
Naga itu merasa tengah di bicarakan oleh Rita dan Tyas, dia senang lalu terbang kembali dan masuk ke dalam tubuh tuannya. Tentu kepergiannya itu juga terasa oleh Rita, dalam firasatnya benarlah kalau ada sesuatu yang melindungi mereka berdua.
"Oh, sudah pergi," kata Rita merasa sekitarnya kembali kosong.
"Hoo bisa tahu juga?" Tanya Tyas. Anehnya dia tidak bisa merasakan apapun.
"Tadi terasa ada angin ke arah sana," tunjuk Rita ke arah Koko.
"Hmmm benar saja itu salah satu khodamnya Koko yang sifatnya tenang. Huff," kata Tyas tidak menduga kalau akan keluar.
"Kenapa?" Tanya Rita memandangi Tyas.
"Kok mengelilingi kita ya?" Tanya Tyas agak aneh. Karena khodam Koko yang paling tinggi sulit until dipanggil meskipun dengan Ua Mori.
"Hmmm mungkin karena Tyas mengajari Teteh buat telepati. Lelah juga ya? Mungkin dia tahu seberapa persen energi yang keluar jadi dia maksudnya mau memulihkan energi kita. Ya mungkin," kata Rita mengangkat bahunya.
"Iya, Tyas juga bisa merasa energi berkurang padahal hanya memberitahu saja ya," kata Tyas lalu rebahan di lantai.
"Nih minum dulu," kata Rita memberikan air limun ke Tyas.
Tyas menerima minum dan merasa segar setelahnya. "Koko sih tidak perlu energi dari Teteh, dia bisa dapat Healing dari khodamnya," kata Tyas meminum habis.
"Simbiosis mutualisme," kata Rita lalu mereka berdua tertawa keras.
Khodam Koko kembali dan membuat Koko tersenyum. Semua Ua dan Paman melihatnya pertanda baik, dan mereka semua tepar. Karena kekuatan khodam Koko tidak main-main. Khodamnya memberikan keterangan info pada Koko yang membuat Koko keheranan.
"Teteh tidak bisa melihat mereka tapi bisa merasakan. Aneh kenapa tidak bisa melihat?" Tanya Koko melipatkan kedua tangannya.
"Karena Teteh tidak suka melihatnya, kalau merasakan sih ya tidak apalah. Sepertinya mereka penasaran juga ya sama Teteh, memaksakan diri agar terlihat tapi jangan. Kasih tahu kasihan nanti Teteh nya ketakutan," kata Ua Mori minum air.
Koko mengangguk mengerti.
"Orang yang menyadari memiliki kekuatan dan kemampuan lebih kebanyakan penasaran dan menelusurinya. Tapi kalau Teh Rita justru cuek sekali, Bodo amat dia mah," kata Paman Ryan.
Setelah itu Koko kembali tenang, lalu mengajak Tyas dan Rita mengobrol lagi. Koko terlihat malu sekali memandangi mereka tapi berterima kasih atas usahanya membantu khodamnya kembali.
Meski Rita tidak bisa melihat, Rita oke oke saja. "Nanti kalau si Tengku datang, lempar saja pakai bantal. Itu khodam memang kurang asem," kata Rita tertawa.
__ADS_1
Koko mengerti Tengku ini khodam milik Alex sangat ketakutan pada Rita bahkan Alex nya sendiri pun sama. Mereka berdua sama-sama makhluk menyebalkan, dikira Rita, Tengku lebih berguna ternyata sama koplak nya.
"Kamu payah! Masa khodam sendiri tidak bisa diatur sih?! Masa harus sampai aku lempar barang lagi baru bisa?" Tanya Rita mengetik Alex.
Alex hanya membalas dengan emot kesal. Tengku disana menunduk,agak manyun. Emosinya mirip dengan Tuannya, Alex marah-marah dan memberinya hukuman.
"Tuan, maafkan saya," katanya menunduk.
"Apa? Kamu berbuat apa? Kan saya sudah bilang jangan keluar," kata Alex mengoceh pada makhluk yang ada di depannya.
"Saya takut Tuan kenapa-kenapa. Takut mereka menyerang," kara Tengku.
"Kamu mau kita dilempar bantal?" Tanya Alex dengan ketus.
Tengku dan Alex saling berdiam diri.
"Puan ( perempuan ) itu menakutkan sekali. Kenapa Tuan malah menyukainya?" Tanya Tengku tidak mengerti. Menurutnya Rita perempuan yang tidak sopan, ini sudah kedua kalinya dia terkena timpukan bantal.
"Karena saya sering membuatnya menangis. Ternyata dia sangat lemah sekali dan aku menyesal berbuat hal yang sama, aku kira dia seperti puan lainnya," kata Alex.
Di kediaman Ratih, mereka bertiga mengobrol kembali. Tyas menanyakan soal dirinya apakah cocok bila bekerja dalam rumah saja kalau nanti menikah.
"Oh iya ya tadi ke pending, kalau kamu sih dalam rumah mau banyak makanan atau bahan apapun, ya memang senangnya di luar rumah. Kamu dan sahabat kalian hanya tidak bisa satu ruangan kalau sudah melakukan pekerjaan. Makanya Saya sarankan kamu tidak satu lingkungan sama sahabat kamu," kata Koko.
"Hahaha iya sih Ko sering debat terus sama dia. Terus Ko kalau tentang jodoh bagaimana?" Tanya Tyas.
Rita memandangi Koko. "Wah, bisa tahu juga soal begitu?" Tanyanya.
"Bisa. Kalau Teteh mah sudah di depan mata sekali jodohnya," kata Koko ketawa.
"Oh ya? Siapa ya?" Tanya Rita membuat Koko menghela nafas.
"Kalau nanti ketemu, akan ada rasa yang aneh deh Teh," kata Koko meski tidak suka.
"Oke, itu soal Teteh. Kalau Tyas dan sahabat bagaimana?" Tanya Tyas agak penasaran.
"Hmmmm sahabat kamu tuh sulit sekali," kata Koko yang tengah berpikir.
__ADS_1
"Sulitnya?" Tanya Tyas.
"Sahabat kamu sudah terbiasa mandiri sih. Semua kebutuhan dia juga sudah mampu dia beli sendiri. Yang Koko tangkap dia sepertinya tidak butuh pendamping deh," kata Koko merasa aneh.
"Hah!? Tidak akan menikah dong?" Tanya Tyas kaget sekali.
"Bisa jadi sih. Coba deh kamu iseng tanya ke dia soal kebutuhan memiliki pasangan jawabannya pasti tidak penting," kata Koko.
Tyas bengong. "Iya sudah pernah sih Ko makanya aku heran kan. Sampai pernah mau kenalin Koko ke dia tapi ditolak. Kalau di ruqyah bisa tidak Ko?" Tanya Tyas.
"Tidak ada yang menempel untuk apa? Memang orangnya sudah puas sama diri sendiri. Kalau menikah juga harus yang lebih di atas dia seperti laki-laki Malay yang dekat sama Teh Rita," kata Koko menatap Rita.
"Wah," kata Rita bengong.
"Kalau bertemu bisa direbut dong?" Tanya Tyas.
"Ya bisa kalau si Malay mau," kata Koko agak senyum ke Rita.
"Nah lho teh," kata Tyas sambil tertawa.
"Hahaha silakan saja sih Teteh saja sudah pusing sama dia. Kalau dia suka, ya silakan," kata Rita.
Alex disana hanya agak sedih kenapa Rita malah memperbolehkannya memiliki hati yang lain.
"Wah, lampu hijau. Menurut koko bagaimana? Mereka bisa jadi?" Tanya Tyas tertarik.
"Bisa jadi yang akan sukanya sahabat kamu tapi Malay nya tidak. Bisa jadi juga mereka saling suka tapi mudah bosan. Karena sama-sama setara kan dan untuk ke arah jenjang pernikahan tidak akan ada sih," kata Koko lagi.
"Yah, Ko jadi manusia aneh dong. Bukannya haram kan hukumnya kalau tidak menikah?" Tanya Tyas.
"Ya mau bagaimana lagi? Di ruqyah juga tidak ada setan yang mengganggu apalagi menempel. Itu mah yang ada gangguannya ya diri sendiri. Terus dia yang mau kamu ruqyah?" Tanya Koko.
"Oh, bukan Ko. Beda lagi. Besok aku bawa deh sesudah urusan Teh Rita saja," kata Tyas.
"Oke deh. Oh iya Tyas pernah tahu juga temannya Teh Rita?" Tanya Koko.
Bersambung...
__ADS_1