
"Selamat siang, silahkan ada yang bisa saya bantu?" Tanya pegawai perempuan menyambut Ney.
Ney lalu mengeluarkan beberapa perhiasan emas yang dia miliki. "Saya mau menjual perhiasan saya. Kira - kira ini kalau dijual dapatnya berapa, ya?" Tanya Ney.
"Baik, saya permisi dulu ya untuk diperiksa terlebih dahulu," pegawai itu kemudian pergi ke bagian ruangan lain dan Ney menunggu.
Rita melihat - lihat perhiasan yang ada disana, kalau punya uang ingin sekali dia memiliki beberapa perhiasan.
Pegawai itu kembali lagi sambil memegang perhiasan berupa gelang. "Kami sudah memeriksa dan menimbanh, kalau ini dijual laku bersihnya adalah Rp 10.000.000,-"
WOW! Besar banget taksirannya! Ney terlihat sangat senang, dia sudah membayangkan dengan uang yang didapatkan bisa membuatnya membeli laptop mahal.
"Apa saya bisa jual ini disini?" Tanya Ney dengan gembira.
"Tunggu sebentar ya," kata pegawai tersebut lalu kembali ke ruangan tersebut.
"Kamu perhatikan tidak wajah pegawai yang tadi?" Tanya Rita pada Arnila.
"Iya seperti meragu ya. Wajar sih remaja seperti kita punya perhiasan yang harganya ditaksir 10 juta, bikin aneh sih," jawab Arnila. Dia memperhatikan Ney yang tampaknya tidak curiga sedikitpun.
"Jangan - jangan Ney disangkanya mencuri?" Tanya Rita lagi.
"Mungkin juga sih hehehe dilihat dari wajahkah? Mungkin pegawai itu berpikir Ney mencuri perhiasan dari ibunya," kata Arnila.
"Ney, serius kamu mau jual perhiasan itu?" Tanya Rita yang penasaran.
"Eh, kamu di sini? Sejak kapan?" Tanya Ney yang terkejut. Dia agak gugup melihat Rita dan Arnila ternyata sudah ada dalam toko. Ih, apa dia lupa ya?
"Dari tadi kita sudah masuk sini ko. Kamunya fokus sih sama perhiasan. Menurut aku jangan di toko ini deh kamu jualnya," kata Arnila meragu. Curiga sih jangan - jangan pegawai itu tahu soal perhiasan yang Ney punya.
"Duh, kalian kenapa sih? Itu perhiasan wajarlah sebagian milik aku kan dikasih dari Syakieb. Kenapa sih kok sepertinya kalian tidak yakin?" Tanya Ney memandangi mereka berdua.
"Kamu tidak memperhatikan wajah pegawai tadi? Kelihatannya dia hafal deh sama perhiasan yang kamu punya," kata Rita.
"Ah, ngaco! Perhiasan yang seperti itu mah banyak dimana - mana juga! Sudah deh kalian jangan sok tahu pakai ada firasat tidak enak segala!" Kata Ney yang lalu mengusir keduanya dari depan etalase.
"Dikasih tahu juga. Pegawainya kok lama ya?" Tanya Arnila melihat ke ruangan sebelah.
Dalam toko itu ada 6 pegawai toko emas dan masing - masing dari mereka sibuk melayani pembeli atau penawar. Mereka melayani siapapun tanpa memandang punya buang atau tidak. Tapi sebagian memang ada juga sih yang melirik ke arah Ney dengan kesan aneh, beberapa pembeli emas juga. Karena rata - rata yang ada di situ adalah ibu - ibu.
__ADS_1
"Benar juga sih. Yang lainnya bisa cepat kok. Kenapa hanya punya kamu saja yang lama?" Tanya Rita keheranan.
Ney terdiam dia juga merasakan kok hanya dirinya saja yang berbeda dan pegawai itu pergi lama sekali. Tak lama kemudian, keluarlah pegawai itu sambil tersenyum.
"Maaf kelamaan, untuk prosedur bila Teteh mau menjual perhiasan di kami, kami memerlukan kartu identitas," katanya lagi sambil menaruh perhiasan itu di atas meja.
"Oh! Ada ada!" Ney lalu mengambil kartu KTPnya dari dalam dompet dan lagi - lagi pegawai tersebut kembali ke ruangan itu. Kemudian keluar lagi tapi dengan mimik muka yang keheranan. "Bagaimana? Bisa kan?"
"Apa ada surat keterangan perhiasannya? Karena perhiasannya ini kalau dijual seharga aslinya, harga perhiasan dari Rp 5.000.000 sampai ke atas dibutuhkan suray keterangan dari mana perhiasan ini berasal. Dan juga surat kelengkapan perhiasan ini sendiri," kata Pegawai itu seperti memaksakan tersenyum. Hal itulah yang membuat Rita dan Arnila merasakan sepertinya ada sesuatu.
"Surat keterangan seperti apa ya?" Tanya Ney kebingungan. Jual perhiasan kok ribet banget ya?
"Kalau perhiasan ini teteh disuruh orang tua, maka harus ada surat keterangan perwakilan, karena harganya diatas 5 juta, teh. Kami tidak mau terkena resikonya," kata pegawai itu sambil tersenyum.
"Tapi ini perhiasan punya saya sendiri, teh masa harus buat suray keterangan juga?" Tanya Ney dengan agak aneh.
"Iya itu sudah jadi ketentuan di toko ini dan surat keterangan pada perhiasannya pun sudah pasti di toko manapun harus ada. Mau dari orang tua teteh disuruh jual kan atau punya sendiri tetap harus ada keterangannya. Untuk meminimalisirkan sebagai barang yang bukan hasil dari perampokan meski ini barang asli milik teteh. Silakan baca yang ada di pinggir ini," kata pegawainya sambil membawakan kertas keterangan yang terpasang di depan cermin kecil.
Ney lalu membacanya dan seketika menepuk dahinya. Lebih ke pura - pura sih lagian aneh juga masa sih Ney tidak tahu syarat menjual perhiasan emas? Mau perak atau emas atau tembaga pasti selalu ada suratnya. Lah ini tidak, ya berarti ada kemungkinan Syakieb yang punya semua suratnya 😑😑nih anak tidak sadar kalau dirinya hanya diuji saja. Padahal sudah diperingatkan oleh Arnila dan Rita tapi tetap saja nekat.
"Aduh! Jadi ini tidak bisa dijual tanpa suratnya?" Tanya Ney yang terus memaksa.
Karena Rita merasa kondisinya akan membuat Ney menjadi lebih malu, Rita mengajak Arnila keluar toko dengan alasan mau lihat - lihat yang lain. Arnila setuju lalu mereka diam - diam keluar dari toko. Ney masih tetap memaksa sebisanya agar perhiasan itu bisa dijual tapi tetap saja pegawainya menolak apalagi, bergabunglah pegawai yang lain menjelaskan.
Mereka berdua memandang Ney yang tampaknya masih belum bisa mengalah. Ya begitulah dia. Malah akan menjadi sangat aneh sekali justru.
"Kalau mau jual emas kan memang harus ada suratnyabaku juga pernah dimintai tolong menjual emas tapi harganya 5 juta kebawah sih," kata Rita yang masih memperhatikan Ney.
"Jangan - jangan yang menyebabkan pegawainya lama itu... apa bisa jadi?" Tanya Arnila curiga.
"Mengontak ke Syakieb pastinya. Ini permainan si bodoh Alex. Dia menguji Ney dan untuk kamu tahu ya, dia juga menguji kamu dan aku. Entah untuk tujuan apa," kata Rita dengan suara yang lelah.
"Untuk melihat apakah kita ini palsu atau tidak saat kita dihadapkan orang super tajir seperti dia. Padahal dia sendiri juga bisa saja palsu orangnya maksudku karena dia saja masih belum jelas penampakannya," kata Arnila tertawa.
"Hahaha benar sekali!" Rita tertawa juga.
"Harusnya kita bantu Ney deh dia masih maksa begitu," kata Arnila memandanginya lagi.
"Aku tidak mau ah. Kamu saja," kata Rita.
__ADS_1
Dengan malas lalu Arnila masuk dan menengahi Ney yang maksa. "Udah deh Ney, kamu pulang saja dulu minta surat keterangan perwakilannya. Mau maksa dijual disini juga sudah tidak mungkin. Jangan malu - maluin dong," kata Arnila yang memaksa Ney memasukkan kembali perhiasannya.
"Ya sudah deh mbak, makasih ya. Nanti aku balik lagi deh sekalian bawa surat keterangannya. Si mama nih jadi bikin nambah kerjaan," kata Ney pura - pura mengerti.
Mereka lalu keluar sekaligus Arnila menceritakan apa yang tadi Rita katakan. Ney terdiam di tempat ternyata memang ada keanehan dan ini termasuk dalam permainan Alex!? Ney maluuuu selangit saat tahu seperti apa situasinya dan Arnila juga menceritakan kemungkinan pegawai tadi masuk ke ruangan, ada kemungkinan dia menghubungi Syakieb.
"Rita, benar apa yang Arnila cerita? Alex menguji kita?" Tanya Ney yang masih tidak percaya.
"Dia mengaku?" Tanya Arnila juga.
"Aku ancam dia pilih mau dibuat koma atau mengaku? Ya dia cerita deh. Makanya kamu tuh jangan terlalu senang dulu ya, waspada siapapun yang mendekati kamu dengan mudahnya memberi barang, kamu tuh harus berpikir dulu! Dan dengarkan apa yang kita bilang tuuh," kara Rita sambil memukul bahunya yang membuat tangan Rita sakit. Karena kurus banget!
"Gila ya si orang itu! Kamu kok diam saja sih?!" Kata Ney yang sekarang tampaknya menyumpahi dia tanpa kata - kata.
"Kalau diam, kita tidak akan tahu info seperti ini makanya Rita mengancam juga sepertinya kamu bertanya ya?" Tanya Arnila.
"Yalah. Soalnya aneh banget! Tapi sebenarnya sih tugas Syakieb memang hanya ambil paket saja hal yang tidak terduga ya soal kamu. Coba kalau dia datang waktu itu kamu tidak menanyakan nomor teleponnya, Ney. Kamu pasti aman tidak akan ada masalah ini," kata Rita sambil menggoyangkan tas ranselnya.
"Wah! Jangan - jangan aku dapat giliran nanti! Bagaimana dong?!" Arnila panik membayangkannya.
"Oh iya, kamu kan belum ya hahaha siap - siap saja!" Kata Ney sambil tertawa keras.
"Kamu kan mau menikah, menurut aku sih tidak akan kena. Yang kena cuma aku sama Ney saja," kata Rita.
"Loh kok hanya kita? Arnila kan sempat bicara juga dengan Alex," kata Ney yang keberatan. Tetap saja hasilnya Arnila tidak termasuk karena kebanyakan yang memaksa masuk hanya Ney dan Rita.
"Dari awal siapa yang mulai kepo? Siapa yang mulai banyak kasih info ini itu sampai ribet sendiri? Aku bilang kan jangan kepo jangan kepo, ya hasilnya bikin Alex penasaran sama kamu juga. Jadi jangan mengeluh, aku sudah kasih peringatan karena Alex itu orangnya masih belum bisa aku percaya. Intuisi orang tuh harusnya kamu dengar bukannya malah bertindak seenaknya terus suudzon," kata Rita dengan santai.
"Iya aku baru mengerti alasan Rita melarang kita terlalu dekat dengan Alex bukan karena cemburu ya karena Rita punya firasat jelek. Tapi kalau Ney sih memang kepo orangnya jadi ya sudah jangan mulai keberatan ini itu, untuuuung aku jarang chat sama Alex. Malah dia kok yang sering curhat soal kamu," kata Arnila membuat Ney kaget.
"Kamu tidak marah, Rita? Alex ternyata lebih percaya sama Arnila lho daripada kamu," kata Ney mulai memanasi Rita tapi dalam hatinya pun dia kecewa kenapa Alex lebih memilih Arnila ketimbang dirinya, untuk sekedar curhat saja.
"Oh iya! Maaf ya Rita, selama ini Alex suka curhat ke aku tapi tenang aku tidak punya perasaan apapun. Lagian itu jarang kok," kata Arnila takut Rita marah besar padanya.
"Hahaha tidak apa - apa kalau dia curhat sama kamu, aku tenang kok daripada sama nih orang. Soalnya kejadian dulu juga aku kan tidak tahu ya kamu bilang apa saja sama Alex. Kalau Arnila aku yakin aman soalnya dia punya perasaan," sindir Rita yang melihat ponselnya.
Ney diam mendengarnya, dia memang bercerita soal Rita seperti apa dari situ juga Ney tidak tahu kalau ternyata Rita memiliki insting tajam. Sudah pastilah Alex banyak cerita. Dan memang benar dia mengatakan sesuatu soal Rita yang ternyata tidak sesuai dengan kepribadian Rita. Dan itu membuatnya sedikit menyesal.
BERSAMBUNG ...
__ADS_1