ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(339)


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 9 pagi satu per satu karyawan yang biasanya datang dan menyambut Rita yang sudah ada. Ney juga datang lalu terkejut melihat Rita yang sudah datang sejak pagi, dia gembira tapi juga kecewa itu artinya dia benar kembali ke pekerjaannya yang biasa. Rita menyapa Ney dan disambut ya meski yah, tidak dengan ucapan hanya senyuman lalu menuju tempatnya. Karena masih pagi, yang bekerja di kantor membereskan segalanya sendiri begitu juga Ney.


Aura juga datang dan mulai membersihkan kantornya sendiri, dilihatnya Ney yang tidak menyapu kantornya lalu jendelanya yang berdebu dia hanya menggelengkan kepalanya saja. "Bagaimana bisa ada orang yang bisa tahan dengan semua debu itu." Katanya yang meneruskan pekerjaannya sendiri.


Ney duduk di tempatnya lagi dia berpikir bagaimana caranya supaya bisa dapat bonus lagi seperti minggu kemarin lalu dia dapat ide karena Rita kan sangat sibuk di kuliahnya. 'Rita kan sakit karena terlalu lelah ya sebaiknya aku sarankan dia keluar saja jadi posisi dia aku yang ambil.' Pikir Ney dengan menjentikkan jarinya. Dia kemudian keluar dan melihat Aura sedang sibuk bersih dan merapihkan dokumennya. Belum ada 1 jam dia tiba kemudian mendatangi Rita yang sedang menyapu suatu ruangan. Rita memang disuruh menyapu karena baru sembuh dan dia lakukan. Ney menghampirinya sambil memastikan tidak ada karyawan yang melihatnya untungnya, pelanggan baru sedikit.


"Hei Rita, kamu kenapa masih bekerja di sini sih? Memangnya yakin sudah sehat?" Tanya Ney sambil menyilangkan tangannya di belakang punggungnya.


Rita lalu melihat Ney dibelakangnya dan keheranan. "Hah? Memangnya kenapa? Sudah sehat juga ya sudah aku berani masuk. Lagipula tidak enak sudah kontrak juga kan. Oh iya aku dengar dari kak Apollo kamu menggantikan posisi aku ya. Bagaimana rasanya?" Tanya Rita tertawa.


Ney cemberut mendengarnya padahal dia harap Rita berhenti saja setelah sakit itu. "Ya, gila capek banget! Tapi memang benar ya kalau karyawan depan dapat bonus, aku juga dapat bonus kemarin langsung dibayar soalnya kan belum ada 1 bulan. Enak banget ya kamu semenjak kerja disini banyak uang dong," kata Ney dengan wajah sinis.


"Hahaha alhamdulillah, Ney. Bisa buat bayar kuliah sendiri," kata Rita tanpa melihat ke arahnya.


"Memangnya orang tua kamu sudah tidak mampu apa? Rumah besar begitu masa iya kamu tidak dibayari?" Tanya Ney dengan nada yang agak jutek. Rita yang mendengarnya keheranan ada apa sih dengannya hari ini?


"Bisa lah tapi aku ingin bisa menghasilkan uang sendiri mereka tetap kok memberiku uang untuk jajan. Kamu kenapa sih? Nadanya kok tampak kesal setelah tahu mulai masuk," kata Rita yang menyadari.


"Bukan apa - apa hanya... lebih baik kamu keluar deh! Fokus saja dengan kuliah kamu. Dan lagian kamu kerja disini tidak seperti aku yang setiap hari hanya 4 hari tapi gaji besar. Kan tidak adil," kata Ney dengan nada tinggi.


"Kata siapa aku bekerja 4 hari? Aku bayar hari sisanya dengan berlipat aku datang dari jam 6 pagi, membereskan semuanya sebagai pengganti waktuku yang tiga hari. Dan bos pun setuju saat aku mengajukan kesepakatan itu. Keuntungannya masih kuliah ya seperti ini, kita bisa ubah perjanjian kontrak sesuai kondisi kita. Oh iya Ney, aku mau kasih saran kalau sudah diterima kerja disini, kamu harus fokus banget ke pekerjaan kamu. Kalau kamu tidak bisa fokus nanti digebrak Senior lho," kata Rita memberikan nasihat. Tapi bukannya didengar dengan baik oleh Ney, dia melirik ke arah lain yang enggan mendengarkan apa kata Rita.


"Gue tahu kok tidak perlu kamu urus urusan aku juga keleees. Kerja aku itu lebih bagus dari kamu lho waktu aku menggantikan posisi kamu waktu sakit. Makanya bonus aku lebih besar dari kamu jangan iri ya," kata Ney tertawa manis.


Rita hanya menatap Ney dalam pikirannya Ney mulai memiliki niat tidak baik tapi Rita merespon lurus saja. "Alhamdulillah atuh. Rejeki orang kan berbeda, Ney syukur deh kalau kamu dapat bonus yang lebih besar dari aku. Kak Apollo sudah cerita kok waktu kamu ganti posisi aku selama seminggu,"


"Oh.... o - oh begitu. Ngomong - ngomong kamu kenapa mau jadi pegawai depan? Padahal ada lowongan jadi Asisten," kata Ney yang berusaha mengalihkan topik. Kalau Rita sudah diceritakan oleh kak Apollo secara otomatis pasti diceritakan juga bagaimana kerjanya saat itu.

__ADS_1


"Tidak ah. Asisten pekerjaannya kan termasuk soal keuangan Cafe juga lalu menganalisa semua hal di sini, lebih sulit aku kan bukan ahlinya.Aku lebih suka yang banyak gerak lumayan senam juga. Bulan sebelum kamu diterima disini, aku dan Sona kebagian tugas mengelola keuangan Cafe, pusing nyaaa minta ampun! Untungnya Aura juga membantu," kata Rita yang menghentikan pekerjaannya menjawab Ney.


"Oh, kamu itu sudah lama bekerja disini?" Tanya Ney kenapa juga sih Rita tidak pernah bilang atau memberitahukan soal ini kepada dia?


"Baru 2 bulan itu juga aku kerja disini sampai jadwal praktek mengajar nanti. Kamu sudah terbiasa? Kalau bagus bisa saja kontraknya di perpanjang," kata Rita menyapu lagi.


"Kamu kok tidak pernah sih bercerita soal pekerjaan kamu?" Tanya Ney kesal.


"Memangnya kamu mau dengar? Aku ada masalah saja kamu lebih senangnya mengalihkan topik lain atau kamu tidak mau dengar kan. Jadi buat apa aku cerita soal kerja sambilan ku? Memangnya kamu peduli?" Tanya Rita menatap Ney dengan wajah datar.


"Disini pekerjaannya banyak banget ya aku tidak mengira aku sangka hanya beberapa begitu," kata Ney yang mengalihkan lagi.


Sudah biasa bagi Rita mendengarkan Ney seperti itu, sudah biasa juga Rita tidak dipedulikan apapun yang dia katakan padanya. Makanya dia tidak mau terlalu dekat juga kepadanya lagi tapi berbeda dengan Alex yang selalu saja membuatnya menjadi orang jahat. 'Kira - kira Alex apa kabarnya ya?' Pikir Rita kadang dia merasa sepi karena biasanya bertengkar dengannya atau bercanda.


"Ya memang begitu, setiap minggu pekerjaannya pasti berbeda. Aku saja minggu depan sudah beda lagi," kata Rita dengan nada jutek.


"Hmmm... selama 2 minggu sih, tapi kata bos kan kalau kerja utama kamu sudah selesai dan masih banyak yang harus dikerjakan meski bukan bidang kamu, ya kerjakan saja. Disini semua orang saling membantu tidak ada yang perseorangan sebenarnya," kata Rita.


"Tapi gajinya ada penambahan? Atau biasa saja?" Tanya Ney yang agak bingung.


"Tetap. Kan membantu mereka tidak seperti kamu mengerjakan pekerjaan utama kamu. Kalau ada waktu luang kamu bisa bantu pekerjaan lain ya supaya tidak bosan juga kan," kata Rita yang sekarang mulai mengepel.


"Eh serius deh mendingan kamu dengarkan deh saran aku lebih baik berhenti kerja saja dari sekarang, mereka kaget ternyata fisik kamu lemah banget sampai sakit seminggu. Kelihatannya mereka mau pecat kamu," kata Ney dengan tangan dalam posisi berbisik.


Rita menatap Ney dengan aneh, sudah dibantu carikan pekerjaan sekarang malah mengusir? "Kamu ini kenapa sih!? Dari tadi kasih solusi supaya aku keluar terus? Aku mau bekerja atau tidak itu bukan urusan kamu. Aku lebih menunggu mereka memecat aku kalau memang mereka terganggu dengan kondisi fisikku. Kenapa juga kamu yang rese?"


Ney diam tampaknya strateginya tidak ada efeknya lalu beberapa pegawai lain menghampiri mereka. Memandangi Rita dan Ney nampaknya terjadi sesuatu. "Rita, Aura memanggil kamu untuk datang ke kantornya,"

__ADS_1


"Oke, Teh. Setelah mengepel aku kesana," kata Rita yang mulai mengerjakan pel lantai.


"Ney, kalau kamu ada waktu luang daripada bergosip, kamu bantu Apollo memasukkan sendok dan garpu ke dalam tempatnya dan bagikan ke semua meja disini." Kata pegawai itu melihat Ney yang hanya berdiri tanpa melakukan apapun.


"Oh, maaf aku ada pekerjaan jadi tidak bisa," kata Ney lalu menghindari mereka berdua dan masuk ke tempatnya.


"Ada sesuatu? Wajah kamu tampak kesal, Rita," katanya pegawai itu keheranan.


"Tidak apa - apa hal yang biasa dia lakukan kalau ada maunya, Teh," kata Rita yang secepat mungkin mengerjakan pekerjaannya.


"Oh, begitu. Hati - hati dia tipe yang akan melakukan hal di luar dugaan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan." Katanya lalu pergi untuk mengerjakan sesuatu di gudang.


Kemudian sesaat, setelah selesai dia teringat akan menghubungi Arnila dan menanyakan perihal Ney karena dialah yang paling dekat dengan Ney pasti lebih tahu soal keanehan yang dilihat Rita tadi.


"Arnila, kamu kan sudah lebih jauh kenal Ney kan?" Tanya Rita menelepon dirinya.


"Eh, Rita sudah sehat? Iya. Ada apa? Dia berbuat ulah lagi?" Tanya Arnila yang menggaruk - garuk dahinya lagi.


Rita lalu menceritakan semuanya di awal Ney yang antusias tertarik bekerja di tempat Rita dan kebetulan memang ada lowongan jadi Asisten Cafe. Tapi semakin kemari Rita merasa ada yang aneh dengan Ney. Dia juga menceritakan seakan memaksa Rita untuk keluar dari cafe padahal dirinya sudah menandatangani kontrak sampai 4 bulan lagi.


"ASTAGA! KAMU BANTU NEY BUAT DICARIKAN PEKERJAAN DAN KAMU MENAWARKAN DIA BEKERJA DI TEMPAT KAMU!?" Teriak Arnila dengan keras. Sontak saja Rita kaget ada apa memangnya?


"Memang kenapa sih? Salah?" Tanya Rita yang menutup telinga kanannya.


"Untung kamu menelepon.. RITAAAA KAMU JANGAN PERNAH DEH NAWARIN DIA KERJA DI TEMPAT KAMUUUU!!" Teriak Arnila lagi dengan lumayan.


"Jangan teriak - teriak juga kaliiii!" Kata Rita menjauhkan ponselnya dari telinga.

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2