
Hanya Anne salah satu sahabatnya Prita yang berani membanting pernyataan. "Tapi teh, yang aku lihat sih. Teh Ney lebih akrabnya sama Teh Arnila deh. Kalau sama Teh Rita tampaknya agak tidak cocok," secara gamblang ya.
Lalu Prita memberitahu pada Rita sambil mengirimkan chat. "Anne paling suka debat, di kampus juga kalau ada anak jurusan yang nyebelin suka dilawan. Kalau mulai memanas, kita pulang duluan ya,"
Rita tertawa membacanya. "Bareng sajalah! Tidak apa - apa, Pri. Ney juga orangnya tukang onar pasti kamu heran ya biasanya aku pesan matcha tapi malah greentea. Itu minuman dia minta tapi hampir setengah habis ya sudah aku kasih. Eh, memang itu tujuannya. Pulang bareng! Makanannya aku yang bayarin!"
Prita lalu cengengesan membacanya dan melaporkannya pada Karla. Mereka berdua berbinar - binar, yah karena pulang bareng juga mereka makan entah ongkos pulang masih ada atau tidak.
"Sok tahu banget sih? Kan kamu baru kenal dan lihat kita hari ini," kata Ney yang nadanya agak tinggilah.
"Tahu dong. Aku ini dikenal sebagai pencermatan yang paling cepat pada keadaan sekitar. Kalau Teh Rita kan paling dekat sama Teh Sina, banternya ya ke empat teman - teman yang lain. Sahabat kuliah juga sama Teh Komariah ya. Aku tidak pernah dengar tuh nama Teh Ney. Sepertinya teteh terlalu sering berhalusinasi deh," kata Anne dengan nada yang sangat yakin!
Mereka semua kecuali Ney memandang bengong ke arahnya. Rita tertawa bersama Arnila, wah! Seru ini kalau didalam kelas sih. Masalahnya ini di restoran Korea untung pegawai sana lagi berada di balik dapur. Melihat Ney kesal banget dengan kalimatnya, dia hanya terus memakan makanannya tanpa menggubris omongan Anne setajam silet!
"Anne mau?" Tanya Rita menawarinya Oden.
"Mau dong, Teh hehehe makasih," Anne mengambil dua dan membaginya ke Karla lalu memakannya dengan senang.
Pandangannya masih tajam ke arah Ney, kalau sudah begitu lawannya pasti koit. Anne memang agak rada pedas tapi dia baik banget berbicara sesuai realita dan bukti juga. Memang dalam obrolan Prita pun, dijelaskan kalau ada teman kakaknya yang selalu memanfaatkan kebaikan kakaknya yang tidak peka. Lengkap dengan cerita sahabat kakaknya, Komariah yang kebalikannya dari Ney.
"Teh, masih suka jalan bareng sama teman kuliah?" Tanya Anne.
"Masihlah. Minggu depan janjian sama Komariah, mau pergi nonton. Mau ikut?" Tanya Rita sambil senyum.
Anne lalu menarik - narik Prita dan Karla tapi mereka menjawabnya dengan pandangan datar. "Tidak teh, takut ganggu hehehe kalau sama Teh Komariah mah aku setuju! Daripada sama orang yang suka memanfaatkan teteh," katanya dengan tajam.
"Eh? Bahahaha! Iya iya," kata Rita tertawa dan memandangi Prita yang pura - pura sibuk bicara dengan Karla. Lalu memukul kepalanya Prita pelan.
Ney seperti yang kepanasan dan dia minum banyak greenteanya. "Duh, panas ya ternyata teman adik kamu ada yang kesan bicaranya tidak jaga lidah ya,"
"Bagus kan, kamu juga sama jadi ya anggap saja kamu seperti melawan diri kamu yang sama tuh," kata Arnila pada Ney. Arnila juga sibuk mengunyah Oden yang rasanya ternyata enak banget. Dan mencocolnya dengan saus topokki.
"Teh, kalau kita tidak bantu? Sanggup habiskan topokki sebesar ini?" Tanya Karla yang takjub melihat Rita makan dengan lahap. Padahal sudah dibantu makan, tapi tetap saja banyak banget!
"Hehehehe," jawab Rita yang masih semangat memakannya.
"Mana ada keju mozarellanya yang tebal. Daebak!" Anne juga kagum melihat Rita yang mampu menghabiskan semua pesanannya.
__ADS_1
"Kakakku memang penggemar topokki tapi kalau terlalu banyak bisa sakit lambungnya. Jadi makannya seperti sebulan sekali. Kalian kalau kerumah, aku tunjukkan deh tempat kakakku suka simpan makanan Korea! Bejibun banget!" Kata Prita yang membuka kartu Rita lalu mendapat jitakkan.
"Hah? Jadi gaji kamu tidak ditabung?" Tanya Arnila yang mendengarnya tidak percaya.
"Ditabung dong sebagian. Gajiku kan Rp 2.000.000; Rp 500.000 buat keperluan mengajar seperti peralatan tulis menulis, buku, kertas lipat; Rp 500.000 untuk keperluan kuliah; Rp 500.000 untuk tabungan dan sisanya ya buat jajan hehehe," kata Rita dengan bangga.
"Belum untuk bonus tambahan kan?" Tanya Prita yang sudah hafal. "Semenjak gajinya naik plus dapat bonus mulai deh kakakku buat lemari cemilan. Isinya macam - macam ada cemilan Korea, Jepang, tomyum juga ada. Banyaaaakkk!" Kata Prita sambil menunjukkan dengan kedua tangannya yang mengukur banyaknya jumlah.
Ney terdiam mendengarnya dia sangat iriiii sekali nampaknya, menggerakkan kedua tangannya yang kayanya 'Kepanasan'. Arnila hanya memperhatikan Ney yang berusaha menarik perhatian tapi sama sekali tidak diperdulikan.
"Kamu suka menimbun makanan," kata Arnila.
"Itu buat ngemil. Aku kan suka disuruh buat kegiatan, nah supaya otak jalan terus mengeluarkan ide, ya perlu banyak makan kan hehehe," kata Rita.
"Iya juga ya pantas kalau kita janjian, kamu suka ngeluarin cemilan yang aneh - aneh dari dalam tas," kata Arnila senyum.
"Permen, kue cokelat, cokelat cadbury tuh paling sering ada di dalam tasnya. Kue kering, roti isi, apapun! Teh Arnila kalau sudah kenal dekat Teh Rita, enak banget lho! Aku eh kita juga sering ikut makan cemilannya hehehe!" Kata Karla yang dengan polosnya bicara langsung.
"Tukang ngemil Teh Rita nih tapi tidak gendut - gendut!" Kata Anne sambil makan.
"Hahahaha!" Mereka semua tertawa. Ney tertawa juga meski hanya tipis.
"Prita sering dong minta makanan," kata Arnila menebak.
"Wah! Sering dia mah, ambil makanan langsung bilang. Kalau ada yang aku juga suka, makan berdua kadang suka eksperimen juga tuh sama adikku," kata Rita.
"Prita kalau makan lebih heboh dari kakaknya," kata Anne membuka kartu.
Prita lalu memukul Anne dengan heboh dan dibalas. Heboh memang kalau mereka bertiga sudah digabung. Tapi semuanya orang Sunda juga sama halnya dengan Ney dan Rita yang kadang suka memakai bahasa Sunda. Arnila tertawa ngakak mendengarnya.
"Teh, tumben tidak pesan Matcha? Minuman sini yang paling enak tuh Matcha lho," kata Anne dan Karla.
Ney mendengar lalu mengangkat kepalanya dan bengong melihat minumannya yang masih banyak. 'Jadi bukan minuman ini yang enak? Lalu kenapa Rita pesan ini? Mana gue sudah capek - capek buat dapetinnya.' Pikir Ney yang sama sekali tidak tahu.
"Nanti soalnya kalau untuk yang enak lebih enak lagi kalau dibelinya belakangan," kedip Rita.
Arnila baru sadar ternyata memang taktik Rita dia sengaja memberikan minuman greenteanya kepada Ney jadi di akhir cerita, Rita akan memesan Matcha. Pintar juga!
__ADS_1
"Lho, kamu pesan green tea bukan karena kamu suka?" Tanya Ney tiba - tiba.
"Hah, aku suka greentea juga kok," kata Rita tampak Ney sudah menyadari kalau Rita sepertinya memasang jebakan.
"Terus kenapa kamu tidak minum?" Tanya Ney bingung.
"Ya kan sudah terus kamu minta katanya sih mau cicip tapi ternyata cicipnya sampai kamu habiskan setengah jadi ya sudah aku kasih saja selanjutnya aku pesan Matcha dong. Yang paling disukai Matcha bukan green tea," kata Rita dengan santai dan tertawa.
Ney bete menatap minumannya sudah ludes begitu juga ayamnya. Dia dengan tenang duduk sabar dikiranya Rita akan memesan Matcha sampai selesai makan pun, ternyata sama sekali tidak pesan! ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
"Cicip sampai setengahnya itu sih niatnya memang mau ambil pesanan teteh kali teh. Nanti kalau ada yang minta lebih baik suruh beli saja sendiri," kata Anne sambil makan sisanya.
"Iya. Ini juga mau pesan tapi untuk dibawa pulang kalau diminum disini ada yang nungguin buat cicip lagi," kata Rita yang ke depan kasir meminta dibungkus minuman Matchanya. Ney hanya melihat saja tidak menduga kalau Rita malah membungkusnya untuk dibawa pulang.
Setelahnya mereka mengobrol hanya Ney saja yang tidak mengikuti arah obrolan, dia lebih banyak diam daripada menimbrung. Kedua teman Prita pun nampak tidak nyaman dengan kehadiran Ney, kadang Ney berkomentar tapi isinya sama sekali tidak nyambung dengan topik yang dibawa oleh Karla atau Anne. Atau siapapun dan selalu mendebat kalau pendapatnya lebih tepat terlebih lagi isinya obrolannya lebih banyak menyindir Rita atau Arnila. Yang membuat semuanya gerah mendengarnya. Berbeda dengan Arnila yang bisa mengikuti alur arah obrolan mereka dan menimpali dengan biasa.
Setelah selesai makan, Rita membayar dengan punya Prita dan ketiga temannya. Mereka merasa tidak enak dan Rita mengingatkan simpan uang mereka untuk ongkos pulang meski rencananya akan menginap. Akhirnya mereka banyak - banyak berterima kasih karena sudah mengganggu tapi Rita senang karena ada yang bisa melawan Ney. Lalu Rita mengambil pesanan Matchanya dan Ney melihatnya, sayangnya dia tidak bisa mencoba karena Rita memasukkannya ke dalam tas.
Diluar restoran, Rita ijin menuju toilet dan Arnila juga ikut. Ney, Prita dan kedua temannya berada di luar menunggu mereka berdua sampai selesai. Ney melihat kedua teman Prita sedang masuk ke dalam apotek dan melihat - lihat produk disana. Sedangkan Prita sibuk dengan ponselnya dan kesempatan pun akhirnya menghampiri Ney.
"Eh, Prita tadi Rita titip cokelat ya?" Tanya Ney dengan diam - diam.
"Oh. Iya," Jawab Prita yang masih memandangi ponselnya. Dia terlalu malas mendengarkan ocehan Ney.
"Aku mau minta dong Rita belum kasih bagian aku soalnya," kata Ney mendekati Prita.
Prita memandanginya, 'Ya kalau tidak dikasih ya bagus,' "Masa? Yakin Teh Rita tidak kasih buat Teh Ney? Dia sebelum untuk dirinya sendiri pasti kasih ke orang lain dulu ke Teh Ney dengan Teh Arnila deh. Aku tidak percaya tuh kalau Teh Rita sampai tidak kasih cokelat," balas Prita dengan ekspresi yang nyeleneh ke Ney.
Ney kemudian berpikir lagi dia tetap memaksa agar Prita memberikannya cokelat. Tapi dia sama sekali tidak tahu watak Prita seperti apa, lebih susah dari kakaknya sendiri. Apalagi Logika banget!
"Ih, serius! Malahan Rita membanggakan dia dikasih cokelat bukannya membagi gitu. Masa aku bohong sih? Aku kan sahabatnya, Pri," kata Ney dengan suara yang lembut dan sopan.
Prita semakin curiga. Karena yang dia tahu Ney memang suka memanfaatkan kakaknya dan sering kali tidak menghargai kakaknya dan tentunya tahu soal pembullyan itu. "Kalau Teh Ney mengaku sebagai sahabat kakak saya, kenapa Teteh dengan tega membullynya? Padahal Teh Rita sama sekali tidak pernah mengatakan hal jelek soal teteh. Kok bisa jahat sih? Teteh tahu, keluarga sama sekali tidak ada yang suka teteh berteman dengan Teh Rita. Tapi Teh Rita selalu membela teteh kalau teteh teman yang baik, dia lebih percaya teteh daripada keluarganya sendiri. Tapi apa? Jadi begitu perilaku teteh ke kakak saya? Maaf ya teh, saya adiknya paling tahu kakak saya seperti apa. Jangan suka mengklaim deh sebagai Sahabatnya. Waktu kakak saya susah, teteh ada? Yang ada disebelahnya tuh Teh Sina dan ketiga teman dekat lainnya. Prita tidak mau memberikan apa yang teteh mau, kalau benar Teh Rita tidak beri, coba nanti teteh minta saja."
Setelah itu, Prita pergi menyusul kedua temannya. Ney kesal dia akhirnya gagal lagi. Ternyata baru tahu kalau Prita lebih sulit anaknya dari Rita. Dan soal bully ternyata keluarganya sudah pasti tahu, Rita lebih terkesan ceria tapi semenjak kenal Alex dan Ney, Rita uang dilihat Prita agak berbeda. Dan secara diam - diam juga, Prita menduplikat isi chat mereka dan terpampang lah apa yang mengakibatkan Rita sedih. Semenjak itu juga keluarganya sudah membanned Ney. Yah, dari awal Rita kenalan sama Ney juga ibunya sudah tidak suka sih jadi bukan baru - baru.
BERSAMBUNG ...
__ADS_1