baik untuk
kamu untuk bisa lebih menjaga
pertemanan. Sikapnya baik ke semua
orang dan kamu iri, coba kamu dulu
berhenti berpikir negatif soal dia,"
Ney : "Kalau sekarang? Dia masih baik kan sama
aku?"
Arfa : "Yang sekarang, dia Terbangun apalagi
orang asing itu juga niatnya
membangunkan dia. Untuk sadar siapa
kamu yang aslinya, bagaimana sikap
kamu yang asli ke dia. Terbukti kan, meski
dia Lebay ya orangnya dia sudah peduli
sama teman kamu dari awal kenal,"
__ADS_1
Ney terasa seperti kejedug beton membuat kepalanya pusing. Arfa hanya tertawa melihatnya memijat kepala. "Boleh juga sih jadi tahu ini anak bagaimana sebenarnya. Yah, tapi bukan berarti aku akan menjadi penyihir yang sama seperti dia. Ini jadi ilmu juga aku tidak boleh seperti dia," pikir Arfa.
Arfa membuka semua kartu menyisakan 1 yang dia simpan di paling pinggir. Dia membaca dan mengangguk lagi-lagi bernafas seperti lelah membaca apa yang baru dia lihat.
Arfa : "Aku lanjut saja ya. Dia yang sekarang
melihat kamu dengan memakai
Perasaannya. Banyak kebohongan yang
selalu kamu katakan daripada kebenaran.
Jadi dia sengaja menguji kamu, apakah
pilihannya tepat mencap kamu sebagai
teman yang baik atau sebenarnya kamu
itu... Fake, ya,"
Ney : ( Kaget ) "Dia memang baik, Fa tapi lemot
dan dia itu tidak peka,"
Arfa : "Kenapa kamu mempermasalahkan? Dan
baru sekarang? Kenapa tidak bilang ke dia
dari dulu? Apa harus ada orang lain yang
bergabung lalu kamu ungkapkan? Kamu
hobinya mempermalukan orang di hadapan
publik ya. Kamu selalu begitu sama yang
ini,"
Ney : "Aku suka kesal sekali sama dia kadang aku
juga suka marah. Aku itu stres sekali sama
dia,"
Arfa : "Kenapa masih bertahan?"
Arfa penuh selidik pada Ney. Ada gambar kartu yang memperlihatkan gambar banyak koin emas tentunya karena ada Alex.
Ney : "Ya kasihan kalau dia sendirian,"
Arfa : "Bukan itu alasannya,"
Ney : "Tidak kok itu alasannya,"
Arfa : "Bukan. Kamu bertahan karena kamu yang
kesepian. Apalagi sejak kamu tahu dia
kenal orang asing yang kaya, sejak itu kamu
merasa lebih penting. Akhirnya yang kena
playing victim kamu si satu lagi tuh, kamu
ajak dia merundung yang ini kan. Tanpa ada
perasaan bersalah, kamu puas-puasin diri
menjatuhkan dia di depan laki-laki itu,"
Ney ingin membantah tapi mulut dan badannya seakan enggan melakukannya. Dia hanya bisa diam, Arfa sangat mengutuk sikap perundungan. Menurutnya semua masalah lebih bagus diselesaikan secara baik-baik.
"Tahaaan. Sabaaar, Arfa" pikirnya pada dirinya sendiri.
Arfa : "Aku sarankan ya kalau kamu tidak tahan
sama dia, lebih baik pergi saja deh dari
sekarang,"
Ney : "Pergi bagaimana?"
Arfa : "Ya pergi, go away! Leaving her alone. Pergi
daripada kamu menyakiti dia. Kamu sering
sekali mengecewakan dia secara sadar ya
bukan tidak sengaja. Karena kamu tidak
mengerti bagaimana menjadi teman yang
Ney : "Itu... kalau itu... aku... tidak bisa..."
( bergumam )
Arfa : "Iya dia memang kenal dengan laki-laki
asing itu. Tapi soal dia aslinya tidak lemot,
dia juga peka sekali kok. Kamu yang tidak
peka dalam hubungan kamu dan dia. Kamu
tidak mau mengenal dia lebih jauh, dia
sendiri tanpa perlu kamu bilang sudah bisa
lihat kamu seperti apa orangnya,"
Ney : "Aku tidak perlu... dia sampai seperti itu!"
Arfa : "Dia itu teman yang sebenarnya dan kamu
bukan teman yang sebenarnya. Jadi kalian
memang kurang cocok,"
Ney : "Tapi ke aku, perlakuannya berbeda. Aku
merasa seperti dipermainkan,"
Arfa : "Oh ya? Kapan?"
Ney : "Ada. Hmmm kapan ya. Aduh aku lupa,"
Ney sibuk mencari-cari jawabannya dan Arfa ambil dengan cepat lalu memberikannya pada asisten.
Arfa : "Disini klien tidak diijinkan membuka ponsel
kecuali bila aku yang meminta. Dan kamu
sejak awal memang tidak ada sopan ya
langsung masuk ke area sini.
Mentang-mentang kenal kamu diajari kan
sopan santun bertandang ke rumah
orang?"
Ney : "Sori tadi aku pikir tidak ada orang jadi aku
langsung ke sini. Mana aku tahu harus
daftar dulu. Ya sudah deh aku tulis nama
dulu,"
Ney mencari buku dan hendak beranjak.
Arfa : "Sudah telat, tahu tidak! Dilatih ya
kesopanan kamu. Telatnya kamu tata
krama ini sama dengan telatnya kamu bisa
dekat lagi dengan mereka berdua,"
Ney memandangi Arfa dengan wajah kaget, sangat terlihat jelas. Namun Arfa tidak perduli toh dia bukan tukang intip atau tukang kepo.
Arfa : "Kalau tahun kemarin iya, dia ada memper
mainkan kamu. Karena yang sudah aku
bilang tadi, dia merasa kamu mulai dekati
dia hanya untuk kepo ke laki-laki asing ini,"
Ney terdiam sambil memainkan jari tangannya.
Arfa : "Kalau saat dia berteman dengan kamu di
masa sekolah, tidak ada. Dia sekarang ini
banyak menguji kamu karena
__ADS_1
pengalamannya di masa sekolah dulu.
Kamu juga tidak ada peduli karena sibuk
dengan pacar dan kecengan kamu, jadi
jangan sibuk menyalahkan. Lihat dulu diri
kamu sendiri seperti apa dulu,"
Ney : " ...... "
Arfa : "Kamu menyimpan rahasia pacaran dengan
siapa, ada kamu cerita ke dia? Tidak kan.
Dia ini orangnya bukan pemaksa seperti
kamu Ney, kamu enggan berteman sama
dia, dia tidak akan kenapa-kenapa. Kamu
enggan menceritakan apapun ya oke, tapi
jangan menyalahkan apapun soal apa
yang kamu lakukan ke dia,"
Ney masih terus diam.
Arfa : "Dia menguji kamu karena kamu selalu
merendahkan dia. Kamu tahu jelas apa
kekurangannya tapi tidak pernah kamu
apa-apa kan dulu? Kenapa sekarang kamu
berbalik menyerang? Ingin dipandang
superior sama laki-laki asing itu? Sadar Ney,
laki-laki itu juga muak sama kamu.
Kelakuan kamu memalukan makanya dia
ingin perempuan yang dia sayangi ini
menjauh dari kamu!"
Ney terus menatap jari-jari tangannya, Arfa inginnya menghentikan ramalannya tapi sekali lagi dia harus profesional!!
~Haduh, Saya mengerti perasaan Anda~
Ney : "Apa... normal kalau dia begitu ke aku?"
Arfa : "Tidak. Dan kalau orang yang dia kenal itu
kamu, aku setuju! Menguji orang dengan
niat dia tulus atau tidak, itu harus! Apalagi
kalau sifat orang itu angin-angin seperti
kamu! Ada ketidaksukaan dari dalam diri
kamu ke dia. Kalau kamu mau membantu
orang, jangan sekali-kali mengharapkan
pamrih atau keuntungan, Ney. Kamu tidak
buat dia sampai luka kan?"
Arfa memandanginya.
Ney : "Membuat luka? Aku tidak mendorong dia
ke lantai atau aku lempar batu ke dia kok,"
Arfa : "Luka secara artian dengan mulut dan otak
jahat kamu,"
Ney masih kebingungan dan Arfa meletakkan gambar hati yang tertancap 2 pedang sampai berada di tengah pedang tersebut.
Ney : "Maksud gambar ini apa?"
Arfa : "Itu hati dia tertancap pedang sampai
tengah berarti lukanya dia dalam sekali.
Ada 2 orang yang membuat dia sangat
trauma. Yang pertama berada dalam posisi
paling atas, orang yang dia percayai
sebagai teman tapi seorang pengkhianat,"
Ney menatap lekat kartu itu, wajahnya menyiratkan dia tahu siapa itu. Dia mengusap wajahnya dan memalingkan wajah.
Arfa : "Yang kedua, orang yang baru dia suka
ternyata sama saja isinya dengan kamu.
Posisi kalian tidak aman,"
Ney tiba-tiba tertawa saat dia tahu orang kedua adalah Alex. Arfa yang melihatnya menaikkan alis mata sebelah.
Ney : "Jadi aku ada teman dong,"
Arfa : "Kok kamu tertawa? Karena ada teman?
Kalian sudah melukai orang yang tidak
bersalah lho apalagi kamu seret orang yang
tidak tahu apa-apa dan setelah puas, kamu
usir yang satu itu dan membuat yang ini
menangis? You freak,"
Ney terdiam menghentikan ketawanya.
Ney : "Aku tidak pernah ya membuat masalah
apalagi yang sampai membuat dia terluka.
Dia itu terlalu baper dan sensitif saja,"
Arfa : "Dan kamu sangat kurang ajar dalam
menilai orang. Kamu ingat Syifa? Dia juga
kamu perlakukan seenaknya,"
Ney menelan ludahnya, ya Syifa anggota baru yang sekarang lebih memilih pindah grup. Nasibnya juga sama dengan Arnila dan Rita, sebagian grup menolak keras dia dimasukkan. Karena ketua masih memberikan kesempatan, setengah anggota memutuskan membuat kelompok baru.
Ney : "Aku kan sudah minta maaf juga. Masa
kamu terus bawa-bawa masalah itu sih?"
Arfa : "Karena Syifa itu adik dari kakak ipar aku,"
Ney tersentak kaget.
Arfa : "Kamu klien aku, ini peringatan saja. Kalau
tidak tahu lebih baik diam jangan nyerocos
asal mulut kamu!"
Ney : "Iya. Terus masalah apa sih maksudnya
tadi?"
Arfa : "Merundung perempuan ini contohnya.
Sama dengan yang sering kamu lakukan ke
banyak orang,"
Kedua mata Ney membesar, dia merapihkan rambutnya dan berusaha menjelaskan.
Ney : "Aku tidak bermaksud merundung dia kok,"
Arfa terdiam menatap datar Ney.
Ney : "Me-memangnya kenapa? Kalau aku
merundung dia lalu akan ada apa?"
Arfa memberikan kartu yang bergambar awan dengan kata Spesial di tengah awan itu. Ney melihatnya tampak di atas awan.
Arfa : "Coba jelaskan menurut kamu apa?"
__ADS_1
Ney garuk kepala dan mengangkat bahu.
Bersambung ...