ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(334)


__ADS_3

"Teh Diana, Rita ijin kuliah nanti Prita kasih suratnya ke kampus," kata Prita menelepon Diana.


"Rita sakit apa? Parah tidak?" Tanya Diana yang panik.


"Dia demam secara tiba - tiba kata Dokter karena kelelahan. Teh Diana tahu kalau Kak Rita kerja sambilan juga?" Tanya Prita.


"Tahulah. Aku juga bilang ke dia jangan terlalu di over apalagi tugas kuliah dan pelajarannya kan lumayan sulit sekarang. Nanti bisa tolong berikan lagi info soal Rita?" Tanya Diana.


"Oke, Teh. Terima kasih ya Teh." Lalu Prita menutup ponselnya dan kembali menatap kakaknya yang masih terbaring lemah.


Di kelas semua sekelas mendengarkan apa yang Diana katakan. Beberapa bertanya, "Kenapa?"


"Rita sakit kelihatannya seminggu tidak akan masuk," kata Diana menyimpan ponselnya.


"Jenguk, yuk!" Ajak Melinda.


"Nanti saja deh jangan sekarang - sekarang. Supaya Rita rehat dulu selama 3 hari," kata Siti yang duduk di lantai.


"Seminggu? Kelihatannya parah. Bukan hanya kelelahan saja deh," kata Ali sambil mengemut permen yang besar dalam mulutnya.


"Pokoknya kalau dalam 4 hari tidak ada kabar baik, kita jenguk deh," kata Diana. Yang lain setuju mendengarnya kemudian mereka bertanya siapa saja yang mau ikut menjenguk. Karena tidak mungkin semuanya jadi dipilih 8 orang sebagai perwakilan.


Siang harinya Prita keluar rumah dan menuju Rumah Sakit tempat dokter itu berada dan meminta 2 amplop surat ijin. Di tempat kerjanya Bosnya kebetulan berada di depan Cafe melihat - lihat jalanan.


"Assalamualaikum, met siang maaf bos Cafe ini ada?" Tanya Prita.


"Oh met siang juga. Ya saya pemiliknya. Ada apa ya?" Tanyanya sambil bangun dari tempat duduknya.


"Saya mau kasih surat ijin. Kakak saya ada kemungkinan tidak akan bisa masuk kerja dulu," Prita lalu menyerahkan amplop keterangan itu dan bos menerima lalu membukanya.


"Rita sakit apa? Lama sekali rehatnya," kata Bos sambil penasaran.

__ADS_1


"Apa ya? kelelahan iya tapi tampaknya ada hal lain yang membuatnya sangat down. Parah banget kakak saya sampai muntah darah kata dokter stres juga," jawab Prita yang membuat bos Cafe tersebut terkejut mendengarnya.


"Ya Tuhan! Sekarang bagaimana kondisinya?!" Bos nampak panik sekali apa karena pekerjaan disini terlalu berat? Yang diluar Rita memang tidak nampak didalamnya.


"Masih demam tinggi terus tidak bisa bergerak juga jadi harus total rehat. Iya cukup lama apalagi kuliah juga sekarang katanya mulai banyak tugas," kata Prita yang senyum. Lalu saat melihat - lihat Cafe, dia menangkap seseorang yang sedang berdiri melihat para pegawai bekerja. Lalu Ney menyadarinya dan keluar Cafe. Prita kaget kenapa dia ada disini?


"Lho kak Ney kerja di tempat yang sama dengan kak Rita?" Tanya Prita keheranan. 'Kenapa sih dia harus mengekori kakak saya terus?' Pikir Prita.


"Iya sudah sebulan. Rita sakit apa?" Tanyanya dengan biasanya.


"Dia sakit kelelahan," kata Bosnya menjawab melihat ada gerakan yang tidak enak dari Prita.


Prita memandang Ney dengan tatapan sinis. "Kok bisa bekerja disini?"


"Oh, aku minta Rita apa disini ada lowongan ternyata ada ya sudah sekarang aku ada disini. Apa parah?" Tanya Ney yang memang cemas karena masalah kemarin juga nampaknya menjadi salah satu penyebab Rita sakit. Dia tidak enak hati juga karena maksudnya ternyata berlainan.


"Hmmm... kalau begitu saya permisi dulu. Saya nau menebus obat. Yuk kak Ney," kata Prita yang menaiki motornya.


Prita membungkukkan badannya lalu tersenyum tapi agak sinis melihat Ney. Tentu saja itu terlihat oleh Ney sendiri, di sisi lain soal pembicaraan sebelumnya menjadi pikiran Rita juga sepertinya. Mereka kemudian masuk lalu Ney memasuki kantornya untuk bekerja lagi tanpa adanya Rita entah kenapa dia merasa kantornya tampak luas sekali tapi sepi biasanya dia selalu mendengar suara langkah gerak cepatnya Rita.


"Lihat tadi siapa ya?" Tanya Yen penasaran.


"Itu adiknya Rita. Dia kasih surat ijin ke Bos," kara Boni seorang pegawai pembersih kaca.


"Bos, Rita sakit apa?" Tanya pegawai lain.


"Dia muntah darah tampaknya terlalu lelah. Oke guys, seminggu ke depan kita bekerja tanpa Rita, jadi Waiters akan kekurangan satu orang dan kamu, mulai besok seminggu full akan menggantikan posisi Rita dan saya tidak akan menerima protes apapun dari siapapun!" Kata Bos tanpa memperbolehkan Ney menyela.


"Lalu pekerjaan Asisten kedua dipegang oleh siapa?" Tanya yang lain.


"Saya." Jawab Apollo yang muncul di sebelah Bosnya. Mereka semua langsung mengangguk mengerti.

__ADS_1


Jadi Rita benar - benar sakit parah? Dia sama sekali tidak menyangka kalau Rita memang sedang sakit karena memang wajahnya pucat. Rita sudah tidak bisa menahan beban depresinya semenjak semua hal banyak yang harus dia tangani diantaranya soal ujian kuliah lalu tugas, belum lagi soal pekerjaan sambilannya lalu soal Ney, Arnila dan Alex. Itu membuat tubuhnya sudah tidak bisa menahan semuanya beban. Dimulai dari sekarang juga Ney berganti pakaian seragamnya menjadi seragam pelayan. Meski kesal ternyata benar adanya jadwal pergantian posisi dan karena Rita sakit, pucuk dicinta ulam tiba. Pemilik Cafe langsung menukarkan pergantiannya saat ini juga.


Dia harus mondar mandir itu pun harus selalu disuruh oleh Bosnya karena dia tahu Ney tampak malas bergerak. Dan beberapa pesanan pun sulit dia tangani, karena tentunya tidak terbiasa. Sampai membuat beberapa pelanggan kesal menunggu makanannya datang dan agak serampangan. Lalu belum lagi pesanan yang salah meja dia antar kan, air yang kurang penuh, meja dan kursi yang belum sempat dia bersihkan. Sehingga pembeli yang datang harus menunggu 10 menit lalu bisa duduk.


"Kalau kata Rita ini seperti dalam permainan Dinner Dash," kata A sambil menyapu lantai yang kotor.


Ney yang mendengarnya setuju banget karena dia tidak sempat duduk bersantai, setelah selesai semuanya saat mau duduk pun ada lagi pesanan yang harus dia antar kan.


"Kak, yang biasanya kemana?" Tanya pelanggan yang baru datang.


"Sedang sakit, Kak. Mau pesan apa?" Tanya Sona menyodorkan menu pada dia.


"Duh, Mbak yang ini lama banget kalau yang biasanya itu sudah hafal saya maunya apa. Dia bisa tangani sampai 15 orang yang ini kok satu saja sulit ya?" Tanyanya dengan suara yang lumayan.


Ney sama sekali tidak bisa mendengarkan apa katanya karena dia terlalu sibuk menuliskan pesanan apalagi setelahnya dia berpindah ke meja lain meski akhirnya dibantu oleh beberapa pegawai lainnya. Mendengar itu Bos Cafe hanya tertawa memohon memaklumi karena masih baru dan menyuruh Ney untuk bergerak lebih cepat lagi. Kadang karena terlalu bergerak berlebihan dia hampir menabrak pegawai lain yang sedang mengantarkan piring kotor. Pokoknya parah banget deh pekerjaan dia Cafe itu.


Tapi Ney jadi tahu karena seperti inikah Rita bekerja mati - matian, sampai dia merasa kakinya mau patah, pinggang mau copot untungnya dia boleh minum. Tapi asyiknya dapat bonus lumayan Rp 80.000. Beberapa menit Bosnya melihat Ney sangat kewalahan, akhirnya ditugaskan mencuci piring di dalam. Lagi - lagi, piring, sendok, garpu atau gelas yang dicucinya kurang bersih. Protes lagi!


"Bos, di piring saya masih ada sisa makanan nih! Bagaimana sih mencucinya!?" Protes pelanggan yang kemudian meninggalkan meja tersebut. Untungnya dia duduk di belakang pojok jadi protesnya tidak kentara terdengar. Bos lalu mengantarkan piring tersebut dan menggebrak disamping Ney dengan kesal.


"Kamu ini bisa mencuci piring tidak sih!? Mengantarkan makanan saja tidak bisa, pesanan salah taruh, sekarang saya beri kamu tugas yang mudah pun, ini... kenapa masih ada sisa? BERSIHKAN LAGI!" bentak Bosnya dengan kesal. Keringat bercucuran saat itu udara dalam Cafe memang penuh pembeli.


"Iya Bos. Tapi ini kan hanya secuil saja," kata Ney yang memperlihatkan sedangkan makanannya dibiarkan begitu saja.


"Tetap saja itu kotor, Ney. Pelanggan Cafe ini rata - rata matanya seperti mata Superman bisa tahu secuil pun kotoran. Pokoknya kamu harus lebih teliti lagi," kata Bosnya memeriksa semua cucian.


"Lalu soal pekerjaan saya bagaimana?" Tanya Ney yang lebih ingin berada di dalam kantornya daripada mencuci atau mengerjakan lapangan.


"Hanya ketik data dan menghitung? Apollo juga bisa melakukannya, kamu tidak usah khawatir sebagian gaji kamu sebagai Asisten akan saya masukkan ke gaji kamu yang sekarang. Data yang kamu kerjakan bulan kemarin ada yang salah beberapa untungnya, Aura memeriksa lagi semuanya. Sebagai hukuman, seminggu ini posisi Rita kamu yang pegang dan banyak berlatih lagi!" Bos lalu keluar dari dapur. Ney berpikir mengingat kembali bagaimana Rita bisa dengan gesit membereskan piring lalu mengisi ulang air minum tanpa tumpah dan mampu mengantarkan makanan dengan angka yang berurutan.


Kadang Ney juga mendengar Rita menyebutkan angka itu berulang meski baginya itu semua mengganggu ternyata memang ada manfaatnya dan dia juga mencoba mengikutinya. Seperti itulah ternyata Rita bekerja, kadang Ney melihat Rita sedang menuliskan sesuatu. Kalau ada kesempatan untuk melihatnya ternyata itu adalah urutan pekerjaannya sehingga tidak ada yang bolong atau terlewatkan. Kalau ada meja yang sudah selesai tanpa perlu menunggu pegawai lain, dia bergegas ke depan dan membereskan semuanya. Kadang, pegawai yang bertugas hanya tinggal membersihkan meja atau kadang bergantian.

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2