ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(342)


__ADS_3

Dan seterusnya Ney bertingkah seenaknya bila bos dan Aura tidak ada di tempat sayangnya Apollo tidak bisa mengawasinya karena Cafe sangat penuh dengan pembeli. Kadang Sona yang juga kekasihnya sulit sekali menarik perhatian Apollo. Rita pun kadang memeriksa apa yang dilakukan oleh Ney dan kadang menegurnya namun Ney seakan tidak peduli.


"Ney, kalau kamu terus begitu kapan pekerjaannya selesai?" Tanya Rita yang melewati tempatnya.


Ney hanya mendengus lalu mengerjakan tugasnya dengan ogah - ogahan. Tapi semenit kemudian dia kembali chat entah dengan siapa bahkan menelepon dengan seru. Rita berdiri di pintu dan Ney menutup teleponnya lalu kembali ke tugasnya.


"Dia itu siapa sih hanya pelayan di Cafe ini," kata Ney yang masih menelepon tapi mengerjakan tugasnya juga.


"Ya kan dia yang masukkin kamu ke tempatnya jadi kamu harus tahu diri juga. Memangnya dia suka ganggu kamu?" Tanya temannya.


"Ya tidak juga tapi kan memangnya tidak boleh aku kerja sambil chat dan menelepon? Pikirnya siapa dia?" Ketus Ney kesal.


"Dia hanya mengingatkan saja deh soal pekerjaan kamu supaya malah kamu tidak dikeluarkan sebelum 3 bulan kan," kata Temannya memberi pengertian.


"Jadi kamu berpihak sama dia ya. Siapa sebenarnya teman kamu tuh?" Tanya Ney dengan kesal.


"Aku tidak berpihak siapapun hanya saja aku juga kan sama seperti kamu. Temanku yang memasukkan ku ke tempat kerjanya jadi ya sebagai teman yang baik, aku harus bekerja sebaiknya. Itulah caraku membalas pertolongannya. Memangnya kamu tidak mau bekerja dengan baik?" Tanya temannya.


Ney terdiam mengetik. Benar juga kan dia yang iseng menanyakan pekerjaan di tempat Rita ternyata memang ada lowong jadi untuk apa dia menyebarkan kata - kata untuk membuatnya jelek di mata orang lain? Kenapa juga dia harus iri dengan gaji yang diterimanya berbeda? Toh Rita sudah lebih lama bekerja disana wajarlah, dia juga bekerja bukan dibalik meja malahan di depan banget. Ney menggaruk - garuk kepalanya lalu keluar ruangan, dia melihat Rita sibuk sekali menuliskan pesanan lalu mengirimkannya. Tanpa rasa bersalah, Ney menghampirinya tentu saja beberapa orang melihat itu.


"Rita, aku mau bicara!" Kata Ney yang berbisik kepadanya.


Namun Rita menolak karena dia sedang menulis pesanan yang ada di depannya dan mengangkat tangan kepada Ney untuk diam. Tanpa rasa malu, Ney terus diam di dekat Rita dan terus mengganggunya.


"Mbak, saya mau pesan!" Beberapa orang yang duduk di tengah melambaikan tangannya kepada Ney. Tapi Ney tidak menggubrisnya dia seolah - olah tidak melihatnya dan terus berada di belakang Rita.


Rita tentu saja merasa terganggu lalu dia berpindah ke tempat orang itu. Yang dengan segera merasa keberatan.


"Saya pesannya ke Mbak ini," katanya.


"Saya pelayan depan, Mbak jadi pesan saja ke saya," kata Rita yang sudah siap kertas pesanannya.


"Oh begitu jadi kenapa dia terus berdiri di belakang Mbak? Apa sebagai trainee?" Tanyanya lagi keheranan.


Rita hanya bisa tersenyum lalu berbisik, "Kamu pergi sana. Aku sedang sibuk bicaranya nanti lagi saja!"


Yen melihat itu lalu memikirkan suatu cara agar Ney tidak menempel pada Rita. "Kak, Senior minta data hari kemarin sekarang," katanya berbisik pada Ney.

__ADS_1


Sontak Ney kaget dan buru - buru lari menuju tempatnya. Kemudian mulai mengerjakan tugasnya. Rita bernafas lega dan Yen menepuk bahunya. Mereka kemudian mengerjakan tugas dengan baik. Rita menangani 40 pesanan yang kemudian dia kirimkan ke bagian dapur. Nampak Apollo yang juga ikut membantu memasak, melihat Rita yang tampak kelelahan.


"Rita," kata Apollo memberi aba.


"Iya, kak?" Tanya Rita yang kecapean.


"Sini," kata Apollo. Mereka berdua menuju markas, Sona tentu saja melihat mereka berdua dan bergegas menyusul. Ada apa ya?


"Ada apa kak?" Tanya Rita yang mengekori Apollo.


Lalu tiba - tiba tanpa disadari, Apollo memberikan Rita jus Stroberi kesukaannya. Rita kebingungan.


"Minum. Kamu pasti lelah kan. Istirahat dulu di sini kamu sudah menerima 40 pesanan. 10 menit cukup kan." Katanya lalu menuju lantai atas.


'Waaah asyik!' "Terima kasih, kak!" Kata Rita yang dijawab dengan lambaian tangan Apollo.


Sona tentu saja melihat itu dan terkejut bahkan saat dirinya kelelahan pun, Apollo tidak pernah sekalipun memberinya minuman maupun jus. Sona melihat Rita yang senang diberi jus tersebut dan menghabiskannya. Saat Sona mau melabrak Rita, tangannya ditahan oleh Apollo.


"Mau apa?" Tanya Apollo dengan suara tegasnya.


"Aku... kamu perhatian sekali ya sama orang lain. Sama aku sebagai pacar kamu saja tidak pernah seperti itu," kata Sona.


Di bawah, Rita sudah cukup beristirahat lalu menuju lantai atas. Ada Sona yang masih berdiri di sana. Rita keheranan. "Ada apa sih? Bengong begitu,"


"Eh, tidak apa - apa. Oh iya kamu tadi kemana? Terus itu jus dikasih sama siapa hayooo," kata Sona yang menahan rasa marah dan menyunggingkan senyuman terpaksa.


Rita melihatnya kalau Sona sedang ada masalah. "Jangan terpaksa senyum kalau ada masalah. Ada apa sih? Aku disuruh kak Apollo istirahat dibawah sambil dikasih ini. Langsung segaaaar! Hayoooo cemburu yaaa suka ya sama kak Apollo," goda Rita.


"Oh iya ya kamu kan tidak tahu," kata Sona tertawa.


"Tahu apa sih?" Tanya Rita heran.


"Hhhhhhh sudahlah tidak apa - apa sini gelasnya. Hari ini aku giliran mencuci jadi sudah segar pemberian jus dari Senior?" Tanya Sona yang berpikir kalau Rita memang akan berkata jujur sesuai yang dia terima dan lihat.


"Oke, aku mau antar kan makanan dulu. Sona," kata Rita berbalik lagi.


"Hm?" Tanya Sona yang berhenti melangkah ke tempat cuci piring dan kebetulan posisi Rita berada dan Sona tepat di saat Apollo melihat ke arah mereka.

__ADS_1


"Tenang saja aku tidak pernah naksir pada Senior kok." Kata Rita sambil tertawa usil lalu mulai bergerak ke tempat pengantaran makanan.


Sona terdiam ternyata Rita benar - benar tidak tahu kalau dirinya dan Apollo adalah kekasih. Sona senyum lalu masuk dan Apollo terdiam, tukang masak tersenyum tertawa padanya dan menepuk bahunya. Apollo menghela nafas dan menatap Sona yang sedang sibuk mencuci piring. Sona memang tidak cantik tapi dia sangat ramah pada Rita, sejak awal pun Apollo takut Sona akan berbuat macam - macam tapi ternyata dia salah. Dalam pikirannya, dia seharusnya berterima kasih karena selama ini semua perempuan takut padanya termasuk Rita. Sona tidak, dia malah yang paling aktif mendekatinya dan memberikannya barang yang imut.


Dan kembali pada Bulan Februari, Ney terkena getahnya karena pekerjaannya yang sama sekali tidak sesuai jadwal, terkena ledakan dari kak Apollo karena setelah diperiksa, beberapa data salah ditempatkan terutama Bahan Makanan. Lalu soal keuangan diantaranya gaji pegawai, bonus, transportasi dan juga uang lembur malah Ney taruh ke bagiannya lebih banyak dan anehnya hanya pada bagian Rita, Yen dan Sona saja. Itulah yang membuat pemilik Cafe sangat aneh, ada apa ini?


"KAMU INI BISA BERHITUNG TIDAK SIH!?" Bentak kak Apollo membuat Ney menangis sedikit apalagi dia juga menahan mendengar bentakannya.


Bos menggaruk - garukan kepalanya karena soal keuangan memang sangat fatal sekali kalau salah. Kenapa bisa separah ini? Yang anehnya bonus mereka bertiga saja yang rendah sedangkan Ney mendapat bonus?


"Ney, kamu ini kenapa sih? Kamu kerja disini tujuannya apa? Ini kamu pekerjaannya parah kamu ngapain saja sih kalau kami tidak ada di tempat?" Tanya Aura yang agak kesal. Masa dia harus memeriksa semuanya lagi sih? Akhir - akhir ini Aura menjadi agak berubah karena kabar soal gaji Rita yang lebih tinggi ternyata itu tidak benar.


"Maaf Mbak, kepala saya pusing waktu itu," kata Ney menundukkan kepalanya. Yah, padahal kalian juga baca kan dia sedang apa saat mereka berdua tidak ada di tempat. Jadi sekitar seminggu bos dan wakil tidak ada di tempat karena mengurus pertanian untuk Cafe mereka. Ternyata selama itu juga kualitas pekerjaan Ney mulai menunjukkan tidak bagus. Dia selalu mangkir pada pekerjaannya merasa tidak ada yang mengawasi.


Bertindak seenak hatinya bahkan piringnya sendiri jarang dibersihkan dan terus menumpuk sampai akhirnya dia menyuruh beberapa karyawan untuk mencucinya dengan diberi uang penutup mulut. Selama 3 hari sisanya dia juga selalu memikirkan cara agar Rita bisa dikeluarkan seperti saat dia memaksa ingin bekerja menggantikan posisi Arnila.


Ney hanya terus menundukkan, syukurnya dia disidang hanya bertiga. Semua pegawai menunggu pembagian gaji bulan Februari.


"Gajinya kok lama ya?" Tanya pegawai lain.


Rita juga setuju biasanya jam 4 dia sudah bisa menerima gajinya tapi ini lumayan. Untungnya kuliah diundur menjadi jam 5 karena dosennya berhalangan hadir.


Kita kembali ke hari dimana Rita masih belum bisa bekerja saat 3 hari sisanya. Daripada bekerja, Ney lebih menyibukkan diri menyebarkan kabar iri hatinya kepada semua pegawai. Dengan kemampuannya memanipulasi orang dengan sikap manis dan ucapan yang lembut. Orang tidak akan menyangka kalau sebenarnya dia bermaksud membuat hancur reputasi Rita.


"Kalian ini merasa tidak sih kalau Rita dijadikan sebagai anak emas? Memangnya selama bekerja disini hanya Rita saja yang rajin?" Tanya Ney dengan mulut manisnya.


Tentu saja orang yang memang memiliki keimanan yang lemah, mempercayai omongan Ney dan berencana untuk meminta Rita dikeluarkan. Saat semuanya semakin panas, dua orang pekerja yang mendengarkan itu bermaksud melaporkan kepada Aura yang berada di luar kota.


"Mbak, itu anak Baru si Ney sekarang lagi giat sebar berita aneh," kata A menelepon diam - diam.


"Hah? Berita apa?" Tanya Aura kaget. Dia sedang menanam bibit selada di kebunnya.


"Dia sering bilang ke pegawai Cafe soal Rita di anak emaskan," kata pegawai A membuat Aura menganga.


"Anak emas bagaimana? Semua pegawai sama kok," kata Aura.


"Mana saya tahu, Mbak. Untung Rita masih sakit kalau ada disini, sudah ada perang sepertinya," kata pegawai A.

__ADS_1


"Ya ampun!" Seru Aura.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2