
Ney membacanya dia lagi-lagi hanya bisa diam. Kedua tangannya gemetaran bukan takut bukan sedih, melainkan sangat marah. Semua pikirannya sama sekali tidak sesuai yang dia rencanakan.
Ada juga sekilas perasaan bersalah di dadanya yang sangat besar. Bergemuruh tapi enggan mengakuinya. Teringat bagaimana perilakunya saat Rita menangis memiliki masalah dengan kakak serta ibunya, waktu itu Rita dan Ney duduk di kelas 3 bersama.
Dan bahkan dia enggan mendengarkan karena merasa cerita Rita mengganggu dan dia pantas mendapatkannya. Bahkan tertawa yang melihat status gebetannya dalam ponselnya.
Sekeras apapun Rita menangis dan bercerita, Ney tidak menampakkan sebagai seorang teman baik. Dia juga ingat setelah itu bagaimana Rita mengambil tas sekolahnya, lalu langsung keluar dari rumah Ney.
Semenjak itu juga Rita tidak pernah lagi datang ke rumahnya. Dia menjauhi Ney yang secara jelas tidak bisa membantu apapun. Ney dimarahi habis-habisan oleh kedua orang tuanya serta adik dan kakaknya.
"Kalau kamu seperti ini, hidup dengan dunia kamu saja. Jangan kaget kalau tidak ada yang mau berteman," kata Adiknya.
Ney :
"Aku minta maaf waktu itu aku juga ada masalah lain jadi kamu ceritanya ya bersamaan."
Rita :
"Tidak, setahu aku masalah kamu waktu itu hanya satu. Laki-laki. Saat kamu diselingkuhi, kamu memaksa aku untuk mendengarkan ceritamu dan memaksa aku juga untuk berikan saran. Kamu dengar? Tidak. Teman macam apa yang seperti itu? Sedangkan aku sendiri, kamu seenaknya tertawa saat teman kamu sedang menderita!!"
Ney memijat kepalanya, dia memejamkan kedua matanya. Ya, kesalahan dia sangat banyak pada Rita. Dia harus menerima semua omelan Rita sekarang tanpa dipotong.
Rita :
"Pikir dong pakai otak Ney. Kamu diberi otak bukan hanya untuk membuat rencana licik ke aku sekarang. Aku sadar sendiri sejak lama kamulah yang menolak keberadaan ku di sekitar kamu!"
Rita mengatur nafas sambil melihat pepohonan dan merasakan desiran angin di luar mesjid tersebut.
Sedangkan Ney terus duduk sambil membaca semua kata-kata kesal Rita. Ekspresi wajahnya datar, tidak senang dan jenuh.
Rita :
"Aku sudah tahu sejak kita kenal di SMP, kamu selalu menganggap aku musuh. Kenapa sih? Kamu minder karena nilai akademik aku rendah? Atau karena penampilanku yang badan semampai, putih, mulus? Aku lihat jelas ya bagaimana kamu memperlakukan aku sejak kenal sama kamu. Kamu paling egois!"
Ney menundukkan kepalanya. Dia ingat bagaimana menggampangkan Rita yang tengah menunggunya di mall selama 3 jam! Lalu datang tanpa rasa bersalah, dia juga sadari Rita sering jenuh jalan-jalan dengannya.
Dan itu adalah kali terakhirnya mereka pergi bersama, lalu Rita dekat dengan kelima temannya yang lain.
Rita :
"Sadar kan? Aku yakin kamu menyadari semua kesalahan kamu dulu. Aku lebih banyak menunggu kedatangan kamu di manapun! Ada kata maaf dari kamu? Tidak kan. Aku tidak menawari kamu makanan, tapi kamu comot seenaknya. KAMU TIDAK PUNYA SOPAN SANTUN!"
Ney teringat lagi memang begitu kebiasaannya, bukan hanya pada Rita, Arnila tapi SEMUA yang dia kenal, yang berada dekat. Dalam kampus juga makanya kalau makan, mereka memilih pindah.
Rita :
"Sekarang... aku kenal laki-laki asing kamu mulai berlagak kita dekat? Dia juga tahu kamu itu sebenarnya hanya ingin memperalat aku lagi. Sudahlah Ney, hentikan! Kamu iri sama aku, kedekatan aku dengan Alex? Kamu heran kenapa orang sekaya Alex bisa suka aku? Lihat saja diri kamu sendiri."
__ADS_1
Ney bernafas kesal, dia menggebrak sofa lalu bangkit berdiri dan mondar mandir. Disini maksud Rita adalah membuat Ney sadar dengan semua perilakunya seperti itu, kalau sekarang yang mengklaim bahwa dirinya sahabat Rita, apakah wajar?
Dia bangga sebagai Sahabat hanya karena kesalahpahaman dari kata Buddy yang dikatakan Rita. Sayangnya, Ney terlalu angkuh setelah membaca itu tetapi tidak dengan Arnila. Dia sudah tahu kalau Rita salah mengartikan maknanya.
Intinya ya secara langsung jadi ujian tidak sengaja untuk Ney. Setelah Rita jelaskan, hal itu membuat Ney bengong dan dirinya sangat malu. Pantas Rita tidak pernah memasang foto mereka, well harusnya dari situ juga Ney curiga ya.
Apalagi sama sekali tidak ada foto dari SMP sampai Rita sekarang bekerja. Seharusnyaaaa Ney menyadari bahwa dirinya hanyalah teman yang hanya ada saja bagi Rita, bukan lebih.
Rita :
"Oh iya satu lagi mungkin kamu saat menelepon nomor itu dijawab oleh suara yang mirip Alex ya. Tapi sebenarnya bukan, itu pengawalnya. Mana mau Alex beritahu nomor dia ke kamu, bisa-bisa kamu memanfaatkan nomor itu untuk mengancam aku ke dia kan? Atau kebalikannya. Aku tahu seberapa licik otak kamu!"
Ney kaget membacanya. Jadi nomor itu bukan milik Alex? Tapi mana mungkin. Hanya memang agak berbeda sih kesan yang dia dapat. Dia hanya bengong, dan mengatai dirinya sendiri Idiot.
Ney :
"Apa!? Serius?"
Tanyanya dalam email. Dia penuh harap Rita masih mau membalas.
Rita :
"Aku tidak tahu ya apa yang kamu ceritakan ke pengawal itu tapi tampaknya kamu sudah buat dia lumayan bete. Sepertinya kamu membadut ya soal aku mungkin."
Rita dengan puas mengetikkan itu semua. Itu hanya dugaannya saja sih benar atau tidaknya, tergantung jawaban Ney.
Ney tidak membalas setelah baca lagi balasannya. Ada 10 menit, dia harus me reload ulang jalan pikiran otaknya dan merapihkan.
Ney :
Rita merasakan apakah Ney bersalah? Ya, ada sedikit tapi lebihnya dia masih ada rencana untuk mendekatkan lagi dengan Rita.
Rita :
"Sudahlah Ney, Aku sudah memaafkan KESALAHPAHAMAN kamu ke aku sejak tajun lalu, sejak kamu mulai mem bully aku beserta yang lain. Jadi kamu tidak perlu lagi mengingatkan atau bahkan terus ungkit."
Ney merasa plong, dia tersenyum tentu saja pasti akan selalu dimaafkan. Lalu dia mengetik dengan perasaan senang, berpikir Rita mulai terbuka lagi dengannya.
Ney :
"Lalu bagaimana kabar kamu dengan Alex? Ceritakan doong kan aku sudah kamu blokir seenaknya, jadi aku tidak tahu kabarnya juga."
Rita menghembuskan nafas. Pasti ini dia masih kepo.
Rita :
"Sudah bukan urusan kamu lagi, tapu kami baik-baik saja. Urus saja rumah tangga kamu yang sekarat itu. Tidak perlu kebiasaan kamu yang KEPO tanya soal Alex. Benar-benar tidak tahu diri!"
__ADS_1
Ney menghentikan gerakan jari-jarinya. Ya dia memang masih kepo apalagi ternyata sampai tahun 2023 pun, mereka berdua masih kontak? Dengan kepribadian Alex macam kuda lumping makan kaca.
Ney :
"Oke oke sorry, aku memang masih agak penasaran. Jadi kita jalan-jalan yuk! Aku mau ke Bandung juga nih minggu depan, kita bisa akrab lagi seperti dulu."
Rita :
"Tidak perlu sok akrab deh. Maaf aku tidak minat bertemu kamu bahkan hanya untuk sekedar jalan-jalan karena saat nanti kita begitu, mengobrol aku tahu kamu akan mengalihkan topik ke Alex lagi. Jadi tidak perlu."
Rita mendengus kesal. Nih orang benar-benar deh susah mengerti ya, orang tidak ada hasrat buat berteman lagi terus saja memaksa.
Ney membacanya, dia agak murung dan mendengus. Lalu tulis pesan ke Arnila.
"Nil, kok dia jadi dingin banget ya sama aku. Aku kan sudah minta maaf," ketiknya di WA.
"Ya wajarlah, hati dia kan terluka akibat ulah kamu sendiri. Terima sajalah karena kesalahan kamu banyak ke dia dulu-dulu kan" jawab Arnila dengan enteng.
Ney mendengus lagi, dia memutar kedua matanya dengan kesal menatap jawaban Arnila. Ternyata sampai 2 tahun berlalu pun Rita masih belum bisa melupakan hal itu. Tampaknya memang sangat menyakitinya.
Mana ada juga korban perundungan langsung bersikap baik pada sang perundung? Meski sudah dimaafkan, kelakuannya akan terus terekam dalam memori terdalamnya. Rita akan sangat berhati-hati.
"Kamu tahu tidak dia menolak dong buat bertemu. Lalu dia ternyata sama Alex..." kata Ney yang langsung ghibah.
"Aku tidak peduli segala cerita soal Rita. Simpan saja buat kamu sendiri. Aku sudah punya kehidupan lain," kata Arnila.
"Apa kamu tidak mau berteman kembali dengan Rita?" Tanya Ney iseng.
"Tidak mau! Aku sudah kesal sekali sama Rita, dia itu terlalu sensitif dan aku juga tahu kalau dia tidak berminat berteman lagi. Jadi buat apa?" Tanya Arnila yang dia ingat apa katanya kepada Rita.
Di luar berkata begitu, tapi dalam hati dia kangen pada Rita hanya saja... tidak mungkin. Kalau dia mendekati Rita, sudah tentu Ney akan menjahati Rita lagi. Jadi ini adalah jalan terbaik agar Rita tidak tersakiti.
"Dia sudah memaafkan aku lhooo," kata Ney senang.
"Bagus deh. Dia pemaaf kok meski akan terus dia ingat bagaimana perlakuan kita ke dia. Dan.. itu bukan tingkah teman yang baik sih, Ney. Aku sadari itu Kamu?" Tanya Arnila.
Ney membaca dan tidak peduli yang penting dia kini sudah dimaafkan oleh Rita. "Apa iya Nil, aku sama dia tidak akan ada celah buat kembali berteman? Masa dia begitu sih sama aku?"
Arnila mendengus ya pastinya dia alihkan karena tidak akan mengaku. "Ingat saja sama kamu ya. Perundung dan korban tidak akan pernah bisa berteman setelah kejadian yang menimpanya. Ya, kamu seharusnya bersyukur Rita masih bisa baik memaafkan kalau tidak, pasti kamu celaka atau dia akan balas,"
Ney diam menggigiti kuku jari telunjuknya. "Lalu harus bagaimana?" Ney kembali duduk.
"Kamu harus mulai berpikir kalau masih punya hati, lepas dan pergi dari kehidupan Rita. Aku tahu kok kamu ada niat baik untuk dia kenal dengan Alex. Tapi jalan dan cara kamu salah. Itu yang menyebabkan Rita menjauh, aku sudah peringatkan berkali-kali kamu tidak mau dengar. Benar apa kata Rita, kamulah yang enggan mendengar," jelas Arnila.
"Bukan begitu..." kata Ney.
"Kamu terus memaksa aku ikut merundung Rita, kamu bilang kita harus menolong dia tapi yang kamu lakukan bukan menolong. Justru membuat dia jatuh di depan Alex. Kamu seakan-akan mengeluarkan unek-unek ke dia di hadapan banyak orang, dan aku jujur tidak menyukai cara kamu. Sebegitu tidak sukanya kamu sama Rita? Haruskah semua orang tahu seperti apa dia?" Tanya Arnila membuat Ney diam seribu bahasa.
__ADS_1
Kebiasaannya tidak pernah ingin dilihat sebagai pelaku, makanya dia akan mengumpulkan banyak orang lalu memuntahkan segalanya. Setelah itu dia akan puas dan lari untuk kabur. Sebenarnya Rita tidak pernah menjadikan Ney atau Arnila sebagai tameng, dia hanya ingin Ney bersikap netral. Tapi tidak terjadi demikian.
Bersambung ...