ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
379


__ADS_3

"Rita memang mana mungkin bisa, memangnya dia punya kemampuan juga apa? Tapi tidak akan sebesar yang aku punya dong," kata Ney yang berusaha tegar.


Mereka berdua menatap Ney dengan datar. "Kamu tidak bisa lihat ya? Padahal jelas lho apalagi kalau Rita marah," jelas Melinda.


"Tapi kalau Rita senang, ceria "Itu" juga sama jadi kita bisa lebih dekat tidak akan berbahaya," kata Tamada menambahkan.


"Mau cilok tidak? Ada keju dan ayam, kalian mau yang mana?" Tanya Rita menawarkan 6 buah bungkusan cilok.


Mereka bertiga menatap kaget ke arah Rita. Komariah masih berjaga-jaga untuk menunggu bungkusan yang lain.


"Apa? Mau tidak?" Tanya Rita.


"Aku keju saja," kata Melinda yang tertawa.


Tamada menatap Rita dengan datar juga. Lalu menghela nafas dan mengambil yang ayam. Rita juga menawarkan ke arah Ney. Dengan canggung, Ney mengambil yang keju. Sekilas Rita melihat tangannya Ney gemetaran tapi sudah biasa.


"Aku tunggu sisanya mau dibawa untuk bagi-bagi ke anggota yang lain," lalu Rita pergi menemani Komariah.


"Yang seperti itu jelek menurut kamu?" Tanya Tamada.


"Yaaa itu hanya topeng. Aslinya itu parah sekali makanya aku heran kok kalian mau sih temenan sama dia? Aku saja terpaksa kok," kata Ney yang mulai memakan ciloknya


Melinda duduk dekat batu hiasan yang berbentuk bulat besar. "Kita berteman sama Rita karena dia orangnya menyenangkan. Kamu bilang begitu karena iri," kata Melinda.


Ney menghentikan makan ciloknya. Tamada masih di samping Melinda duduk juga. "Menurut kita Rita baik, senang berbagi apapun terutama makanan. Ada yang susah, dia selalu siap membantu. Kalau kamu tidak suka, kenapa terus mengejar dan mengekori nya? Padahal kamu sudah sering menyakiti dia," kata Tamada membuat Ney skak mat.


"Kalian itu tidak selevel sama dia," kata Ney tidak memperdulikan omongan yang tadi.


Tamada malas sekali memang sifat Ney selalu mengalihkan topik. Kali ini Melinda yang ambil alih.


"Memangnya kamu selevel? Menurutku jauh deh. Kamu senang kolaborasi dengan jin, Rita lebih senang mencari ilmu agama. Kalau memang kamu lihat Rita ada sifat yang jelek namanya juga manusia. Iya kan?" Tanya Melinda ke Tamada.


"Kamu pikir kita berdua sempurna? Aku juga ada sikap jeleknya tapi Rita tidak pernah keberatan. Kita semua sama-sama menerima karena bukan malaikat. Kalau kamu merasa lebih baik dari Rita atau kita, kamu tipe manusia yang sombong dan itu akan merugikan diri kamu sendiri," kata Tamada yang memakan cilok dengan lahap.


"Enak ya ciloknya," kata Melinda.


"Rita sih tukang makan tahu saja makanan apa yang enak meski murah," kata Tamada tertawa.

__ADS_1


"Tapi apa kalian benar-benar tahan sama Rita? Dia itu sangat lemot tahu! Aku ya berkali-kali jalan sama dia, selalu harus mengulangi semua perkataan," kata Ney dengan jutek.


"Rita tidak lemot kok sepertinya dia sengaja seperti itu ke kamu. Dia justru aktif sekali dan lebih sensitif soal perasaan orang. Kamu yang tidak terbuka ke dia, bukan takut dia yang terluka tapi kamu. Betul tidak?" Tanya Tamada membuat Ney diam.


"Mungkin maksudnya lemot soal lelaki kan selama ini memang visinya tidak ada pacaran," kata Melinda.


"Oh iya betul kalau itu. Lemot soal lelaki memang iya," kata Tamada setuju.


"Iya memang betul kan jadi ya mana ada juga sih yang bisa bertahan sama dia. Kalau aku jadi lelaki juga tidak mau deh makan hati terus," kata Ney.


"Sekarang kan ada yang dekat sama dia. Tampan sekali, meskipun Ritanya memang masih tanda tanya, tapi lelakinya sabar sekali," Kata Tamada.


"Oh ya? Nikah tidak sama dia?" Tanya Melinda histeris dengan senang.


"Kita percayakan saja pada Rita bakalan bodor kalau jadi pasangan. Lelakinya tidak akan pernah bosan seperti kita saja," kata Tamada.


Ney bengong. "Maksudnya dengan Alex? Ah masa sih Alex benar mau sama Rita? Tapi melihat temannya ini akan jadi pasangan katanya. Tidak tidak!" Pikir Ney yang tidak bisa menerima.


"Kalian tidak tahu? Masa lalunya lelaki itu tuh paraaaah total! Playboy habis! Aku tidak yakin sih Rita bisa bertahan sama dia," kata Ney yang duduk depan mereka.


"Eh? Aku?" Tanya Ney menunjuk dirinya.


"Kamu kan Playgirl, senang dugem memangnya kamu sendiri bagus?" Tanya Tamada.


Melinda terbelalak dan hanya mendengar saja. "Rita tahu tidak sih soal dia?" Tanya Melinda penasaran.


"Tahu sebenarnya. "Itu" memperlihatkannya tapi namanya juga si Rita, dikiranya mimpi tengah bolong. Tapi dia tahu kok karena kamu kan anak Jakarta ya apalagi Rita paling tahu sudah kenal kamu lama," kata Tamada.


"Hah!?" Seru Ney kaget.


"Nah, apa Rita menjauhi kamu selama dia tahu kamu bagaimana? Kok bisa-bisanya kamu judge orang akan masa lalunya tidak baik, jelek padahal kamu sendiri juga sama 11 12," kata Melinda.


"Rita juga tidak pernah sekalipun cerita soal kamu mau yang jelek atau yang baik. Tapi kok kamu sejak awal pertemuan malah menghina dia ya," kata Tamada yang sudah jutek. Rita dan Komariah hampir selesai dan mereka tidak ingin Ney masih terus mengikuti.


"Dia tidak pernah cerita soal aku? Yang jelek pun? Mana mungkin!" Kata Ney tidak percaya padahal dia yakin sekali kalau Rita gembar gembor menceritakan jelek soal dirinya.


"Tidak ada selain soal kampus, kita selalu ikut kemana-mana sama dia. Yang dia bicarakan hal yang umum atau soal barang, kalau sesama orang tidak ada. Makanya kita heran kok kamu bisa-bisanya menjelekkan teman sendiri. Kamu yang parah!" Kata Melinda mulai bosan.

__ADS_1


"Sudah Melinda, biarkan saja susah memang menghadapi orang yang sangat sirik. Dia sering seperti itu bukan hanya ke Rita saja tapi banyak orang makanya Mbak Diana tidak suka sama dia," kata Tamada yang menangkap perilaku Diana.


"Tapi Rita tidak bilang kalau Diana tidak suka aku, jangan-jangan kalian saja yang berkata begitu supaya aku tidak berteman sama dia kan," kata Ney sambil menunjuk.


"Kamu ini tidak tahu apa-apa selama kenal Rita ya," kata Tamada keheranan.


"Ya kan dia mah tertutup tea terus mikirnya negatif wae jadinya dia membuat dirinya tersesat, Tam," kata Melinda.


"Aku kenal dia kok, dia itu teman yang buruk," kata Ney keukeuh.


"Iya buruk karena Rita selalu mengatakan hal yang sebenarnya kan soal kamu. Dia kebalikan dari kamu, dia bisa menjaga perasaan orang sedangkan kamu tidak. Itulah kenapa banyak orang yang sakit hati sama kamu," kata Tamada.


"Soal selevel itu menurutku, kamu yang tidak selevel sama dia. Kamu bilang Rita buruk karena Rita selalu baik pada orang dan kamu iri orang menerimanya. Kamu tidak ingin banyak orang menerima Rita karena kamu tidak bisa. Kamu benci Rita karena sifat kebaikannya, jelas kok," kata Melinda.


"Kita kan belajar Psikologi untuk anak sampai dewasa, tidak mungkin Rita tidak tahu kamu yang asli bagaimana. Kamu tahu? Ujian dan tugas Psikologi, nilai Rita yang paling tinggi," kata Tamada.


Ney bengong mendengarnya. "Masa?" Tanyanya tidak percaya.


"Tapi dia sama sekali tidak sombong. Lurus saja sih karena dia memang senang bertemu banyak orang, membantu masalah mereka. Orang yang sulit seperti kamu, aku yakin Rita tahu juga jadi Rita itu tidak lemot, Ney," kata Melinda memperlihatkan nilai ujian Rita.


Ney kaget sekali semua mata kuliah Psikologi mendapatkan nilai A+. "Bahkan, isi jawaban ujiannya kita semua foto kopi karena menurut dosen jawabannya tepat, dan mewajibkan kita memiliki jawaban dia. Apa dia bangga? Tidak. Tidak ada kesan apapun," kata Tamada.


"Meski begitu ya dia itu dengan keluarganya..." kata Ney yang masih berusaha meyakinkan.


"Berhenti ya jangan kepo deh sama urusan orang! Menurut kami, Rita itu anaknya baik! Kalau kamu tidak suka jangan pernah menampakkan diri lagi di hadapan dia. Mengerti tidak sih!?" Kata Melinda akhirnya berkacak pinggang.


Akhirnya selesai Rita melirik Komariah yang malas dan menganggukkan kepalanya. "Sudah sudah yuk," kata Rita mendorong mereka berdua beranjak dari tempat itu dan menjauh.


"Kamu jangan ikuti kita lagi ya. Pergi deh kemana saja!" Teriak Komariah lalu pergi.


Mereka melihat Ney masih terdiam di tempat lalu mengusap air matanya. Mereka semua tahu kalau itu bukan air mata tulus memang itulah senjatanya tapi Rita sudah muak. Kemudian Melinda dan Tamada menceritakan tadi mereka ngapain saja.


Rita menghela nafas. "Dia itu tidak peka dengan sesama perempuan. Aku bisa saja sih membalikkan keadaan ke dia tapi sekarang terlalu lelah," kata Rita.


"Iya memang. Jangan percaya malau dia menangis karena kebanyakan air matanya buaya," kata Tamada. Mereka lalu pergi menuju tempat janjian dan memberikan cilok kepada anggota yang lain serta dosen dan guru.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2